KEBANGKITAN KESATRIA PENDOSA

KEBANGKITAN KESATRIA PENDOSA
#39# PERCOBAAN BUNUH DIRI


__ADS_3

Tinggal seminggu lagi sebelum pertemuan para pemimpin kerajaan di seluruh dunia. Seluruh penghuni istana Gerel sudah sangat sibuk demi mempersiapkan pertemuan itu. Mulai dari pengecatan ulang aula istana, perbaikan berbagai macam barang di kerajaan, memasang hiasan-hiasan di seluruh penjuru kota, dan masih banyak lagi.


Satu persatu para tamu dari jauh juga sudah mulai berdatangan. Mulai pangeran Philip dari kerajaan Glesia, raja Yuma dari kerajaan Vinduria, dan raja Arindra dari kerajaan Axiom.


Para tamu yang awalnya akan ditempatkan di istana utama terpaksa di pindah ke gedung istana sebelah timur. Raja Karl tidak ingin para tamu mengetahui kondisi cucunya. Yah sejak dibawa kembali ke istana, belum ada perubahan signifikan pada Licia. Dia masih sering mengamuk dan ketakutan saat para pelayan membawakan makanan ke kamarnya. Setidaknya sudah ada 1 pelayan yang kritis karena amukan Licia.


Hari ini untuk kesekian kalinya terdengar lagi suara barang-barang yang dibanting dari dalam kamar Licia. Leo yang mendapat laporan tentang kondisi Licia juga langsung datang ke istana. Dengan pakaian jubah bertudung hitam dan topeng, Leo menuju kamar Licia.


Tak jauh dari pintu kamar, Leo melihat seorang pelayan duduk lemas dengan badan gemetar dan kedua tangan bersimbah darah.


" Hey kau tidak apa-apa? " tanya Leo menghampiri pelayan.


Pelayan menatap Leo, " Tu-tuan putri mengamuk lagi. Dia menyayat kedua tanganku saat ingin mengantarkan makanan. "


" Pergilah ke ruang tabib. Biar aku yang urus disini. Beritahukan juga kepada para pelayan lain untuk tidak mencoba memasuki kamar tuan putri setidaknya sampai dia sembuh, " ujar Leo sembari membantu pelayan berdiri.


" Ba-baik tuan, " si pelayan segera berlari sambil menyembunyikan kedua tangannya.


Leo sendiri menghela napas untuk mempersiapkan diri memasuki kamar Licia. Dia perlahan membuka pintu untuk mengintip keadaan di dalam.


Terlihatlah betapa berantakanya kamar itu. Banyak sekali benda-benda pecah berserakan di lantai.


Leo perlahan masuk ke dalam dan melihat Licia sedang duduk termenung di atas ranjang yang yang berantakan.


" Tuan putri? " sapa Leo.


Licia hanya terdiam dan masih menatap jendela yang tertutup gorden.


Sekali lagi Leo menghela napas lalu berjalan mendekati Licia.


...Tap... Tap... Tap......


Beberapa langkah Leo mendekati Licia, dari samping dia melihat air mata gadis cantik itu menetes tanpa henti.


Leo kemudian berlutut di hadapan Licia sambil memandangi mata kosongnya yang tak henti mengalirkan air mata.


" Apa tuan putri teringat kembali? " tanya Leo.


Dengan mata sayu Licia menganggukkan kepala namun tak mengatakan sepatah katapun.


Leo tidak tahan melihat wajah sedih itu. Secara spontan ia menghapus air mata dari wajah cantik tersebut.


Awalnya Leo berpikir Licia akan ketakukan tapi ternyata tidak. Licia justru hanya diam dengan pandangan masih mengarah ke objek yang sama. Dia tidak berontak karena memang tau bahwa laki-laki dibalik topeng itulah yang telah menyelamatkan dirinya.


" Para tamu dari luar sudah mulai berdatangan. Ada baiknya tuan putri sekarang membersihkan badan, "


" A-aku tidak mau keluar! " jawab gugup Licia dengan tubuh yang gemetaran.


" Setidaknya tuan putri harus mandi agar tidak ada penyakit dari luar yang menjangkit tubuh, "


Licia menatap Leo lalu memegang tangan kanan pemuda bertopeng itu, " A-aku akan mandi tapi aku mohon kamu jangan pergi dari sini! Hanya kamu satu-satunya yang bisa kupercaya dan membuatku aman. "


" Baik jika itu yang tuan putri pinta. Saya akan tetap di sini untuk menunggu anda. "


Mendengar ucapan itu, badan gemetar Licia berhenti. Dia bergegas ke kamar mandi.


Leo melihat betapa berantakanya kamar Licia. Sambil menunggu gadis itu selesai mandi, diapun merapikan seisi kamar Licia.


Beberapa menit kemudian, Licia keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan piyama berkain tipis. Tapi Leo sudah tidak kaget lagi karena dia sendiri pernah melihat tubuh Licia secara langsung saat di pemandian istana Valdia.


Licia berjalan kembali ke ranjang sambil matanya menjelajahi seisi ruang kamar yang sudah tertata rapi.


...Bruk......


Licia tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Leo segera mendekatinya.


" Tuan putri?! " kejut Leo sembaru mengangkat tubuh Licia. Tuan putri pingsan dengan hidung mengekuarkan banyak darah.


Leo yang panik segera membaringkan Licia ke ranjang lalu berlari memanggil para tabib istana.


Berjam-jam lamanya para tabib mengecek kondisi Licia. Rasa kekhawatiran terpancar di seluruh penghuni istana. Raja Karl sendiri menangis tersedu-sedu dibalik pintu kamar sang cucu. Dia sangat takut kehilangan cucu tersayangnya dan dalam hati terus berdoa.


Untung saja para tabib mengatakan kondisi Licia normal. Dan hidung yang berdarah itu adalah efek dari depresi yang dialaminya.


Setelah para tabib pergi, raja Karl memerintahkan penjagaan yang ketat di kamar Licia. Ia tak mengizinkan siapapun masuk kecuali dirinya dan Leo.


Sedangkan Leo meminta cuti sehari mengingat dia masih sangat khawatir pada kakaknya setelah kejadian beberapa minggu lalu.


...***...


Leo berjalan kembali ke asrama setelah berhari-hari menginap di istana. Saat ini asrama memang lumayan kosong karena para siswa sedang pulang ke kampung halaman mereka masing-masing mengingat kegiatan pembelajaran di akademi sedang diliburkan sampai acara pertemuan di ibukota selesai.


Beberapa meter dari pintu kamar Thalia, Leo mencium bau harum yang sangat familiar. Yaitu bau bunga wisteria. Bunga yang hanya tumbuh di dataran benua timur.


Pemuda itu berjalan pelan menempelkan badan ke tembok mencoba untuk mengintip kamar kakaknya yang terbuka sedikit.


...Klak......


Saat mencoba mengintip, Leo tak sengaja menyenggol pintu kamar hingga terbuka Lebar.


" Leo?! " sapa seorang gadis cantik berambut ungu dengan pakaian mewahnya sedang duduk disamping Thalia.

__ADS_1


Leo sontak terkejut karena dia mengenal gadis itu. Ya, gadis itu adalah putri kasiar Cronix yang sempat dijodohkan dengannya yaitu Yun Zhu.


" Yun Zhu?! " cetus Leo.


Yun Zhu tiba-tiba berlari dan langsung memeluk Leo. " Aaa..., sudah lama sekali kita tidak bertemu! Aku sangat merindukanmu! "


" Tu-tunggu Yun Zhu jangan asal memeluk! " Leo berusaha lepas dari pelukan erat Yun Zhu.


Yun Zhu pun melepaskan pelukannya. Dia terlihat sangat kegirangan. Ya, bagaimana tidak? Sudah bertahun-tahun lamanya mereka berpisah.


" Aku sudah lama menunggumu di sini, " ucap Yun Zhu.


" Bagaimana kamu tau aku tinggal disini? " tanya Leo.


" Aku tidak sengaja bertemu putri Yun Zhu di kota. Dia bilang sedang mencarimu makanya kuajak dia ke sini untuk menunggu, " sahut Thalia beranjak dari ranjang.


" Hmh..., aku tidak menyangka bisa bertemu kamu lagi Yun Zhu. Oh ya, bagaimana kabar kaisar? "


" Hhhh..., " Yun Zhu menghela nafas dengan raut wajah penuh kepasrahan, " keadaanya semakin memburuk. Aku tidak tau lagi sampai kapan ayah bisa tetap berkuasa. Sedangkan adikku yang menjadi penerusnya sampai sekarang belum pulang. "


" Belum pulang? Apa pemberontakan di timur Cronix masih belum padam? "


" Ya, sejak kamu dan pasukanmu kembali ke Taiyoria, api pemberontakan kembali menyala. Mereka benar-benar sulit ditaklukan karena bergerak di dalam tanah sekarang. Dan adikku masih terus memburu mereka, "


" Begitu ya. Kedatanganmu ke sini sebagai perwakilan kekaisaran bukan? "


" Iya. Selain itu aku juga ingin bertemu denganmu. Mungkin jika aku tidak mendengar kabar kamu yang melanjutkan pendidikan di akademi Gerel, aku tidak akan datang, "


...Tok... Tok......


Belum selesai Yun Zhu temu kangen dengan Leo, seorang prajurit istana datang mengetuk pintu kamar.


" Mohon maaf saya mengganggu waktu tuan! Saya mau memberi kabar bahwa tuan putri menghilang lagi. Yang mulia raja meminta tuan untuk segera ke istana! "


" Ha?! Bukankah penjagaan sudah ketat? Bagaimana bisa dia menghilang? " sahut spontan Leo. Dalam hati dia bertanya-tanya apa saja yang dikerjakan prajurit istana sampai Licia bisa hilang.


" Penjagaan sudah sangat ketat tuan bahkan dari dalam dan luar istana. Tapi entah bagaimana tuan putri menghilang begitu saja, "


" Baiklah-baiklah aku akan segera ke sana. "


" Apa yang terjadi dengan putri Licia? " tanya Yun Zhu.


" Rahasia kerajaan, " ucap Leo yang berjalan mendekati jendela kamar. " Aku pergi dulu. Maaf kak aku tidak bisa menemanimu. "


" Tenang saja setelah ini aku juga akan ikut putri Yun Zhu ke istana. Aku sudah tidak apa-apa. Segeralah cari Licia dan memang ada baiknya kamu didekatnya untuk sementara waktu, "


" Baiklah aku pergi dulu. Yun Zhu aku titip kakakku! " Leo mengepakkan sayap sihir esnya.


Leo segera terbang menuju kota. Dia memulai pencarian dengan menyisir pinggiran kota. Di sisi lain Leo terus penasaran bagaimana cara Licia bisa kabur padahal penjagaan sangat ketat. Mungkinkah ada orang yang membantunya kabur? Sejauh ini hanya itu yang masuk akal karena fisik Licia sendiri tak memungkinkanya kabur menggunakan sihir ditambah dia bukan pengguna sihir angin yang bisa menggunakan sihir pelebur jiwa.


Leo memutari kota kesana kemari tapi hasil tetap nihil. Pencarian Licia dibuat serahasia mungkin dan yang terlibat dalam pencarian ini hanya para prajurit yang bertugas menjaga kamar Licia. Raja tidak ingin membuat kegaduhan saat para tamu-tamu luar kerajaan sedang ada di istana dan kota.


Tapi sangat disayangkan walaupun sudah dicari ke seluruh penjuru kota, Licia masih belum ditemukan.


Insiden hilangnya Licia yang masih menghilang menimbulkan kecurigaan besar terhadap pangeran Theo.


Raja Karl langsung mengadakan rapat darurat dengan para menterinya sekaligus memanggil para ksatria terbaik untuk bersiap menangkap pangeran Theo. Rapat yang berlangsung 20 menit itu akhirnya memutuskan untuk menangkap dan mengeksekusi pangeran Theo atas penculikan putrinya sendiri.


Keputusan yang diambil raja Karl sangat beresiko sekali mengingat pendukung pangeran Theo yang sangat banyak. Konsekuensi nyata yang akan terjadi atas penangkapan ini adalah perang saudara dan ancaman kudeta. Raja Karl sudah siap dengan semua itu. Apapun yang terjadi dia sudah siap menghadapinya demi sang cucu.


Sementara itu di kota Leo masih belum menyerah mencari dan kali ini dia istirahat sejenak diatas salah satu menara benteng ibukota. Sambil mengamati sekitar, pemuda itu terlihat cemas dan pikiranya mengingatkan kembali dia tentang kejadian di altar kuno.


Walaupun Leo memang membenci Licia, tapi dia tidak ingin kejadian di altar kuno itu berlanjut dan dia juga tidak mau Licia menjadi semacam tumbal sekaligus inang dari ritual manusia-manusia biadab itu.


Beberapa saat berlalu, tiba-tiba ada sebuah gelombang sihir aneh yang mengejutkan Leo. Gelombang itu sangat panas dan hanya menghempas sekali saja.


Dia bertanya ke para prajurit penjaga benteng tapi tak ada yang merasakannya. Ini semakin aneh karena jelas-jelas Leo merasakan gelombang sihir kuat itu dan seharusnya orang biasa yang tidak mampu mengaktifkan energi sihir pun bisa merasakannya.


Tak ingin membuang waktu untuk berpikir hal tak berguna itu, Leo melanjutkan pencarian lagi sekaligus mencari tau darimana asal gelombang tadi.


Baru saja ia terbang, lagi-lagi gelombang sihir itu menghempas. Kali ini semakin kuat energi sihirnya. Bagaikan sebuah magnet, tubuh Leo ditarik gelombang itu beberapa detik ke arah istana. Tanpa pikir panjang, Leo mengesampingkan misi pencariannya dan langsung menuju istana secepat mungkin. Gelombang sihir aneh itu bisa saja dari para pembunuh bayaran yang mengincar raja atau justru para pelaku penculik Licia. Begitulah yang Leo pikirkan di perjalanan.


Tapi saat sampai di istana, terlihat sangat tenang sekali seakan tidak terjadi apa-apa. Leo pun turun dan menanyai beberapa prajurit. Lagi-lagi para prajurit tidak mengerti yang ia maksud dan mereka juga tidak merasakan gelombang sihir apapun.


Dia semakin penasaran dan bertanya-tanya mengapa hanya dia yang merasakan. Apakah ini hanya keisengan seseorang? Atau sebuah provokasi yang mencoba memancing seseorang?


" Tolong... "


Leo dikagetkan oleh suara bisikan lembut berhembus di telinganya. Suara bisikan yang tak asing lagi. Itu adalah bisikan Licia.


Leo kembali terbang. Bisikan itu seakan menjadi sebuah tanda bahwa Licia sedang dalam bahaya walaupun Leo tidak tau bagaimana cara Licia yang menghilang bisa berbisik jelas ditelinganya.


Sekali lagi Leo memutari kota, kali ini dia melihat kilatan cahaya putih redup sekedipan mata di atas menara jam tertinggi di ibukota. Tanpa pikir panjang, ia melesat ke menara itu.


Semakin dekat terlihat di atas atap menara sesosok gadis berambut putih perak dengan gaun piyama berdiri dengan dengan mata sayunya. Ya, itu adalah Licia. Entah bagaimana cara dia bisa sampai di atas menara tertinggi di ibukota.


" Liciaa...! " teriak Leo.


Licia menengok ke arah Leo lalu menjatuhkan diri dari atas atap menara.


" Bodoh apa yang kamu lakukan! " panik Leo. Dia mengerahkan seluruh energi sihir untuk menambah kecepatan.

__ADS_1


Untung saja kecepatan Leo melebihi kecepatan jatuh Licia. Ia berhasil menangkap Licia beberapa detik sebelum gadis itu menghantam tanah.


Leo membawanya pergi menuju salah satu menara benteng ibukota. Mengingat keadaan istana yang sedang banyak tamu, tidak mungkin asal membawa Licia kesana dalam keadaan begini.


" Licia...! Licia...! Hey! " panik Leo mencoba menyadarkan Licia yang pingsan. Tanganya begitu dingin ditambah wajah yang pucat.


Licia perlahan membuka mata dan tiba-tiba membuang muka dari Leo.


" Kenapa kamu menolongku? " tanya lirih Licia.


Leo heran dengan pertanyaan Licia. Dia hanya bisa diam sambil mengernyitkan dahi.


Licia kemudian menatap Leo dengan mata berkaca-kaca, " Kenapa kamu menyelamatkanku?! "


" Apa yang kamu tanyakan itu? Apa kamu sebodoh itu? Mengakhiri hidup seolah semuanya akan selesai setelah kamu mati! "


" Habisnya tidak ada lagi yang bisa kulakukan! " Licia menutup wajah mencoba menahan air mata dalam pelukan Leo.


" Apa yang kamu katakan? " Leo masih belum mengerti. Dia kebingungan mendengar perkataan Licia.


" Setelah kejadian di altar kuno, satu persatu ingatanku hilang. Aku tidak bisa mengingat masa kecilku! Aku bahkan tidak bisa mengingat ibuku! Wajah ibuku seperti apa aku sudah tidak tau lagi Leo! Lalu untuk apa aku hidup jika ingatan berhargaku sepertinya akan terus memudar! "


Pernyataan Licia membuat Leo terdiam sejenak.


" Aku mengamuk, melukai para pelayan bukan karena aku gila tapi aku marah pada diriku sendiri yang gagal mengingat semua kenangan-kenangan masa lalu dengan ibu! Bahkan masa kecilku bersamamu aku sudah tidak bisa mengingatnya! " ungkap Licia disertai tangisan. Dia terlihat begitu tertekan dan setres dengan keadaan ini.


" Aku hidup dalam kesepian dan ketakutan! Saat aku ingin hidup tenang tetapi pertengkaran kakek dan ayah selalu menyeretku dalam perpolitikan kerajaan! Aku mendekati Orka sebenarnya bukan karena suka tapi aku hanya mencari perlindungan! Tapi hasilnya sama saja! Aku terseret lagi oleh mereka yang haus kekuasaan! Sekarang aku sudah lupa wajah ibu dan semua masa kecilku. Lalu untuk apa aku hidup?! Aku terus berpikir begitu! Aku terus mempertanyakan diriku sendiri kenapa aku masih terus hidup? Apa untuk alat politik atau untuk senjata hidup? "


Leo tak bisa berkata apa-apa. Dia hanya diam dan memeluk Licia erat-erat berusaha menenangkanya. Entah kenapa hati Leo juga seperti tersayat mendengar curahan gadis itu.


Licia menangis di pelukan Leo. Menangis sekeras mungkin melepaskan semua rasa sakit yang terus menerus mengutuk hatinya.


Leo hanya bisa terdiam dan membiarkan Licia menangis sepuasnya hingga beberapa menit sampai akhirnya Licia justru tertidur di pelukan putra marquis Aiden itu.


Merasa sudah sedikit tenang, Leo membawa Licia kembali ke istana beberapa menit sebelum raja Karl memberangkatkan pasukan untuk menangkap pangeran Theo.


Leo menceritakan semua kejadian yang menimpa Licia pada raja Karl. Selain itu, Leo juga memanggil Kiran untuk menganalisa keadaan Licia.


Alasan bukan tabib istana yang dipanggil karena ada desas desus tentang beberapa tabib istana merupakan pendukung pangeran Theo. Dan demi keselamatan Licia, Raja Karl memilih Kiran sesuai dengan saran dari Leo.


Di kamar Licia, kurang lebih Kiran menggunakan sihirnya selama 10 menit untuk melihat penyakit pada Licia.


" Maaf membuat yang mulia dan tuan Leo menunggu, " cetus Kiran setelah selesai menganalisa keadaan Licia.


" Ba-bagaimana keadaan cucuku? " tanya raja.


" Awalnya saya pikir dia hilang ingatan karena depresi setelah kejadian itu tapi ternyata bukan. Kondisi tubuh tuan putri sehat-sehat saja. Tetapi ada yang aneh pada energi sihirnya, " ungkap Kiran.


" Aneh? Apa maksudmu? " tanya Leo.


" Ada lonjakan energi sihir berkali-kali lipat dalam tubuh tuan putri dan itu berlangsung beberapa detik saja. Sepertinya suasana hati tuan putri berpengaruh besar pada energi sihirnya. Saya belum bisa menyimpulkan tentang hilang ingatan yang dialami. Tapi muncul pikiran liar saya yang menduga lonjakan energi sihir tuan putri akan mengorbankan memori ingatannya seperti seekor parasit yang menggerogoti ingatan sedikit demi sedikit dan merubahnya menjadi energi sihir, "


" Apa tidak ada cara menyembuhkannya? "


" Maaf yang mulia, ini baru spekulasi saja. Tapi jika benar kenyataan, kasus semacam ini baru pertama kali terjadi. Ada baiknya yang mulia mencoba menanyakan obatnya pada alkemis-alkemis ternama. Kalau begitu saya izin meninggalkan tempat, " balas Kiran membungkukkan badan.


" Baiklah. Terimakasih sudah membantu, " sahut raja Karl.


" Apa karena darah yang dia minum saat di altar kuno? " tanya Leo.


Raja Karl menggelengkan kepala sembari terus memandangi cang cucu yang masih terlelap. " Ritual itu tidak memiliki efek samping seperti ini, "


" Lalu apa ingatannya akan terus tergerogoti? "


" Entahlah... " Raja Karl menghela nafas sejenak, " apa kau masih benci cucuku? "


" Aku tidak tau lagi yang mulia. Rasa benci dan simpati seperti sedang berperang di hati dan otakku, "


" Ini permohonanku seumur hidup Leo. Tolong jaga cucuku. Aku tidak memaksamu untuk menjadi suaminya, tetapi aku hanya ingin kau melindunginya dari sekutu Theo. Aku yakin mereka masih akan terus mengincar Licia, "


" Yang mulia pasti tau bukan ini tidak gratis, "


" Ya, apa yang kau minta? Tahta? Kekuasaan? Tanah? Uang? Aku akan memberikan segalanya asal cucuku tetap aman, "


" Keinginanku cuma satu hal yang mulia. Aku hanya ingin yang mulia juga memberi keamanan pada kakakku saat di ibukota, "


" Itu bukan hal sulit bagiku. " raja Karl tersenyum kemudian berjalan menuju pintu, " Aku pergi dulu. Tolong jaga Licia baik-baik, "


Di sepanjang sisa malam Licia terus mengigau tentang ibunya. Sesekali dia menangis dalam tidurnya. Entah apa yeng ia alami dalam mimpi. Yang jelas keadaan Licia membuat Leo semakin kasihan dan khawatir.


Ia mencoba untuk tidur sejenak tetapi rasa khawatir itu seperti anak panah yang menghujam pikiranya. Pada akhirnya Leo hanya bisa duduk terjaga di samping ranjang gadis cantik itu.


Hanya diam menunggu membuat pemuda rambut pirang itu jenuh dan justru membuatnya memikirkan hal-hal yang saat ini tidak harus dia pikirkan.


Karena merasa bosan Leo berinisiatif membuat sebuah buku catatan tentang cerita masa kecilnya bersama Licia. Selain itu Dia juga menggambarkan seperti apa ibu Licia.


Ya, Leo juga tau siapa ibu Licia. Dia adalah seorang wanita biasa yang berhasil membuat pangeran Theo jatuh hati. Namanya adalah nona Alice. Dia meninggal sehari setelah ibu Leo meninggal. Dia juga salah satu korban dari gempa besar yang terjadi saat itu.


Saking keasyikan menulis membuat Leo tidak sadar jika sorot cahaya mentari menemus celah-celah kamar. Tapi dia terus menuliskan semua kisah suka dukanya bersama Licia waktu kecil. Semua ini ia lakukan agar menjadi pengingat bagi Licia yang sudah lupa masa lalunya.


^^^To be continue.^^^

__ADS_1


__ADS_2