
Sekitar pukul 9 pagi Leo menyelesaikan tulisanya. Sebanyak 134 lembar kertas telah penuh oleh ceritanya. Dia juga berencana ke tempat seorang pelukis untuk meminta melukiskan wajah ibu Licia. Hanya saja dia masih harus menunggu sampai Licia bangun dan mengizinkan keluar.
" Apa yang kamu lakukan di meja kerjaku? " tanya seorang gadis dengan suara khas bangun tidur. Dia melihat Leo yang sedang sibuk di mejanya.
Leo yang sedang membaca semua tulisan kemudian berdiri dan menghampiri Licia. " Bukan apa-apa. Bagaimana keadaanmu? "
" Emh... " Licia mengusap kedua mata, " Tidak tau kenapa badanku seperti lebih ringan sekarang. Tapi, aku masih belum bisa mengingat masa laluku. "
" Lebih baik kamu sekarang mandi. Oh ya, aku mau meminta izin untuk ke pusat kota sebentar, "
" Apa boleh aku ikut? " pinta Licia.
" ...? " Leo mengerutkan dahi seakan tidak percaya dia mengatakan itu mengingat kondisi mentalnya yang masih belum pulih. " Tentu saja! Sekarang mandilah, aku akan menunggu di luar kamarmu, "
" Boleh aku menanyakan sesuatu? "
" Apa? "
" Apa kamu yang menolongku di altar kuno? "
Leo menghela nafas lalu berdiri menunjukkan jubah hitamnya, " Bukankah pakaian ini sudah menjawab pertanyaanmu? "
" Tapi kenapa? Padahal aku sudah menyakiti hatimu, aku sudah berbuat jahat padamu tapi kenapa kamu mau menolongku? "
" Ya, luka di hati masih belum sembuh dan masih ada rasa benci di dalamnya. Sebenarnya ini adalah permintaan raja. Dia mau melunasi hutang keluargaku pada count Jarwis. Karena itu aku menolongmu, "
" Apa hanya karena itu? "
Leo spontan membelakangi Licia. Terlihat kedua telinganya memerah. " Sudahlah. Aku akan menunggumu diluar, "
Licia tersenyum kecil melihat Leo yang tersipu malu. Dia lega karena sepertinya ada alasan lain Leo mau menolongnya.
" Baiklah aku mandi dulu. Mungkin sedikit lama jadi tolong sabar menunggu, " Licia segera meninggalkan ranjang dan menuju kamar mandi. Sementara Leo berjalan keluar dan menunggu di luar kamar.
...***...
" Maaf membuatmu menunggu lama " kata Licia sambil membuka pintu kamar.
Leo menoleh dan dibuat tertegun oleh penampilan Licia. Bukan karena pakaian atau dandanan wajah yang cantik tapi karena Licia memotong rambutnya. Rambut putih perak yang panjangnya sepinggang kini dipotong dan hanya sampai bahu. Tapi penampilan itu lebih terlihat cocok.
" Hm...? Kenapa diam? " tanya Licia seraya mentap mata kosong Leo.
" Rambutmu..., " mata Leo masih tak bisa beralih dari Licia.
Licia mengurai rambut dan sedikit malu karena Leo terus melihatnya. " Rambut panjang membuat kepalaku berat jadi kucoba potong. Tidak cocok ya? "
" Ti-tidak itu sangat cocok denganmu, " Leo mengambil topeng dibalik jubah lalu memakainya, " Ayo berangkat. "
" Kenapa harus memakai topeng? " tanya Licia.
" Hanya untuk berjaga-jaga. " Leo berjalan dan disusul Licia.
Di tengah perjalanan, Leo melihat tangan Licia yang gemetar. Sepertinya kondisi mentalnya masih belum membaik.
" Kita kembali saja, " ujar Leo. Dia merasa Licia terlalu memaksakan diri.
" Eh...? Kenapa? " Licia reflek melipat tangan kebelakang saat menyadari Leo memperhatikan tanganya.
" Kamu yakin masih mau lanjut? Dari tadi tanganmu tidak berhenti gemetar, "
Licia menampakkan wajah masam kemudian menunduk sedikit. " Ketahuan ya? A-aku masih sedikit takut keluar istana. Ta-tapi kuyakin saat ini aku aman karena kamu menjagaku jadi kita lanjutkan saja. Tidak apa-apa. "
" Baiklah. Tapi beritahu aku jika tidak sanggup, "
Licia menganggukan kepala dan menyambungkan langkah.
...***...
Seluruh pandangan pejalan kaki tertuju pada Licia seperti para lebah yang melihat sepucuk bunga indah malintasi mereka.
Para penduduk terpesona akan kecantikan tuan putri mereka dengan penampilan baru setelah berminggu-minggu tidak terlihat. Bahkan beberapa pelukis jalanan berlomba-lomba melukis wajah Licia.
Terlihat dia masih ketakutan sambil terus memegangi tangan Leo dan bersembunyi dibelakang badan. Leo berulang kali mengajak Licia untuk kembali tetapi dia kekeh ingin tetap melanjutkan.
Banyaknya orang-orang yang memandangi membuat kondisi mental Licia kembali menurun. Leo segera mengajak Licia istirahat di kedai makan mewah di mana memang jarang penduduk biasa mampir.
Kebetulan kedai tersebut baru saja buka dan belum ada pengunjung. Kedatangan Licia membuat para pekerja di restoran terkejut. Leo menjelaskan keadaan Licia pada pemilik kedai dan mereka pun menutup kembali kedai yang baru saja dibuka.
Beberapa menit istirahat sambil menikmati makanan dan minuman yang mereka pesan, dengan keras kepalanya Licia masih ingin melanjutkan jalan ke tempat yang hendak di tuju Leo.
Sempat terjadi perdebatan diantara mereka berdua dan Leo mau tak mau akhirnya mengalah dan menuruti keinginan Licia.
Mereka pun sampai di sebuah rumah tua yang jaraknya 100 meter saja dari pusat kota atau alun-alun kota. Tempat yang di tuju Leo adalah rumah seorang pelukis terkenal di kota.
" Kamu bisa menunggu di sini sebentar? " pinta Leo.
Licia melirik keadaan sekitar mencoba memastikan apakah dia aman atau tidak. " Baiklah. Tapi jangan lama-lama, "
Leo mengangguk lalu berjalan masuk ke rumah pelukis itu. Leo ingin meminta pelukis terkenal itu melukis wajah ibu Licia.
10 menit berlalu, Leo pun keluar dan melihat Licia yang duduk di kursi depan rumah pelukis. Dia sepertinya menikmati pemandangan kota terlihat dari wajahnya yang begitu tenang dan senandung merdu yang terlantun.
" Aku sudah selesai, " kata Leo.
" Kemana lagi sekarang? Jalan-jalan lagi atau pulang? " tanya Licia dengan senyum manis.
Senyumnya benar-benar sangat mempesona sekali sampai membuat jantung Leo berdegup kencang.
" Kita pulang saja, " ucap dingin Leo. Sikap yang ditunjukan Leo bertolak belakang dengan isi hatinya. Mau bagaimanapun perlakuan Licia saat itu selalu menjadi mimpi buruk ketika bertemu.
Senyum cantik Licia perlahan sirna melihat sikap dingin itu. Dia juga sadar diri sifat itu juga karena ulahnya.
" Ba-bagaimana kalau makan dulu? Sudah lama aku tidak merasakan makanan di kota, " ajak Licia sedikit canggung.
" Mau makan lagi? Baiklah kita makan di sana saja. " Leo berjalan menuju kedai makan tepat di sebrang jalan.
Licia berharap Leo menggandeng tanganya tapi apalah daya. Harapan itu tak akan terwujud melihat Leo sudah berjalan ke sebrang.
" Sedang menunggu apa? " tanya Leo seraya melangkahkan kaki ke dalam kedai makan. Licia yang melamun terkesiap lalu segera datang menyusul.
...***...
" Leo? " terdengar suara wanita menyapa saat Leo baru saja masuk ke dalam kedai.
Mata Leo menjelajahi kedai mencari sosok suara yang memanggilnya.
" Kakak?! " kejutnya menyadari Thalia yang duduk bersama Yun Zhu sedang asik makan bersama.
" Padahal aku memakai topeng, bagaimana kakak bisa mengetahuinya? " imbuh Leo berjalan mendekati meja makan Thalia.
" Jelaslah aku tau, " Thalia mengarahkan jari telunjuk pada Leo. " Topeng cadanganmu kan kamu simpan di laciku dan bentuknya sama persis, "
" Siapa gadis yang dibelakangmu? " tanya Yun Zhu menyela percakapan kakak beradik itu.
" Ah ini? " Leo menggeser badan sedikit.
__ADS_1
" Licia?! Apa itu kamu? Waaaah..., penampilanmu lebih cantik dari biasanya! " kejut Thalia terpesona akan penampilan Licia.
" Ha-hai Thalia, " sapa Licia melambai setengah tangan.
" Licia? Apa kamu... "
" Ya, dia putri kerajaan Gerelia. Licia kenalkan wanita berambut ungu ini adalah putri Yun Zhu. Putri dari kaisar Cronix, "
Licia menjulurkan tangan kanan pada Yun Zhu.
" Sa-salam kenal, "
" Salam kenal juga, " jawab Yun Zhu sambil menjabat tangan Licia. " Pantas saja dia sampai jatuh hati padamu, " lanjutnya dengan melirik Leo.
Leo segera membalik badan dan menjawab, " Sifat burukmu tidak hilang-hilang Yun Zhu. "
" Ahahaha..., duduklah! Mari makan bersama, " pungkas Thalia.
Mereka berempat pun makan bersama sambil bersenda gurau menghabiskan waktu senja. Pertemuan itu sedikit membuat Licia cemburu dan kesal saat melihat Leo yang tadinya selalu bersikap dingin berubah menjadi sosok periang saat ada Yun Zhu dan kakaknya.
...***...
Tepat saat mentari memencarkan cahaya jingga, mereka berempat pun keluar dari kedai.
" Aku dan Licia akan kembali ke istana, apa kamu mau ikut Yun Zhu? " ajak Leo.
Yun Zhu menggeleng. " Aku ingin melanjutkan berkeliling bersama Thalia. Kalian pulanglah dulu, "
" Baiklah. Mari Licia. " Leo mulai berjalan menuju arah istana disusul oleh Licia.
" Sebentar Leo! " cegah Yun Zhu saat Leo baru beberapa kali melangkah.
Leo membalikkan badan, " Ada apa? "
" Apa malam nanti kamu ada waktu? Ada sesuatu yang ingin kusampaikan, "
Leo mengernyit alis sejenak mengingat-ingat apakah malam ini ada jadwal lain selain menjaga Licia.
" Sepertinya waktuku luang nanti. Mau bertemu di mana? "
" Di danau dekat kota. Ku tunggu tengah malam nanti. Sampai jumpa... " Yun Zhu malambaikan tangan dan melanjutkan jalan bersama Thalia.
Sementara itu Licia dibuat penasaran dengan rencana pertemuan Leo dan Yun Zhu. Dia ingin sekali bertanya langsung tapi tidak berani. Di perjalanan pulang dia tak bisa berhenti memikirkannya bahkan sampai memikirkan hal-hal aneh.
...***...
" Untuk malam ini kamu akan dijaga pengawal raja, " pungkas Leo saat sudah sampai di depan kamar Licia.
" Kapan kamu akan ke sini lagi? " tanya Licia.
" Besok pagi aku akan menjagamu lagi. Hanya untuk malam ini saja, "
" A-apa karena ingin bertemu putri Yun Zhu itu? " Licia memberanikan diri bertanya walau terbata-bata.
" Ya. "
" Ke-kenapa harus malam hari? Apa tidak bisa besok pagi saja? "
" Entahlah aku juga tidak tau tujuan dia. Tapi aku sudah terlanjur bilang bisa datang jadi aku tidak boleh mengingkarinya. Sekarang masuk dan istirahatlah, " Leo membukakan pintu kamar dan sedikit mendorong badan Licia masuk ke dalam kamar.
" ... " Licia menganggukkan kepala tapi dia jelas belum puas dengan jawaban itu.
" Selamat istirahat, "
" Emh... Sampai jumpa besok. " Licia menutup pintu kamar lalu bersandar di baliknya. Hatinya berdegub kencang dengan pikiran yang teracak-acak oleh berbagai macam spekulasi terhadap pertemuan Leo dan Yun Zhu.
" Apa mereka mau melakukan sesuatu? "
" Apa Yun Zhu mau menawarkan tahta kekaisaran lagi lewat pernikahan? "
Pertanyaan-pertanyaan yang terus berputar-putar di kepala gadis berambut putih perak itu.
Dia kesana kemari mencari posisi tidur agar bisa melupakan tapi tetap tidak bisa. Akhirnya Licia nekat kabur dari jendela sebelum para prajurit istana memenuhi luar kamarnya. Pertanyaan yang ketiga mungkin menjadi kekhawatiran sendiri mengingat Leo memiliki bakat hebat dan bisa saja kekaisaran ingin memanfaatkan Leo menjadi senjata mereka.
Gadis itu menggunakan sayap sihir dan terbang menuju Danau tempat pertemuan lalu bersembunyi di semak belukar lebat tepi danau dan menunggu sampai tengah malam.
...***...
Tepat tengah malam, Yun Zhu datang lebih dulu. Ia menunggu di tepi danau. Tak lama dari kejauhan Leo datang dengan sayap sihirnya.
" Maaf membuatmu menunggu lama, " ucap Leo.
" Tidak juga, aku baru saja sampai, "
" Lalu apa yang ingin kamu katakan? Jangan bilang kamu ingin menawariku pernikahan lagi, "
" Ahahaha..., tertebak ya ternyata? "
" Untuk ke sekian kalinya aku tetap menolak! "
" Tenang saja aku sudah menyerah dengan hatimu. Aku hanya ingin mengabarkan bahwa bulan depan aku akan segera menikah, "
" Ha?! " kejut Leo dengan mata melebar. " Dengan siapa? Apa jangan-jangan dengan pamanmu sendiri? "
" Ahahahaha... " Yun Zhu terbahak mendengar pertanyaan konyol Leo. " Mana mungkin aku menikahi si tua bangka yang haus tahta itu. Lagipula dia sudah di eksekusi musim lalu, "
" Pernikahanmu berdampak besar pada internal kekaisaran sudah pasti pernikahannya atas dasar politik bukan? "
Yun Zhu mengatur nafas sejenak dan mengelap air mata bekas tawanya tadi. " Ya memang ada unsur politiknya tapi aku juga ada rasa kepada calon suamiku meski rasa cintaku padamu masih belum bisa kupadamkan, "
" Selain mengabarimu tentang pernikahan ini, aku juga ingin meninggalkan rasa ini kepadamu selama-lamanya. " lanjut Yun Zhu
Leo membisu. Pandanganya mulai kosong sejenak. Rasa bersalah lahir di hatinya setelah mendengar perkataan Yun Zhu. Rasa salah karena dia menyerah dan gagal menumbuhkan rasa cinta kepada Yun Zhu dan selalu menolak gadis itu semena-mena tanpa memikirkan perasaanya.
Yun Zhu melambai tangan di depan wajah Leo. " Hey... Kenapa melamun? "
Leo menggelengkan kepala lalu menjawab, " Ah maaf-maaf! Oh ya memangnya siapa calon suamimu? "
" Taka. " jawab singkat Yun Zhu dengan iringan senyum indahnya.
" Taka? Maksudmu Pangeran Taka?! "
" Ya! "
Rasa bersalah Leo perlahan berubah menjadi rasa lega karena calon suami Yun Zhu adalah sosok yang amat dia kenal. Dia adalah Taka. Pangeran sekaligus putra mahkota kerajaan Taiyoria. Taka merupakan sahabat dekat dan saudara seperguruan di Taiyoria.
" Aku tidak menyangka dia akan menikah denganmu, "
" Yah semua tak lepas dari masalah internal kekaisaran. Negara besar kami sudah mulai rapuh. Mau tak mau dengan bernaung kepada kerajaan yang lebih kuatlah kami bisa terus bertahan. "
" Tapi Yun Zhu bukankah kekaisaran justru akan menjadi boneka Taiyoria? "
" Memang itulah keinginan ayahku. Ini semua gara-gara adikku. Jujur saja dia tidak pulang bukan untuk memburu para pemberontak tapi karena tidak mau menjadi kaisar berikutnya. Sedangkan para rakyat dan bangsawan ragu terhadapku, "
" Aku tidak menyangka kekaisaran sekacau itu sekarang, "
__ADS_1
" Para menteri memberiku dua pilihan. Menikah dengan pangeran Taka atau menculikmu dan menjadikanmu suamiku. " Yun Zhu mendekatkan diri pada Leo.
" Dan kamu memilih pangeran Taka? "
" Pangeran Taka menjanjikanku dan rakyatku keamanan serta kedamaian. Sifatnya yang hampir sama denganmu membuatku jatuh hati tapi dia sadar walaupun aku ada untuknya tapi hatiku masih berusaha menunggumu, " jelas Yun Zhu seraya menatap lembut wajah Leo.
" Karena itu... "
...Puk..., ...
Yun Zhu memeluk erat Leo. Air mata atas semua rasa cintanya tertumpah dalam pelukan itu.
" Izinkan aku memelukmu untuk terakhir kali! "
" Yun Zhu... " desis Leo yang langsung mematung.
" Janji kita saat itu dan hari-hari yang pernah kita habiskan bersama, semuanya tidak ada artinya. Aku yang awalnya kesepian, aku hanya ingin disentuh pada akhirnya jatuh cinta pada kehangatan yang kamu berikan." ungkap isi hati Yun Zhu yang ia utarakan ditengah tangisnya.
" Maaf... " balas Leo lirih.
" Aku tidak ingin berpisah denganmu! Aku ingin selalu mendekap mu! Aku tak ingin rasa cinta ini berakhir! Aku tidak ingin mengakhirinya! Tapi..., keadaan ini memaksaku untuk mengucapkan selamat tinggal! Maafkan aku..., izinkan cinta yang tak terbalas ini terbuang dalam pelukanmu! " imbuh Yun Zhu.
Bibir Leo bergetar sambil mendongak menatap langit penuh bintang dengan mata berkaca-kaca. Rasa sakit yang dialami Yun Zhu seakan menembus hatinya juga. " Maafkan aku! Maafkan aku Yun Zhu! Aku tidak bisa mencintaimu! Berulang kali aku berusaha mencoba menumbuhkan rasa yang sama padamu, tapi hati ini selalu tertutup untukmu. Maafkan aku karena kamu ku anggap seorang kakak bagiku. Aku tak sanggup merubah pandanganku itu, "
Yun Zhu tak menjawab. Dia benar-benar melepaskan semua cintanya di tangisan itu agar tak punya penyesalan lagi setelah semuanya usai.
Beberapa menit berlalu, angin malam mulai berhembus membawa suhu dingin nya. Yun Zhu melepaskan pelukan hangat itu sambil membersihkan sisa air mata yang masih menempel.
" Maaf Leo aku terbawa suasana, " pungkas Yun Zhu.
Leo menunduk. Beberapa tetes air mata jatuh dari wajahnya. " Sekali lagi aku minta maaf, "
" Sudahlah. Semua ini salahku Leo. Aku terlalu berekspektasi tinggi terhadap perasaanku. " Yun Zhu mundur beberapa langkah. Wajah sedihnya perlahan menjadi cerah. " Mulai sekarang aku akan berusaha untuk memberikan cintaku pada pangeran Taka. "
Leo mengangkat kepala lalu tersenyum kecil, " Mari kita buka lembaran baru Yun Zhu. "
" Ya! " Yun Zhu menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskanya, " Fyuuuh..., entah kenapa rasanya selega ini. "
Leo hanya membalas dengan senyuman. Dia kembali mendongak memandangi langit penuh bintang.
" Aku iri dengan seseorang yang bisa meluluhkan hatimu, " cetus Yun Zhu.
" Meluluhkan hatikah..., " gumam Leo sembari memejamkan mata sejenak.
" Aku sudah mendengar semuanya dari Thalia. Kupikir ada baiknya kamu memberi dia kesempatan, "
" Entahlah Yun Zhu. Saat ini aku tidak tau harus bersikap apa padanya. Hati dan pikiranku mulai kacau saat memikirkan dia, "
" Yah, aku paham itu. Tapi kamu tidak bisa melupakannya kan? "
" Aku— "
" Tuaaaaan....! "
Belum selesai Leo berkata, seorang prajurit cavalry istana tiba-tiba berteriak memanggil Leo.
" Ada apalagi sekarang? Jangan bilang Licia menghilang lagi! " tebak Leo dengan kesal seakan dia sudah tau tujuan prajurit istana itu.
" Maaf menggangu tuan! Tuan putri– "
" Hilang lagi? " sela Leo.
" Ya tuan! "
" Dasar anak itu! Baiklah kembalilah ke istana. Aku akan segera mencari dia! " dengan perasaan sangat kesal Leo mengeluarkan sayap sihirnya.
" Maaf Yun Zhu... "
" Tidak apa-apa. Aku sudah menyampaikan semua yang ingin kusampaikan padamu. Maaf aku mengganggu waktu kerjamu dan terimakasih juga kamu sudah mau menemuiku, "
" Harusnya aku libur malam ini tapi yasudahlah. Aku pergi dulu. " Leo segera terbang ke kota untuk mencari Licia yang hilang lagi.
Yun Zhu melihat Leo yang terbang menjauh dengan senyum lebar. Dia benar-benar Lega sekarang.
" Sampai kapan kamu bersembunyi di semak-semak? " tanya Yun Zhu melirik ke semak-semak di belakangnya.
Siapa sangka ternyata Yun Zhu sejak tadi sudah tahu bahwa Licia sedang menguping dibalik semak-semak.
...Kresek... Kresek......
Licia tertangkap basah dan mau tak mau harus menampakkan diri walaupun dengan rasa malu.
" Ba-bagaimana kamu bisa tau aku disitu? " tanya lirih Licia sambil membuang wajah malunya itu.
Yun Zhu mengarahkan telunjuknya ke belakang Licia. " Lihat itu! "
Licia membalik badan lalu menyipitkan mata mencoba memfokuskan penglihatan ke tempat Yun Zhu menunjuk. Ternyata dibelakang Licia sejak tadi ada 5 pengawal Yun Zhu yang berkamuflase di atas pohon.
" Me-mereka pasukan Leo? "
" Pasukanku. Mereka dulu dilatih oleh Leo dan pasukan Yurei-nya. Jadi jangan kaget melihat mereka bisa menyembunyikan hawa keberadaan, "
Licia semakin malu. Dia tertunduk lesu akibat kebodohanya yang tidak sadar ada pengawal sebanyak itu dibelakangnya.
" Kamu sudah mendengar semuanya kan? Saranku untukmu, kejarlah dia dan perbaiki semua kesalahan yang pernah kamu perbuat padanya, "
" Aku.... Aku... " Licia ragu-ragu. Dia masih belum bisa berfikir jernih saat ini.
" Itu hanya saran dariku. Harusnya kamu beruntung bisa masuk ke hatinya. Pulanglah! Kuyakin dia sedang kebingungan mencarimu, "
Licia menganggukkan kepala tanpa menjawab apa-apa.
" Oh ya. Aku lupa menyampaikan pada rajamu kemarin. Tolong sampaikan kepadanya untuk semakin mewaspadai kerajaan Axel, "
" Axel? Memangnya apa yang terjadi? "
" Sejak 2 tahun terakhir Kerajaan Axel memobilisasi penduduknya untuk kepentingan militer. Entah apa tujuan mobilisasi itu tapi mata-mataku mengatakan mereka sedang bersiap untuk peperangan walaupun belum diketahui siapa musuh mereka, "
" Sepertinya itu akan menjadi ancaman juga bagi kami karena wilayah tenggara Gerelia berbatasan langsung dengan Axel. Ta-tapi kenapa kamu memberitahu kami? " Tanya Licia.
" Axel sudah keluar dari aliansi Angelus. Demi mengantisipasi ancaman Axel di masa depan, kalian juga harus tau tentang informasi ini. Ditambah Axel penduduknya tak memiliki agama, mereka bisa saja menyerang kaum kami atau bahkan kamu Deus. Jadi waspadalah, "
" Emh... Terimakasih putri Yun Zhu. Informasi ini sangat penting bagi kami. Kalau begitu sampai jumpa lagi, " Licia melambai ringan pada Yun Zhu lalu melangkah menuju kota.
" Hey putri Licia! " panggil Yun Zhu.
Licia menghentikan langkah dan membalik badan lagi. " Ada apa putri Yun Zhu.
" Jika suatu saat kita menjadi pemimpin wilayah masing-masing, mari kita bekerjasama demi terwujudnya perdamaian abadi antar umat beragama! " ungkap Yun Zhu dengan semangatnya.
Licia sedikit tertegun. Ya, dia saja tidak berniat menjadi penguasa lalu mana mungkin bisa menerima ajakan Yun Zhu. Gadis itu pun hanya merepalkan tangan dan tersenyum manis sambil mengangguk karena tidak tau harus menjawab apa.
" Sampai bertemu di acara pertemuan putri Licia! " cetus Yun Zhu seraya melambaikan tangan melihat Licia yang sudah berjalan menjauh menuju kota.
Sementara dirinya masih ingin di pinggir danau menikmati angin malam sambil berusaha melupakan Leo walaupun memang tidak mungkin bisa dilakukan dalam semalam.
__ADS_1
^^^To be continue.^^^