
" Memuakkan! Benar-benar memuakkan! Bisa-bisanya ayah tidak mengundangku di acara sebesar ini padahal aku adalah calon penerusnya! " geram pangeran Theo menyaksikan Istana yang ramai dari jendela kamar penginapan yang ia sewa.
" Hhhh... Sebelumnya sudah kukatakan pada anda untuk bersabar tapi masih saja keras kepala, " ujar Vlad.
" Si Randa sialan! Dia menghasutku untuk segera mencipatakan pemilik elemen cahaya lagi! andai saja tidak kulakukan... " ucapan pangeran Theo terputus saat ia mengingat wajah ketakutan Licia. Rasa bersalah mulai menyayat hatinya.
" Untung saja yang datang hanya pasukan kecil. Jika yang datang para ksatria utama Gerelia, kita sudah habis tuan. Bukan hanya kita tapi Deusia dan Orion juga akan hancur. Sekarang kesempatan mengejar mimpi tuan semakin menyusut akibat kejadian kemarin, "
" Hey Vlad apa tidak ada cara lain? Aku harus segera merebut singgasana itu sebelum pengaruh faksi anakku semakin luas, "
" Lebih baik kita ke Deusia besok dan meminta saran dari baginda Jeremus, "
Pangeran Theo merogoh sakunya dan mengambil secarik kertas. " Itu tidak perlu. Baginda sudah mengirimkan perintahnya tadi pagi, "
" Apa isi suratnya? "
" Baginda bilang demi kedamaian kaum Deus kita harus segera menyingkirkan Aiden dan mengambil alih tanah suci. Aiden bisa menjadi ancaman besar sekarang setelah kembalinya putranya yang condong pada kaum Angelus. Baginda takut ajaran sesat Angelus akan semakin meracuni para penduduk Gerelia melalui pengaruh Aiden dan putranya. " jelas pangeran Theo.
" Begitu ya... " pungkas Vlad sambil melipat tangan. " Apa boleh buat. Menyingkirkanya harus menumbalkan banyak nyawa tuan. Apa anda siap? "
" Apapun caranya Vlad. Asal Aiden tersingkir, akan kusiapkan tekadku! "
" Kita harus menyalakan api peperangan Gerelia dan Axel seperti yang pernah saya katakan dulu. Tapi konsekuensi terbesarnya adalah pecahnya perang suci lagi, "
" Kita harus membicarakanya dengan baginda Jeremus agar perang ini hanya melibatkan dua kerajaan saja. "
" Lalu setelah Aiden tersingkir, bagaimana cara kita merebut tanah suci mengingat masih ada putranya. Kudengar dia lebih kompeten dalam memerintah Valdia daripada ayahnya, "
" Itulah sebabnya kita harus membuat para bangsawan lain dan ayah mendukung Thalia. Jika Thalia menjadi penerus, kita bisa membuat markas di Valdia dan menghasutnya sedikit demi sedikit. Thalia adalah muridku, walaupun sekarang dia sudah dewasa, tapi tidak mungkin dia berani membangkang gurunya, "
" Anda benar tuan. Kita bisa menyingkirkan putra Aiden dengan memanfaatkan Thalia. "
Pangeran Theo tersenyum lebar dengan mata membelalak menatap luar jendela. " Haa... Ini akan sangat menarik Vlad. Demi kesucian agama Deus kita harus membuat adik kakak itu saling membunuh. Ini pasti sudah digariskan oleh dewi Grecia, "
" Jangan terlalu percaya diri dulu tuan. Saya takut kejadian seperti di altar terjadi lagi karena anda terlalu percaya diri. " ucap Vlad yang diiringi tepukan tanganya kepundak pangeran Theo. " Sekarang istirahatlah, aku sudah menyiapkan wanita di kamar sebelah, "
" Terimakasih Vlad. Kuserahkan padamu semua rencanya. " balas pangeran Theo yang kemudian berjalan keluar menuju kamar sebelah.
...***...
Pesta di hari pertama ini berlangsung sampai malam hari dan para tamu diizinkan untuk meninggalkan lokasi acara selain para raja atau wakilnya karena akan ada rapat pembukaan secara tertutup.
Di malam ini banyak bangsawan yang berkeliling kota menghabiskan waktu sebelum besok mereka harus mengikuti pertemuan akbar. Di waktu ini juga dimanfaatkan Leo untuk berkeliling kota sendirian. Awalnya dia ditemani Melina dan Sely tapi karena kelelahan, Melina akhirnya dibawa kembali ke istana oleh Sely. Sedangkan Thalia harus mendampingi marquis Aiden dalam rapat tertutup para bangsawan Gerelia selain Count Randa dan Coun Jarwis.
Entah berapa kali Leo berkeliling tanpa tujuan jelas di kota sampai akhirnya dia menyempatkan beristirahat di kedai makan terbuka yang ada di seberang toko bunga. Dengan ditemani secangkir teh hangat dan biskuit, Leo menikmati jam-jam malam hanya dengan mengamati lalu lalang para penduduk di jalan kota. Sesekali dia berpikir kemanakah tujuan para orang-orang itu sampai malam begini masih saja bepergian.
__ADS_1
" Sedang apa kau disini Leo? " tanya seseorang dari belakang Leo.
Leo segera membalik badan. " Taka!? '
Seorang pemuda berambut coklat dan berparas tampan berdiri tepat di belakang Leo. Dia adalah Taka. Putra pertama raja Taiyoria.
Taka adalah teman sekelas Leo dan Yun Zhu semasa di akademi Taiyoria. Saking dekatnya hubungan mereka berdua membuat banyak orang mengira jika Taka dan Leo pasangan sesama jenis sampai akhirnya rumor itu sirna saat Taka berani melamar Yun Zhu di tengah pusat ibukota Taiyoria walaupun saat itu Yun Zhu juga lantang menolak lamaran Taka.
" Yo Leo, " ucap Taka sembari melambai tangan.
" Sejak kapan kau ada di Gerel? "
" Aku baru sampai siang tadi dan tidak sempat ikut pesta pembukaan, "
" Kau kesini untuk berlibur? "
" Tidak, aku akan menggantikan ayahku dipertemuan besok karena dia harus segera pulang, "
" Duduklah! Lama sekali kita tidak bertemu. " Leo berdiri dan menggeser salah satu kursi untuk diduduki Taka lalu memsankan minuman dan makanan juga.
" Bagaimana kabarmu kawan? "{ tanya Taka seraya duduk di kursi.
" Yah seperti yang kau lihat sekarang. Bagaimana denganmu? Apa masih terus melawan pemberontakan? "
" Tiga bulan lalu pemberontakan di Taiyoria barat sudah musnah. Sekarang aku bisa menikmati hidupku dengan tenang untuk sementara waktu, "
" Dia sudah memberitahumu ya? " Taka melirik ke kanan dan kiri memastikan keadaan kedai yang sepi. " Semuanya akan berjalan lancar tapi juga akan merubah keseimbangan kekuatan di benua timur, "
" Apa maksudmu? "
" Kau tau putra kaisar yang bodoh itu? Bukanya menghabisi pemberontakan di Cronix malah sekarang kabur dan menjadi petani di Taiyoria. Dia bahkan memohon padaku agar tidak memberitahu kakaknya, "
Leo menghela nafas lalu memejamkan mata beberapa detik, " Hhhhh... Sibodoh itu masih tidak berubah. "
" Lalu apa yang akan terjadi dengan Cronix kedepanya? "
" Beberapa bulan lagi Cronix akan kuambil alih dan para pejabat dan bangsawanya menyetujui jika Cronix bergabung dengan Taiyoria asal mereka tidak kehilangan tanah mereka, "
" Aku tak terkejut lagi mengingat Cronix yang semakin rapuh karena tidak ada penerus yang pantas menyandang gelar kaisar lagi. Tapi untung saja kudengar semua bangsawan dan pejabatnya jujur. Lalu apa kau bisa memerintah tanah seluas itu? "
" Semua sudah dibahas bersama kerajaan aliansi Angelus lainya. Para rakyat Cronix bebas menentukan nasib mereka sendiri. Apakah mereka ingin membentuk pemerintahan baru atau bergabung dengan kerajaan lain. Sedangkan para pemberontak tidak akan diberi ruang. Sekarang pasukan gabungan dari Hanaria, Cronix, Taiyoria, dan Angelusia sudah bergerak untuk memburu mereka. " jelas Taka seraya meminum teh hangat yang baru saja diberikan oleh pelayan.
" Begitu ya... Seperti biasa benua timur selalu selaras menentukan tujuan. " pungkas Leo sambil meregangkan tangan.
Tak berselang lama ada rombongan pasukan pengawal yang mengawal putri Yun Zhu dan putri Licia menuju toko bunga di sebrang kedai tempat Leo dan Taka berada.
__ADS_1
" Si rambut putih itu putri Licia? " tanya Taka mengamati rombongan para tuan putri.
Leo hanya membalas dengan anggukan Kepala. Kedua matanya tak henti tertuju pada paras cantik Licia. Taka yang melihat pandangan tak biasa dari sahabatnya tersenyum kecil lalu menepuk pundak si rambut pirang itu.
" Kau menyukainya? " tanya Taka.
" Kalau aku bilang membencinya kau percaya? " tanya balik Leo tanpa memalingkan pandanganya.
Taka tersenyum lebar dan menjawab, " Tentu saja tidak caramu melihat saja jelas kau menyukainya bukan membencinya. "
" Hhhh... Ya aku memang menyukainya, "
" Lalu kenapa tidak kau ungkapkan? "
" Ada banyak peristiwa yang terjadi antara kami berdua dan membuatku tidak bisa mendekatinya lagi, "
" Apa kau dicampakkan dan dia memilih orang lain? "
Leo melirik Taka denga kesal. " Cih! Aku benci kepintaranmu membaca pikiran seseorang, "
" Ahahaha... Aku juga sering mengalaminya Leo, "
" Mengalaminya? "
" Aku sudah puluhan kali di campakkan Yun Zhu dan dia terus saja membual tentangmu. Memang aku marah dan kesal tapi aku sadar jika aku mencintai seseorang aku harus membuang ego dan emosiku lalu membuktikan bahwa akulah orang yang tepat untuk bersemayam di hatinya, " jelas Taka.
" Orang yang tepatkah? Sepertinya dia sudah tau siapa yang tepat, "
" Lalu kau kenapa berhenti? Bukankah orang yang tepat itu dirimu? "
"Entahlah Taka. Saat aku mencoba maju lagi, kejadian saat dia mencampakkanku selalu teringat lagi dan membuatku mengurungkan niat, "
" Masa lalu itu memang pahit tapi berhentilah hidup dengan terus menengok kebelakang. Cobalah melangklah lagi, "
" Hhhh... Aku akan memikirkanya lagi, "
" Lihatlah! Dia diam-diam mencuri pandang padamu, " ucap Taka mengangkat dagu sambil melihat Licia dan Yun Zhu.
Leo pun kembali menengok ke arah Licia dan tak sengaja diwaktu bersamaan Licia sedang melihat ke arah Leo. Gadis itu langsung salah tingkah sampai-sampai menjatuhkan salah satu pot bunga yang baru saja dia ambil.
Tanpa sadar tingkah konyol Licia membuat Leo tersenyum kecil. Meski begitu, Licia yang melihat senyum itu merasa senang dan lega karena dia berhasil membuat Leo tersenyum kali ini.
" Yasudah aku harus mengantar kepulangan ayahku. " Taka menepuk pundak Leo lalu berjalan pergi.
" Ya sampai jumpa. Tapi setidaknya bayar minumanmu itu! "
__ADS_1
" Ahahahaha... Tolong bayarkan dulu. Sampai jumpa! " Taka langsung berlari sambil melambaikan tanganya tinggi-tinggi.
^^^To be continue.^^^