KEBANGKITAN KESATRIA PENDOSA

KEBANGKITAN KESATRIA PENDOSA
#30# DUEL 2 SISWA TERBAIK


__ADS_3

" Hey tuan putri angkuh, bagaimana kalau kau menjilat sepatuku? " ucap seorang siswi akademi alkemis pada Licia di toilet akademi.


Sebelumnya saat bel pulang berbunyi, Licia ditarik ke toilet oleh beberapa siswi akademi alkemis tahun ketiga. Mereka menyiram Licia dengan air kotor dan menendangi tubuhnya. Gadis itu tak bisa melawan demi memegang janjinya pada sang ibu dan kakek.


" Berani sekali kau mengatakan itu! Pergilah selagi aku masih mengampuni nyawa kalian! " gertak Licia. Jelas gertakkan itu justru menjadi bahan tawa para perundungnya.


" Hahahahaha... Mengampuni nyawa kami? Hey tuan putri asal kau tahu, dulu ayahmu menyuruh kami semua menjilati sepatunya karena kami gagal memenuhi target pajak! Sekarang bukankah wajar jika aku ingin membalas perlakuan ayahmu? "


Licia terdiam. Dia tidak menyangka ayahnya melakukan hal sekeji itu. " Ti-tidak mungkin ayahku melakukanya! "


" Kau pikir aku berbohong? Coba kau tanyakan sendiri ke seluruh siswa yang mendapat beasiswa di sini! " balas salah satu siswi sembari menendangi perut Licia.


Licia tak dapat berkutik. Dia mau tidak mau menerima serangan fisik itu. " Ma-maafkan aku! Aku meminta maaf atas pelakuan ayahku pada kalian! "


" Maaf? Tentu saja kami akan memaafkan jika kau mau menjilati sepatu kami hihi... " salah satu siswi menyodorkan kakinya pada Licia.


Licia merasa sangat hina mendengar itu. Tetapi mau bagaimana lagi, ayahnya dahulu juga melakukan hal sama dan sekarang dia harus menebus kesalahan sang ayah. Gadis itu menarik lembut kaki salah satu siswi dan mulai mendekatkan bibirnya pada sepatu siswi tersebut.


" Hentikan itu!  " ucap Leo yang tiba-tiba membuka pintu toilet.


" Ka-kau tuan Reo adik nona Thalia? " kejut salah satu siswi perundung.


" Maaf mengganggu pesta kalian. Kakakku menyuruhku membawa putri busuk itu, "


Beberapa siswa perundung itu mulai panik. Mereka takut Leo melaporkan kejadian ini pada kepala akademi yang bisa membuat mereka semua dikeluarkan.


" Tenang saja, aku tidak akan melaporkan ini dan akan pura-pura tidak melihatnya, " lanjut Leo yang menyadari kecemasan para perundung itu.


" Te-terima kasih tuan Reo. Kalau begitu kami pergi dulu! " para perundung tersebut merasa lega dan puas. Mereka berlarian keluar toilet sambil terus memaki Licia.


" Pergilah ke asrama! Kakakku menunggumu di sana! " ucap dingin Leo lalu pergi meninggalkan Licia di toilet.


Licia diam sejenak. Dia berusaha memperbaiki topeng palsu wajahnya agar bisa ceria kembali saat keluar dari toilet. Sebuah ironi yang menyedihkan bagi tuan putri.


...***...


Licia tiba di kamar Thalia segera mengetuk pintunya.


...Tok... Tok......


" Siapa itu? " sahut Thalia dengan suara yang terdengar seperti orang baru bangun tidur.


" Aku Licia, "


" Ada apa sore-sore begini ke kamarku? "


" Adikmu bilang, kamu ingin menemuiku, "


" Masuklah! pintunya tidak ku kunci, " Thalia mempersilakan Licia masuk ke kamar. Dia terkejut melihat seragam Licia yang basah ditambah lengan dan kakinya terdapat beberapa luka lebam.

__ADS_1


" Dirundung lagi? " tanya Thalia.


Licia berdiri di samping pintu lalu menganggukkan kepala.


Thalia beranjak dari ranjang kemudian membuka laci kecil di meja belajarnya. " Hhh... Duduklah di ranjang, akan kuambilkan obat, "


Licia sendiri menuruti perintah Thalia. Dengan baju yang setengah basah dia duduk di ranjang itu.


Thalia langsung mengoleskan obat untuk menghilangkan luka-luka Licia kemudian meminjamkan seragamnya.


" Terima kasih Thalia, "


" Tumben sekali kamu berterimakasih kepadaku, "


" Lupakan! Lalu ada urusan apa kamu memanggilku? "


" Ha? Sedari pagi tadi aku tidur dan tidak menyuruh siapa pun untuk memanggilmu, " Thalia tampak kebingungan karena memang seharian dia hanya tidur di ranjang.


" Tetapi Leo bilang kamu memanggilku, " Licia dibuat bingung oleh pernyataan Thalia.


Thalia tersenyum kemudian kembali berbaring di ranjangnya. " Apa kamu tidak sadar? Dia sebenarnya menolongmu dari para perundung itu. Sudah kubilang bukan? Dia orang yang suka berbohong saat jalanya benar, "


Licia pun mulai paham apa yang di maksud Thalia. Dia sendiri sedikit senang dan lega karena Leo tidak benar-benar membencinya dan masih memperhatikanya.


" Apa aku harus mengucapkan terima kasih pada adikmu? "


" Begitu ya. Baiklah aku akan melupakan kejadian ini. "


"  Kembalilah ke kamarmu. Besok libur dan malam ini pasti banyak para siswa yang berkencan. Lebih baik kamu bersiap berkencan dengan Orka nanti malam, "


" Kamu tidak kencan juga? "


" Tunanganku sedang sibuk dengan ujianya. Dan aku juga masih ingin istirahat. Semalam sangat melelahkan karena para pejabat-pejabat itu seenaknya sendiri mengadakan rapat bangsawan sampai 16 jam. "


" Bukankah tidurmu lebih dari cukup? Alangkah baiknya kamu olahraga sedikit agar lemak di dadamu itu tidak menyebar ke seluruh tubuh. " sela Licia dengan nada mengejek.


Thalia jelas terpancing. Dia melirik tajam Licia sambil menggertakkan gigi. " Haa... Benar juga! Sepertinya arena pertarungan sedang kosong saat ini. Baiklah Licia aku akan meladenimu kali ini! Tunggulah aku di arena! "


" Dengan senang hati. " balas Licia sembari tersenyum kemudian meninggalkan kamar Thalia.


Thalia yang malas-malasan tiba-tiba bersemangat. Dia langsung memakai baju tempurnya dan bergegas menuju arena.


Kabar tentang duel Licia dan Thalia langsung menyebar ke seluruh akademi kesatria dan alkemis. Para siswa berbondong-bondong menuju arena untuk melihat pertarungan 2 siswi terkuat di akademi. Bahkan Leo dan pasukan Yurei pun tidak ingin ketinggalan karena ini kali pertama buat mereka menyaksikan duel serius Thalia dan Licia.


...***...


" Sudah semusim kita tidak melakukan duel di sini bukan? " tanya Licia. Dia memakai baju tempur putih berkilau seperti yang pernah digunakan saat melawan Leo.


Thalia menarik 2 belati dan menyiapkan kuda-kuda. " Ya... Kau benar. Kebetulan aku ingin mencoba senjata baruku, "

__ADS_1


Licia menarik pedangnya dan langsung menerjang Thalia tanpa sepatah kata. Terjangan yang diiringi sihir tebasan api itu berhasil ditahan Thalia dengan sihir tembok bumi. Oh ya, Thalia sendiri merupakan seorang pengguna sihir berelemen tanah tingkat kaisar tetapi dia adalah tipe petarung jarak dekat.


Thalia dengan cepat menerjang balik Licia. Terjangan tersebut sukses mementalkan Licia tetapi dia masih bisa bangkit kembali dan menyerang balik.


Licia melayangkan tebasan-tebasan pedangnya sementara Thalia dapat menahan dengan 2 belatinya. Mereka saling bertarung dari jarak dekat. Sambaran api, tanah-tanah runcing yang keluar dari bumi seringsekali mereka munculkan demi mengalahkan satu sama lain.


Mereka melompat, menerjang, saling beradu senjata, dan saling memukul hingga membuat mereka berdua juga sama-sama terluka. Di pertarungan ini Thalia jelas lebih diunggulkan karena dia memiliki mobilitas lebih baik dari Licia. Ditambah Thalia pandai menggunakan sihir penguat fisik yang membuatnya bisa bergerak lebih cepat.


Benar saja, Thalia mulai menari dengan 2 belatinya itu. Dia menyerang Licia dari segala arah dengan sangat cepat sampai Licia sendiri tak mengetahui dari mana berikutnya serangan Thalia.


Skill yang Thalia tunjukkan membuat seisi arena bersorak sorai memanggil-manggil namanya. Mereka semua mendukung Thalia dan mengejek Licia.


Licia mulai panas mendengar cacian para penonton. Dia melapisi pedangnya dengan api kemudian mengeluarkan sihir cincin api raksasa. Thalia yang hendak menyerang terpaksa berhenti. Dia melompat menghindari sihir api itu lalu melempar salah satu belatinya pada Licia.


Licia dengan sigap menangkis belati yang dilempar ke arahnya. Tapi dia dikejutkan oleh Thalia yang tiba-tiba menggenggam belati yang sudah Licia tangkis itu. Thalia juga langsung menendang Licia walaupun tendanganya dapat ditahan.


Licia melompat kebelakang menjauhi Thalia. Dia mengeluarkan sayap api sihirnya. Namun sayang, Thalia sudah tahu rencananya. Dia bergerak cepat mendekat Licia dan melempar 2 belatinya.


Mudah bagi Licia menghindar, tetapi siapa sangka lagi dan lagi Thalia tiba-tiba sudah ada di belakangnya dengam membawa 2 belati itu lagi. Thalia melapisi 2 senajatanya dengan sihir lalu menebas sayap Licia. Tak sampai situ, Thalia juga menendang Licia sampai terlempar beberapa meter.


...Sriing...!...


" Aku menang lagi, " ucap Thalia yang terengah-engah seraya menodongkan salah satu belati ke leher Licia.


" Sepertinya makin jauh jarak kita berdua, " sahut Licia.


" Tidak juga. Jarak kita sangat dekat hanya saja kamu tidak pernah menggunakan otakmu saat bertarung, " balas Thalia seraya menyentil dahi Licia.


" Aduh! " rintih Licia mengelus dahi.


Thalia tersenyum lalu menyimpan kembali kedua belatinya. " Lawanmu tipe petarung jarak dekat tetapi justru kamu masih menggunakan sihir jarak jauh padahal seharusnya kamu memperkuat diri dengan sihir penguat fisik. Selain itu, menghadapi tipe petarung yang mengandalkan kecepatan, kamu hanya perlu mengandalkan insting. "


" Bagaimana bisa kamu yang sekuat itu kalah oleh Leo? "


" Karena dia bertarung menggunakan otak. Aku sudah bertarung puluhan kali dengannya dan hanya mendapat sekali imbang. Sisanya kekalahan. Kecerdikanya memainkan sihir dapat membuatku terpojok berkali-kali. Kalau begitu aku pergi dulu. Sampai jumpa lain waktu. " Thalia berjalan keluar arena disusul para siswa yang juga mulai bubar.


Sementara Licia masih memikirkan perkataan Thalia. Dia masih tidak percaya rivalnya kalah puluhan kali melawan Leo.


" Pertandingan yang menakjubkan Licia, " terdengar suara pria dari salah satu kursi penonton.


Licia mencoba mencari sosok pemilik suara itu. Dia pun melihat Orka yang berdiri serta tepuk tangan untuknya.


" Orka... " sapa Licia sambil melambaikan tangan.


" Kutunggu malam ini di ibukota Licia! " balas Orka membalas lambaian tangan itu.


" Hmh! Aku pasti datang tepat waktu! Sampai jumpa nanti malam! " Licia bergegas keluar arena dan kembali ke asrama karena malam ini dia ada jadwal kencan dengan Orka.


^^^To be continue^^^

__ADS_1


__ADS_2