
Saat asik berjalan-jalan mengeliling kota di tengah malam, Leo dan Kiran dikejutkan oleh seseorang membuang karung besar dari dalam kedai di gang kecil yang sepi.
" Hey apa yang kau lakukan! Tuanku nyaris terkena karungmu! " bentak Kiran pada orang yang membuang karung.
Orang yang membuang karung tiba-tiba panik dan langsung menarik karung itu lalu kabur. Leo yang mencurigai gerak-gerik orang itu memerintahkan Kiran untuk mengejarnya. Kiran pun menggunakan sihir untuk mempercepat langkah dan dia berhasil menendang kedua kaki si pembuang karung.
" To-tolong ampuni saya! Saya hanya diperintahkan membuang karung ini tetapi tidak tahu apa isinya! " si pembuang karung terlihat sangat panik. Dia bersujud di hadapan Leo berkali-kali.
Leo makin curiga. Dia menendang pelan karung itu dan karung itu bergerak saat Leo menendangnya.
" Kiran jangan biarkan orang itu lepas! " Leo menyandarkan karung tersebut ke tembok salah satu rumah penduduk kemudian membukanya. Dan ternyata di dalam karung berisi seorang gadis yang telanjang dengan wajah pucat dan terdapat beberapa luka memar di beberapa bagian tubuh ditambah baunya sangat amis sekali. Leo yang tak tahan mencium baunya langsung muntah.
" Tuan tidak apa-apa? " cemas Kiran sembari mengikat si pembuang karung.
" Biadab! Tega sekali kau memasukkan gadis yang sakit ke dalam karung! " desis Leo dengan mata terbelalak menatap si pembuang karung.
" Maafkan saya tuan! Saya hanya diminta untuk membuangnya! Saya benar-benar tida tahu apa isi di dalam karung itu! "
" Dari mana kau mendapat gadis itu? "
...Jraak...!...
Belum sempat menjawab, tiba-tiba sebuah anak panah yang entah datang dari mana menembus kepala si pembuang karung.
Kiran langsung mencari keberadaan pelaku dengan sihir pendeteksinya dan dia menemukan ada seorang prajurit kerajaan terlihat mencurigakan karena berlari sambil membawa busur panah
" Sepertinya aku menemukan pelakunya tuan. Apa perlu ku kejar? "
" Tidak perlu! Lebih baik kita tolong wanita ini dulu! "
Kiran melepaskan si pembuang karung yang sudah mati kemudian mendekati gadis tadi. Bau amis yang menyengat tak jadi masalah bagi Kiran karena dia sendiri sebenarnya seorang tabib dan pernah sekolah di akademi kedokteran Taiyoria selama 2 musim sebelum akhirnya pasukan Yurei hijrah ke Valdia. Dia juga satu-satunya anggota Yurei yang ahli dalam sihir penyembuhan.
" Tuan tolong baringkan gadis ini biar kuperiksa penyakitnya, "
Leo membaringkan gadis itu sambil menahan bau amis. Setelah selesai membaringkan, Leo langsung menjauh karena sudah tak bisa menahan muntah.
Kiran mengulurkan kedua tangan di atas si gadis. Dari telapak tanganya keluar lingkaran sihir hijau yang memancarkan cahaya hijau ke seluruh tubuh gadis itu.
" Bagaimana kondisinya? " tanya Leo yang menutup hidung dengan lengan.
Kiran menggelengkan kepala seraya menghela napas. " Sangat parah tuan. Dia terkena penyakit kelamin sampai membuat rahim dan alat vitalnya membusuk. Sepertinya dia sudah diperkosa berkali-kali oleh banyak orang, "
Leo melirik si gadis. Dia melihat bibir gadis itu bergerak seakan ingin menyampaikan sesuatu. Leo pun mendekatkan telinganya.
" Bu-nuh A-ku... " rintih lemah si gadis yang sudah tidak memiliki tenaga lagi.
Leo melirik Kiran, " Apa tidak ada cara untuk menyembuhkanya? "
" Aku mungkin bisa menyembuhkan luka luarnya tetapi untuk luka dalam sangat mustahil karena sudah membusuk, " jelas Kiran sambil mengeluarkan pisaunya.
" Hentikan Kiran! Apa yang ingin kau lakukan? "
" Bukan hanya satu penyakit, tapi dia mengidap tiga penyakit kelamin tuan dan salah satunya menular. Jika tidak segera dibunuh dan dimakamkan, aku takut penyakitnya bisa menular ke penduduk lain, " Kiran mulai mendekatkan pisaunya ke leher si gadis.
Leo tiba-tiba membuang pisau Kiran, " Aku akan menyembuhkanya! "
" Ha? Apa tuan ingin menggunakan cara itu? " kejut Kiran seakan mengetahui rencana Leo.
Leo menganggukkan kepala kemudian menyandarkan lagi gadis itu ke tembok.
" Tunggu tuan! Anda belum pernah mencobanya! Dan apa yang tertulis di buku kuno itu belum tentu benar! " tegas Kiran mencoba mencegah Leo.
" Karena itu aku harus mencobanya Kiran. Jika kekuatan yang kumiliki ada keterkaitanya dengan ras Vampir yang darahnya bisa menyembuhkan semua penyakit, seharusnya ini bisa menyembuhkannya bukan? "
" Ini terlalu beresiko tuan! Jika apa yang tercatat di buku itu salah, tuan bisa tertular penyakit gadis ini! "
Leo mengambil pisau Kiran tadi kemudian menyayat jari kelingkingnya tanpa menggubris ucapan Kiran.
" Nona hisaplah darah di jariku ini. " Leo memasukkan jari kelingkingnya ke mulut gadis itu.
Sementara gadis itu yang tidak tahu apa rencana pemuda yang menolongnya menurut saja. Dia menyedot darah dari jari Leo. Sedangkan Kiran bersiap menggunakan sihir penyembuhan untuk berjaga-jaga jika Leo tiba-tiba tertular penyakit.
Setelah 1 menit si gadis menyedot darah, perlahan wajahnya kembali segar dan luka-luka di badannya juga menghilang. Selain itu, bau amis yang sangat menyengat tadi juga langsung lenyap.
" I-ini!? Semua penyakitnya hilang? Bahkan rahimnya kembali normal? " kejut Kiran saat mengecek tubuh si gadis.
__ADS_1
Leo menarik jari kelingkingnya lalu membekukan dengan sihir es agar darahnya berhenti keluar.
" Tubuhku? " tanya gadis itu sambil meraba-raba tubuhnya yang sudah tidak ada luka.
" Berhasil sepertinya. " sahut Leo yang ikut senang.
" Ba-bagaimana kamu bisa melakukanya? Sampai rasa sakit di perutku hilang, "
" Itu adalah sihir khusus nona. Dan kuharap nona merahasiakannya sebagai imbalan kepada tuanku yang sudah menyembuhkan nona, " ujar Kiran. Dia tidak ingin gadis itu bertanya lebih karena kekuatan Leo saat ini memang harus dirahasiakan.
" Ba-baiklah maaf sudah mempertanyakanya, "
Leo melepas bajunya kemudian diberikan pada gadis itu. " Pakailah nona. Hanya in yang bisa kuberikan untuk menutupi tubuhmu. Maaf jika ada bau alkoholnya, "
" Terima kasih ini sudah lebih dari cukup dan baunya juga lebih baik daripada bau amis tubuhku, "
" Bisa nona jelaskan apa yang sebenarnya nona alami? " tanya Kiran.
Si gadis melirik kedua pemuda tersebut dan menyadari mereka adalah siswa akademi setelah melihat lencana perunggu di tangan Leo dan di dada Kiran. " Kalian siswa akademi juga ya? "
" Ya. Kami baru seminggu di akademi, " jawab Leo.
" Aku sebenarnya juga siswa akademi sama seperti kalian. Hanya saja aku sangat bodoh sampai musibah ini menimpaku, "
" Nona siswa juga? Kalau boleh tahu siapa nama nona? " kejut Kiran yang tidak menyangka gadis itu ternyata siswa akademi juga.
" Namaku Clara. Aku siswi akademi alkemis yang fokus pada kedokteran tahun ketiga, "
" Bagaimana bisa nona menjadi seperti tadi? Bukankah siswa akademi dijamin keamanananya oleh kerajaan? " tanya Leo makin penasaran.
Clara menganggukkan kepala kemudian menatap lampion di rumah sebrang. " Akademi itu sangat mengerikan bagi kami kaum wanita yang menerima beasiswa. Dahulu aku membuat kelompok dengan semua kaum wanita penerima beasiswa di akademi. Kelompok kami sangat terkenal dan walaupun kami dari akademi alkemis, kami semua punya kemampuan untuk bertarung walaupun akhirnya kalah melawan nona Thalia, "
" Lalu apa hubunganya dengan yang nona alami? "
" Seiring berjalanya waktu, banyak yang tidak senang dengan kelompok kami. Mereka semua menggunakan segala cara untuk menjatuhkan kami bahkan menyuap para pedagang di akademi agar barang-barangnya disembunyikan saat kami ingin membeli. Karena hal itu, kami yang masih menggunakan lencana perunggu lama kelamaan mulai mengalami masalah finansial. Kami sudah tidak bisa membeli apa-apa di kantin karena kepala kantin sudah di suap agar tidak menyisakan makanan untuk kami sedangkan kamar kami di asrama selalu di acak-acak oleh para kelompok siswa bangsawan, "
" Bukankah nona bisa melaporkanya? "
" Sayangnya para guru pun tidak luput dari uang suap itu. Kami semua mencari cara agar bisa keluar dari situasi itu dan salah seorang guru memberikan kami satu cara. yaitu dengan mendapatkan lencana emas. Karena itu kami berjuang di turnamen demi mendapatkan lencana itu dan akhirnya kami justru kalah oleh adik kelas kami. Saat itu kami sudah putus asa sampai ada seorang guru lain yang menawarkan lencana emas kepada kami dengan satu syarat, "
" Syaratnya harus memberikan tubuh kami. Jelas banyak yang menolak. Tetapi sebagai ketua aku tidak bisa membiarkan anggotaku terus dalam masa sulit. Aku pun memutuskan untuk mau melakukanya. Saat itu aku langsung disuruh melayani 12 teman guru itu. Sebuah perlakuan hina yang tak akan bisa kulupakan tetapi demi anggotaku, aku harus melakukanya dan aku pun mendapat lencana itu. Walaupun hanya satu lencana setidaknya aku diberi kamar yang luas dan cukup menampung semua anggotaku yang beranggotakan 23 orang, "
" Kami mulai keluar dari masa kegelapan itu. Setelah beberapa bulan kami menikmati kehidupan akademi yang baru, guru itu datang lagi dan menawarkan 3 lencana emas kepadaku jika aku mau memberikan tubuhku lagi. Aku yang sudah dikuasai rasa tamak akhirnya menerima tawaran itu. Tapi, dewa sepertinya menghukumku langsung karena tawaran guru itu hanya omong kosong belaka. Saat itu aku dibawa di rumahnya dan dipenjara. Aku diperjual belikan kepada para bangsawan dan saudagar. Hampir setiap jam aku terus melayani para laki-laki bejat itu sampai berbulan-bulan dan aku terkena beberapa penyakit, "
" Saat mengetahui aku terkena penyakit, guru itu membuangku ke markas para pencuri. di sana, setiap hari aku di roda paksa oleh puluhan orang sampai akhirnya sakitku makin parah dan aku pun dibuang. Aku sudah menyerah untuk hidupku dan terus berdoa pada dewa untuk segera mencabut nyawaku tetapi dewa berkata lain. Dia mengirimkan kalian berdua untuk menyelamatkanku. "
" Siapa nama guru yang nona maksud? " tanya Kiran.
Clara menggelengkan kepala, " Maaf aku tidak ingat namanya. Hanya saja dia berbadan kurus dan tinggi. Dia juga memiliki jenggot panjang. "
Leo dan Kiran tidak bisa berkata apa-apa setelah mendengar cerita Clara. Mereka benar-benar tak habis pikir jika akademi paling terkenal punya sisi busuk semacam itu.
" Apa semua siswi penerima beasiswa mengalami kejadian sepertimu? " tanya Leo.
" Rata-rata mereka menjual diri ke siswa bangsawan agar bisa bertahan hidup. Dan saat itu hanya aku saja yang menjual diri pada guru. "
" Kiran berhubung besok libur, aku ingin kau membawa Clara ke penginapan. Jaga dan pulihkan kesehatanya. Aku akan memerintahkan anggota yang lain untuk menyelidiki kasus ini, "
" Baik tuan! "
" Apa uangmu cukup untuk menginap? "
" Tenang saja tuan ini lebih dari cukup. Lebih baik tuan segera kembali ke nona Thalia, "
" Kuserahkan kepadamu Kiran. Sampai jumpa lagi. " Leo menggunakan sihir terbang dari elemen angin lalu pergi ke tempat Thalia.
" Thalia? Apa hubunganya tuan rambut pirang itu dengan nona Thalia? " tanya Clara pada Kiran.
" Dia adiknya, "
" Begitukah. Pantas saja saat aku menghisap darahnya, aku merasakan energi sihir seperti milik nona Thalia, "
" Baiklah nona. Pegangan erat aku akan membawamu ke penginapan. " ucap Kiran kemudian membopong Clara.
" Eh tuan!? A-aku bisa berjalan sendiri, "
__ADS_1
" Mana mungkin kubiarkan seorang wanita berjalan sendiri dengan setengah telanjang, "
Clara langsung tersipu malu dan mencoba menutupi bagian bawahnya dengan baju pemberian Leo.
" Tu-tuan a-apa aku akan baik-baik saja setelah ini? "
Kiran menatap Clara sambil berjalan menuju penginapan terdekat. " Nona bisa kembali ke akademi lagi. Jika ada yang berani merundung atau mencoba memperoksamu, kamu bisa langsung berlari mencariku di kelas B akademi kesatria tahun pertama, "
" Apa tuan juga seorang bangsawan? "
" Aku? Bangsawan? Hahahaha... Tidak nona. Aku juga seorang penerima beasiswa, "
" Aku dulu adalah seorang yatim piatu yang dipungut tuanku tadi. Dia merawatku dan menjadikanku seorang pejuang hebat kemudian atas kedermawananya, dia mengizinkanku masuk ke akademi ini, " sambung Kiran.
" Aku sangat bersyukur bisa bertemu denganmu tuan, " Clara yang masih dibopong tiba-tiba memeluk erat Kiran.
Kiran pun sedikit terkejut dan tersipu malu. Sepertinya mulai muncul rasa suka Kiran pada gadis itu.
...***...
Di asrama, Thalia masih tertidur pulas. Dia memang sangat kelelahan karena menghadiri rapat dengan para dewan kerajaan lalu bertarung dengan Licia. Di akademi ini, Thalialah seorang siswa yang paling sibuk. Dia juga satu-satunya siswa yang bisa keluar masuk kota setiap hari. Ini semua tidak terlepas dari tugasnya sebagai perwakilan kemarquisan Valdia.
Saat sedang pulas tertidur, Leo yang sudah tiba di kamar menyelinap ke ranjang kemudian menggigit leher Thalia. Leo tidak ingin membangunkan sang kakak dan berusaha sehening mungkin saat menghisap.
" Hhh... Kalau mau menghisap bangunkan aku dulu dan mana makananya? " ujar Thalia. Sebenarnya dia sudah bangun dan memang sengaja membiarkan adiknya menggigit leher.
Leo tidak menjawab dan fokus menghisap sampai dia dapat menekan kekuatannya lagi.
" Maaf kak aku hanya tidak ingin mengganggu tidur nyenyak kakak dan untuk makananya aku lupa, " ucap Leo sembari mencabut giginya dari leher Thalia.
" Kamu habis bertarung? "
" Tidak. Aku baru saja menolong seseorang sekaligus mencoba kekuatanku. Sepertinya kita ini memang keturunan ras vampir kak, "
" Jangan mengada-ngada. Tidak ada ras vampir di dunia kita, "
" Aku tadi mencoba menyembuhkan seorang wanita yang terkena penyakit serius dengan darahku. Hasilnya dia langsung sembuh, "
Thalia tidak terkejut. Sebenarnya sejak diberitahu oleh Indra, dia sudah percaya bahwa ada hubungannya keluarga Valdius dengan ras vampir dan memang ada catatan buku kuno di perpustakaan Angelusia mengenai darah ras vampir yang bisa menyembuhkan semua penyakit kecuali racun api. Tetapi Thalia membiarkan itu menjadi sebuah rahasia walaupun adiknya sendiri sebenarnya sudah tahu.
" Memangnya siapa wanita yang kamu tolong? " tanya Thalia mengalihkan pembicaraan.
" Kalau tidak salah dia bernama Clara dan seorang siswi akademi alkemis tahun ketiga, "
Thalia sontak bangkit dari ranjang. " Kamu tidak bercanda kan? Gadis itu sudah menghilang setahun lalu dan dinyatakan meninggal dunia, "
" Aku serius kak! Apa harus kuceritakan? "
" Sebelum menceritakan bersihkan gigi dan mulutmu dulu. Bau alkoholnya sangat menyengat sekali! " ujar Thalia seraya menutup hidung sengan selimut.
Leo segera ke kamar mandi untuk menggosok gigi sekaligus memakai baju karena saat pulang tadi Leo bertelanjang dada dan berkat sihir pelebur jiwa dia berhasil kembali ke kamar tanpa ketahuan siswa lainya.
Setelah selesai membersihkan mulut, Leo kembali ke ranjang dan menceritakan semuanya. Thalia tidak terkejut dan memang sejak lama dia merasa janggal dengan kabar kematian Clara. Bagaimana tidak, dari seluruh siswa akademi, yang hampir bisa mengimbangi kekuatan Thalia hanya 2 orang yaitu Licia dan Clara.
Clara mempunyai kemampuan bertarung jarak dekat segesit Thalia ditambah dia juga menggunakan sihir elemen angin tingkat raja. Bagaimana mungkin gadis sekuat itu meninggal begitu saja tanpa alasan yang jelas dari pihak akademi.
Leo langsung tidur setelah menceritakan semuanya pada Thalia. Dia kehabisan energi sihir hanya untuk menahan kekuatan lain di tubuhnya.
...***...
Keesokan hari, Thalia dibawa Leo ke penginapan Kiran dan Clara. di sana mereka berdua bereuni dan Clara menceritakan ulang kejadian yang dia alami lebih detail daripada yang dia ceritakan pada Leo dan Kiran. Dan terkuaklah alasan Clara tidak bisa melarikan diri karena guru yang menjualnya adalah seorang pengguna sihir elemen air tingkat kaisar ditambah guru itu memasangkan borgol penekan energi sihir yang membuat Clara tidak bisa mengeluarkan sihir untuk melarikan diri. Selain itu, Thalia justru tidak tahu menahu tentang guru yang dimaksud bahkan Thalia bertanya-tanya apakah benar ada guru yang disebut oleh Clara.
Leo sendiri memerintahkan semua anggota divisi 6 selain Kiran untuk menyelidiki dan mencari semua pelaku yang sudah melakukan hal keji pada Clara terutama menguak siapa guru yang berani menjual siswanya sendiri. Dan Kiran diberi tugas khusus untuk menjaga Clara saat di akademi nanti. Leo juga meminta agar kakaknya tidak ikut campur karena takut bisa ikut mencemarkan nama sang kakak.
Ketika surat perintah dari Leo diterima para anggota Yurei. Mereka semua langsung bergerak dan berpencar ke seluruh penjuru kota dan akademi untuk mencari informasi.Sedangkan Clara langsung dibawa ke akademi.
...***...
Satu akademi dibuat heboh saat mendengar Clara kembali ke akademi. Mereka semua berhamburan keluar dari asrama hanya untuk melihat Clara yang dikatakan sudah mati kembali ke akademi.
Clara sendiri didampingi oleh Thalia saat memasuki wilayah akademi. Para guru pun menyambut kembalinya Clara. Selain itu para anggota kelompok milik Clara juga langsung berlari dan memeluk ketua mereka.
Mereka menangis haru di dalam pelukan Clara dan masih tidak percaya jika ketua yang rela mengorbankan apa saja demi anggotanya masih hidup setelah satu tahun dikabarkan meninggal.
Di tengah kebahagiaan itu Clara mendapat tugas dari Leo untuk menunjukkan sosok guru yang telah menjualnya. Tetapi sangat disayangkan sosok guru yang Clara maksud tidak ada di rombongan para guru yang menyambutnya.
__ADS_1
^^^To be continue.^^^