Kehidupan Menantu Hebat

Kehidupan Menantu Hebat
100. Terbongkar Dengan Sendirinya


__ADS_3


Sambil menunggu muridnya datang untuk mengambil kelapa muda. Ki Belung menggunakan sugestinya untuk menyakinkan keluarga sasongko.


Tentunya dia memasukkan beberapa unsur dalam perkataannya. Menyakinkan pasien dengan metodenya sehingga pasien merasa telah disembuhkan dan semuanya terselesaikan.


Tidak lama setelah itu, Muridnya datang dengan kelapa muda yang masih memiliki daun penutup bagian atas. Dia meletakkannya di depan Ki Belung kemudian berjalan pergi meninggalkan ruangan.


Ketika kelapa muda itu berada dalam jangkauannya, Ki Belung langsung mengambil kain putih dan langsung menutupi bagian atasnya.


"Tuan Sasongko! Silakan lebih mendekat lagi!..." Kata Ki Belung dengan tersenyum.


Pak tua sasongko mengangguk dan duduk lebih dekat di banding dengan sebelumnya. Dia tidak lupa mengikuti semua arahan dari Ki Belung guna memindahkan penyakit yang di deritanya kedalam kelapa muda.


Sekali lagi Ki Belung melakukan bacaan ritual tertentu. Tidak lupa memainkan keahliannya seperti menggunakan energi tertentu untuk mendramatisir tindakannya.


"Bruuuzzz!..."


Tidak lupa menyemburkan air yang tercampur dengan bunga tujuh warna dan menambahkan beberapa tindakan lagi sebelum akhirnya menyelesaikan ritual yang dia lakukan.


"Selesai!..." Kata Ki Belung dengan melepaskan kain putih yang digunakan sebagai penutup kelapa muda itu.


Fatir sekali lagi tidak merasakan energi apapun yang Ki Belung gunakan. Dia sudah melihat segala tindakannya dari awal sampai akhir dan mengambil kesimpulan setelahnya jika semuanya tidak menggunakan hal mistis apapun selain sebuah trik semata.


"Tolong ambilkan pisau yang agak besar dan tempat untuk air kelapanya..." Kata Ki Belung kepala semua orang.


Segera Anjas mengangkat tangannya sambil berkata, "Biarkan aku yang akan mengambilnya..."


Kemudian dia kembali dengan pisau besar dan sebuah baskom di tangannya, lalu menyerahkannya kepada Ki Belung.


Ki Belung mengangguk kemudian di bawah tatapan semua orang, dia mencoba untuk memecah kelapa muda itu dengan pisau besar di tangannya.


"Plookkk!... Plookkk!... Plookkk!..."


Dengan beberapa kali pukulan, air kelapa tumpah kemana - mana, dia segera menuangkan isinya ke dalam baskom dan hasilnya mengejutkan semua yang melihatnya.


"Ini..." Pak tua sasongko tidak bisa berkata - kata dengan apa yang di lihatnya. Yang lainnya tidak jauh berbeda, selain Fatir yang diam dengan tenang.


"Bagaimana bisa, kelapa muda yang baru saja di petik memiliki sesuatu yang tidak biasa di dalamnya..." Kata Seno dengan tatapan terkejut dan tidak percaya.


Di dalam kelapa itu berisikan tanah kuburan, ada paku, tali pocong dan lain sebagainya. Sayang sekali tidak ada palu, semen dan pasirnya sekalian. Agar bisa digunakan untuk merenovasi rumah keluarga sasongko.

__ADS_1


"Ki Belung, bagaimana bisa hal - hal yang tidak lazim ini berada di kelapa muda?..." Tanya Seno dengan rasa ingin tahu.


Ki Belung menyeringai dengan puas, dia sangat yakin jika kali ini dapat menyakinkan keluarga sasongko dan yang lainnya. Dia kemudian menjelaskan, "Dengarkan baik - baik, Semua ini awalnya berada di dalam tubuh Tuan Sasongko, dan karena aku sudah memindahkannya dengan ilmu yang aku miliki, maka kalian dapat melihat isinya dengan lebih jelas..."


Semua orang mengangguk, Kali ini mereka benar - benar yakin jika semuanya telah selesai dan pak tua sasongko telah disembuhkan.


"Ki Belung, anda benar - benar luar biasa dan sangat sakti..." Kata Anjas dengan sangat senang.


"Tentu saja..." Ki Belung mengangguk berulang kali. Dia tertawa di alam hatinya, tentunya tidak ada yang tahu jika dia melakukan sebuah pembodohan.


"Ayah, kamu seharusnya sudah baikan dari sebelumnya!..." Tanya Seno kepada Pak tua sasongko.


"Benar, Kakek apakah kondisimu sudah baik!..." Silfi bertanya setelahnya.


Semua orang tentunya berharap agar Ki Belung benar - benar menyembuhkan kondisi pak tua sasongko dari sakitnya.


"Tuan Sasongko, bagaimana kondisimu sekarang?..." Tanya Ki Belung dengan kekhawatiran di hatinya, tentunya dia tidak ingin mendengarkan jawaban yang sama seperti sebelumnya.


Pak tua sasongko mulai melihat kondisi tumbuhnya sendiri, kemudian bertanya dengan bingung karena masih merasakan hal yang sama, "Sama saja, aku tidak merasakan perubahan apapun di tubuhku! ini tidak jauh berbeda dengan yang terakhir kali..."


"....." Semua orang terdiam di tempat tanpa mengeluarkan suara apapun. Tepat pada saat itu juga, Pak tua sasongko berteriak kesakitan.


"Ahh!..."


"Ayah!..." Seno mendekatinya dengan panik.


"Kakek!..." Begitu juga dengan Silfi yang tidak ingin kakeknya kesakitan.


"Aaahhh!... Sakit sekali!..." Kata Pak tua sasongko sambil berteriak, dia akan merasakan kesakitan di kepalanya tanpa sebab pada saat - saat tertentu. Dan secara kebetulan saat ini dia merasakan rasa sakit itu lagi.


"Ki Belung, lakukan sesuatu. Jika sampai ayahku kenapa - napa, kamu akan menyesal karena pernah dilahirkan..." Seno berteriak dengan kesal, dia tidak segan memberikan ancam nyata.


Dukun sakti apanya, semuanya sudah di lakukan. Namun kondisi pak tua sasongko tetap sama tanpa mendapatkan kesembuhan apapun.


"Tuan Seno, aku... Aku tidak tahu!..." Kata Ki Belung dengan panik. Sepertinya dia salah memilih pasien sehingga harus ketakutan setengah mati.


"Lakukan sesuatu kepada kakekku!... Katanya sakti tapi tidak dapat menyembuhkan!..." Silf berteriak dengan lantang, matanya memerah karena sedih dan marah pada saat yang sama.


Tentunya Ki Belung tidak mampu memberikan solusi apapun. Semuanya hanyalah tipuan dan dia ketakutan setengah mati ketika di mintai pertanggung jawaban.


"Tuan sasongko harus di bawah kerumah sakit..." Kata Ki Belung dengan panik, dia tidak ada cara lain selain menyarankan untuk membawa pak tua sasongko ke rumah sakit terdekat.

__ADS_1


Mendengar Dukun sakti menyarankan untuk membawanya ke rumah sakit membuat Seno semakin marah. Dia akhirnya menyadari jika selama ini telah tertipu oleh Ki Belung.


"Kamu bilang jika ayahku terkena santet dan mengatakan semuanya akan baik - baik. saja selama kita melakukan pembersihan rumah. Tapi apa hasilnya?..." Seno memancarkan niat membunuh yang tebal sehingga membuat Ki Belung ketakutan.


"Tuan Sasongko benar - benar terkena santet. Namun terlalu kuat sehingga ilmuku tidak cukup untuk menghadapinya..." Tentunya Ki Belung tidak ingin mengakuinya begitu saja, sehingga dia menambahkan kebohongan lainnya.


"Sialan, kamu hanya membuat alasan saja!..." Seno dengan perlahan berdiri, dia menggunakan sebuah pelukan berat untuk melumpuhkan Ki Belung.


"Baammmm!..."


"Aaaahhh!..."


Tidak berhenti di sana, Seno yang sangat marah juga menghancurkan properti perdukunan yang di miliki Ki Belung.


"Guru!..." Teriak seseorang yang berpakaian serba hitam dari arah pintu.


Tentunya kegaduhan di dalam membuat mereka penasaran, dan ketika mengintip kedalam, mereka menemukan guru besar mereka tersungkur kesakitan.


"Tuan Seno, karena kamu memukul guru kami, maka kami akan melawanmu!..." Teriak salah satu diantara mereka berlima.


"Hmph! Datanglah!..." Seno mendengus dingin. Tentunya dengan keahlian bela diri yang dimilikinya Dia dapat dengan mudah melumpuhkan kelima orang di depannya.


"Ahhh!..."


"Gyaaahhh!...".


"Bammm!..."


Lima pria berpakaian serba hitam langsung di lumpuhkan secara satu persatu dan mereka tidak lepas dari rasa sakit di tubuh mereka.


"Paman Seno, aku tidak mengetahui apapun. Tolong percayalah..." Anjas memohon dengan ketakutan.


Seno menatap pria mudah di depannya dengan sangat marah. Dia merasa jika Anjas berhasil membodohi dirinya yang tentunya lebih tua darinya.


"Hmph!... Kamu sama aja!... Jika bukan karena kamu mengusulkan untuk untuk mengudang Ki Belung, aku tidak akan pernah percaya Dukun..." Kata Seno dengan langsung mengambil posisi memukul dan membuat Anjas langsung merasakan rasa saki yang luar biasa. Sehingga membuatnya berakhir dengan kesialan.


"Aaaahhhh!..."


Fatir yang melihat semua yang terjadi di depannya, hanya bisa terdiam sambil menggeleng. Penipu yang berkedok Dukun ini akhirnya terselesaikan, bahkan tanpa dirinya bertindak secara pribadi.


"Huu... Ternyata benar, kebenaran akan terungkap dengan sendirinya!..." Kata Fatir dengan suara rendah. Awalnya dia ingin mengungkapkan semua kebusukan Ki Belung, sayangnya tanpa dirinya membongkar segala trik yang Ki Belung lakukan, semuanya sudah berakhir.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2