
Licia dan Leo memulai perjalanan menggunakan dua kuda menuju Valdia bagian tenggara. Diperjalanan, Licia dikagumkam dengan berbagai aktivitas penduduk. Dia melihat para etnis kulit hitam berbaur dengan etnis kulit putih lainya, selain itu dia juga menyaksikan di mana peziarah Angelus dan Deus saling bertegur sapa dan bercengkrama satu sama lain di jalur peziarah. Sebuah pemandangan yang tak pernah dia temui di ibukota.
Leo pun menjelaskan tentang penduduk Valdia yang menjunjung tinggi sikap toleransi. Pemuda itu juga memberi tahu mimpinya pada Licia yang ingin membawa kedamaian antarumat beragama. Namun, Licia justru tertawa kecil mendengar impian Leo.
Licia dibawa nostalgia di mana saat masih kecil, Leo juga sering sesumbar tentang impianya pada Licia. Tetapi, impain Leo saat itu adalah ingin menjadi marquis seperti sang ayah. Percakapan selama 3 jam diperjalanan makin mendekatkan mereka berdua hingga tak terasa mereka sudah sampai ke tempat yang yang di tuju. Ya, mereka telah sampai di tenggara Valdia. Wilayah tenggara Valdia sendiri merupakan hutan lebat dengan bukit berbatu di ujung tenggaranya yang berbatasan langsung dengan laut lepas.
" Mengapa kita ke hutan? " tanya Licia memperhatikan hutan lebat itu.
" Kamu bilang ingin bermeditasikan? Disinilah tempatnya. Mari masuk! " balas Leo sembari memacu kuda memasuki hutan.
Licia hanya menganggukkan kepala lalu mengikuti dari belakang. Alih-alih merasa senang berada dekat dengan Leo, justru Licia menaruh kecurigaan. Dia curiga Leo akan melakukan hal-hal yang tak senonoh padanya saat di dalam hutan.
Karena rasa curiga yang berlebihan, Licia memberi jarak lebih jauh dari Leo. Dia memelankan laju kudanya dan terus bersiaga dengan menyentuh pedang di pinggangnya. Setelah 20 menit berlalu, kecurigaan gadis itu sirna saat melihat ada sebuah desa di dalam hutan. Dia merasa lega sekaligus merasa bersalah karena menaruh curiga pada Leo.
Licia membuang kecurigaan itu dan berjalan mendekati Leo yang sedang bercakap-cakap dengan para penduduk desa.
" Oh kalian semua, kenalkan dia adalah putri Licia. Cucu dari raja Karl, " ungkap Leo pada beberapa penduduk di dekatnya saat Licia datang menghampiri.
" Waah..., Suatu kehormatan bagi kami bisa bertemu langsung dengan anda tuan putri, " sahut salah satu penduduk diiringi bungkukkan badan sebagai rasa hormat. Licia tersenyum manis dan hanya membalas dengan anggukan saja.
" Baiklah aku ingin melanjutkan perjalanan. Untuk kebutuhan pangan penduduk desa, besok akan dikirim oleh para prajurit. " Leo menundukkan kepala kepada para penduduk lalu berjalan memasuki hutan lebih dalam. Licia sendiri menyusul di belakang.
" Aku tak tahu jika ada desa di dalam hutan lebat begini, " ujar Licia yang melajukan kudanya beriringan dengan Leo.
" Mereka adalah suku Zaxin. Dan merekalah penduduk asli Valdia, " sahut Leo.
" Penduduk asli? Bukankah penduduk asli sebenarnya adalah para tetua Deus? "
" Ha? Mereka hanya mengaku-ngaku saja agar kuil suci tetap dalam kendali Deus, "
" Aku juga tidak terlalu peduli sih dengan kuil suci. Oh ya, memangnya sudah berapa lama suku Zaxin tinggal di sini? "
" Sejak dewi Cilia turun ke Valdia. Konon suku itu diciptakan langsung oleh tangan dewi Cilia dari tanah Valdia. Entah ceritanya benar atau tidak, tetapi ada bukti nyata yang membenarkan cerita itu, "
" Bukti? "
" Kamu akan tahu sendiri nanti. Ayo cepat sebelum hari mulai gelap, " Leo memacu kudanya lebih kencang menembus hutan.
" Hey tunggu...! " Licia ikut memacu kuda lebih cepat.
Tak lama, mereka pun sampai di sebuah bukit berbatu dan ada sebuah gua tepat di depan mereka.
" Gua? " tanya Licia.
" Mari masuk. Disanalah tempat yang akan kita tuju. " Leo turun dari kuda lalu menariknya memasuki gua disusul oleh Licia.
Ketika memasuki gua, Licia langsung dibuat takjub oleh pemandangan gua itu. Di dalam gua yang bertanah datar terselimuti rumpu hijaut itu, dia melihat sebuah pohon apel berbentuk sabit di tengah. Pohon itu dikelilingi parit kecil yang teraliri air jernih. Selain itu, banyak kunang-kunang yang beterbangan menerangi dan menghiasi gua.
__ADS_1
" Indah sekali... " kagum Licia menangkap salah satu kunang-kunang.
Leo hanya tersenyum lalu berjalan menuju pohon apel berbentuk sabit.
" Disinilah tempat dewi Cilia turun. Dia Mengambil tanah di sini untuk menciptakan sepasang manusia yang sekarang keturunanya menjadi suku Zaxin. Bekas tanah yang diambil oleh dewi Cilia menumbuhkan pohon apel berbentuk sabit ini. Selain itu, yang uniknya lagi, suku Zaxin tak akan beranak pinak setelah penduduk mereka genap seratus orang, " ucap Leo memetik apel dari pohon.
Licia mendekati Leo, dia juga memetik apel di pohon sabit tersebut, " Melihat pohon ini, aku jadi sedikit percaya tentang asal usul suku Zaxin. "
" Oh ya Licia. Tempat ini adalah tempat suci dan rahasia. Dari seluruh umat manusia di dunia, yang mengetahui tempat ini hanya keluarga Valdius dan suku Zaxin saja. Jadi kuharap kamu bisa merahasiakannya, "
" Hmh aku akan merahasiakanya. "
" Saat aku menginginkan apel, aku selalu datang ke sini untuk memetiknya sendiri. Pohonnya yang berbuah setiap musim, memudahkanku untuk bisa terus memakan buahnya, " ucap Leo sembari memakan apel.
" Apa meditasinya di sini? " tanya Licia.
" Ya, tempat ini kaya energi alam murni. Ini semua mungkin karena tempat ini pernah menjadi p[ijakan kaki dewi Cilia. Simpan apelmu itu, mulailah meditasi di dekat pohon apel. Aku akan menyiapkan makanan dan tenda, "
" Tu-tunggu sebentar! Berapa lama aku harus meditasi? Dan bagaimana caranya agar bisa menyerap energi alam? "
" Duduklah bersila di sana, kosongkan semua pikiranmu dan rasakan ketenangan di dalam jiwamu. Ketenangan itu akan menarik energi alam sedikit demi sedikit ke dalam tubuh. Tetapi ingat, saat dadamu terasa sesak, hentikan meditasinya. Rasa sesak itu diakibatkan energi alam yang diserap melampaui batas dan jika tak menghentikan meditasi, tubuhmu akan meledak. Berhati-hatilah, " jawab Leo sembari mengeluarkan semua barang dari tas besar yang dikaitkan di kudanya.
" Hmh baiklah. Aku akan mencobanya sekarang. " Licia pun mendekat ke pohon dan duduk bersila untuk memulai meditasinya. Sedangkan Leo mendirikan satu tenda dan menyalakan api unggun untuk menghangatkan tubuh. Mengingat tempat itu udaranya lumayan dingin.
***
Tak lama setelah kepergian 2 utusan itu, sebuah gelombang kejut tiba-tiba menghentakkan gua. Tubuh Leo tergeser beberapa meter akibat gelombang kejut tersebut. Dengan panik Leo langsung berlari menghampiri Licia. dia menyadari gelombang kejut itu berasal dari tuan putri itu.
Saat mendekati Licia yang tercahayai kunang-kunang, terlihat hidung gadis cantik itu mengeluarkan banyak darah tetapi dia masih memaksa bermeditasi.
" Licia! " Leo berlari menghampiri Licia.
Teriakan Leo tak terdengar oleh Licia yang sudah terlarut dalam kedamaian energi alam tanpa menyadari bahwa energi yang dia serap sudah melebihi batas.
Leo mengeluarkan energi sihir di telapak tangan kanannya lalu menapak perut Licia. Seketika sebuah gelombang energi alam langsung keluar dari punggung Licia sesaat setelah Leo menapak perutnya.
" Ughuuuuk! " Licia langsung tersadar setelah terkena tapakan Leo sambil memuntahkan banyak darah.
" Kita hentikan meditasinya! Ini terlalu berbahaya untukmu! " tegas Leo. Raut wajahnya menampakkan kecemasan.
Dengan bibir dan hidung bersimbah darah, Licia memegangi tangan Leo. " Tidak! Ini baru sekali, Aku akan terus mencobanya! Aku pasti bisa! "
Melihat tekad Licia yang kekeh ingin melanjutkan, Leo tak bisa menolaknya. Dia pun mengiyakan keinginan Licia sambil memberikan saputangan untuk membersihkan noda darah di bibir wanita itu.
Licia tersenyum seraya mengambil saputangan itu lalu membasahinya dengan air kemudian membersihkan wajahnya.
" Malam ini kamu harus istirahat. Energi sihirmu hampir terkuras karena gesekan dengan energi alam. Sekarang tidurlah di tenda, " ucap Leo membopong tubuh Licia.
__ADS_1
" Tendanya cuma satu. Jangan-jangan kita akan tid–, " wajah Licia memerah, Dia mulai membayangkan hal yang bukan-bukan.
" Aku akan tidur di luar. Aku sengaja membawa satu tenda untukmu karena kamu tak terbiasa tidur di alam liar bukan? " sanggah Leo.
" Be-begitu ya, " sahut Licia tersipu malu.
Leo membaringkan tubuh Licia di dalam tenda lalu berjalan keluar. Selanjutnya dia tiduran di rerumputan ditemani api unggun yang menghangatkan tubuh.
***
Saat malam mulai larut, mata Leo mulai tersayup-sayup. Rasa kantuk sudah tak bisa dia tahan lagi. Namun, ketika akan tertidur, suara dari dalam tenda memanggil namanya.
" Leo...! "
Leo pun bangun sembari mengusap kedua mata lalu menoleh ke tenda. " ada apa Licia? " tanya Leo.
Licia keluar dari tenda membawa 1 pil merah di tangan kananya. " Aku menemukan sekotak kecil berisi pil di dalam tas kecilmu. Dari bentuknya mirip pil penambah energi, "
Leo yang matanya masih sayup-sayup mencoba memfokuskan pandangan. Saat pandanganya mulai terfokus, dia langsung panik melihat pil yang tiba-tiba diminum oleh Licia.
" Liciiaaaaaa...! Jangan dimi–, " cegah Leo namun terlambat karena Licia sudah menelan pil itu bersama setenggak air putih.
" He? Memangnya pil apa itu? "
Pipi Leo memerah. Dia menutupi keningnya dengan satu tangan sambil menundukkan kepala. " I-itu pil perangsang titipan kepala suku Zaxin. Aku lupa memberikanya tadi, "
" A-apaaaaa...! La-lalu bagaimana? Aku telanjur meminumnya!? " teriak Licia yang mulai panik mendengar penjelasan Leo. Dia mencoba memuntahkan kembali pil itu tetapi tak bisa.
Dan beberapa saat kemudian, efek obat itu mulai bekerja. Pipi Licia kembali memerah. Gadis itu juga mulai merasakan hal aneh pada tubuhnya.
" He-hey Leo, malam ini panas sekali ya? " ucap Licia yang mulai ngelantur.
" Licia tenangkan dirimu! Jangan sampai obat itu memengaruhi pikiranmu! " panik Leo merayap menjauhi Licia di pintu tenda.
Mendengar perkataan Leo, Licia tiba-tiba merangkak keluar tenda lalu memeluk Leo yang dalam keadaan duduk.
" Le-Leo panas sekali...! Aku tak tahan ini. Tubuhku rasanya aneh sekali, seperti ada sesuatu yang basah, " Licia meraba-raba dada Leo. Dia sendiri tak bisa berkata apa-apa dan hanya terdiam sambil berusaha keras melepaskan diri dari pelukan Licia.
" Leooooo...! Aku sudah tidak tahan, " Licia perlahan melepaskan bajunya. Namun Leo sigap langsung melepas jubahnya untuk menutupi tubuh Licia.
Melihat Licia yang mulai tak terkontrol, Leo pun tak punya pilihan lain. dia terpaksa membuat Licia pingsan dengan memukul leher belakangnya. Pemuda itu sempat berencana menggunakan sihir penidur, tetapi karena efek sihir itu bisa menyerap energi orang yang terkena sihir tersebut. Maka dari itu dia tidak jadi menggunakanya.
Melihat Licia yang sudah tak sadarkan diri, Leo membawa tubuh gadis cantik yang pipinya masih merah merona tersebut kembali ke dalam tenda lalu menidurkanya.
Sedangkan Leo sendiri terpaksa begadang demi mengantisipasi Licia yang nantinya tiba-tiba bangun dan bereaksi seperti tadi karena efek obat perangsang yang diminum Licia bertahan selama 12 jam. Jantung Leo terus berdegup kencang. Dia masih tak menyangka akan terjadi kejadian semacam ini. Pikiranya mulai ke mana-mana tetapi dia masih bisa mengontrol diri.
^^^To be Continue.^^^
__ADS_1