KEBANGKITAN KESATRIA PENDOSA

KEBANGKITAN KESATRIA PENDOSA
#36# APAPUN DEMI KAKAK TERCINTA


__ADS_3

" Kamu masih mau diam saja? " tanya Aron yang membuka pintu kamar.


Orang yang ditanyai Aron adalah Thalia. Sudah 2 hari dia dipaksa ikut oleh Aron ke rumah persembunyian count Trixia yang berada di perbatasan antara Trixia dan Gerel. Thalia terpaksa ikut karena Aron mengancam akan menagih semua hutang keluarganya pada marquis Aiden dan tidak segan-segan menawan Melina jika kemarquisan tidak sanggup membayar.


Aron berencana segera menikahi Thalia secara diam-diam. Anak count Trixia itu memang mempunyai rasa pada Thalia tapi dibalik itu semua dia punya ambisi untuk menguasai Valdia. Siapa yang tidak ingin menguasai Valdia? Tanah subur nan kaya akan sumber daya ditambah tempat religi yang menghasilkan banyak uang. Selain itu dengan menikahi Thalia, Aron punya kesempatan untuk menjadikan Leo sebagai senjatanya.


Tapi sangat disayangkan saat Aron mengatakan keinginanya menikah justru langsung ditolak mentah-mentah oleh Thalia. Gadis itu masih ingin hidup melajang sampai keinginanya memulihkan Valdia tercapai.


Setidaknya sudah 10 kali Aron membujuk Thalia untuk menikah dan semuanya ditolak. Saking geramnya, Aron pun menahan Thalia di sebuah kamar. Aron memberikan waku kepada Thalia untuk berpikir ulang dan jika dia kekeh menolak, maka Aron siap mengirim surat tagihan hutang ke Valdia.


" Masih tidak mau bicara?! Ingat batas waktumu tengah malam nanti. " ucap Aron sambil membanting pintu kamar yang dihuni Thalia.


Thalia hanya bisa meringkuk dan menangis di ranjang sembari menyalahkan dirinya yang tidak bisa apa-apa. Dia sudah tidak tahu lagi harus bagaimana. Tidak ingin melibatkan keluarga tapi dia sendiri juga tidak bisa mencari jalan keluar.


Dari lubuk hati yang terdalam dia berteriak memanggil-manggil sang ayah dan meminta tolong. Tapi, panggilan itu tak akan pernah sampai keluar dari lisannya. Dia berusaha menjadi seorang calon pemimpin yang kuat seperti ayahnya yang berjalan sendiri tanpa meminta bantuan siapa-siapa.


Gadis itu memandangi rembulan dari balik jendela kamar. Dia sesekali melihat ke sekitar untuk mencari kesempatan melarikan diri. Sayang sekali mustahil kabur karena banyaknya prajurit yang menjaga kamarnya entah dari dalam rumah maupun dari luar.


Sepintas muncul sebuah ide. Dia berencana menunggu sampai Aron datang dan saat pintu kamar terbuka, Thalia akan kabur menggunakan semua tenaganya.


...***...


Tengah malam tiba dan Thalia bersandar di samping pintu sambil memegang vas bunga. Tak lama terdengar langkah kaki Aron yang mendekati kamar.


Saat Aron membuka pintu kamar, Thalia mencoba menghantam seseorang yang membuka pintu dengan vas bunga. Aron ternyata sudah memprediksi rencana ini. Dia berhasil menangkap tangan Thalia dan mencegahnya menyerang.


Aron kemudian mengambil sebuah jarum suntik di saku lalu menyuntikkan sebuah obat pelumpuh ke lengan Thalia lalu melemparnya ke atas ranjang.


" Kamu pikir bisa kabur begitu saja? Kamu memang kuat tapi bukankah sudah sering kuberitahu kekuatanmu tak sebanding denganku. Ribuan kalipun mencoba, aku akan tetap menang, " Aron melepas bajunya lalu berjalan ke ranjang.


Tubuh Thalia matirasa karena efek obat pelumpuh. Dia tidak bisa bergerak dan hanya terbaring diatas ranjang sambil berusaha mencoba menggerakkan anggota tubuh.


Aron naik ke ranjang lalu menindih kedua kaki Thalia. Dia juga merobek-robek baju Thalia sampai setengah telanjang.


" Daripada aku terus membujukmu atau menagih hutang lebih baik aku menanam benih padamu! "


" A-apa sebenarnya tujuanmu! "


" Tentu saja menguasai Valdia. Jika kamu mengandung anakku, sudah jelas kamu tidak akan bisa menolak lamaranku. Aku bisa menjadi marquis baru di Valdia. Sebentar, saat aku berhasil menjadi marquis, bukan hanya Valdia aku bahkan bisa menjadi raja di Gerelia. Dengan kekuatan kita dan kedua adikmu kita bahkan bisa menaklukan dunia Thalia. Kita bisa menjadi satu-satunya raja dan ratu di dunia ini! " pungkas ambisi gila Aron seraya meraba pipi Thalia.


" Kamu gila! Aku tidak akan membiarkan kedua adikku menjadi senjata orang gila sepertimu! " bentak Thalia berusaha menggerakkan badan.


" Percuma! Efek obat pelumpuh bertahan 23 jam. Kamu tidak akan bisa bergerak. Sudahlah Thalia tetap diam dibawahku dan biarkan aku menikmati tubuh wangimu ini, "


Aron menciumi tangan Thalia kemudian menjilati leher gadis itu sambil meraba-raba perutnya. Thalia tidak bisa apa-apa lagi. Dia hanya diam dan menangis.


Tolong... Tolong... Tolong... Itulah isi hati Thalia saat ini. Dia berharap kepada siapapun agar menolongnya.


" Baiklah mari kita mulai jamuan utamanya Thalia- "


...Whuung! Braaaak...!...


Tembok kamar tiba-tiba jebol oleh sebuah panah es. Aron terkejut lalu melirik ke arah luar.


Dari arah luar, Leo tiba-tiba muncul di hadapan Aron kemudian mencengkram lehernya dan memebenturkan ke tembok


" Berani sekali kau...! " geram Leo menatap tajam Aron dengan penuh kemurkaan.


" Ba-bagaimana kau bisa kesini? " tanya Aron mencoba melepaskan diri dari cengkraman Leo.


" Kiran! Lumpuhkan semua prajurit sampah ini dan bawa kakakku kembali! " teriak Leo.


" Ja-jawab pertanyaanku bo-doh! " ketus Aron.


" Yang kau butuhkan bukan jawaban tapi hukuman Aron! Kali ini tidak ada ampun bagimu! "


Leo mengeluarkan sayap sihir es lalu terbang menembus atas kamar sambil membawa Aron. Dia kemudian melesat menuju akademi.


Di udara, Leo menghajar Aron habis-habisan. Bahkan Aron sampai dibuat tak berdaya dan tidak pula diberikan kesempatan menyerang balik. Lelaki itu dibanting kesana kemari oleh adik kekasihnya sendiri.

__ADS_1


Saat memasuki wilayah akademi, Leo membawa Aron ke atas arena lalu dia memukul sekencang-kencangnya perut Aron.


Aron langsung terhempas ke bawah dan membentur arena akademi. Saking kerasnya benturan menggetarkan seluruh wilayah akademi.


Para siswa dan guru pun berbondong-bondong mendatangi sumber benturan itu di arena. Mereka semua terkejut melihat Aron sudah terkapar dan babak belur.


Sementara Leo yang masih marah dan merasa hukuman yang dia berikan berikan masih kurang, dia pun terjun ke bawah dan menghantam Aron lagi.


Pemuda rambut pirang itu menindih tubuh Aron dan memukul wajahnya puluhan kali. Walaupun lawanya sudah sekarat dengan darah membanjiri tubuh, dia tetap memukuli.


" Berani kau! Berani kau! Berani sekali kau...! Kakakku yang tulus cinta padamu justru ingin kau lecehkan! Aku akan membunuhmu disini! Siapapun yang berani menyentuh kakaku akan kubunuh disini...! " murka Leo menggelegar seantero arena.


" Kau yang disana hentikan tindakanmu! " terdengar suara seorang pria dari langit.


Leo berhenti lalu menatap ke langit. Ternyata di langit ada count Jarwis ( ayah Aron sekaligus count dari Furu ). Dia tidak sendiri melainkan dengan putra pertamanya yaitu viscount Gard.


Mereka berdua terbang menggunakan sayap sihir api dan angin di atas langit sambil memegang senjata.


" Putra marquis Aiden, tindakanmu kali ini sudah melewati batas! Aku count dari Furu berhak menahanmu atas penganiayaan yang kau lakukan pada putraku, " ujar count Jarwis.


" Menahan? Penganiayaan? Omong kosong. Sampah seperti dia pantas mendapatkan hukuman ini! Seharusnya aku sebagai perwakilan dari Valdia yang berhak membawa putramu atas percobaan pelecehan pada putri marquis! "


Count Jarwis tersenyum kecut lalu mengacungkan pedangnya pada Leo, " Hubungan badan bagi pasangan kekasih bukanlah sebuah kejahatan. Apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Lebih baik segera beritahu ayahmu bahwa count dari Furu meminta 20 juta koin emas yang Valdia pinjam segera untuk dibayarkan. "


" Kalau aku menolak, memangnya kau mau apa? "


" Jangan bermain-main dengan api bocah. Prajurit kepung dia! " teriak count Jarwis.


Tak lama sebanyak 500 prajurit dari Furu yang memang kebetulan sedang mengawal tuan mereka masuk ke arena dan mengepung Leo dari segala arah.


" Kau pikir aku akan takut? " ucap Leo sedikit meremehkan.


Nada bicara Leo membuat viscount Gard kesal. Dia tiba-tiba menerjang Leo dengan tombaknya.


Leo berhasil menghindari terjangan dan malah berhasil memukul wajah viscount Gard dan membuatnya tersungkur diantara pasukan Furu.


" Kenapa diam? Apa kau takut count Jarwis? Wajahmu seperti seekor monyet yang ketakutan, " ejek Leo.


" Tuan Reo! Tindakanmu kali ini sudah sangat berlebihan! Sebagai kepala akademi sekaligus penanggung jawab seluruh siswa di akademi, aku mengizinkan count dari Furu menahanmu atas kejahatan yang kau lakukan! " sela Bernald yang tiba-tiba datang entah dari mana.


Di belakang Bernald, muncul para guru yang pernah Leo lihat saat di sungai.


Leo tersenyum kecil lalu mengeluarkan sebuah tombak es di tangan kanannya. " Kau tidak perlu ikut campur pak tua. Lebih baik kau pikirkan kejahatanmu sendiri yang tinggal beberapa minggu lagi terbongkar, "


" Heh... Percaya diri sekali. Kau pikir bisa menang melawan tuan Charlie? "


" Entahlah! Sekarang aku tidak ada urusan denganmu. Lebih baik jangan menghalangiku. Begitu juga dengan kalian semua! Urusanku hanya dengan Aron! Siapapun yang berani ikut campur, aku tak akan segan-segan membunuh kalian! " teriak Leo pada seluruh orang yang ada di arena.


" Omong kosong! Prajurit cepat tangkap pecundang dari Valdia itu! " seru count Jarwis yang sudah kehabisan kesabaran.


Melihat para prajurit berlari ke arahnya, Leo pun terbang beberapa meter sambil mengangkat tombak esnya. Dari mata tombak muncul lingkaran sihir biru.


" Sudah kubilang jangan menggangguku! BRINICLE...! "


Leo melempar tombaknya ke tanah dan seketika seluruh orang di arena setengah badanya membeku. Sihir dengan area luas membekukan seisi arena tak terkecuali para siswa yang hanya duduk menyaksikan di kursi penonton. Mereka semua panik dan saling minta tolong satu sama lain.


" Jika kalian ingin bebas, diam dan saksikan saja hukuman bagi pelaku pelecehan kaum wanita! " Leo berjalan mendatangi Aron yang juga membeku.


Dia mencairkan es di tubuh Aron kemudian kembali menindihinya dan memukulinya lagi.


Aron hanya bisa diam dan sesekali dengan sisa-sisa tenaganya mencoba melepaskan diri tapi Leo sigap dan langsung membekukan tangan dan kakinya.


Semua yang ada di arena termasuk count Jarwis hanya bisa melihat Aron yang tak berdaya terus dipukul.


Amarah Leo semakin menjadi-jadi dan memperkeruh pikiranya. Dia merasa tidak puas jika hanya memukuli dan terbesit dalam pikiran untuk benar-benar membunuh Aron.


Sebilah belati pun Leo keluarkan dan akan dia tebaskan ke leher Aron. Tapi beruntung saat belati itu baru diangkat, Thalia tiba-tiba muncul dan menggenggam bilah belati sampai telapak tanganya bercucuran darah.


" Hentikan Leo! Jangan sampai amarah membuatmu menjadi seekor binatang buas! " pinta Thalia pada sang adik.

__ADS_1


Leo terus menatap Aron dengan penuh kemurkaan dan tak melepaskan belatinya. " Dia hampir menodai kakak! Aku tidak peduli walaupun harus menjadi binatang sekalipun, setidaknya dia harus mendapat hukuman yang setimpal! "


Thalia merebut belati Leo secara paksa lalu membuangnya, " Dan aku tidak ingin melihat adikku menjadi binatang buas itu. Hukuman yang kamu berikan sudah lebih dari cukup. Sekarang mari kembali ke asrama. "


" Kakak kembalilah lebih dulu. Aku ingin menemui raja, " tandas Leo yang kembali berdiri.


" Jangan membuat keributan saat kamu ke istana. Aku akan menunggumu, cepatlah kembali nanti, " Thalia mengeluarkan sayap sihir lalu terbang pergi ke asrama.


Sementara Leo membatalkan sihirnya dan membuat es yang membekukan semua orang mencair. Count Jarwis kemudian mendatangi Leo dan putranya yang sudah sekarat.


" Dalam 2 minggu Valdia tidak membayar hutang, kau akan tahu akibatnya! " ancam count Jarwis.


Leo mengeluarkan sayap sihir es lalu menatap count Jarwis, " Aku akan membayarnya sebelum 2 minggu. "


Leo terbang pergi meninggalkan arena. Sedangkan Aron yang sudah babak belur segera dibawa ke rumah sakit di ibukota.


...***...


Leo terbang menuju istana untuk menemui raja dan kebetulan raja sedang ada di menara benteng istana. Leo pun turun segera.


Raja Karl melihat Leo terbang menghampirinya. Dia mengeluarkan sekantong kecil berisi koin emas seakan sudah tahu apa tujuan Leo ke istana.


" Kau berubah fikiran? " tanya raja Karl pada Leo.


Leo sendiri segera berlutut saat tiba diatas menara.


" Aku akan mencari keberadaan putri Licia dan jika perlu melindunginya tapi jika yang mulia mau memenuhi permintaan saya, "


" Aku baru saja diberitahu bahwa Valdia berhutang 20 juta koin emas kepada Furu dan aku tahu apa permintaanmu, "


" Apa yang mulia mau mengabulkan permintaan saya? "


" Aku akan membayarmu 15 juta koin emas dengan syarat kau harus mencari dan melindungi cucuku seumur hidupmu, "


Syarat raja Karl membuat Leo tertegun. Dia ingin menjaga jarak dengan Licia ditambah dia harus melindungi sang kakak dan sekarang raja malah memberikan syarat yang sulit.


" Kau ragu? 15 juta koin emas yang kuberikan padamu adalah seperempat kekayaan kerajaan saat ini dan sudah sepantasnya syarat yang kuberikan harus sepadan, "


Leo masih diam sambil terus berfikir mencoba mencari keputusan yang tepat.


" Aku tidak punya waktu banyak. Jika kau mau, aku akan memenuhi permintaanmu dan jika tidak lebih baik kau kembali ke asrama dan bersihkan tanganmu yang penuh darah itu, " ucap raja Karl sembari melihat kedua tangan Leo.


Leo masih saja diam dan berpikir. Sikap Leo membuat raja Karl habis kesabaran.


" Baiklah diam berarti menolak, " raja Karl membalik badan dan berjalan ke tangga menara.


" Saya terima syarat dari yang mulia! Saya akan memerintahkan satu divisi pasukan saya untuk menjaga putri Licia, "


Raja Karl berhenti dan tersenyum, " Baguslah. Tapi aku ingin kau langsung yang menjaga cucuku. Aku tahu pasukanmu isinya orang-orang hebat tapi aku lebih lega jika kau langsung yang menjaganya. Jika kau menolak, kita batalkan kesepakatan ini. "


" Ba-baiklah jika itu keinginan yang mulia, " dengan sangat terpaksa Leo pun menyetujui syarat raja Karl.


" Ambil ini! " raja Karl melemparkan kantong uang pada Leo.


" Itu berisi 1 juta koin emas. Anggap saja sebagai uang muka. Untuk sisanya akan kubayarkan langsung ke Furu, " lanjut raja Karl.


" Terimakasih yang mulia. Valdia sangat berhutang budi pada yang mulia atas bantuan ini, "


" Sekarang pergi! Carilah cucuku dan lindungi dia! "


" Laksanakan! "


Leo menciptakan lingkaran sihir di tato bulan sabit merah di lengan kanannya. Tak lama muncul sebuah tulisan di samping tato itu yang berisi perintah kepada semua pasukan Yurei untuk mencari keberadaan putri Licia.


Tato di lengan Leo dan pasukan Yurei bukanlah tato biasa melainkan tato sihir yang tintanya terbuat dari beberapa bahan sihir dan campuran dari darah para pasukan Yurei kecuali Leo dan Indra. Karena itu tato di lengan mereka dapat terhubung satu sama lain dan sangat berguna untuk bertukar informasi. Tapi tato tersebut hanya digunakan saat keadaan genting saja karena pengiriman atau penerimaan informasi dari tato membutuhkan pasokan energi sihir yang cukup besar.


Setelah memberikan informasi lewat tato, Leo bergegas mencari keberadaan Licia di wilayah ibukota. Sementara semua pasukan Yurei juga segera menjalankan perintah dari Leo. Mereka berpencar dan mencari Licia diwilayah tempat mereka berada.


^^^To be continue^^^

__ADS_1


__ADS_2