KEBANGKITAN KESATRIA PENDOSA

KEBANGKITAN KESATRIA PENDOSA
#34# DALANG SEBENARNYA


__ADS_3

Teror di malam hari terus menghantui kamar. Leo memilih diam dan tidak memberitahu Thalia apa yang terjadi tapi dia juga terus menjaga Thalia bahkan saat jam pelajaran. Leo sesekali izin ke toilet hanya untuk mengecek kakaknya. Bahkan kemanapun kakaknya pergi dia akan selalu ikut.


Mereka berdua bagaikan seorang pasangan kekasih yang dimana-mana selalu bersama. Kedekatan kakak adik itu menumbuhkan rasa cemburu Aron. Rasa cemburunya perlahan berubah menjadi rasa benci pada Leo.


Aron sendiri berkali-kali mengajak Thalia berkencan atau hanya sekedar bertemu untuk berbicara singkat tapi Thalia selalu menolak. Gadis itu memang sedang sibuk sebagai perwakilan Valdia ditambah harus merawat sang adik.


Leo sebenarnya tahu bahwa Aron pasti cemburu. Leo pun menemui Aron dan meminta agar dia mau menjaga sang kakak karena beberapa hari ini secara tidak sadar Thalia sedang di teror.


Aron dengan tegas mengatakan akan melindungi Thalia dengan syarat Leo memberikan waktu agar Aron bisa bertemu Thalia. Leo menyetujuinya tapi juga mengajukan syarat agar Aron jujur dan mengizinkan pasukan Yurei menyelidiki kasus Clara di kelompok Fiteach. Aron menyetujui juga syarat Leo dan sekaligus mengakhiri konflik kecil antara mereka berdua.


Kesepakatan itu dimanfaatkan Leo untuk mulai melanjutkan penyelidikan kasus Clara. Dia memerintahkan kembali pasukan Yurei untuk menemui kelompok Fiteach dan menanyai mereka.


Tapi saat akan menemui kelompok milik Aron, terjadi kegaduhan di akademi. Kegaduhan terjadi karena beberapa siswa mengalami keracunan makanan saat di kantin dan semua anggota kelompok Fiteach juga  menjadi korban. Para korban keracunan bukan dibawa ke gedung medis akademi tetapi langsung dibawa ke rumah sakit ibukota.


Namun ada sebuah kejanggalan dimana rata-rata korban keracunan adalah para kelompok-kelompok siswa bangsawan bukan siswa beasiswa. Sementara tersangka insiden itu adalah salah satu juru masak akademi. Pelaku beralasan melakukan peracunan karena tidak suka dengan sikap para siswa bangsawan.


Apakah insiden ini murni dendam pribadi juru masak atau memang sudah direncanakan pihak tertentu? Semenjak Leo melakukan penyelidikan terhadap kasus Clara, mulai banyak sekali kejanggalan-kejanggalan yang terjadi di akademi.


Mulai dari para sikap beberapa guru yang sangat baik kepada para siswa beasiswa padahal sebelumnya mereka selalu mendiskriminasi. Selain itu mulai berkuranganya aksi perundungan dan banyak sekali para siswa bangsawan bersikap ramah kepada anggota Yurei. Tidak sedikit juga siswi yang menggoda pasukan Yurei. Entah apa tujuan mereka tetapi  keadaan akademi sekarang berbeda 180° dari saat minggu pertama Leo dan pasukan Yurei di akademi.


Walaupun begitu, teror demi teror masih sering terjadi di kamar setiap tengah malam dan perlahan membuat mengganggu pikiran Leo. Malam ini dia berencana menangkap pelaku teror tersebut.


...***...


Benar saja saat tengah malam, seorang berjubah hitam kembali muncul dan mengawasi kamar Thalia. Leo juga sudah menyadari kehadirannya tapi dia tidak ingin membangunkan sang kakak.


Leo perlahan membuka jendela kamar lalu mengambil belati milik Thalia di meja sambil memperhatikan sosok berjubah itu.


Menyadari dirinya diperhatikan, sosok itu mengambil seekor tikus dari balik jubahnya lalu mengangkat dan menyembelihnya.


Leo tahu apa yang dilakukan peneror tersebut sebagai bentuk peringatan. Tapi Leo tidak takut karena sejak awal dia memang berniat ingin menangkal pelaku teror itu.


Melihat sosok berjubah yang masih sibuk menyembelih tikus, Leo menyiapkan sebuah sihir dan siap menyerang.


" Wind bullet! "


...Whuus! Boom!...


Bagaikan hembusan angin kencang, Leo langsung menghantam sosok itu hingga menimbulkan ledakan yang menggetarkan asrama. Seluruh siswa di asrama langsung berhamburan keluar karena mengira terjadi gempa bumi.


Sementara Leo gagal menangkap sosok tersebut. Serangan cepat barusan meleset dan hanya memotong tangan kirinya. Tapi tidak sepenuhnya gagal karena sosok itu terlihat berlari terpontang panting menjauh dari tempat tadi.


Leo berusaha mengejar sosok tersebut. Awalnya dia mengira mudah untuk menangkapnya karena dia sudah terluka parah. Tapi peneror itu mengeluarkan sayap sihir air dan terbang cepat menjauh dari Leo.


Tak ingin usahanya sia-sia, Leo juga ikut mengeluarkan sayap sihir angin untuk mengejar. Mereka berdua saling kejar mengejar dan terbang semakin menjauh dari ibukota.


Leo juga terus menembakkan sihirnya tapi semua meleset karena kegesitan sosok berjubah itu diluar dugaan Leo.


20 menit lamanya mereka saling mengejar sampai akhirnya sosok tersebut kehabisan energi sihir dan jatuh di sebuah sungai di dalam hutan wilayah barat ibukota Gerel.


Sebelum jatuh, Leo sekali lagi menggunakan sihir wind bullet. Dia melesat dan menendang sosok itu sampai menghantam sungai.


...Baaak! Byuuur!...


Leo berhasil melumpuhkan sosok tersebut. Dia pun turun dan mencoba mendekatinya tapi tiba-tiba belasan anak panah melayang ke arahnya.


Leo reflek menghindari belasan anak panah kemudian terbang kembali ke atas untuk mencari tahu arah anak panah itu melesat. Tapi saat sedang mengamati, dari arah belakang muncul bola-bola api yang meluncur ke arahnya.


...Booom! Booom! Booom!...


Bola api itu menghantam Leo dan meledak. Untung saja Leo segera mengeluarkan sihir persai es dan meminimalisir dampak ledakan yang mengenainya.


Tak lama setelah ledakan, sebuah tendangan menghantam dada Leo dan membuatnya terpelanting jatuh ke pinggir sungai. Leo mencoba bangkit tapi langsung diserang oleh puluhan orang berjubah hitam.


Leo mengeluarkan sihir gelombang angin dan menghempaskan beberapa dari orang berjubah itu. Kemudian dia maju dan menyerang secara fisik.


Leo yang menggunakan belati Thalia menumbangkan satu persatu orang berjubah itu. Tapi tidak membunuhnya, dia hanya melukai tangan atau kaki mereka agar menyulitkan mereka bergerak.


Ditengah-tengah pertarungan, tiba-tiba muncul 3 tembakan sihir berelemen api, air, dan angin dari 3 arah. Leo secepat mungkin langsung mengeluarkan sihir kubah es.


Booooom...!


Tembakan itu membentur kubah es tapi menciptakan ledakan besar yang menghancurkan ekosistem hutan dalam radius 100 meter. Sedangkan Leo berhasil bertahan tanpa luka sedikitpun berkat kubah es kokoh miliknya.


Saat hendak membuka kubah es, seorang berpakaian hitam putih langsung melayangkan pukulan padanya.


Leo berhasil menahan pukulan itu kemudian menendang balik lalu menjauh sambil mengamati area sekitar dan melihat dia sudah dikepung oleh 30 orang berjubah hitam.


" Memang hebat putra marquis Aiden, " ucap sosok pria paruh baya berambut hitam dengan pakaian hitam putih yang berdiri diatas air sungai.


" Siapa kau? " tanya Leo yang masih menyiapkan kuda-kuda bertarung.


Pria itu membungkukkan badan dengan sopan, " Perkenalkan aku adalah viscount Charlie de Dario. "

__ADS_1


" Charlie? " tanya Leo yang masih asing dengan pria bernama Charlie.


" Tidak perlu kau pertanyakan lebih jauh tuan Reo atau kupanggil saja Leonard? "


" Kau tahu namaku? "


" Tentu saja! Siapa yang tidak tahu dengab pemuda yang berani mengusir pangeran Theo, "


Setelah perkataan Charlie, semua orang yang mengenakan jubah hitam membuka tudung jubah mereka. Terlihatlah ada beberapa anggota kelompok Fitheach, lalu ada juga beberapa guru akademi termasuk kepala akademi. Dan sisanya adalah para prajurit penjaga akademi.


" Guru Bernald!? " kejut Leo melihat kepala akademi yang bersimbah darah dengan tangan kiri yang putus.


" Memang sebuah kesalahan aku menerimamu di akademi ini. Sejak kedatanganmu bisnis kami menjadi kacau. Seharusnya dulu kubunuh saja Clara itu daripada kubuang ke tempat para perampok. Padahal aku sudah berhati-hati saat menjemput siswi akademi di malam hari tapi kau masih saja menyadarinya, " ucap Bernald tanpa rasa bersalah.


" Jadi yang meneror kamar kakakku adalah anda? " tanya Leo yang masih tak percaya kepala Akaedmi ikut terlibat.


" Itu balasan karena kau memergokiku malam itu Leo. Tapi sangat disayangkan kau terlalu dalam ikut campur urusan kami sekarang, " jawab Bernald.


" Hhhh seharusnya kau tetap diam saja sebagai siswa akademi yang baik dan tidak perlu repot-repot ikut campur bisnis kami, " imbuh Charlie sambil menggelengkan kepala.


" Bisnis macam apa yang sebenarnya kalian kelola? " tanya Leo yang masih waspada akan datangnya serangan musuh.


" Kau tidak perlu tahu. Lagipula kau sudah ikut campur terlalu dalam. Nah Leo karena kau sudah mengetahui kami, kau tidak akan bisa lolos begitu saja. Jika kami tidak bisa mencabut nyawamu, setidaknya kami bisa memotong lidah dan kedua tanganmu, " jawab Charlie seraya menodongkan pedang.


" Aku juga tidak segan-segan membunuh kalian! Kalian semua para binatang yang merusak kehormatan wanita hanya layak tinggal di neraka! " gertak Leo.


Melihat keberanian Leo, Charlie pun menurunkan pedangnya dan tersenyum kecut, " Baiklah bagaimana kalau kita buat kesepakatan? "


" Kesepakatan apa yang kau tawarkan? "


" Membunuh anak seorang bangsawan besar dapat memicu perang. Ada baiknya kita bertarung di tempat tersebunyi. Leo aku memberimu waktu selama satu bulan! Aku tidak akan mengusik semua siswi akademi jika di akhir bulan kau datang menemuiku dan menjawab tantanganku! " jawab Charlie dengan wajah sombongnya.


" Lalu apa yang akan terjadi jika salah satu diantara kita mati? " tanya Leo.


" Jika aku mati, maka semua kasus di akademi boleh kau bongkar dan laporkan pada raja. Tapi jika kau mati, kematianmu akan dianggap sebagai kecelakaan semata oleh kerajaan. Selama waktu yang ditentukan, kau dilarang membocorkan tentang kami pada istana. Jika kau melanggar, jangan salahkan aku kalau Thalia, Clara, dan para siswi rakyat jelata yang lain terbunuh di depan matamu! "


" Baiklah aku setujui kesepakatanmu! "


" Ingat! Kalau akhir bulan kau tidak datang, jangan salahkan aku jika orang-orang terdekatmu akan menjadi mayat! " gertak Charlie. Dia kemudian memunculkan sayap sihir yang unik dimana sayap kanan dari api dan kiri dari air. Leo bahkan dibuat takjub oleh kemampuan Charlie.


" Sampai sini saja pertemuan kita! Akan kukirimkan lokasi pertarungan saat waktunya tiba Leo! Dan kalian semua bubarlah! " Charlie terbang pergi meninggalkan lokasi tersebut disusul para pelaku lain yang juga pergi tapi tidak dengan Bernald dan 2 orang berjubah lagi yang masih menutup kepala mereka dengan tudung.


" Bukankah pemimpinmu sudah menyuruhmu pergi? " tanya Leo pada Bernald.


Leo berhasil membelah serangan Bernald dengan sihir tebasan angin. Dia kemudian berlari mendekat dan mencoba menyerang Bernald.


Namun Leo dikejutkan oleh sambaran petir dari belakang Bernald. Sambaran itu merobek sedikit lengan baju Leo.


Sontak Leo menyadari siapakah dibalik jubah dibelakang Bernald yang memakai elemen petir. Leo pun mengalihkan perhatianya pada 2 pria berjubah dibelakang Bernald.


2 pukulan dan 1 tendangan cepat berhasil mementalkan 2 pria berjubah itu sekaligus membuka tudung mereka.


Benar saja dugaan Leo. Salah satu pria berjubah itu adalah Orka dan satu lagi ternyata Aron. Tanpa berkata apa-apa Leo langsung berlari ke arah Orka sambil menembakkan sihir non elemen.


Serangan Leo dibalas oleh Aron dan Bernald dengan mengeluarkan sihir semburan air. Tak sampai situ, Orka pun menambahkan sihir petirnya pada sihir Bernald dan Aron.


...Daaar! Byuuuur!...


Leo berhasil menghindari dari serangan kombinasi itu. Ledakan dari sihir itu membuat sungai tempat Leo berpijak kering seketika dan terbendung oleh bongkahan batu bekas ledakan.


Saat ingin menggunakan elemen es, Leo merasakan sakit pada dadanya dan mulai susah untuk bernapas. Ini adalah efek dari energi sihir yang mulai menipis. Wajar saja karena sedari tadi Leo sudah menghabiskan banyak energi sihir untuk melawan 30 orang ditambah dia menggunakan sihir wind bullet dimana sihir itu mengkonsumsi banyak energi sihir.


Mau tidak mau Leo harus melawan secara fisik tanpa bantuan sihir sama sekali. Dia pun berlari maju ke arah Bernald sembari menghindari serangan-serangan sihir dari Aron dan Orka.


Kecepatan Leo dalam berlari dan menyerang membuat Bernald kelabakan. Dia yang belum siap membuat sihir langsung dihajar habis-habisan oleh Leo dan membuatnya terkapar tak berdaya di pinggir sungai yang sudah mengering.


" Sialaaan kauuuu! " seringai Orka melepaskan tembakan petirnya secara beruntun.


...Boom! Boom! Boom!...


Tembakan itu meledak dimana-mana namun tak berhasil mengenai Leo yang gesit menghindar.


Melihat musuhnya tinggal 2, Leo pun menyasar Orka terlebih dahulu karena dia belum tahu kekuatan sebenarnya dari Aron. Hanya saja saat hendak menyerang Orka, Aron sigap langsung menendang Leo.


Leo berhasil menahan tendangan itu dan memukul balik. Aron juga berhasil menahanya. Pertarungan jarak dekat antar mereka berdua pun terjadi.


Terlihat bagaimana mereka berdua sama-sama lincah bertarung jarak dekat. Mereka saling menyayat dan menebas tapi keduanya juga sama-sama bisa menghindar. Dengingan demi dengingan terdengar nyaring saat 2 belati mereka saling beradu.


Siapa sangka saat Leo sudah hampir kehabisan energi sihir justru dia berhasil memenangkan pertarungan itu dengan melayangkan 1 tendangan ke dada Aron dan membuatnya terpental beberapa meter.


Saat akan menyerang Orka, ternyata dia sudah kabur. Anak count Randa itu memanfaatkan pertarungan sengit tadi untuk melarikan diri dari pertarungan. Selain itu, Bernald yang pingsan juga sudah tidak ada di tempat.


" Cih mereka kabur! " desis Leo melihat sekeliling.

__ADS_1


" Pantas saja Thalia selalu membanggakanmu. Ternyata kau memang hebat, " ucap Aron seraya mengusap bibirnya yang berdarah.


" Sudah sejak awal aku mencurigaimu dan kelompokmu! Walaupun aku tidak tahu bisnis kalian tetapi yang jelas kalian sudah memperdagangkan manusia dan itu adalah ilegal! Aron, mulai sekarang aku tidak akan membiarkanmu mendekati kakakku lagi! " bentak Leo. Dia mulai paham bisnis macam apa yang sebenarnya orang-orang itu kelola.


" Lakukan saja jika kau bisa! Kuyakin suatu saat kau akan menyesalinya jika itu terjadi! " Aron langsung terbang menggunakan sayap sihir air setelah memberi peringatan pada Leo.


Leo sendiri tak bisa menggunakan sayap sihir ataupun menggunakan sihir terbang elemen angin. Dia memilih berjalan memasuki hutan sambil memegangi perutnya yang ternyata terkena goresan dari belati Aron.


Ditengah jalan dalam gelapnya hutan, Leo terkejut saat melihat ada Licia yang berdiri di depan. Ya, sejak awal sebenarnya Licia mengikuti Leo dan bersembunyi di dalam hutan.


" Kamu melihatnya? " tanya Leo menatap Licia.


Licia diam dan hanya menganggukkan kepala seraya melihat luka di perut Leo.


" Sejak awal kamu sudah tahu tentang mereka? " tanya Leo lagi dan dijawab dengan anggukkan kepala lagi oleh Licia.


" Lalu kenapa kamu tidak membantu? Apa seorang tuan putri juga membiarkan rakyatnya sendiri dijadikan budak seksual kaum bangsawan? "


" Memangnya kenapa? Mereka juga merundung kaum bangsawan jadi itu adalah hukuman yang pantas bagi mereka, " jawab Licia.


" Cara berpikirmu masih tidak berubah ternyata. Jika aku menjadi mereka, aku juga pasti akan merundung bangsawan sepertimu. " Leo berjalan melewati Licia tapi gadis itu dengan sigap memegang tangan Leo.


" Charlie adalah jenderal utama pasukan kerajaan. Kekuatanya tujuh kali lipat diatas Indra. Walaupun kamu memiliki evolusi sihir sempurna, kamu tidak akan bisa mengalahkan dia. Di Gerelia bahkan di dunia ini Charlie lah satu-satunya kesatria pemilik dua elemen sihir tingkat kaisar, "


" Kalau begitu aku akan tujuh kali lipat lebih kuat darinya. " Leo menarik tanganya dan berjalan pergi.


" Bukankah kamu juga tahu Orka ada disana? Apa selama ini kamu membiarkan dia ikut menghancurkan kehormatan para wanita? " imbuh Leo sembari berjalan menjauh.


" Setidaknya dia memiliki cinta tulus padaku! " jawab Licia sambil merepal tangan. Sebenarnya dia kesal dan cemburu melihat kelakuan Orka. Tapi baginya Orka adalah rumah dan tempat dimana dia bisa mendapatkan kasih sayang.


" Terserah kamu saja dasar tuan putri bodoh yang dimabuk cinta. " balas Leo mengakhiri perbincangan.


...***...


Setelah 30 menit berjalan, Leo berhasil kembali ke asrama dan berhasil menahan kekuatan tersembunyinya dengan sisa energi sihir. Kiran dan pasukan Yurei lain langsung sigap menolong tuan mereka yang sudah dalam keadaan pucat dan membawanya ke kamar.


Sampai di kamar, Leo melihat Thalia yang membalut badan dengan selimut sedang mengamati jendela dengan raut wajah memancarkan kecemasan.


" Tinggalkan aku sendiri. " ucap Leo pada Kiran dan pasukanya.


" Baik tuan! " Kiran menutup pintu kamar Thalia lalu pergi.


Thalia sendiri berjalan mendekati sang adik lalu menyentuh luka di perutnya. " Jika terus seperti ini, aku tidak akan mengizinkanmu kemanapun tanpa diriku! "


Leo langsung menggigit leher Thalia tanpa berbicara sepatah kata pun.


" Apa yang terjadi sampai membuatmu terluka begini? " tanya Thalia sembari mengelus kepala sang adik.


Leo melepaskan gigitanya dan menjawab, " Mereka menyerangku di tengah sungai. Sepertinya akademi ini juga menjadi ladang bisnis perdagangan manusia. "


" Aku harap kamu tidak terlalu jauh ikut campur di dalamnya Leo. Bisnis yang kamu maksud mungkin melibatkan banyak bangsawan dan pejabat kerajaan. Aku tidak ingin kamu mempunyai banyak musuh. Karena itu lebih baik kamu hentikan sekarang, "


" Apa kakak sudah tahu sejak awal? "


" Maafkan aku karena tidak bisa memberitahumu karena ini juga termasuk perjanjianku dengan Aron, "


" Kenapa kakak masih mempertahankan hubungan denganya? Jelas-jelas kakak sendiri tahu seperti apa prilakunya! Aku ingin kakak memutuskan hubungan dengan binatang seperti dia! "


Thalia menggelengkan kepala lalu menyentuh pipi Leo, " Itu mustahil Leo. "


" Kenapa? Apa yang membuat kakak sampai tidak bisa meninggalkanya!? "


" Karena kita mempunyai hutang ke keluarga Aron. Apa kamu lupa kalau count dari Furu pernah membantu Valdia? Semua itu tidak gratis Leo! "


" Untuk melunasi hutang, kakak menyetujui perjodohan dengan Aron? "


" Ya. Jika sampai perjodohan batal, mereka tak segan-segan menagih hutang dengan cara apapun bahkan mereka berani mengancam akan melukai ayah dan Melina, "


" Kita sudah bukan bangsawan miskin. Kita juga memiliki tambang emas bukankah seharusnya kita bisa membayar? "


" Hutang kita sebesar 20 juta koin emas Leo! Jika kita melunasinya, lalu bagaimana kita mengurus Valdia dalam dua tahun kedepan? "


" Apa ayah tahu tentang ini? "


" Tidak. Aku merahasiakannya. Kesehatan ayah sudah semakin memburuk aku tidak bisa mengatakannya karena itu hanya akan menambah beban pikiran ayah. Sedikit demi sedikit aku harus bisa menanggung beban pemerintahan Valdia Leo, "


Leo terdiam lalu menyandarkan kepalanya di bahu Thalia . " Maafkan aku yang tidak bisa membantu kakak, "


" Kamu sudah banyak membantu. Tapi untuk masalah kali ini, aku mohon padamu agar tidak ikut campur! "


Leo tak membalas ucapan kakaknya. Dia langsung berbaring di ranjang untuk tidur. Sedangkan Thalia menghela napas mencoba mengontrol emosinya.


" Kamu memang keras kepala seperti ayah. Baiklah aku tidak akan menghalangimu selama kamu punya jalan keluar atas keikut campuranmu dalam skandal akademi. Selamat malam! " imbuh Thalia kemudian mematikan lilin kamar.

__ADS_1


To be continue.


__ADS_2