
Di akhir musim panas kali ini, Valdia mulai dilanda cuaca buruk. Hampir setiap hari hujan selalu turun dan sesekali diiringi badai ringan. Kondisi ini membuat banyak ladang gandum maupun jagung banyak yang mengalami gagal panen. Banyak juga hewan ternak yang mati karena wabah penyakit.
Sedangkan sisa panen gandum dan jagung sesegera mungkin dikumpulkan ke lumbung-lumbung pangan yang ada di kota Valdia dan seluruh desa sekitar kota. Untung saja, jauh-jauh hari marquis Aiden sudah memprediksi kejadian ini. Karena itu untuk kebutuhan pangan penduduk masih bisa terjaga walaupun gagal panen karena lumbung pangan di semua tempat sudah lebih dari cukup untuk menghidupi setiap keluarga di Valdia.
***
Pagi ini ada kegiatan mendadak di istana Valdia. Kegiatan itu adalah eksekusi kebiri pelaku pemerkosaan. Ya, di malam sebelumnya sebanyak 12 orang tertangkap karena terlibat kasus perdagangan manusia dan pemerkosaan. Walaupun hujan deras mengguyur di pagi hari dan awan hitam menciptakan angin kencang di sekitaran kota tak menghentikan proses kebiri yang dipimpin langsung Thalia.
Seperti eksekusi pelaku-pelaku sebelumnya, mereka di ikat di tiang-tiang yang sudah disiapkan oleh para eksekutor. Para pelaku itu dicambuki 100 kali lalu barulah dipotong alat vitalnya. Para pelaku silih berganti memekik dan mengerang kesakitan. Setelah eksekusi selesai, mereka diobati di tempat tabib sebelum dikirim menuju penjara Isihogo.
Ini adalah kali pertama Licia menyaksikan secara langsung kesadisan eksekusi kebiri yang dilakukan rivalnya itu. Dalam hati dia menentang hukum yang berlaku di Valdia karena memang hukuman tersebut tak berperikemanusiaan.
Gadis itu pun pergi mendatangi Thalia yang masih sibuk ikut membersihkan bekas eksekusi. Dia ingin mempertanyakan tentang hukuman yang rivalnya itu buat.
" Mengapa harus melakukan itu? " Licia datang mempertanyakan kebijakan Thalia.
Thalia menatap serius wajah rivalnya itu. " Memangnya kenapa? Makhluk seperti mereka memang pantas mendapatkan itu, "
" Hukuman penjara lebih manusiawi daripada hukuman yang kamu berikan ini, "
" Hukuman penjara? Lalu setelah keluar dari penjara apa kamu bisa menjamin mereka tak melakukan kejahatan lagi? " tanya Thalia yang pergi begitu saja melewati Licia.
" Setidaknya... "
Mendengar Licia yang masih mencoba menjawab membuat Thalia sedikit geram. Dia menghentikan langkahnya lalu berbalik. " Setidaknya apa!? Apa kamu tak melihat bagaimana kaum wanita menderita karena ulah mereka? Kamu juga wanita harusnya mengerti perasaan para korban! Mereka di culik lalu dijadikan budak seksual lalu dijual bagaikan barang! Jika kamu menjadi salah satu dari korban, kamu pasti akan melakukan yang kulakukan ini! "
Licia terdiam. Dia menyadari telah menanyakan hal bodoh. " Memang benar aku tak mengalaminya makanya aku tak tahu apa yang mereka rasakan." Itulah ucap hati Licia saat memandang rivalnya berjalan memasuki istana.
Tak lama, gadis itu melihat Leo yang baru saja pulang dari perbatasan. Segera Licia pergi memasuki istana tanpa memandang teman masa kecilnya itu.
Leo sendiri sempat ingin menyapanya tetapi lagi dan lagi dia acuh. Apa sebenarnya salahku? Apa yang membuat dia marah kepadaku? berbagai macam pertanyaan muncul di kepala putra marquis itu melihat gadis yang disukainya sangat acuh sekarang. Di istana pun, setiap hari Leo mencoba mengajak Licia bicara. tetapi selalu gagal. Gadis itu terus menghindarinya dan tak peduli apa yang mau Leo katakan padanya.
Bahkan hari ini lagi, lagi, dan lagi Licia menghindari Leo. Thalia sendiri tak bisa membantu apa-apa. Dia mengira Leo dan Licia hanya marahan biasa sebagai sepasang kekasih dan tak berhak ada orang luar untuk ikut campur.
" Licia... " sapa Leo yang memasuki Istana dan melihat Licia berjalan menuju kamarnya. Seakan tak mendengar apa-apa, Licia terus berjalan memasuki Kamarnya tanpa menoleh sedikitpun.
" Entah sudah berapa lama gadis itu menghindarimu, " Thalia berjalan mendekati Leo.
" Aku tak tahu lagi harus bagaimana. Setiap kali mencoba mendekat, dia selalu menghindar, " ujar Leo.
Thalia menghela napas seraya menyentuh dagu. " Coba berikan hadiah. Mungkin dia bisa luluh dengan itu, "
" Aku tak tahu apa yang dia suka, "
" Hmm... Sesuatu yang disukai Licia ya? Kalau tidak salah dia menyukai bunga tulip merah, "
" Tulip merah langka di sini. Bagaimana aku mendapatkanya? "
Thalia menarik badan Leo kemudian menaruh kedua tanganya di pundak pemuda tersebut. " Serahkan kepadaku! Ada sebuah toko bunga bagus di kota. Dia juga menjual tulip merah walaupun harganya mahal sekali, "
Leo merogoh saku celana dan mengambil 1 koin emas. " Segini cukup? "
Thalia mengambil 1 koin itu. " Lebih dari cukup! Besok akan kubelikan, "
" Baiklah. Kuserahkan pada kakak. Aku mau ganti baju sebelum kena demam. " Leo naik ke lantai 2 dengan baju yang basah kuyup.
Saat Leo melewati kamar Licia, terlihat sebuah mata dari balik pintu mengintipnya. Ya, mata itu adalah milik Licia. Dia berencana berjalan-jalan di kota tetapi menunggu Leo pergi atau masuk kamar.
Setelah Leo memasuki kamar, Licia bergegas keluar istana menggunakan jubah mantel hitam karena keadaan Valdia yang masih hujan deras.
Di kota dia hanya berkeliling saja sembari melihat-lihat beberapa toko. Hatinya dilanda dilema tak berujung sambil bertanya-tanya apakah yang sikapnya pada Leo itu tindakan benar? Tetapi dia terus meyakinkan diri bahwa tindakan itu benar mengingat Leo yang hanya menginginkan takhta bukan cinta.
Rasa dilema itu mengantarkanya ke sebuah kedai yang tak jauh dari gerbang kota. Gadis itu menyempatkan diri memesan teh hangat di kedai tersebut. Dia menikmati minuman itu sembari memandangi rintikan air hujan. Hatinya mulai damai dan dilema itu juga terlupakan sejenak.
" Licia? " dari arah dalam Kedai, terdengar suara pria menyapanya.
Licia merasa tak asing dengan suara itu. Dia menengok ke dalam kedai mencari suara yang memanggilnya. Dan terlihatlah dalam kedai ada seorang pria tampan berambut hitam dan bermata coklat sedang berdiri menatapnya. Pria itu adalah Orka. Mantan kekasih Licia.
" O-Orka? " kejut Licia.
Orka berjalan menghampiri Licia, " Tak kuduga kita justru bertemu di tempat ini. "
" Apa yang kamu lakukan di sini? "
" Untuk membawamu. "
Jawaban Orka membuat Licia takut setelah apa yang terjadi di danau ibukota. Perlahan Licia mencoba bangkit dari duduknya dan bersiap-siap untuk lari ke istana lagi.
Siapa sangka saat dia ingin lari, Orka langsung menggenggam erat lengan kanannya. " Tunggu Licia! Tolong dengarkan aku dulu! "
" Tidak! Aku mau kembali ke istana! Ada pekerjaan yang harus ku urus! " berontak Licia mencoba melepaskan genggaman Orka.
__ADS_1
" Aku sudah tahu kerenggangan hubunganmu dengan putra marquis Aiden. "
Perkataan Orka menghentikan tindakan Licia. " Apa maksudmu? "
" Karena itu dengarkan aku dulu! Duduklah lagi, " pinta Orka yang melepaskan genggamannya.
Licia pun duduk. Rasa penasaran membuat dia lupa rasa takutnya. " Katakan kepadaku, apa yang kamu tahu tentang hubungan kami? "
" Aku sudah hampir tiga bulan berada di sini untuk mengamati hubungan kalian berdua, "
" Dasar penguntit! "
" Tenang dulu Licia! Ini adalah misi dari pangeran Theo, "
" Dari ayah? "
" Ya, pangeran memerintahkanku untuk mengawasi hubungan kalian. Dan kulihat hampir dua bulan kalian sudah tak bersama lagi dan aku tahu alasanya apa, "
" Apa maksudmu? "
" Kamu menjauhi putra marquis karena dia ingin menikahimu untuk mengincar takhta bukan? "
Licia tersentak mendengar ucapan Orka. Bagaimana dia bisa tahu? Padahal tak pernah mengatakan pada siapa pun? Setidaknya itulah pertanyaan-pertanyaan di pikiran Licia.
" Ti-tidak! Tebakanmu sama sekali tak mendasar Orka, " kata Licia terpatah-patah.
" Ayolah Licia, aku sudah mengenalmu tujuh tahun lebih. Kita juga sudah menjalin hubungan selama tiga tahun. Jelas aku tahu apa yang terpendam di hatimu, "
Licia menundukkan kepala karena. " Cu-curang! Mengapa kamu bisa tahu semuanya? "
" Putri seperti dirimu hidup dalam kesepian bukan? Selalu dikelilingi orang-orang yang mengincar takhta saja. Sedangkan yang kamu inginkan adalah seseorang yang tulus mencintaimu. " ucap menatap Lembut wajah Licia.
Ucapan Orka menyulut perasaan terpendam Licia hingga membuatnya menangis. Dia meluapkan semuanya karena memang yang dikatakan Orka adalah benar. Licia lalu berlari meninggalkan kedai tetapi Orka berhasil menyusulnya dan mengneggam tanganya lagi.
" Kalian semua hanya menginginkan tahtaku saja! Aku hanya ingin seperti ibu! Menjadi seorang wanita yang dicintai tulus oleh seorang pria! Tapi kenapa? Kenapa kalian semua mendekatiku hanya demi takhta bukan cinta? Hey! Katakan Orka!? Katakan Kenapa!? " ungkap Licia dalam tangisanya.
Orka menarik tangan Licia dan tiba-tiba memeluk tubuhnya " Maafkan aku Licia. Jika saja saat di danau aku tak dipenuhi amarah, kamu tak akan menjadi seperti ini. "
Di tengah hujan deras, Orka memeluk erat tubuh Licia. Sementara Licia menangis di pelukan Orka. Tak ada satu pun yang melihat mereka berdua karena keadaan kota yang hujan deras membuat kota tersebut sepi.
" Aku benci kalian semua! Jika kalian menginginkan takhta jangan libatkan aku! Aku hanya ingin menjadi wanita biasa seperti ibuku! " sambung Licia dalam pelukan Orka.
Licia melepaskan pelukanya. Dia menatap dalam-dalam mata Orka. " Apa aku akan percaya begitu saja!? Jika kamu mencintaiku, mengapa kamu pergi ke tempat wanita-wanita penghibur itu!? mengapa kamu membentak kakekku? Bahkan kamu hampir menodaiku! "
" Karena saat itu aku muak dengan dirimu yang terus menanyakan putra marquis Aiden itu saat bertemu senior Thalia. Aku meluapkan kekesalanku dengan itu semua. Maafkan aku! Jika saja kamu tak pernah menanyakan tentang dia terus menerus, aku juga tak akan menjadi seperti itu. "
Ah benar. Licia memang selalu menanyakan kabar Leo pada Thalia padahal dia sedang bersama Orka saat itu. Memang sangat kejam menanyakan pria lain di depan pasanganya sendiri. Dan Licia baru menyadari itu sekarang.
" Kenapa kamu tidak mengatakannya sejak awal? "
" Aku tak mau bertengkar denganmu dan lebih memilih meluapkanya sendiri, "
Licia menyadari kesalahanya. Dia kembali memeluk Orka dengan rasa bersalah yang amat dalam. " Maafkan aku! Maafkan aku Orka! Aku selalu menyalahkan sifat burukmu tanpa menyadari bahwa akulah yang membuatmu seperti itu. "
" Aku juga minta maaf atas sikap burukku itu. "
Licia menganggukkan kepala dalam pelukan Orka. " Hmh... Aku memaafkanmu, "
Orka melepaskan pelukan Licia lalu menatap balik paras cantik Licia. " Mulai sekarang ikutlah aku Licia, "
" Kemana? Ke ibukota lagi? "
" Tidak! Demi membuktikan aku benar-benra mencintaimu dan tak mengincar takhta, aku akan membawamu ke sebuah desa asing di benua timur. Kita akan hidup bersama secara sederhana di sana. Tanpa harus peduli wilayah, tanah, maupun takhta, "
" Kamu ingin membuang status keluargamu dan hidup sederhana sebagai penduduk biasa? "
" Ya! Karena aku mencintaimu, aku rela membuang status keluargaku dan hidup sederhana denganmu. Apa kamu mau? "
Licia mengusap air mata, seketika wajah murung itu berubah menjadi cerah kembali. " Hmh... Aku mau! Asal bisa bersamamu, aku mau! Walaupun menjadi rakyat jelata sekalipun! "
" Baiklah! Tetapi sebelum itu kita harus ke ibukota dan mempersiapkan banyak perbekalan untuk hidup mandiri di tempat asing itu. "
" Bagaimana caramu membawaku keluar Valdia? "
" Bukankah tinggal keluar saja apa susahnya? "
Licia menggelengkan kepala. " Saat aku keluar kota Valdia, pasti ada beberapa pasukan Leo yang akan memata-mataiku, "
" Hoo... Jadi namanya Leo ya? Sepertinya kita hanya perlu menunggu waktu untuk keluar dari sini. "
" Waktu? "
__ADS_1
" Ya, dua hari lagi akan ada badai besar yang akan melanda wilayah selatan Gerelia. Dan Valdia adalah wilayah selatan itu, "
" Dari mana Orka tahu itu? "
" Di kuil suci aku sempat bertemu salah satu pendeta Deus yang pandai meramal cuaca. Dia mengatakan dua hari lagi akan ada badai besar melanda. Dan saat badai datang, kita punya kesempatan untuk kabur dari sini. "
" Apa hanya kita berdua? "
" Tidak. Pengawalku juga akan ikut demi mengawal kita. Sekarang kembalilah ke istana dulu dan persiapkan barangmu. Jangan membawa banyak-banyak agar tak membebanimu saat kabur. Selain itu, sepertinya mulai ada yang mengawasi kita, " Orka melirik ke sisi gerbang di mana ada beberapa prajurit menatap sinis mereka berdua.
" Hmh... Aku pergi dulu Orka. Terima kasih berkat dirimu aku menyadari siapa yang tulus mencintaiku. Sampai jumpa dua hari lagi. " Licia berlari menuju istana meninggalkan Orka. Sementara Orka kembali ke kedai dengan senyum puas.
***
Di hari berikutnya, para prajurit Valdia memberi pengumuman di seluruh penjuru Valdia tentang akan adanya badai esok hari. Seluruh penduduk Valdia di imbau untuk tidak meninggalkan rumah.
Imbauan itu juga berlaku bagi penghuni istana. Marquis Aiden melarang semua penghuni istana keluar termasuk Licia. Berhubung hari ini memang angin di Valdia berhembus kencang diiringi gemuruh petir yang tak henti menggelegar.
Tetapi imbauan itu tak berlaku untuk Leo. Dia justru pergi keluar demi mengecek desa-desa di luar kota. Di setiap desa yang disinggahi, Leo memberikan obat-obatan dan menempatkan 3 orang tabib untuk berjaga-jaga. Walaupun hujan deras mulai turun, Leo dan pasukannya tak patah semangat. Mereka terus berpatroli dari desa ke desa demi memastikan bahwa semua penduduk siap menghadapi badai besok.
Saat malam tiba, marquis bersama 2 putrinya tampak cemas di aula istana karena Leo yang tak kunjung pulang padahal malam ini hujan deras dan angin kencang sedang terjadi. Mereka sudah menunggu berjam-jam dan mengirim beberapa prajurit untuk mencari Leo tetapi sampai sekarang para prajurit itu juga belum kembali.
" Hujan makin deras, " marquis Aiden berjalan mendekati jendela. " Ke mana sebenarnya anak itu? "
" Ayah tenang saja, dia pasti pulang. Lebih baik ayah istirahat, " ujar Thalia berjalan mendekati sang ayah.
Melina ikut mendekat dan memeluk sang ayah. " Benar ayah, lebih baik ayah istirahat sekarang. Kakak pasti segera pulang, "
Marquis Aiden mengelus kepala Melina lalu mengangguk, " Baiklah, aku istirahat dulu. Kalau Leo sudah pulang tolong beritahu aku. "
" Hmh... Baik ayah! Boris tolong antarkan ayah ke kamar, " jawab Thalia menengok ke arah Boris.
" Baik nona! " Boris pun menuntun marquis Aiden menuju kamarnya di lantai 2.
Tak lama setelah marquis Aiden kembali ke kamar, Licia yang baru saja selesai mandi di kolam air panas istana datang menghampiri Thalia dengan hanya menggunakan piyama.
" Sedang apa kalian di sini? " tanya Licia sambil menyisir rambut dengan jari-jemarinya..
" Licia? " kejut Thalia.
" Kami sedang menunggu kakak Leo. Dari pagi sampai malam dia belum pulang, " sela Melina.
" Hmh... Begitu ya? Aku ke kamar du– " belum selesai Licia berkata, tiba-tiba pintu istana terbuka.Terlihatlah Leo dengan baju yang basah kuyup berjalan memasuki istana.
" Hujan hari ini lebih deras dari sebelumnya, " pungkas Leo yang memasuki istana.
" Leo? Dari mana saja !? Ayah sangat mengkhawatirkanmu! " celetuk Thalia melihat adiknya yang baru pulang tetapi seperti tak merasa bersalah.
" Maaf kak, ada salah satu desa terkena banjir karena luapan sungai di perbatasan selatan. Aku terpaksa mengevakuasi mereka dahulu baru bisa pulang, "
" Hhhh... Setidaknya beri kami kabar agar tak mencemaskanmu. Melina beritahu ayah kalau Leo sudah pulang dan kamu juga segera istirahat! "
" Baik kak Thalia. Kak Leo aku istirahat dulu, " Melina naik ke lantai 2 menuju kamar marquis.
" Ya, selamat malam Melina. " sahut Leo seraya memandangi Melina dan melambai tangan dari bawah.
" Aku juga mau istirahat. " Licia pun ikut naik ke lantai 2 dan mengabaikan Leo yang sempat meliriknya.
" Kalian masih belum baikan? " tanya Thalia menatap gadis itu yang berjalan ke tangga.
" Bagimana dengan bunganya? " tanya balik Leo.
" Bunganya akan dikirim ke istana besok siang. Semoga saja tak terhalang badai. Oh ya Leo ada sesuatu yang ingin ku katakan kepadamu, "
" Lain kali saja kak. Aku lelah sekali. Kalau begitu selamat malam. " Leo juga berjalan ke lantai 2.
Thalia berniat mencegah Leo karena ada hal penting yang memang harus dia ungkapkan tetapi Thalia menyadari adiknya sedang lelah setelah bekerja keras seharian penuh.
" Belum nona katakan ya? " tanya pria berjubah hitam yang tiba-tiba berada di belakang Thalia.
" Dia sedang kelelahan dan aku tidak tega jika harus mengatakan sekarang, " jawab Thalia.
Pria itu membuka tudung jubah dan ternyata dia adalah Kiran ketua divisi 6 pasukan Yurei. " Lalu apa yang akan nona lakukan? "
Thalia membalik badan ke arah Kiran. " Aku ingin kamu mengikuti mereka! "
Kiran tersenyum sambil menutup kepalanya dengan tudung jubah lagi. " Baik nona! Akan kulaksanakan perintahmu! "
Ketua divisi 6 Yurei itu berjalan keluar istana lalu menghilang begitu saja dari pandangan Thalia. Sementara anak pertama marquis itu memandangi jendela lagi. Dia seperti memikirkan sesuatu yang amat penting. Dia begitu gelisah dan sedikit menyesal karena gagal memberi tahu Leo.
^^^To be continue.^^^
__ADS_1