KEBANGKITAN KESATRIA PENDOSA

KEBANGKITAN KESATRIA PENDOSA
#25# KUNJUNGAN PANGERAN THEO


__ADS_3

Thalia mendapat kabar bahwa Leo sedang dalam perjalanan menuju istana setelah hampir 20 hari tak kembali. Mendengar kabar tersebut, Thalia di pagi hari sudah menunggu sang adik di aula bersama Licia. Tuan putri sendiri berniat meminta maaf atas perkataanya saat itu. Dia sudah berdandan rapi menunggu kedatangan Leo.


...Braaak...!...


Setelah beberapa jam menunggu 2 gadis itu dikejutkan oleh suara pintu istana yang terbanting dari luar. Mereka berdua sedikit menengok ke arah pintu dan melihat Leo berdiri dalam keadaan lemas bahkan untuk berdiri saja dibantu oleh Indra.


" Leo!? " kejut Thalia yang berlari mendatangi Leo.


Saat hendak menyentuhnya, Leo tiba-tiba mendorong Thalia hingga membuatnya terjatuh.


" Leo? Ada apa denganmu? " tanya Thalia yang tersungkur di lantai.


" Berisik! Aku mau istirahat! " ketus Leo sambil berjalan begitu saja melewati kakaknya.


Saat bersimpangan dengan Licia, dia hanya menatap sinis dengan tatapan penuh kebencian lalu berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.


" Nona tidak apa-apa? " tanya Indra seraya menolong Thalia.


Thalia berdiri sambil melirik adiknya. " Ada apa dengan dia?


" Akhir-akhir ini sifatnya memang berubah nona. Dan pagi ini dia sedang dalam keadaan mabuk. " jawab Indra.


Thalia memahami apa yang dirasakan Leo dan menganggap itu adalah hal wajar. " Biarkan dia istirahat. Terima kasih Indra sudah membawanya pulang, "


" Sama-sama nona. Kalau begitu saya izin kembali ke markas Yurei. " jawab Indra lalu pergi meninggalkan istana.


" Andai saja aku tak mengatakan hal sekejam itu, " sesal Licia saat mendengar suara pintu yang terbanting di lantai 2.


" Nasi sudah menjadi bubur. Lebih baik kamu berkeliling kota dan carikan hadiah untuknya sebagai tanda permintaan maaf, "


" Memangnya apa yang adikmu sukai? "


" Sama sepertimu, dia juga menyukai bunga tulip. Hanya saja dia suka bunga tulip putih sama seperti yang disukai ibunda, "


" Memangnya ada di sini? "


" Ada di toko bunga. Harganya sedikit lebih murah daripada tulip merah, "


" Baiklah apa kamu mau menemaniku? "


" Tidak bisa Licia. Aku harus menenangkan Leo, "


" Hmh... Aku pergi dulu. " Licia pun berjalan keluar untuk mencari hadiah sesuai usul Thalia.


Sementara Thalia langsung berjalan menuju kamar Leo. Sebagai seorang kakak, Thalia tak bisa membiarkan Leo terlarut dalam patah hatinya.


" Leo? " sapa Thalia dari luar kamar Leo yang tertutup.


" Pergilah. Aku sedang tak ingin menemui siapa pun, "


" Kenapa kamu seperti itu? "


" Sudah kubilang pergilah! " bentak Leo.


Bentakan itu membuat Thalia terdiam seketika. Ini adalah pertama kali bagi Thalia mendapat bentakan dari Leo. Tanpa berkata apa-apalagi, Thalia pun meninggalkan kamar Leo dengan hati sedikit teriris mendapat bentakan itu. Thalia turun kembali ke bawah lalu duduk di singgasana ayahnya. Dia termenung dan terus teringat suara bentakan Leo.


Tak lama dari luar istana ada suara salah satu prajurit penjaga yang berseru bahwa pangeran Theo datang. Kabar itu mengagetkan Thalia. Dia langsung berlari ke luar istana sambil bertanya-tanya tentang apa maksud kedatangan pangeran Theo ke Valdia secara mendadak.


Ketika di depan istana, benar saja Thalia melihat pangeran Theo yang memakai jubah mewah baru saja turun dari kereta kencana bersama penasihat pribadinya yaitu Vlad.


" Thalia? " sapa pangeran Theo seraya berjalan menghampiri Thalia.


" Suatu kehormatan bagi saya bisa melihat pangeran Theo di istana kami, " Thalia membungkukkan badan beberapa detik.


Pangeran Theo pun menjabat tangan Thalia. " Bagaimana kabarmu? "

__ADS_1


" Baik pangeran. Bagaimana kabar pangeran sendiri? "


" Baik juga. Oh ya apa aku bisa menemui ayahmu? "


" Maaf pangeran, sudah seminggu ini kondisi ayah memburuk dan tak bisa ditemui siapa-siapa. Jika memang ada urusan penting, pangeran bisa membicarakanya dengan saya, "


Pangeran Theo melirik Vlad lalu tersenyum. " Baiklah. Mari kita bicara di ruang ra– "


" Ayah? " Licia tiba-tiba datang dengan membawa pot kecil berisi bunga tulip putih.


" Licia? Baguslah kamu juga ada di sini. Mari kita ke ruang rapat, " Pangeran Theo berjalan memasuki istana Valdia untuk menuju ruang rapat yang memang berada di sebelah timur aula.


...***...


Saat memasuki ruang rapat, Thalia melihat pangeran Theo dan Vlad yang selalu berbisik-bisik dan sesekali melirik ke arahnya.


" Kalian semua silakan duduk. " ucap pangeran Theo seraya duduk di kursi utama di ruang rapat.


" Baiklah langsung ke intinya saja. Begini Thalia, selama satu musim ini, aku dan semua bangsawan kerajaan telah melakukan rapat berkali-kali demi membahas kenyamanan dan keselamatan peziarah di Valdia. Terlepas dari kasus Reynald, aku mendapat kabar ada beberapa peziarah yang barang-barangnya diambil secara paksa oleh prajurit Valdia, ditambah ada beberapa peziarah Deus yang dirampok saat perjalanan pulang, "


" Lalu apa tujuan dari pangeran? " tanya Thalia.


" Melihat makin kendornya pengamanan membuat kami khawatir akan keselamatan para peziarah. Apalagi sedang maraknya provokasi-provokasi yang bisa membuat gesekan antar umat Deus dan Angelus. Hal semacam ini perlahan bisa menyeret kerajaan dalam perang suci lagi dan itulah yang tidak kami inginkan. Oleh karena itu demi menjaga keamanan peziarah dan perdamaian dunia, kami sepakat ingin mencabut hak otonomi khusus Valdia. " jelas pangeran Theo sambil menaruh sebuah kertas berisi perjanjian pembatalan hak otonomi Valdia ke atas meja rapat.


" Kami sudah menjaga semaksimal mungkin para peziarah. Gesekan-gesekan yang terjadi di kuil suci hanyalah kesalahpahaman belaka. Lalu sesuai peraturan kami, semua peziarah yang ingin memasuki kuil suci dilarang membawa senjata dan jika masih ada yang membawa maka kami akan rebut secara paksa. " sanggah Thalia.


Vlad berdiri lalu mendekati Thalia. " Nona Thalia, apa anda tak sadar? Yang kemarquisan prioritaskan hanyalah kaum Angelus bukan Deus. Bukankah sangat lucu kerajaan beraliran Deus justru menelantarkan umatnya dan memanjakan musuhnya? Apa nona lupa berapa kali peziarah Deus yang terampok? "


" Para bandit yang merampok berada di wilayah Aru dan peziarah menjadi korban juga di wilayah itu. Seharusnya yang bertanggung jawab adalah prajurit Aru bukan Valdia lagi. " tegas Thalia penuh percaya diri.


" Thalia... Thalia... Aru adalah wilayah miskin dan sedang berusaha bangkit. Militer mereka sibuk membantu ibukota untuk meredam pemberontakan. Dan sekarang kau menyalahkan Aru atas kelalaian Valdia? Lucu sekali. " sahu pangeran Theo.


Thalia yang terpojok memilih diam karena menyadari bahwa dia telah masuk dalam jebakan pangeran Theo. Jika salah berkata sedikit saja, itu akan menjadi kesempatan bagi pangeran untuk menjatuhkan argumen Thalia.


Melihat rivalnya yang terpojok, Licia memberanikan diri untuk mencoba membantu. " Ayah, wilayah otonomi sudah diberikan sejak raja pertama Gerelia. Dan jika dipikir-pikir memang seharusnya militer Aru lah yang harus bertanggung jawab atas kasus perampokan. Bukankah militer Aru sendiri juga banyak yang berjaga di wilayah selatannya? Cukup aneh jika mereka membiarkan– "


" Nona Thalia, Jangan lupakan jasa-jasa bangsawan lainya yang telah ikut membantu mengembalikan perekonomian Valdia. Mereka semua sudah muak dengan kecondongan Valdia terhadap Angelus. Dan sebagai sesama bangsawan mereka menginginkan kemarquisan Valdia berada di kasta yang sejajar. Bukankah curang jika hanya Valdia yang mendapat otonomi khusus? Para bangsawan lain juga iri. Mereka juga memprotes kebijakan nona tentang eksekusi kebiri bagi para pelaku pemerkosaan karena itu tak berperikemanusiaan, " sahut Vlad dengan senyum liciknya.


" Jangan membuat bangsawan lain memberontak hanya karena keegoisan Valdia yang masih ingin mendapat hak otonomi khusus. Memang benar militer kalian kuat, tetapi bagaimana jadinya jika seluruh aliansi barat mengepung Valdia? Pasukanmu akan mati sia-sia. Ingat Thalia mereka bukanlah alat tapi manusia yang juga punya keluarga. Apa kau ingin memaksa mereka mati konyol demi keegoisan ayahmu? " sambung pangeran Theo.


Thalia masih diam. Dia terus berpikir mencari cara agar bisa keluar dari situasi ini. tetapi, semua yang dikatakan pangeran Theo ada benarnya. Bagaimana tidak? Hak khusus yang didapatkan Valdia memang sudah sejak lama membuat bangsawan wilayah lain iri. Selain itu, ancaman marquis Aiden saat pertemuan di ibukota bisa menjadi bomerang.


Vlad menarik kertas perjanjian itu lalu menyodorkanya pada Thalia. " Nona tunggu apalagi? Dengan anda menandatangani ini, kami akan menjamin keamanan– "


...Brak!...


Belum selesai Vlad berkata, pintu rapat tiba-tiba jebol didobrak oleh Leo. Adik Thalia itu berjalan memasuki ruang rapat sambil membawa secarik kertas yang terlihat sudah tua.


" Berani sekali kalian mengusik Valdia! " mata Leo menatap tajam pada pangeran Theo. Dia berjalan mendekati kakaknya lalu merobek kertas perjanjian itu.


Pangeran Theo langsung naik pitam. Dia menarik pedang dan menodongkan pada Leo. " Berani sekali kau merobek kertas itu! "


Alih-alih gentar, justru Leo datang mendekati pangeran Theo lalu menempelkan pedang pangeran ke lehernya. " Ya! Aku berani! "


Melihat keberanian Leo justru membuat pangeran Theo sendiri yang gentar. Dia mundur beberapa langkah dan memalingkan pandanganya dari Leo. " Jangan coba-coba mendekatiku! "


" Hey pangeran sampai kapan pun, Valdia akan tetap menjadi wilayah berotonomi khusus. Jika kau berani mengusik, kami tak segan-segan mendirikan kerajaan sendiri. Kami bisa menghancurkanmu sebelum serangga-serangga barat datang menolongmu! " ancam Leo.


" Cih! Kelancanganmu ini bisa membatalkan perjodohanmu dengan putriku! Oh ya, kudengar dari Orka kau hanya mengincar takhta kerajaan ya? Karena itu kau mendekati putriku. "


Bagaikan luka yang baru kering lalu berdarah lagi, itulah yang dirasakan Leo. Dia telah lupa perkataan Licia tentang hal itu tetapi sekarang justru di ulang lagi oleh pangeran Theo.


Leo memegang erat bilah pedang pangeran Theo hingga membuat tangan kanannya meneteskan darah. " Ingat pangeran, jangan pernah membangunkan singa yang tertidur! "


Pangeran Theo makin gentar.  Dia mulai merasakan sebuah luapan energi sihir dalam jumlah besar dari dalam tubuh Leo.

__ADS_1


Leo sendiri langsung melepaskan genggamanya lalu membuka kertas yang dia bawa. Saat kertas itu terbuka, seketika mata pangeran Theo maupun Vlad langsung terbelalak.


" Ingat kalian dua orang bodoh! Jika aku menginginkan takhta Gerelia, sudah sejak lama aku merebutnya! " seringai Leo sambil menunjukkan lebih dekat isi kertas itu.


Kerta itu sendiri adalah surat perjanjian antara Valdius dan Kalius tentang pemberian hak otonomi khusus pada Valdia. Dalam surat tertulis perjanjian dimana hanya Kalius lah yang bisa mencabut hak otonomi khusus Valdia. Dan jika suatu saat ada anak cucunya berani mencabut otonomi atau berani melawan Valdia, maka anak cucu Valdius berhak mengambil alih takhta Gerelia.


" Ba-bagaimana bisa surat ini ada ditanganmu? " tanya pangeran Theo terbata-bata.


" Surat ini sudah ratusan tahun tersimpan di kota Edo tanpa sepengetahuan raja Kalius dan pihak kerajaan. Sengaja kubawa pulang karena aku tahu hal semacam ini pasti akan terjadi. Sekarang kau paham? Tanpa perjodohan dengan putrimu sekalipun aku bisa merebut takhta! Tetapi seharusnya kau berterima kasih kepadaku karena aku tak pernah melakukanya, " jawab Leo.


Licia sendiri mulai memahami perkataan Thalia waktu itu. Dia perlahan menyadari tentang sifat Leo yang berbohong saat dia benar dan itu dia lihat langsung di depan matanya. Hati Licia seakan pecah berkeping-keping oleh kebodohanya sendiri. Dia sangat menyesal dan makin merasa bersalah pada Leo.


" Sekarang pergilah sebelum aku memiliki niat merebut tahtamu! " bentak Leo pada pangeran Theo.


" Ka-kau mengusirku? "


" Pergi dan bawa putrimu juga sebelum aku memiliki niat merebut tahtamu! Jangan pernah injakan kakimu lagi di istana ini! " tegas Leo dengan mata terbelalak menatap tajam mata pangeran Theo.


Ucapan Leo mengejutkan Thalia dan Licia. Bagaimana tidak? Leo memerintahkan Licia juga angkat kaki. Ini adalah kali pertama Leo berani mengusir seseorang dari istana apalagi yang dia usir adalah pangeran dan tuan putri.


" Cih! Licia mari pulang! " pangeran Theo bersama Vlad langsung keluar dari ruang rapat.


Sedangkan Licia berjalan pelan mendekati Leo sambil membawa bunga tulip yang dia beli. " Le-Leo ma– "


" Keluar...!!! "


Licia tersentak oleh bentakan Leo. Air mata tak bisa ia tahan lagi saat menatap mata penuh kebencian dari Leo. Dia langsung berlari keluar tanpa bisa mengucapkan permintaan maaf maupun memberikan bunga itu. Tak sampai disitu, Leo tiba-tiba memojokan Thalia ke tembok lalu dengan memaksa menggigit Leher kakaknya.


" Ah... Le-Leo! " desah Thalia merasakan energi dan darahnya diisap.


Thalia hanya bisa pasrah membiarkan adiknya menghisap. Dan setelah 1 menit menghisap, Leo mendorong tubuh kakaknya dengan kasar. Dia memperlakukan Thalia bagaikan barang yang setelah digunakan lalu dibuang begitu saja.


...Plaaak...!...


Thalia yang tak terima atas perlakukan Leo langsung menamparnya dengan sangat keras. " Ibunda tidak pernah mengajarimu seperti itu Leo!! "


" Hanya karena patah hati kamu melakukan semuanya sesukamu! Ayah dan bunda saja tak pernah memperlakukanku sekasar itu! Aku sangat kecewa kepadamu Leo! Jika sifatmu masih seperti ini lebih baik kau pergi saja dari Valdia dan jangan pernah menganggapku sebagai kakak! " sambung Thalia penuh amarah atas perlakuan Leo.


Seketika Leo tersadar dan menyesal. Dia menyadari perlakuan terhadap kakaknya benar-benar kelewatan. Tanpa pikir panjang dia langsung memeluk sang kakak dan memangis di pelukanya.


" Jadilah pria yang lembut dan berbelas kasih. Bukankah bunda selalu mengatakan itu? Masih banyak wanita di dunia ini.  Jangan hanya karena satu wanita mematahkan hatimu justru membuatmu menjadi iblis. " sambung Thalia dengan nada lembut. Ya, sebagai seorang kakak dan sosok ibu bagi adik-adiknya, dia akan marah jika mereka berbuat salah dan akan memberi kehangatan saat mereka menyesali perbuatan.


" Maafkan aku kakak, " sesal Leo yang masih memeluk Thalia.


" Dasar anak nakal. Sekarang istirahatlah. Kamu terlalu memaksakan diri sampai berani melukai tanganmu. " sahut Thalia mengelus lembut tubuh sang adik.


" Maafkan aku, "


" Tidak apa-apa Leo. Aku berterimakasih kepadamu. Jika saja kamu tak ada mungkin aku sudah menandatangani surat itu. Tapi kamu terlalu berlebihan sampai mengusir mereka, "


" Aku terlalu terbawa amarah. "


" Yasudahlah. Semuanya sudah berlalu. Mau sampai kapan kamu memelukku? "


" Sampai bau parfum milik bunda hilang, "


" Parfum bunda bisa tahan berhari-hari Leo. Cepat lepaskan! Dada kakak sesak! "


" Tidak mau. Dada kakak sesak karena ukuranya melewati batas, "


" Mau ku tampar lagi? "


" Tidak. Aku mau terus dalam pelukan ka– " belum selesai berkata, tubuh Leo melemah dan langsung pingsan dalam pelukan Thalia.


Selama berdebat dengan pangeran Theo, Leo menahan kekuatan terpendam dengan energi sihir murninya agar bisa tetap sadar sampai kehabisan energi. Berkat menghisap darah dan energi Thalia, dia bisa kembali menyegel kekuatanya tetapi belum bisa memulihkan energi sihir murninya yang hampir habis.

__ADS_1


^^^To be Continue.^^^


__ADS_2