
" Pagi Leo... " sapa Thalia melihat adiknya yang baru saja membuka mata.
" Haruskah kita tidur seranjang? " tanya Leo dengan mata sayup-sayup melirik Thalia yang cantik sedang memandanginya.
" Bukankah hal wajar saudara kandung tidur seranjang? "
" Memang wajar jika umurku masih 10 tahun. Tapi diumur sekarang bukankah lebih mirip pengantin baru? Ditambah tersebar rumor-rumor tentang kita, "
" Hmm... Kamu terganggu? " Thalia makin mendekatkan wajahnya.
" Tidak terlalu. Hanya saja aku takut tunangan kakak cemburu, "
" Ahahaha... Tenang saja. Aku sudah memberi tahu dia dan mana mungkin dia berani macam-macam padamu. Tenang saja. Sana mandi! Ini hari pertamamu di akademi, jangan membuatku malu, "
Leo langsung bangkit dari ranjang. " Kakak tidak ada pelajarankah hari ini? "
" Hari ini aku libur dan ingin tidur seharian saja mumpung tidak ada pertemuan-pertemuan tidak jelas lagi di ibukota, "
Leo melirik ke jendela kamar yang gordenya sedikit terbuka. Dia melihat ada beberapa orang yang berusaha mengintip. " Hhhh... Sebaiknya aku mempunyai kamar sendiri, "
" Aku tidak akan mengizinkanya. Akademi ini terlalu bebas dan aku takut kamu terluka. Walaupun hanya goresan kecil, tetapi jika darahmu keluar itu akan sangat berbahaya! Kamu akan tetap bersamaku setidaknya sampai aku lulus dari akademi, "
" Baiklah-baiklah! Tapi sepertinya mereka penasaran sekali dengan kita sampai berusaha mengintip dari jendela, " Leo meninggalkan ranjang dam bergegas ke kamar mandi.
" Biarkan saja. Mereka mungkin iri melihat wanita cantik dan pria tampan tidur satu ranjang. " Thalia langsung kembali berbaring dan membungkus tubuhnya dengan selimut.
Setelah mandi dan berganti baju seragam, Leo berpamitan pada Thalia kemudian berjalan keluar kamar. Baru saja keluar, sudah banyak para penghuni asrama yang melihat ke arahnya seraya berbisik-bisik. Walaupun sedikit risih dengan hal itu, Leo berusaha tak menghiraukanya dan melanjutkan perjalanan ke gedung akademi.
...***...
Di lingkungan akademi pun, Leo terus menjadi pusat perhatian. Banyak siswi yang mengagumi ketampananya dan banyak siswa yang mengutuknya karena berani tidur satu kamar dengan siswi terbaik di akademi. Bahkan ada yang berteriak mengejek tetapi Leo sekali lagi tidak peduli.
" Kupingku sedikit panas mendengar hinaan mereka tuan! Apa boleh kubalaskan? " tanya Kiran yang tiba-tiba muncul di belakang Leo.
" Tidak perlu! Sebisa mungkin hindari konflik dengan para siswa dan fokus saja pada misi kalian, "
__ADS_1
" Baik tuanku! Aku pergi ke ruang kelas dulu. " sahut Kiran seraya berbelok ke ruang kelasnya di lantai 1 sedangkan Leo naik ke lantai 2.
Di lantai 2 Leo melihat banyak siswa-siswa akademi alkemis yang sedang praktik membuat ramuan.
" Kau di sini rupanya, " ucap Urkha yang muncul 30 meter di depan Leo.
" Guru Urkha? Apa yang anda lakukan di sini? " kejut Leo.
" Aku adalah wali kelas sekaligus guru kelas A akademi kesatria tahun kedua. Selama satu tahun kamu akan di bawah bimbinganku. Kemarilah! Waktunya dirimu memperkenalkan diri, " Urkha berjalan beberapa langkah dan berhenti di depan pintu kelas A tahun kedua. Leo pun mengikutinya dan berdiri di belakang wanita itu.
Urkha pun membuka pintu dan terlihatlah kelas A yang hanya berisi 10 orang saja dan semuanya adalah wanita. Bukan hal yang mengherankan lagi, karena tidak mudah memang mendapatkan nilai sempurna di semua ujian.
" Baiklah sebelum memulai pelajaran, kita kedatangan siswa baru! Dia adalah Mizuno Reo cucu archduke dari Mizu kerajaan Taiyoria. Mulai sekarang dia menjadi bagian dari kelas A! " Urkha memperkenalkan Leo di depan kelas A. Dan tanggapan para siswa pun sangat positif. Mereka menyambut dan menyapa Leo. Selain itu mereka juga terpesona melihat ketampanan Leo ditambah dia satu-satunya siswa tahun kedua yang berhasil masuk ke kelas A.
" Salam kenal semuanya! " Leo melambaikan tangan kanannya beberapa saat.
" Reo silakan duduk di kursi yang kosong! "
Leo segera duduk di kursi kosong yang ada di urutan terdepan. Dia juga dengan cepat beradaptasi dengan lingkungan kelas. Kemampuan komunikasi Leo yang bagus membuatnya mudah akrab dengan para siswa lainya. Leo merasa sangat senang karena dapat beradaptasi dengan mudah di kelas.
" Maaf saya terlambat guru Urkha! " terdengar suara seorang wanita dari luar kelas.
Alangkah terkejutnya Leo saat mengetahui bahwa siswi yang terlambat itu adalah Licia. Suasana hatinya langsung berubah seketika. Sifat hangatnya berubah menjadi dingin saat menatap wanita berambut putih perak itu.
Sementara Licia tak terkejut karena dia tahu dengan kemampuan Leo sekarang bukan hal sulit jika dia dimasukkan ke kelas A. Dan siapa sangka tempat duduk Licia ternyata bersebelahan dengan Leo.
Saat Licia duduk, Leo sedikit menggeser posisi duduknya agak menjauh. Licia menyadari itu dan menerima sikap yang ditunjukkan Leo.
" Baiklah, aku akan mulai pelajaranya! " ucap Urkha memulai pelajaran di hari kedua.
...***...
Setelah 8 jam pelajaran, para siswa diperbolehkan kembali ke asrama karena pembelajaran telah usai. Leo segera mengemasi buku-bukunya lalu berjalan menuju pintu kelas. Tapi saat selangkah di depan pintu, Licia tiba-tiba menghadangnya. Siswa kelas A yang lain pun dibuat bingung dengan tindakan Licia tetapi mereka memilih diam.
" Menyingkirlah " pinta Leo dengan sangat dingin.
__ADS_1
Licia menatap serius mata Leo kemudian mengambil sepucuk bunga tulip putih yang sudah sedikit layu dari tas lalu menyodorkanya pada Leo. " Sebelum kamu pergi, aku hanya ingin minta maaf atas ucapanku di Valdia saat itu, "
Leo mengambil bunga itu lalu menjatuhkanya ke lantai. Tak sampai disitu, dia langsung menginjak bunga tersebut. " Beginikah caramu meminta maaf? Dengan memberikan bunga layu? Apa kau menghinaku? "
" Ti-tidak! Aku benar-benar meminta maaf dengan tulus kepadamu! Maaf jika bunganya layu. Aku tidak dapat menemukan penjual bunga tulip putih di ibukota. Karena itu aku memberikan bunga tulip yang dulu kubawa dari Valdia, hanya saja bunganya layu karena kekurangan cahaya, " jelas Licia sambil melihat bunganya yang sudah tak berbentuk di lantai.
" Aku tidak peduli itu! Sekarang menyingkirlah! " sahut lirih Leo.
" Mengapa kamu jahat sekali? " rintih Licia menahan air matanya.
" Jahat? Apa kau tidak punya kaca? Semiskin itukah kerajaanmu sampai tuan putrinya tak mampu membeli kaca? " balas Leo dengan nada yang sengaja dilantangkan. Para siswa kelas A pun menertawai Licia dan ikut mengejeknya.
Licia hanya terdiam. Dia telah salah bicara dan pantas menerima ejekan itu. Memang tuan putri yang bodoh sekali. Bersifat angkuh, sombong, mementingkan diri sendiri, keras kepala, dan tidak tahu diri. Sebuah ejekan yang memang pantas dia dapatkan atas sifat jelek yang selalu dia tunjukkan di akademi.
" Maafkan aku! " Licia masih bersikeras menghalangi Leo.
Leo mulai geram lalu memegang kedua pundak Licia kemudian berbisik, " Ingat Licia! Mulai detik ini menjauhlah dariku! Jangan pernah mendekatiku maupun menyapaku! Anggap saja kita tidak pernah saling kenal! Sekarang menyingkirlah! "
Leo menarik tubuh Licia dan melemparnya sampai membuat gadis itu tersungkur dan menjadi bahan tawaan seisi kelas.
" Ya! Semua salahku! Andai saja aku tidak menjauhinya, Andai saja aku tidak keras kepala dan egois, andai saja aku tidak menerima ajakan Orka, semua ini tidak akan pernah terjadi. Sekarang aku harus menerima sikapnya karena akulah yang telah membuatnya seperti itu, " rintih Licia dalam hati menyaksikan orang yang telah dia sakiti berjalan meninggalkanya.
" Hey tuan putri bodoh bagaimana rasanya dicampakkan pria tampan? Hahahaha... Padalah sudah punya Orka tetapi masih saja ingin mencari yang lain, kau ini memang tidak tahu diri sekali ya? " ejek salah satu siswa yang diiringi ejekan berikutnya dari siswa-siswa lain.
" Diam kau! Akan kulaporkan ini pa– " Licia mencoba melawan dan itu sia-sia karena status kasta dilarang di akademi.
" Pada siapa? Kakekmu? Ayahmu? "
" Hahahaha putri bodoh! Jika kamu berani melakukanya, kamu akan dikeluarkan dari akademi! "
" Dasar parasit! Cuma suka pamer kekuatan lalu bersembunyi di ketiak Orka! Kuyakin kau pasti sudah menggunakan mantra sihir tertentu agar Orka jatuh cinta kepadamu! Dasar wanita licik! Lebih baik kau mati sana! "
Celaan demi celaan dilontarkan para siswa. Licia yang sudah tak tahan memilih pergi dari kelas dan mengurung diri di kamarnya.
Ini bukanlah kali pertama Licia di rundung. Justru dialah siswa paling rawan akan perundungan karena merupakan seorang tuan putri. Apalagi sifat Licia di akademi yang sombong dan angkuh serta menolak berteman membuatnya makin dibenci. Walaupun dia kuat, tetapi dia sudah barjanji pada ibu dan kakeknya agar tidak menggunakan kekuatan untuk melawan rakyatnya yang tidak menghianati kerajaan.
__ADS_1
Sangat malang nasib tuan putri Licia. Sosok gadis yang masih labil di rundung oleh para siswa saat di akademi dan menjadi incaran para bangsawan demi takhta saat di istana. Memang benar jika banyak pepatah mengatakan jika seorang tuan putri tidak punya kesempatan mendapat cinta sejati.
^^^To be continue.^^^