KEBANGKITAN KESATRIA PENDOSA

KEBANGKITAN KESATRIA PENDOSA
#24# BADAI PEMBAWA KEKECEWAAN


__ADS_3

1 jam Sebelum matahari terbit, wilayah Valdia mulai diterpa badai besar disertai hujan deras dan petir. Banyak rumah-rumah penduduk kota yang rusak tetapi untung saja tak ada satu pun penduduk yang terluka. Badai itu berlangsung lebih dari 3 jam sebelum akhirnya menghilang. Saat itulah marquis Aiden memerintahkan seluruh pasukan Valdia untuk membantu para penduduk membenahi rumah-rumah mereka. Pasukan Valdia dibagi merata agar bisa menjangkau seluruh wilayah. di tengah derasnya rintikan hujan, seluruh pasukan Valdia justru makin semangat menjalankan tugas.


Mereka pun diberangkatkan sambil membawa berbagai macam bahan pangan, obat-obatan, dan bahan-bahan yang diperlukan untuk memperbaiki rumah para penduduk di luar kota maupun dalam kota. seperti biasa, Leo lah yang akan memimpin pasukan yang di luar kota, sedangkan dalam kota adalah Thalia.


Seluruh pasukan Valdia benar-benar disibukkan hari ini dan itulah yang menjadi kesempatan Licia. Di tengah derasnya hujan, gadis itu keluar diam-diam melalui jendela kamar sambil membawa tas punggung yang tak terlalu besar. Ke mana kira-kira dia akan pergi? Tentu saja dia pergi ke tempat di mana Orka berada. Tepatnya di gerbang utama kota di mana Orka menyamar menjadi pedagang yang membawa kereta kuda penuh dagangan dan dikawal 10 prajuritnya.


10 menit lamanya Orka menunggu kedatangan Licia. Saat gadis itu datang, Orka langsung menariknya untuk masuk ke dalam kereta kuda kemudian Orka memerintahkan kusirnya untuk menjalankan kereta kuda.


Kereta kuda itu berjalan tanpa dicurigai para penjaga gerbang karena memang banyak sekali kereta kuda pedagang yang meninggalkan kota setelah badai berlalu.


" Kita akan ke mana Orka? " tanya Licia menatap Orka yang membaca peta wilayah Valdia.


" Kita akan menuju Caspia, "


" Caspia? Bukankah lebih cepat jika kota langsung ke utara menuju Aru? "


" Memang benar Licia. Tetapi, wilayah utara Valdia terkena dampak besar dari badai tadi. Aku mendapat laporan ada dua desa di utara yang hancur dan kemungkinan besar putra marquis berada di sana, "


" Karena itu kamu memilih memutar? "


" Ya, lagi pula jalur menuju Caspia lebih enak dilewati karena hanya padang rumput jadi kita tak perlu takut tentang pohon tumbang dan lain-lain, "


Licia tiba-tiba merasa aneh setelah mendengar penjelasan Orka. Dia baru kali ini mendengar ada desa di utara Valdia. Sejauh yang Licia tahu wilayah di sana hanya padang rumput dan tak ada satu pun desa.


" Licia? " tanya Orka melihat Licia yang melamun.


Licia menggelengkan kepala lalu menatap jendela kereta. " Apa kamu sudah memastikan tidak ada yang mengikutiku tadi? "


" Ya. Sejak semalam aku sudah memerintahkan pengawalku untuk mengawasi pergerakan pasukan putra marquis itu. "


" Waspadalah, mereka bukan pasukan sembarangan, "


" Apa maksud Licia? "


" Sejauh yang kutahu, mereka adalah pasukan Khusus yang kemampuanya di atas rata-rata. Mereka dibagi menjadi 10 divisi dan ketua setiap divisi kemampuanya mungkin setara denganku atau bahkan dirimu, "


" Tenang saja, pengawalku jauh lebih berpengalaman dan kuat. Kamu terlalu berlebihan Licia. Lebih baik kamu istirahat karena perjalanan masih jauh, "


" Baiklah setidaknya aku sudah memperingatkanmu. " Licia menyamankan posisi duduknya agar bisa tidur.


Perjalanan dari kota Valdia menuju Caspia butuh waktu 1 jam lamanya akibat jalanan yang sedikit berlumpur. Di perjalanan, Orka maupun Licia sudah tertidur pulas dalam kereta kuda sampai tak menyadari mereka hampir sampai ke wilayah Caspia dan ada 1 desa yang ternyata juga rusak berat terkena dampak badai pagi tadi.


Saat rombongan Orka berjalan mendekati desa, mereka dikejutkan oleh roda kereta yang tiba-tiba terlepas dan rusak.


" Hoy ada apa ini!? Mengapa kalian berhenti? " tanya Orka yang keluar dari kereta kuda sambil menggaruk kepala.


" Maaf tuan sepertinya rodanya terlepas dan rusak. Saya lupa mengeceknya pagi tadi karena badai, " ucap kusir kuda.


Orka berjalan menghampiri kusir lalu menendangnya. " Kusir bodoh! Sia-sia aku membayarmu mahal-mahal! "


" Maaf tuan uang yang anda beri terlalu banyak sampai saya lupa untuk mengurus kereta kuda, " balas kusir dengan bada menyindir.


" Ha...!? Katakan sekali lagi jika kau ingin mati! "


" Uang haram tuan membuat saya lupa mengurus kereta kuda ini, "


Orka terpancing perkataan kusir itu. Dia spontan melepas jubah mantelnya lalu melayangkan pukulan pada kusir. " Kurang ajar kau...! "


Kusir tersebut secara mengejutkan berhasil menghindari pukulan itu. Orka bahkan berkali-kali melayangkan pukulan dan tendangan tetapi berhasil ditangkis dan dihindari semua.


" Sialaaan! Siapa kau sebenarnya!? Tidak ada satu pun kusirku yang pandai beladiri! " Orka makin dibuat geram dan mulai curiga dengan kusir itu.


" Hahaha... Setelah satu bulan, baru sekarang anda menanyakan itu? " ucap kusir yang membuka tudung mantelnya. Terlihatlah ternyata sosok kurir itu adalah Kiran.


" Siapa kau!? Aku tak pernah punya kusir semuda dirimu! " tanya Orka sedikit kaget karena memang semua kusir Orka adalah orang-orang tua.


" Bukankah putri Licia sudah memperingatkan anda? "


" Ka-kau!? Jadi kau anggota pasukan yang dimaksud Licia? "


" Yaa... Aku mendapat misi khusus untuk memata-matai kalian dan anda sepertinya sudah terjebak perangkap saya, "


" A-apa maksudmu!? " Orka mulai panik saat mendengar kata jebakan.


" Padahal peta yang anda bawa itu dari saya. Seharusnya anda curiga tetapi justru mempercayainya. Lagi pula, dua desa yang hancur di utara itu hanyalah kebohongan belaka. Sebenarnya desa yang hancur adalah desa di depan anda sekarang, " jawab Kiran seraya memperlihatkan senyum penuh kepuasan.


" A-apa!? "


" Dan tuan Leo sedang ada di desa itu sekarang. Sangat disayangkan tuan Orka, rencanamu berakhir di sini. "


" Sialan kaau...! Aku akan membunuhmu di sini...! " Orka berseringai seraya mengeluarkan sihir petir yang langsung disambarkan ke arah Kiran.


Dan itulah yang diinginkan Kiran. Ya, sejak awal Kiran memang sengaja memprovokasi Orka agar dia menggunakan sihirnya untuk memancing perhatian para pasukan di desa. Sangat disayangkan, rencana matang Orka yang sudah dipersiapkan berbulan-bulan berakhir begitu saja karena kebodohanya sendiri yang tak mencurigai anak buahnya.


Sambaran dari sihir Orka meledak dan menyebabkan kepulan asap besar. Benar saja, ledakan dan kepulan itu memancing perhatian pasukan di desa dan pemimpin pasukan di sana adalah Leo. Beberapa menit kemudian, satu per satu pasukan Yurei divisi 6 dan 10 datang ke tempat Orka berada.


" Hey apa yang terjadi? " tanya salah satu anggota Yurei yang berjalan ke arah Orka dan yang lain.

__ADS_1


Kiran membalik badan ke arah anggota itu. " Tidak ada apa-apa. Hanya serangga kecil yang sedang mengamuk, "


" Kapteeen!? Kemana saja anda! Selama berminggu-minggu kami mencari keberadaan anda! " kejut anggota Yurei tadi yang ternyata anggota divis 6 di mana Kiran lah pemimpinya. Kiran sendiri memang fokus pada misi yang diberikan Thalia beberapa minggu belakangan karena itu dia meninggalkan tugasnya sementara sebagai pemimpin.


" Ahahaha... maaf... maaf... Ada misi penting dari nona Thalia yang harus kujalankan, " jawab Kiran tanpa rasa bersalah.


Siapa sangka di belakang para anggota Yurei tadi, ada Leo yang langsung berjalan mendekati Kiran. " Misi penting? "


" Tu-tuan Leo!? " kejut Kiran.


Leo menoleh ke kanan Kiran dan melihat seorang yang tak asing lagi baginya. " Orka? Apa yang kau lakukan di sini? "


Orka hanya diam. Dia sudah tertangkap basah dan kehabisan akal harus berbuat apa. Sedangkan para pengawalnya sudah tak bisa berkutik karena dikepung pasukan Yurei.


Tak lama, Licia tiba-tiba keluar dari dalam kereta kuda dan itu langsung mengejutkan Leo. " Licia!? "


Licia sendiri juga terkejut. Dia terdiam kaku memandangi Leo di tengah derasnya hujan. " Ba-bagaimana bisa kamu ada di sini? "


" Harusnya aku yang menyakan itu. Mengapa kamu ada di sini? Bukankah ayah melarangmu keluar istana? " tanya Leo yang sesekali melirik Orka.


" A... A... Aku hanya berniat jalan-jalan saja! " sanggah Licia yang tak berani menatap Leo.


Leo menyadari kebohongan Licia. Lantas dia berjalan mendekati Orka dan menatap matanya. " Katakan sedang apa kau di sini? "


" A-aku hanya mengajak pu- "


" Dia merencanakan kabur dengan putri Licia tuanku. " ungkap Kiran yang tiba-tiba menyela perkataan Orka.


" Alasanya? "


" Kenapa tidak tuan tanya langsung pada putri Licia? "


Leo mengalihkan pandangan pada Licia lalu mendekatinya. " Apa maksudnya ini? "


Licia seketika tertunduk dan menjawab lirih, " Bukan urusanmu!  "


" Katakan sekali lagi? "


" Sudah kubilang bukan urusanmu! " bentak Licia secara lantang.


" Jika kamu masih mencintai Orka, Mengapa tidak mengatakanya sejak awal agar perjodohan kita tak terjadi? " tanya Leo yang masih bisa menerima bentakan Licia.


" Ya, harusnya aku memang mengatakanya jika sejak awal aku tahu bahwa kamu menyetujui perjodohan itu hanya karena menginginkan takhta. "


Leo seketika teringat dan mulai memahami alasan Licia selama ini menjauhinya. Jadi karena itu ya? Bodohnya aku tak menyadarinya selama ini. Itulah isi pikiran Leo saat menatap gadis yang membuatnya jatuh cinta.


" Begitu ya? Jawabanku di gua hanyalah jawaban yang sepintas muncul di otak. Aku tak bisa memberi tahu alasan sebenarnya karena itu adalah perjanjian dengan kakekmu. "


Leo menggenggam tangan Licia dan sedikit menariknya. " Sekarang mari pulang ke istana. Sepertinya otakmu sudah dicuci Orka, "


Licia langsung melepas paksa tangan Leo dan membantingnya begitu saja. " Kamulah yang mencuci otakku! Andai saja saat itu kamu tak datang ke danau, hubunganku dan Orka tidak akan pernah menjadi seperti ini! Ini semua karenamu! Kehidupanku semakin hancur setelah bertemu denganmu! "


" Kamu menyalahkanku? "


" Ya! Semua salahmu! Aku tahu kamu saat itu sengajakan menghasut kakekku agar dia menjodohkanku denganmu lalu kamu pergi ke danau untuk bisa dekat denganku! Dengan menyingkirkan Orka dan mendapat hati kakekku kamu punya kesempatan besar menjadi seorang raja! Dasar pria Licik! " Licia tak henti-henti memaki tanpa bukti. Tetapi Leo masih terus menghadapinya dengan sabar.


" Kamu berubah Licia. di mana Licia teman masa kecilku dahulu? "


" Berubah? Memangnya tahu apa kamu tentang diriku!? Kamu pergi begitu saja dan menghilang bertahun-tahun lalu datang lagi seolah tahu tentang diriku sepenuhnya!? "


" Lupakan pertanyaanku tadi. Sekarang mari kembali ke istana! Di sini sangat dingin, " bujuk Leo.


" Tidak mau! "


" Kenapa? "


" Aku ingin hidup dengan Orka! Aku ingin ikut kemana pun Orka pergi! Sejak awal dialah sosok yang aku cintai bukan dirimu! "


" Aku calon suamimu, dan aku berhak menolak tindakanmu. Sekarang ikutlah aku kembali ke istana, "


" Tidak mau! Ingat Leo, semua yang ingin kulakukan tidak ada hubunganya denganmu! Hubungan kita hanya sebatas teman masa kecil tidak lebih! Aku tak peduli lagi dengan perjodohan ini! Aku akan menolaknya walaupun aku harus kehilangan statusku sebagai putri! Demi bisa hidup sesuai keinginanku, aku tak peduli! "


Leo mulai kehabisan kesabaran. Kali ini ucapan Licia benar-benar sudah mencabik-cabik hatinya. Sebuah rasa cinta pada seorang gadis terbalas dengan sebuah tusukan kata-kata yang sangat menyakitkan.


Leo membalikkan badan dari Licia. Di menatap langit sembari menghela napas. Tanpa sengaja saat dia berkedip, setetes air mata jatuh dari matanya. " Hhh... Bodohnya aku mencintai wanita sepertimu. "


Leo pun berjalan meninggalkan Licia dengan penuh rasa kecewa dan putus asa. Dia bertanya-tanya dalam hatinya sendiri mengapa semua ini terjadi? Apa salahnya? Mengapa kisah cintanya seperti ini? Pertanyaan itulah yang terus berputar-putar di otak Leo.


" Kiran, bawa Licia kembali ke istana. Jika tak mau, lakukan segala cara kalau perlu bunuh Orka dan pengikutnya itu. " sambung lirih Leo yang berjalan kembali ke desa.


" Anda dengar tuan putri? " ucap Kiran diiringi pasukan Yurei divisi 6 yang tiba-tiba menodongkan pisau ke leher Orka dan pengawalnya.


" Apa yang akan kamu lakukan? " tanya Licia.


" Jika anda tak mau kembali, aku akan membunuh mereka. Jika anda mau kembali, aku akan membesakan mereka. Pilihan yang mudah bukan? "


" Tak apa Licia. Kembalilah ke Valdia! Kita akan bertemu lagi di akademi saat musim gugur jadi tak perlu khawatir. " sela Orka sedikir ketakutan pada bilah pisau dingin yang menempel di lehernya.

__ADS_1


" Baiklah, aku akan kembali ke istana! " Licia pun berjalan kembali menuju arah kota.


" Memang bodoh sekali anda tuan putri, " gerutu Kiran yang berjalan di belakang Licia.


" Apa maksudmu? "


" Bukan apa-apa, " Kiran berjalan melewati Licia lalu berhenti di depanya. " Selamat anda sudah menghancurkan hati tuan kami. "


Perkataan Kiran sedikit membuat Licia kesal. Bagaimana tidak, Licia masih menganggap dirinya tidak bersalah. Sedangkan Kiran seolah menyalahkan dirinya.


Mereka berdua pun berjalan 2 jam lamanya. Perjalanan menuju kota lebih lama karena Licia tak mau menaiki kuda dan lebih memilih berjalan.


...***...


Sampai di istana, Licia langsung pergi ke kolam air panas lalu kembali ke kamarnya lagi. Dia termenung di ranjang meratapi kegagalan rencana kabur bersama Orka.


" Kamu memang bodoh Licia, " tiba-tiba terdengar suara wanita dari kamar Licia.


Licia pun menengok ke segala arah dan ternyata ada Thalia yang sedang bersandar di sebelah pintu kamar. " Sejak kapan kamu ada di sini? "


" Saat kamu melamun, aku masuk ke sini, " jawab Thalia tersenyum.


Senyuman Thalia membuat Licia curiga dan bertanya-tanya apa urusan rivalnya itu di sini. Dan beberapa detik dia mulai menyadari sesuatu dari senyum Thalia. " Apa semua ini rencanamu? "


" Kamu sadar juga ya? Aku juga tak ingin insiden ini terjadi. Tetapi semalam aku gagal memberi tahu Leo lebih awal, "


" Kenapa kamu ikut campur urusanku? "


" Karena kamu bodoh. "


Licia kesal mendengar ejekan Thalia. Dia beranjak dari ranjang lalu mendekati Thalia. " Bodoh? Bukankah adikmu yang bodoh? "


" Hmh bukankah lebih bodoh asal menyimpulkan jawaban yang belum pasti lalu mencoba menghindar? Licia, kamu terlalu memercayai diri sendiri dan selalu menolak pendapat orang lain itulah yang membuatmu bodoh dan selalu gagal mengejarku, "


" Sebenarnya dari tadi kamu bicara apa? "


" Kamu menjauhi Leo karena tahu dia mendekatimu demi takhta bukan? "


" Kamu sudah tahu ya? "


" Ya, semua berkat Kiran. Jika aku tak menyuruh dia untuk mengawasimu dan Orka, mungkin aku tidak akan tahu tentang ini, "


" Bukankah memang faktanya Leo hanya mengincar tahtaku saja? Thalia, seharusnya sebagai sesama wanita kamu tahu apa yang aku inginkan bukan? "


" Ya! Tentu saja semua wanita menginginkan cinta yang tulus. Tetapi, bukankah Leo juga melakukan hal yang sama? Licia kamu tidak pernah tahu tentang Leo. Dia adalah sosok yang akan jujur jika jalannya salah dan berbohong saat dia merasa jalanya benar. "


" Lalu kamu ingin mengatakan jika alasan Leo mendekatiku demi takhta adalah kebohongan? "


" Entahlah. Itulah bodohnya dirimu, mengapa kamu tidak tanya saja ke kakekmu? Lagi pula jika Leo menginginkan takhta,untuk apa dia repot-repot harus mau dijodohkan denganmu dan mengincar takhta Gerelia? "


" Apa kamu meremehkan keluarga raja? "


" Hey bodoh! Saat Leo berada di Taiyoria, dia sudah mendapat tawaran perjodohan sebanyak 4 kali. Yang dijodohkan dengannya adalah para putri-putri kerajaan benua timur dan salah satunya putri Yun Zhu dari kekaisaran Cronix. Jika Leo menginginkan takhta, sudah sejak lama dia menikahi putri Yun Zhu dan merebut takhta kekaisaran yang kaya raya daripada harus merebut takhta kerajaan miskin seperti Gerelia sekarang, "


" Pu-putri Yun Zhu? Bukankah dia anak pertama kaisar Cronix? "


" Ya! Tetapi sangat mengejutkan Leo menolak tawaran itu. Dia mengatakan jika impianya adalah hidup bebas dan damai di Valdia. Dan semua yang dikatakan Leo kepadamu dan kepadaku tentang alasan susah payah membangun Valdia juga kebohongan. Dia beralasan hanya untuk membantu ayahnya bukan? Sebenarnya dia membangun Valdia disegala bidang untuk diriku. Dia ingin aku bisa bersantai saat menjadi pemimpin nanti karena seluruh permasalahan Valdia sudah selesai dan setelah itu dia bisa hidup bebas tanpa harus mencemaskanku lagi, "


" Lalu apa hubunganya dengan yang terjadi hari ini? "


" Hey Licia, kamu adalah satu-satunya wanita yang telah membuat Leo jatuh cinta. Apa kamu tahu, setiap malam dialah yang menjaga kamarmu dan sebanyak empat belas pembunuh bayaran yang mengincarmu berhasil dia tangkap. "


" Bukankah kamu yang menjagaku? "


" Ya, seharusnya aku karena itu perintah raja. Tapi, Leo menggantikanku. Dia berharap bisa berbicara denganmu saat berjaga dan harapan itu tak pernah terjadi. Setiap malam dia menunggu di luar jendela kamarmu dan menyelamatkan nyawamu berkali-kali tetapi sekarang justru kamu melukainya. "


Perkataan Thalia mengejutkan Licia. Bagaimana mungkin Leo yang sesibuk itu rela menjaganya sampai pagi hari? Apa benar dia cinta? Ya, faktanya yang dilakukan Leo adalah murni dorongan hatinya yang ingin lebih dekat dengan Licia.


Licia terdiam beberapa saat. Dia mulai berpikir 2 kali tentang perlakuanya tadi dan mulai bisa berpikir lebih tenang tentang alasan Leo saat di gua. Gadis itu sedikit menyesal dan menyalahkan diri sendiri. Bagaimana tidak? Dia menjauhi Leo begitu saja tanpa alasan yang jelas dan padahal dia bisa bertanya langsung ke sang kakek tentang kebenaran ucapan Leo itu tetapi justru selama ini ide itu tak pernah terpikirkan.


" Kamu tidak tahu apa-apa tentang Leo dan dengan mudah menelan mentah-mentah jawabannya tanpa mencoba mencaritahu dulu. Sekarang kuharap kamu paham. "


Licia merepalkan tangan. Dia tersadar apa yang dia katakan pada Leo terlalu kejam. " Aku menyesalinya. Memang tak sepantasnya aku berkata sejahat itu di depanya, "


" Lalu sekarang bagaimana? Apakah kamu masih ingin dengan Orka atau mencoba bersama Leo lagi? "


Licia menatap dalam-dalam mata Thalia dan menggelengkan kepala. " Maafkan aku Thalia. Aku tak bisa memasukan dua nama dalam hatiku. Aku memilih Orka karena dialah yang lebih paham tentang keinginanku. "


Thalia memejamkan mata sejenak lalu tersenyum. " Baiklah jika itu keputusanmu kuharap tidak ada penyesalan di akhir. Tetapi, setidaknya minta maaflah pada Leo dan katakan perasaanmu sebenarnya, "


" Ya, akan kulakukan itu. Terima kasih Thalia, jika kamu tak datang ke sini mungkin pikiranku tak akan terbuka, "


" Lain kali carilah kebenaran dahulu sebelum kamu menyimpulkan sesuatu. Sifat kita sama, dan yang terjadi kepadamu sekarang juga pernah terjadi kepadaku. Karena itu, aku tak ingin kesalahanku juga menular kepadamu. Aku pergi dulu. Nanti malam datanglah ke aula dan tunggu dia pulang, " Thalia membuka pintu kamar Licia lalu pergi.


" Ya. Akan kulakukan. " balas Licia dengan tersenyum puas. Hatinya seketika lega setelah mendengar nasihat sang rival. Hanya saja dia masih belum mengerti tentang Leo. Dia juga merasa bersalah telah asal menyimpulkan dan akan bertanya pada sang kakek setelah kembali ke ibukota. Yang terpenting bagi Licia sekarang adalah meminta maaf pada Leo.


Tetapi, waktu untuk meminta maaf itu tak kunjung datang karena Leo sudah 2 minggu tidak kembali ke istana. Hari demi hari Thalia mengirim utusan untuk menyuruh Leo pulang tetapi Leo menolak. Pemuda itu memilih tinggal di desa demi menghilangkan rasa kecewa dan sakit hati yang terus menerornya sampai sekarang.

__ADS_1


Semua perkataan tajam Licia terus menghantuinya tanpa henti dan membuat sosok Leo berubah menjadi tempramental. Dia sering memarahi Indra dan yang lain karena tugas mereka yang tak kunjung selesai.


^^^To be continue.^^^


__ADS_2