
Licia kembali ke ibukota setelah 2 minggu kabar kepulanganya dari Valdia. Setelah berpisah dengan rombongan pangeran Theo, rupanya selama seminggu Licia membuntuti sang ayah ke wilayah Croxia. Namun, sangat disayangkan Licia justru kehilangan jejak mereka dan terpaksa memutar balik ke ibukota.
Sesampainya di istana, dia langsung dipanggil menuju ruang raja Karl. Licia tanpa ragu maupun takut segera menuju tempat yang di maksud. Ya, dia sudah siap menerima kemarahan sang kakek atas apa yang telah terjadi sebelumnya.
Saat memasuki ruangan tersebut, Terlihat raja Karl yang duduk di kursinya seraya memandangi pemandangan di luar jendela.
" Kakek aku sudah kembali, " ucap Licia yang berlutut di belakang kursi raja Karl.
Tanpa berucap, raja Karl melemparkan sebuah surat di hadapan Licia.
Licia membaca sejenak surat tersebut lalu memejamkan mata. Dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri untuk siap mendapatkan hukuman dari sang kakek.
" Itu adalah surat pembatalan perjodohanmu dengan Leo dari Thalia. Aku tidak akan menanyaimu tentang alasanya, karena aku sudah tahu semuanya. " raja Karl bangkit dari kursi seraya melipat tangan kebelakang, Dia berjalan mendekati cucunya.
" Aku Vladilicia von Kalius Gerelian mengaku salah dan siap mendapatkan hukuman! " ucap tegas Licia.
" Berdirilah. Aku tak ada niatan untuk memarahi atau bahkan menghukummu, "
Licia terkejut dengan ucapan raja Karl. Dia bertanya-tanya bagaimana bisa sosok kakeknya yang selalu tegas bisa selembut ini? Seorang raja yang selalu memberikan hukuman kepada yang salah bagaimana bisa menjadi seorang pengampun?
" Ti-tidak kakek! Aku siap untuk dihukum! "
" Memang benar kau harusnya mendapat hukuman 100 kali cambukan. Tetapi, Leo telah mengambil hukuman itu darimu, "
Sekali lagi Licia dibuat terkejut dan tak bisa berkata-kata lagi. Dia benar-benar tak menyangka Leo yang sangat membencinya justru merelakan diri mendapat hukuman yang seharusnya diberikan padanya.
" Semalam dia dibawa oleh Thalia untuk menemuiku dan dia rela menggantikanmu. Dia ingin menebus kelancanganya yang telah mengusir tuan putri dan pangeran dari istana Valdia. "
" I-itu bohongkan? "
" Kau bisa menjenguknya sendiri di ruang tabib istana, "
" Kenapa? " tubuh Licia lemas seketika. Dia menundukkan kepala dengan rasa sesal yang makin menumpuk. " Padahal aku yang bersalah tetapi mengapa dia yang bertindak? "
Raja Karl langsung memeluk cucunya dengan lembut, " Kalian berdua tidak salah. Akulah yang salah karena meminta Leo merahasiakan keberananya darimu. "
" Katakan kepadaku kakek sebenarnya apa yang kalian rencanakan? "
Raja Karl menghela napas. Dia siap membocorkan semuanya karena perjodohan itu sendiri sudah batal.
" Alasan aku menjodohkanmu dengan Leo adalah demi keamanan dan kedamaian Gerelia. Aku khawatir ayahmu akan membawa Gerelia kedalam jurang kegelapan. Karena itu, aku ingin kau dan Leo menjadi pemimpin kerajaan setelahku. Tetapi, bocah itu membuatku terkejut dengan perkataanya yang tak ingin menjadi seorang raja. Demi meraih tujuanku, aku akhirnya mencapai kesepakatan denganya, "
" Kesepakatan? "
" Ya, jika perjodohan itu berlanjut, dia ingin menjadikanmu sebagai pemimpin tunggal Gerelia. Dan dia berjanji kepadaku akan membantu dan melindungimu serta kerajaan ini dari balik layar. Karena itu aku menyetujuinya. Tetapi, nasi sudah menjadi bubur karena pejodohan yang kuharap bisa mengembalikan kejayaan Gerelia kini sudah batal, "
Licia melepaskan pelukanya dari raja Karl. Dia menyandarkan tubuhnya ke tembok sembari menghela napas. Pikiranya makin campur aduk dan dilema lagi-lagi melandanya. Dia tak tahu lagi harus bagaimana setelah mendengar penjelasan raja Karl.
" Aku harus apa sekarang kakek? Mengapa jalan yang kupilih sendiri justru menghancurkan semuanya? " tanya Licia seraya memandangi langit-langit
" Jadilah dirimu sendiri Licia. Aku tidak akan memaksamu demi kepentingan politik kerajaan. Kamu bebas memilih jalanmu sendiri termasuk cintamu. Tetapi, saat kau mencintai seseorang cukup cintailah sewajarnya. Aku tak ingin tragedi yang menimpa ibumu terulang kembali olehmu sendiri, "
" Kakek? Apa kakek serius? "
" Tentu saja. Jika memang kau tak menginginkan takhta ini, untuk apa aku terus mengekangmu demi kerajaan? Aku akan merestui hubunganmu dengan Orka dan hidup bebas di luar sana. Tetapi dengan satu syarat, "
Raut wajah Licia langsung berubah. Rasa dilema dan sesal dari hati dan pikiranya seketika menghilang. " Apa syaratnya? "
" Selesaikan dulu pendidikanmu di akademi dan jangan berikan kehormatanmu pada Orka sampai kalian berdua menikah. Apa kau sanggup memenuhi syarat itu? "
Licia mendekati raja Karl lalu memeluknya tiba-tiba, " Ya aku terima syarat kakek. Terima kasih kakek sudah mengerti apa yang kuinginkan! "
" Bodohnya aku mengkhawatirkan masa depan kerajaan tanpa menyadari cucuku menderita karena kekhawatiranku sendiri. Biarlah masa depan berjalan sesuai kehendakn dewi Grecia. Setidaknya aku masih bisa membawa kedamaian kerajaan ini sampai mati nanti, " gumam raja Karl sambil mengelus-elus kepala Licia.
" Sekarang kembalilah ke asramamu di akademi. Besok kegiatan pembelajaran akan dimulai, " sambung raja Karl.
" Ya kakek. " Licia melepaskan pelukanya lalu berlari kecil menuju pintu keluar. " Aku sayang kakek, sampai jumpa lagi! "
Dengan hati gembira Licia bersenandung sambil berjalan mengelilingi istana untuk menyapa para pelayan dan prajurit sebelum menuju asrama akademi.
Siapa sangka saat sampai di pintu keluar istana, Licia justru bertemu Leo yang sedang bersama Kiran. Terlihat Leo yang lemas dan sesekali mendesah kesakitan saat Kiran menyentuh punggungnya. Licia teringat kembali perkataan kakeknya tentang Leo yang rela mengambil hukuman itu.
Licia mencoba memberanikan diri menghampiri Leo, tetapi baru selangkah dia berjalan, Kiran langsung meliriknya dan menggelengkan kepala. Leo sendiri membuang muka seakan tak mau melihatnya. Licia tahu maksud dari Kiran. Ya, ini bukanlah waktu yang tepat bagi gadis itu untuk meminta maaf. Licia pun mengurungkan niat dan keluar dari istana Lewat pintu lain.
" Dia sudah pergi? " tanya Lirih Leo pada Kiran.
" Ya tuan. "
" Argh... Walaupun sudah tua tetapi tak kusangka cambukan raja sangat menyakitkan sekali, " keluh Leo seraya mengusap-usap bahu kirinya.
__ADS_1
" Hhh... lagi pula mengapa tuan mau membantu gadis yang sudah melukai hati tuan? "
" Sudahlah lupakan itu, "
" Untung saja nona Thalia ada jadi tuan bisa menyedot darahnya. Jika nona Thalia tidak ada, pasti istana ini sudah hancur, "
" Ahahaha... Kau benar juga. Aku baru teringat kalau luka kecil di tubuhku bisa berbahaya, "
" Hhhh... Baiklah mari kita kembali ke akademi tuan. Satu jam lagi saya harus mengikutin ujian, "
" Kembalilah dulu Kiran. Aku ingin berkeliling di ibukota, "
" Baiklah. Hati-hati dijalan nanti tuan. Saya pergi dulu. " ucap Kiran mengakhiri percakapan dan meninggalkan Leo sendirian di istana
Leo juga bergegas keluar istana. Dia berniat berkeliling ibukota lagi karena dahulu waktunya sangat terbatas saat berkeliling.
...***...
Selama seharian dia mengelilingi kota sembari menyempatkan diri mampir ke beberapa kedai makanan untuk merasakan makanan-makanan khas ibukota. Tetapi, cita rasa makananya di luar ekspektasi Leo. Bagaimana tidak, hampir makanan yang dimakan Leo di Valdia sudah memakai rempah-rempah sebagai pelezat makanan sedangkan di ibukota hampir semua makanan rasanya cenderung asin dan hambar karena hanya memakai garam. Hal wajar mengingat harga rempah-rempah memang sangat mahal sekali ditambah Gerelia mendapat penolakan kerjasama dagang dengan kerajaan Hanaria yang notabenya kerajaan penghasil rempah-rempah terbanyak selain kerajaan Singaraja dan Taiyoria.
Melihat langit yang sudah berwarna jingga, Leo bergegas kembali ke akademi. Tetapi, saat mau keluar dari gerbang ibukota, dia melihat Orka bersama beberapa orang memasuki tempat prostitusi yang tak jauh dari gerbang. Karena merasa penasaran, Leo akhirnya membuntuti Orka ke dalam tempat prostitusi.
Leo pun masuk ke tempat itu dan langsung disambut oleh 2 wanita seksi yang hanya mengenakan pakaian dalam saja. Pipi Leo memerah seketika. Dia sangat malu berada di tempat itu apalagi ini adalah kali pertama bagi Leo memasuki tempat macam ini.
Kedatangan Leo menjadi pusat perhatian para wanita pekerja di sana. Mereka terpesona akan ketampanan Leo dan saling berdesakan mencoba mendekati Leo.
" Ada yang bisa saya bantu tuan? " tanya salah satu wanita yang berhasil memegang tangan kiri Leo.
Leo hanya diam. Raut wajahnya terlihat jelas menunjukkan kegugupan.
" Aah... Dari ekspresi tuan, sepertinya ini pertama kalinya ke sini ya? Kalau begitu mari ikuti saya, " wanita tersebut menarik Leo dan membawanya ke sebuah kamar kosong. Di kamar itu penuh dengan bunga-bunga mawar ditambah bau ruangan yang harum berkat lilin aromaterapi yang dinyalakan di setiap sudut kamar.
Wanita itu mendorong tubuh Leo ke ranjang lalu dia menindih tubuh pemuda tersebut.
" He-hey nona apa yang kau lakukan!? " Leo mulai panik. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Alih-alih terangsang justru Leo ketakutan saat wanita itu meraba-raba lehernya.
Di tengah situasi itu, tak sengaja di kamar terdengar suara seorang pria yang tak asing bagi Leo. Ya suara itu adalah Orka. Dia menyewa seorang wanita dikamar sebelah.
Leo sontak bangkit dari ranjang lalu mendorong wanita tadi. " Ah... Tuan apa yang tuan lakukan? "
" Diamlah! Aku ke sini bukan untuk menikmati hal semacam ini. Oh ya apa boleh kusewa kamar ini? Berapapun harganya akan kubayar, "
" Tidak perlu! Aku ingin sendiri di sini. " Leo mengambil kantung uangnya lalu melemparkan 2 koin emas pada wanita itu. " Apa segitu cukup? "
" Sewa kamar dalam semalam hanya 30 koin perak tuan! Yang tuan beri lebih dari cukup! " kejut wanita tersebut mendapat 2 keping koin emas.
" Baiklah apa kau bisa meninggalkanku sendiri di sini? "
" Baik tuan! Jika tuan butuh sesuatu, saya ada di ruang depan! "
Leo menganggukkan kepala dan wanita tersebut segera keluar dari kamar lalu menutup pintu kamar rapat-rapat.
Melihat wanita tadi sudah tak ada, Leo berjalan mendekati tembok yang membatasi kamarnya dan kamar yang digunakan Orka. Leo menciptakan sebuah jarum es sebesar kelingking bayi. Jarum es yang ditambah sihir elemen angin dia gunakan untuk melubangi tembok.
Hanya dalam waktu beberapa detik, lubang itu tercipta. Leo langsung mengintip ke dalam lubang dan tak terduga dia melihat Orka sedang berhubungan intim dengan wanita lain di kamar itu. Leo yang merasa jijik langsung menutup lubang itu dengan tanganya. Dia duduk bersandar seraya menunggu Orka selesai.
10 menit berjalan dan Leo masih menunggu sambil mencoba berpikir positif agar tak terpengaruh suara-suara aneh dari tempat Orka. Tiba-tiba terdengar banyak suara langkah kaki yang berjalan menyusuri lorong-lorong kamar. Suara itu terdengar seperti segerombol prajurit berpakaian tempur.
Siapa sangka langkah-langkah itu terhenti tepat di depan kamar Orka. Leo berusaha mengintip kembali dari lubang yang dia buat.
...Tok... Tok... Tok......
" Siapa itu? " tanya Orka yang sudah selesai melakukan hubungan dengan wanita itu.
" Buka pintumu! " terdengar suara bentakan dari luar kamar Orka. Terlihat juga raut wajah Orka yang ketakutan setelah mendengar suara itu.
...Braaak!...
Karena Orka tak kunjung membuka pintu, orang-orang yang di luar kamar tiba-tiba mendobrak pintunya. Dan ternyata yang datang adalah ayah dari Orka yaitu count Randa bersama 10 pengawalnya.
" A-ayah!? " Orka terlihat makin ketakutan.
Count Randa langsung menghampiri Orka. Alih-alih marah atau memberi hukuman, justru count Randa mengelus-elus kepala anaknya.
" Perjodohan tuan putri dengan putra marquis Aiden resmi dibatalkan. Orka, kali ini aku bangga padamu. Tidak sia-sia kau berbulan-bulan di Valdia dan mengompori pangeran Theo, " ucap count Randa sambil tersenyum lebar.
Ketakutan Orka seketika sirna dan terlihat senang atas perlakuan ayahnya. " Te-terima kasih ayah, "
" Kali ini kubiarkan kau bersenang-senang. Pilihlah wanita-wanita untuk melayanimu. Malam ini ku sewakan tempat ini khusus untukmu. "
__ADS_1
" Ayah!? I-ini bukan candaan kan? "
" Hahaha... Tentu saja bukan. Tetapi ingat, jalanmu masih panjang. Kau harus segera memiliki tuan putri seutuhnya, "
" Tenang saja ayah. Aku sudah tidak memiliki saingan lagi dan tinggal butuh waktu sampai Licia benar-benar memberikan segalanya untukku. Tapi, jika aku mendapat itu semua, apakah aku akan menjadi raja? "
" Si raja tua bangka itu cepat atau lambat pasti akan mati. Sedangkan pangeran Theo memang sulit disingkirkan. Tetapi aku memiliki rencana bagus, " count Randa mendekati wanita yang sebelumnya melayani Orka lalu mencium bibirnya beberapa saat.
" Rencana apa ayah? "
" Pangeran Theo sangat sayang pada putrinya. Apa pun yang diinginkan putrinya pasti akan dikabulkan tetapi aku tak yakin pangeran akan mengabulkan jika tuan putri menginginkan takhta. Karena itu, saat kau sudah memiliki tuan putri seutuhnya, aku ingin kau memintanya untuk membujuk pangeran, "
" Membujuk? Untuk apa? Lalu bagaimana janji ayah yang akan menjadikanku raja? "
" Dengarkan dahulu anak bodoh. Aku ingin kau dan tuan putri membujuk pangeran agar memberikan Valdia kepadamu, "
Leo tersentak mendengar pembicaraan itu. Dia mulai geram tapi untung saja masih sanggup menahan diri dan lanjut menguping.
" Tidak! Aku ingin menjadi raja bukan marquis! "
" Valdia tanah yang kaya raya apalagi beberapa bulan lalu ditemukan tambang emas besar di sana. Jika kau memang ingin menjadi raja, kau bisa mendirikan kerajaan boneka di Valdia. Itu bukan hal mustahil jika kau mau meminta pertolongan pendeta suci Jeremus. Lagi pula kita tidak mungkin menyingkirkan pangeran Theo. Tetapi setidaknya saat pangeran Theo wafat, kaulah yang akan menjadi raja berikutnya, "
Orka terdiam untuk berpikir sejenak. " Kerajaan boneka ya? Apa pangeran Theo akan setuju itu? "
" Jika tuan putri yang meminta, pasti dia setuju dengan syarat masih dalam naungan Gerelia ditambah mengikat perjanjian dengan kerajaan suci Deusia. Ini hanya sementara Orka sampai pangeran Theo wafat. Setidaknya saat umurmu 30 tahun, kau akan segera mendapatkan takhta Gerelia. Apa susahnya menunggu pangeran menua? "
" Baiklah! Aku setuju rencana ayah! Tapi bukankah Valdia akan melawan jika kita mencoba merebutnya? "
" Tenang saja, bisa apa mereka? Walaupun memiliki seorang kesatria yang berelemen es dan pasukan yang tangguh tetap saja mereka tak akan mampu melawan ratusan ribu pasukan, "
" Memangnya kita punya pasukan sebanyak itu? "
" Kerajaan-kerajaan aliansi Deus sudah setuju dan siap membantu kita. Karena itu tenang saja. Semua hanya masalah waktu, tak ada yang perlu kita takutkan, "
" Baiklah. Aku sedikit lega dan bisa fokus menggaet tuan putri seutuhnya, "
" Hmh... Lanjutkanlah kegiatanmu itu! " count Randa memegang dagu wanita sebelumnya. " Hey nona, jika kau sanggup melayani sepuluh pengawalku, aku akan berikan 200 koin emas untukmu, "
" Tu-tuan serius? " Wanita itu langsung mendekatkan tubuhnya pada count Randa.
" Tentu saja! " count Randa mengambil sekantong kecil berisi kepingan koin emas lalu memberikanya pada wanita tersebut.
" Ba-baik tuan! Saya akan melayani mereka! Mari ke kamar sebelah! " dengan semangatnya, wanita yang masih telanjang itu mengajak 10 pengawal ke kamar lain.
" Sudah lama aku tak merasakan nikmatnya wanita. Aku ingin mengambil beberapa wanita dulu. Sampai jumpa lain waktu Orka. " count Randa berjalan kembali ke ruang utama sedangkan Orka memanggil wanita lain untuk melayaninya.
Ini adalah sebuah informasi yang sangat penting sekali. Dengan adanya informasi ini, Leo berencana mengirimkan surat kepada pasukan Yurei di Valdia untuk melepaskan 1 divisinya lagi. Kali ini ke wilayah county Trixia dimana count Randa memimpin.
Leo sangat bersyukur karena memilih membuntuti Orka. Jika saja dia tak membuntuti, mungkin pada masa mendatang Valdia benar-benar dapat di rebut oleh mereka.
Di tengah pesta seksual yang dilakukan count Randa dan para prajuritnya, Leo mencoba keluar dari tempat itu menggunakan sihir pelebur jiwa. Tetapi, sangat sial sekali saat baru menuju ruang utama, hawa sihirnya terendus oleh count Randa. Ayah Orka itu langsung memasukan pasukan tambahan untuk berjaga-jaga.
Karena situasi yang tak memungkinkan, Leo memutuskan kembali ke kamar dan menunggu sampai rombongan count Randa pergi. Sialnya, Leo harus menunggu hingga pagi tiba.
...***...
Saat pagi tiba, ternyata count Randa, Orka, dan para pasukanya sudah meninggalkan tempat itu sebelum matahari terbit. Leo yang masih terlelap mendengar suara gaduh di luar yang akhirnya membangunkannya. Leo berjalan keluar kamar dan melihat banyak orang berkerumun di salah satu kamar.
Karena penasaran, Leo mendatangi kerumunan itu. Di kerumunan, Leo berusaha menyelinap demi melihat apa yang sedang membuat gaduh di pagi hari. Saat berhasil sampai di depan pintu kamar tersebut Leo dikagetkan oleh seorang mayat wanita yang terbaring mengenaskan di ranjang dalam kondisi tubuh telanjang penuh lendir dan ada banyak luka memar ditubuhnya ditambah ada luka cekikan di leher.
Leo menyadari bahwa wanita itu sebelumnya melayani Orka dan ditawari uang oleh count Randa jika mau melayani pengawalnya. Tapi tawaran itu nyatanya adalah tipuan belaka. Wanita itu dibunuh karena mengetahui percakapan rahasia semalam.
" Mengenaskan bukan? " ucap salah satu wanita yang semalam mengajak Leo ke kamar.
" Bukankah kasus ini bisa dilaporkan ke istana? " tanya Leo yang terus memandnagi mayat itu.
Wanita tadi menggelengkan kepala, " Itu sudah resiko pekerjaan kami. Jika kami berani melapor sama saja dengan bunuh diri. "
" Cih... " Leo tak bisa berkata apa-apa. Dia hanya bisa menggertakkan gigi sebagai pelampiasan kekesalanya melihat mayat tersebut.
" Oh ya tuan. Saat aku ke pasar tadi ada beberapa orang berjubah hitam mencari pria muda berambut pirang. Apakah yang dimaksud itu tuan? "
Mendengar perkataan wanita itu, Leo langsung teringat kalau dia harus segera ke akademi karena hari ini adlah hari pertama dia masuk.
" Sial aku lupa! Nona terima kasih atas penginapanya malam ini, selamat tinggal! "
Leo langsung berlari keluar dari tempat prostitusi tersebut. Dia sengaja menggunakan sihir pelebur jiwa saat keluar agar tak ketahuan oleh Thalia maupun pasukan Yurei. Jika sampai ketahuan sudah jelas Thalia akan menghukumnya habis-habisan.
^^^To be Continue.^^^
__ADS_1