
5 hari berlalu sejak Leo memulai misi pencarian putri Licia tapi hasilnya masih nihil. Bahkan pasukan Yurei sendiri juga belum bisa menemukan lokasi keberadaan tuan putri.
Hanya saja pencarian hari ini semakin dipersempit setelah para pasukan Yurei diluar wilayah ibukota melaporkan bahwa tidak ada keberadaan tuan putri di wilayah mereka.
Hutan, rawa, pebukitan, seluruh desa dan kota-kota kecil di ibukota sudah Leo dan divisi 6 Yurei telusuri. Sejak pagi Leo menyebar semua anggota divisi 6 ke seluruh penjuru wilayah ibukota dan meminta mereka berkumpul kembali ke bukit kecil di timur laut ibukota.
Tepat tengah malam, satu persatu anggota divisi 6 berdatangan. Sayangnya selama seharian penuh mereka semua juga tidak menemukan satupun tanda keberadaan Licia. Sementara Leo mendapat surat dari raja bahwasanya ada campur tangan pangeran Theo dalam kasus hilangnya Licia. Raja pun meminta Leo sesegera mungkin menemukan cucunya.
" Tuaaan...! " dari kejauhan Kiran berteriak sambil berlari ke atas bukit.
Leo segera berdiri lalu menyimpan surat dari raja. " Ada apa Kiran? "
" Aku menemukan ini tuan! " Kiran berhenti tepat di depan Leo dan menyodorkan sebuah jepit rambut emas dengan hiasan berlian.
Leo langsung mengetahui bahwa jepit itu milik Licia karena dia memang sering melihat Licia memakai jepit rambut mewah itu saat di Valdia ditambah jepit tersebut katanya dibuat khusus hanya untuk Licia seorang.
" Dimana kau menemukanya? " tanya Leo lalu mengambil jepit rambut itu.
" Aku menemukanya tak jauh dari perbatasan dengan kearchdukan Fotia di timur laut, "
Leo menghela napas sejenak lalu menyimpan jepit rambut itu. " Divisi 10 sedang berada di perbatasan. Kiran panggilah divisi 10 di perbatasan Fotia. Dan yang lain ikut aku mencari keberadaan tuan putri di tempat Kiran menemukan benda tadi! "
Leo dan divisi 6 Yurei bergerak menuruni bukit. Sedangkan Kiran berangkat lebih dulu dengan sayap sihir non elemenya menuju perbatasan kearchdukan Fotia.
...***...
Saat Leo dan yang lain sampai, mereka menemukan kembali beberapa alat kosmetik milik Licia. Mereka pun berjalan lebih ke arah timur melewati hutan lebat yang menutupi wilayah perbatasan antara ibukota dan kearchdukan Fotia di timur laut.
Ditengah gelapnya hutan rimbun, tak sengaja Leo mendengar seperti suara samar orang yang sedang berbincang-bincang. Dia berjalan mendekati suara itu dan melihat cahaya kuning seperti cahaya obor tak jauh dari tempatnya berdiri.
Leo memerintahkan semua pasukanya menggunakan sihir penglihatan malam. Mereka berjalan mendekati cahaya itu dari berbagai arah. Dan ya, cahaya itu memang dari obor dan yang membawanya adalah 2 prajurit berzirah putih dan berlambang kerajaan suci Deusia.
Sejenak muncul rasa cemas dari benak Leo. Ya, pikiranya hanya tertuju pada Licia seorang setelah melihat dua prajurit itu. Semakin dia menunggu lama dua prajurit tadi semakin kacau juga pikiran pemuda rambut pirang itu.
Leo tiba-tiba menyerang 2 prajurit tadi dan berhasil melumpuhkanya. 2 prajurit itu disekap dan dibawa menjauh dari tempat tadi.
Leo mengintrogasi mereka dengan berbagai cara bahkan berencana menyiksa mereka berdua jika mencoba tutup mulut.
" Baiklah ada baiknya kalian mengatakan yang sebenarnya sekarang, " ujar Leo pada 2 prajurit Deusia yang diikat di atas pohon besar.
2 prajurit itu saling melirik satu sama lain. Dalam hati mereka seperti sedang berdiskusi apakah harus mengatakanya atau tutup mulut saja.
Leo kemudian membuat sebuah bilah tajam dari es. Bilah itu dia tempelkan ke salah satu leher prajurit Deusia. " Kali ini aku tidak akan bersikap lembut. Bagaimana jika kita membuat kesepakatan? Jika kalian buka mulut, kalian bisa bertemu dengan anak dan istri kalian lagi. Tapi jika kalian tetap tutup mulut, jangan salahkan aku jika kalian justru bertemu dewa kematian, "
2 prajurit itu saling melirik kembali beberapa saat kemudian salah satunya menganggukkan kepala. " Ba-baiklah kami akan mengatakanya tapi kami mohon lindungi kami dari kerajaan suci Deusia. Jika kami ketahuan membocorkan informasi, mereka tak segan-segan membunuh kami dan keluarga kami, "
" Tenang saja. Setelah kalian memberikan informasi, aku akan langsung membebaskan kalian. Jadi katakan padaku, apa yang sedang kalian lakukan di dalam hutan gelap seperti ini? "
" Tuan kami sedang mengadakan ritual, "
" Ritual? Ritual macam apa yang dilakukan di dalam hutan lebat begini? "
" Di timur tak jauh dari tempat kita berada, ada sebuah altar kuno yang dipercayai milik dewi Grecia. Disana sedang diadakan ritual yang kami sendiri tidak tahu ritual apa. Yang jelas ritual itu melibatkan pangeran dan tuan putri Gerelia, "
Sontak Leo terdiam oleh pengakuan prajurit itu. Dia tak menduga Licia terlibat dalam ritual rahasia semacam ini ditambah isi surat dari raja benar adanya bahwa pangeran Theo terlibat. " Apa kau tahu ritualnya seperti apa? "
" Selama beberapa hari ini hanya ada pesta-pesta kecil saja tuan dan ritualnya baru akan dimulai saat gerhana bulan terjadi, " jawab prajurit Deusia.
" Oh ya ada yang aneh juga. Saat kami mengantarkan makanan ke tenda milik tuan putri Gerelia, aku tidak sengaja melihat tuan putri yang duduk dengan tatapan kosong seperti terkena sihir pengendali tubuh, " sambung prajurit itu.
" Ha? Pengendali tubuh? Bukankah itu sihir suci yang hanya dikuasai pendeta suci saja? " tanya Leo tercengang.
__ADS_1
" Maaf aku belum memberitahu anda. Tuan kami yang ada altar itu adalah pendeta suci Jeremus. Aku dengar dia yang akan memimpin jalanya ritual, "
" Apa...?! " kejut Leo. Dia tidak sangka pendeta suci terlibat dalam ritual rahasia ini.
Tak lama, Kiran dan kapten divisi 10 yaitu Raska bersama anggotanya datang. Mereka membawa beberapa tas besar berisi topeng dan mantel jubah.
" Tuan kami menemuka– " lapor Kiran yang belum selesai namun langsung disela oleh Leo.
" Aku tahu Kiran. Kita akan bergerak sekarang! Oh ya, kapan gerhana bulan terjadi? "
" Besok tuan! Tepatnya 1 jam setelah matahari terbenam besok gerhana bulan total terjadi! " sahut Raska.
" Baiklah kalian 2 prajurit Deusia kembalilah ke altar itu. Ingat jangan sampai kalian membocorkan keberadaan kami. Kalau tidak, aku juga tidak segan-segan membunuh kalian dan keluarga kalian! " ujar Leo pada 2 prajurit Deusia sembari memotong tali yang mengikat mereka.
" Tuan bukankah sangat berbahaya jika kita membebaskan mereka? " tanya Kiran.
" Kami berjanji tuan! Kami tidak akan membocorkan keberadaan tuan asalkan tuan mengampuni nyawa kami! " sahut salah satu prajurit Deusia.
" Kalian semua lihat wajah 2 prajurit ini! Saat penyerangan besok, jangan sampai kalian melukai atau membunuh mereka! Kalian berdua segera turun dan kembali! "
" Kami akan mengawasi gerak gerik kalian disana! Jika sampai kami melihat hal mencurigakan pada kalian, nyawa kalian akan hilang saat itu juga! " sahut Kiran melanjutkan perkataan Leo.
" Ba-baik tuan! Ka-kami akan menjaga rahasia tuan baik-baik! " 2 prajurit itu segera turun dari pohon lalu berlari kembali ke tempat ritual.
" Malam ini kita kepung mereka di semua arah! Aku ingin beberapa dari kalian membunuh para prajurit yang berpatroli lalu pakai seragam mereka untuk menyusup ke tempat ritual! "
" Maaf tuan tapi apakah harus kita membunuhnya? Bukankah tuan sendiri yang melarang kami untuk membunuh prajurit biasa dalam misi setelah kita kembali ke Valdia? " sanggah Raska.
" Untuk malam ini dan besok, aku ingin kalian menjadi pasukan Yurei sesungguhnya yang pernah membunuh ribuan pembelot di Taiyoria dan kekaisaran! Besok tepat sebelum bulan tertutup total, kita akan langsung menyerang mereka! "
" Baik tuan! " jawab lirih serentak pasukan Yurei.
" Baiklah sekarang pakai topeng dan mantelnya lalu carilah posisi yang bagus untuk penyerangan besok! Tahan haus dan lapar kalian untuk satu hari setidaknya sampai misi selesai! Berpencar! " tegas Leo. Dia langsung melompat maju ke dahan pohon lain. Sementara pasukan Yurei juga langsung menghilang dalam sekejap mata.
Dengan kemampuan menyelinap khas pasukan Yurei, Leo berhasil menerobos barisan penjagaan itu. Dia terus masuk ke dalam dan mendapati sebuah tempat ritual berpilar 4 di semua sudutnya dengan sebuah altar kuno yang terbuat dari emas tepat di tengah 4 pilar tersebut.
Leo pun berpindah ke pohon yang lebih besar demi bersembunyi dan mencari posisi yang bagus untuk penyerangan besok. Saat mengamati sekitar, Leo sedikit ragu bisa mengalahkan semua orang yang ada disini karena jumlah prajurit penjaga diluar perkiraanya. Pemuda itu mengira prajurit penjaga hanya antara 100 sampai 300 orang saja tapi kenyataanya lebih dari 700 orang prajurit yang menjaga. Para prajurit itu bukan hanya dari Deusia melainkan juga dari Gerelia lebih tepatnya para pengikut pangeran Theo.
Selain itu, Leo dibuat bertanya-tanya tentang keberadaan beberapa petinggi count dari Trixia di tempat ritual. Tapi seketika pertanyaan di kepalanya itu terjawab saat melihat Orka dan count Randa juga ada di tempat ritual.
Tak lama setelah Orka muncul, Licia pun juga ikut muncul dari dalam kuil kuno yang jaraknya beberapa meter saja dari tempat ritual. Anehnya Licia tidak seperti biasanya. Terlihat begitu jelas raut wajahnya sangat datar ditambah pandangan matanya yang kosong. Keadaan itu membenarkan perkataan 2 prajurit yang tertangkap sebelumnya.
Leo sendiri tak kuasa melihat apa yang terjadi pada Licia. Entah mengapa hatinya begitu terpukul dan sakit melihat gadis yang ia benci menjadi seperti boneka hidup.
Rasa iba mulai mengacak-acak hatinya. Dia tidak menyangka seorang gadis yang mencari ketulusan kasih sayang justru dijadikan seperti sebuah alat.
" Tuan, beberapa anggota sudah siap untuk menyusup! " ucap Raska yang tiba-tiba muncul di belakang Leo.
" Apa kalian membunuh para penjaga? "
" Maaf tuan. Kami hanya melumpuhkan mereka dan menyekapnya di goa yang tak jauh dari sini, "
" Baguslah... Harusnya aku yang minta maaf karena melanggar peraturanku sendiri. Katakan pada semua anggota agar tidak membunuh satupun prajurit musuh. Besok, tugas kita hanya menyelamatkan putri lalu kalian semua kembalilah ke tempat aku menugaskan kalian sebelumnya, "
" Baik tuan saya akan memberitahu ke semua anggota! " Raska melompat dan menghilang. Sementara Leo kembali mengamati tempat ritual itu.
Beberapa menit kemudian, sesuai rencana sebanyak 6 anggota Yurei yang memakai baju zirah prajurit Deusia berhasil menyusup ke tempat ritual dan berbaur dengan mereka.
...***...
Keesokan hari, masih belum ada tanda-tanda mencurigakan di tempat ritual kuno itu. Hanya ada beberapa prajurit yang menyiapkan beberapa bahan-bahan yang dibutuhkan untuk ritual seperti buah-buahan, beberapa tongkat dengan pucuknya berlambang matahari dan 3 buah cawan emas kosong.
__ADS_1
Beberapa saat berlalu dan orang-orang penting di tempat ritual mulai bermunculan. Dari pendeta suci Jeremus, pangeran Theo bersama penasehatnya, Orka dan count Randa, lalu ada juga beberapa bangsawan kecil dari wilayah utara Gerelia juga ikut hadir. Selain itu juga hadir seorang yang memakai jubah dengan lambang kerajaan Orion. Dia membawa sebuah gulungan emas dan tongkat emas.
Leo semakin penasaran sebenarnya ritual macam apa yang akan mereka lakukan. Alasan Leo tidak langsung menyelamatkan Licia juga untuk melihat prosesi ritualnya sekaligus tujuan dari ritual yang akan dilakukan oleh mereka.
Dari siang sampai malam tidak ada kegiatan lain di tempat itu selain pesta. Ya, mereka berpesta dansa, makan-makan, dan yang membuat Leo terkejut adalah adanya pesta seksual sesaat sebelum gerhana mulai terjadi. Mereka ternyata mengundang lebih dari seratus wanita bayaran untuk berpesta.
Leo tidak habis pikir sebuah ritual yang dia kira ritual suci ternyata adalah ritual menjijikan yang pemimpinya adalah seorang pendeta suci. Hanya saja pendeta suci memang tidak ikut menikmati para wanita-wanita panggilan itu.
...***...
Saat bulan mulai menghilang terlahap gerhana ada fenomena aneh dimana ada sebuah cahaya putih terang jatuh dari langit ke tempat ritual lalu menghilang. Entah cahaya apa itu tetapi setelah menghilangnya cahaya, pendeta suci membunyikan lonceng kecil di tanganya sebanyak 3 kali.
...Ting... Ting... Ting... ...
Keluarlah dari dalam kuil beberapa orang berpakaian jubah putih membawa tandu emas yang diduduki oleh Licia. Anehnya Licia terlihat tidak sadarkan diri diatas tandu itu dan hanya memakai piyama tipis membuat pakaian dalamnya terlihat.
Orang-orang itu membawa Licia ke altar lalu menidurkanya diatas altar tersebut. Kemudian pendeta suci mengelilingi altar itu sebanyak 5 kali sambil terus membunyikan loncengnya.
Setelah selesai memutari altar, dari dalam kuil muncul pangeran Theo yang memakai jubah putih keemasan sambil membawa tongkat emas dan gulungan emas yang siang tadi Leo lihat. Di belakang pangeran, berjalan juga Orka yang dalam keadaan telanjang bulat.
Pikiran Leo mulai kemana-mana dan sudah menduga jika ritual ini terus dilanjutkan pasti akan ada hal buruk yang terjadi. Untuk bersiap-siap ia sudah menggenggam 3 buah bom asap.
Orka dan pangeran Theo berjalan mendekati altar. Pendeta suci pun membariskan 3 cawan emas yang sudah disediakan di pinggir altar. Dan dimulailah ritualnya.
Pendeta suci mengiris telapak tangan Orka lalu meneteskan darahnya ke cawan pertama. Hal yang serupa dilakukan ke telapak tangan pangeran Theo dan darahnya di teteskan ke cawan kedua. Selanjutnya, pangeran Theo menyerahkan gulungan emas itu kepada pendeta Suci.
Pendeta pun membuka dan mengambil sebuah botol kecil yang berisi cairan merah dari dalam gulungan. Cairan itu di teteskan ke cawan ketiga lalu dia membacakan sebuah mantra aneh dari gulungan itu diiringi pangeran Theo yang terus menghentakkan tongkat emas.
Mantra telah selesai dibacakan, pendeta suci meminumkan darah dan cairan tadi pada Licia. Satu demi satu isi cawan diminumkan, seketika muncul gelombang kejut dari Licia yang menghempaskan sekitar.
Adanya gelombang kejut membuat Leo semakin khawatir pada Licia. Dia yang awalnya ingin menyaksikan kelangsungan ritual terlebih dahulu terpaksa membatalkan niat.
Pemuda itu langsung melemparkan bom asap tepat ke tempat ritual. Pasukan Yurei yang lain juga ikut melemparkan bom asap mereka.
...Buush...! Buush...! Buush...!...
Dalam sekejap asap mengepul menutupi tempat ritual dan itu tanda dimulainya penyerangan. Semua orang di tempat ritual panik mencoba menyelamatkan diri mereka masing-masing. Terutama pendeta suci yang lari tunggang langgang mencari tempat sembunyi.
Sementara Orka mencoba melanjutkan ritual tapi Leo langsung memukul wajah Orka dan membuatnya pingsan.
Leo segera membopong tubuh Licia dan membawanya pergi meninggalkan lokasi sambil melempar bom asap merah sebagai tanda mundur.
Para pasukan Yurei yang sudah melumpuhkan beberapa prajurit segera mundur dan berpencar ke segala arah agar musuh kebingungan mengejar mereka.
" Sialaaaaaaan...! " pekik pangeran Theo mengayun-ayun pedangnya dibalik asap pekat. Dia masih belum sadar jika para penyerang telah kabur.
" Asap ini tidak bisa dihilangkan dengan sihir! Semuanya jaga altar! Apapun yang terjadi lindungi putri Licia di altar! " teriak pendeta suci dari kejauhan.
Para prajurit yang dekat dengan altar langsung berkumpul dan membuat formasi melingkar. Dengan jarak pandang yang hanya 1 meter membuat mereka tak sadar bahwa diatas altar sudah tidak ada siapa-siapa.
" Siaaaaal! Kapan asap ini menghilang! Vlaaaad hilangkan asap ini! " murka pangeran Theo.
Asap itu bertahan sekitar 5 menit dan saat menghilang mereka kaget melihat altar yang kosong. Dengan murkanya pangeran Theo memerintahkan semua pasukan untuk mengejar para pelaku yang membawa Licia.
Pasukan di altar kuno berpencar ke segala arah mengejar semua pelaku yang melarikan diri.
" Baginda Jeremus anda harus segera kembali ke Deusia. Jika keterlibatan anda diketahui, ini bisa menjadi ancaman baru bagi kita! " ucap Vlad pada pendeta suci yang masih bersembunyi.
" Cih! Padahal sedikit lagi berhasil ritual ini! Vlad kuserahkan semuanya padamu! Aku pergi dulu! " jawab pendeta suci sekaligus berjalan menjauhi altar kuno bersama beberapa pengawalnya.
" Baik! Hati-hati dijalan baginda! " sahut Vlad.
__ADS_1
Setelah kepergian pendeta suci, Vlad bersama sisa pasukan dan beberapa bangsawan termasuk Orka dan count Randa membersihkan semua bahan-bahan ritual di altar kuno termasuk mengubur beberapa barang-barang yang sebelumnya dipakai ritual. Sementara pangeran Theo ikut mengejar para pelaku. Dia takut para pelaku membocorkan ritual ini ke penduduk karena itu dapat merusak reputasinya.
^^^To be continue.^^^