
Di balik pintu rumah utama kediaman keluarga sasongko. Seorang pria memiliki rambut dan berjanggut panjang sedang duduk bersila. Sedangkan bibirnya bergetar naik dan turun ketika membaca sesuatu.
Lelaki tua itu sedang membaca sebuah mantra, dengan keris di tangannya, Dia menggunakan udeng Jawa sedangkan pakaiannya serba hitam.
Aroma bunga tujuh rupa yang menyengat memenuhi tempat tersebut. Tidak hanya sesajen, ada bau menyan yang baru saja terbakar, ada telur ayam kampung yang terdapat tulisan di permukaan telur, ada juga ayam hitam mulus yang baru saja di sembelih.
Ini adalah salah satu salah satu tindakan seorang dukun yang melakukan praktisi spiritual yang berhubungan dengan hal - hal gaib.
Lelaki tua itu dengan perlahan membuka matanya, dapat terlihat pada kantung matanya berwarna hitam yang mungkin terlalu banyak bergadang. Kemudian dia melihat sekelilingnya dengan tenang.
Di depannya, terdapat tiga pria yang menunggu dengan sabar. Yang pertama Seno sasongko, yang kedua Pak tua sasongko dan yang ketiga, seorang pemuda yaitu Anjas yang membawa Ki Belung untuk melihat kondisi pak tua sasongko yang sakit - sakitan.
"Ki Belung! Bagaimana dengan kondisi ayahku?..." Tanya Seno dengan rasa ingin tahu. Dia tidak memiliki pilihan lain salain menerima saran dari Anjas untuk mengundang Ki Belung.
"Mmm! Kondisi tuan sasongko sangat jelas di santet!..." Kata Ki Belung dengan menggeleng. Kemudian menambahkan, "Satu satunya cara adalah pembersihan rumah, di mana santet tersebut berada di rumah ini dan harus di hilangkan..."
Seno mau tidak mau harus mempercayainya. Dia sudah membawa ayahnya kesemua dokter terkenal hingga ke luar negeri juga, tetapi tidak mendapatkan kesembuhan apapun. Bahkan teknologi medis tidak dapat melihat jenis penyakit tersebut.
Jadi, ketika dia mendengar pengakuan dari Ki Belung, dia hanya bisa mempercayainya dan pembersihan rumah adalah solusi terakhirnya. Dia tidak peduli dengan uang selama ayahnya dapat sembuh dari kondisinya yang sakit - sakitan.
"Paman Seno, Ki Belung ada dukun sakti yang dapat menyembuhkan segala jenis penyakit. Pastinya beliau dapat menyembuhkan kondisi Tuan Sasongko, jadi harap tenang..." Anjas angkat bicara sambil tersenyum dengan penuh semangat.
Dia tentunya mengejar Silfi dan jika dukun yang dibawanya berhasil menyembuhkan kondisi tuan sasongko, maka dia akan lebih dekat untuk menjadi menantu keluarga sasongko.
Ki Belung yang mendengarnya, tersenyum cerah. Tentunya dia harus meminta imbalan besar dari pasien orang kaya seperti tuan sasongko.
Seno mengangguk dan berkata, "Anjas, keluarga sasongko akan mengingat kebaikanmu jika kondisi ayahku membaik. Dan sesuai janjiku, kamu dapat menjadi menantu keluarga sasongko di masa depan..."
Anjas begitu bergembira, ini adalah kata - kata yang dirinya tunggu - tunggu. Dia dengan tersenyum berkata "Paman Seno, kamu tidak akan salah memilih seorang menantu hebat sepertiku..."
__ADS_1
Seno kemudian menatap kearah Ki Belung dan berkata, "Ki Belung juga, aku akan memberikan satu triliun jika kamu menyembuhkan kondisi ayahku!..."
Kedua mata Ki Belung menyala, dia tidak dapat menyembunyikan senyum di wajahnya yang sedikit gelap. "Tuan Seno, Sebenarnya membantu sesama adalah tugas kita sebagai manusia. Jadi aku harus menolaknya..."
"Ki Belung, kamu harus menerimanya. Sejak lama kondisiku makin memburuk, dan jika aku disembuhkan olehmu, maka uang satu triliun layak untukmu..." Kali ini Pak tua sasongko angkat bicara.
Dia akan merasakan sakit kepala yang luar biasa pada jam - jam tertentu, dan tentunya itu sangat menyiksanya. Jika dia bisa sembuh, maka dia sangat berterimakasih kepada Ki Belung dan juga kepada Anjas.
"Tuan sasongko dan tuan Seno, aku tidak memiliki pilihan lain selain menerimanya!..." Jawab Ki Belung dengan bahagia.
"Ki Belung, bisakah kamu menjelaskan tentang siapa yang mengirim ayahku santet?..." Seno bertanya dengan keinginan, dia tentunya harus menemukan pelakunya sesegera mungkin dan menyelesaikan hutang untuk terakhir dan selamanya.
Ki Belung menggeleng kemudian berkata, "Tuan Seno, aku tidak bisa mengatakannya dengan pasti. Yang jelas mereka salah satu pesaing keluarga sasongko di bidang bisnis. Selain itu ilmu gaib adalah ilmu di luar nalar manusia, tidak ada penjelasan secara ilmiah. Jadi jika aku menyebutkan orangnya, itu akan menjadi fitnah..."
Seno mengangguk berulang kali, awalnya dia berpikir semua dukun itu, cabul dan penipu. Namun prasangka seperti itu tidak benar sama sekali. Belum lagi, dengan sifat Ki Belung yang begitu baik telah membuat Seno mempercayainya tanpa syarat.
"Ki Belung, kalau begitu langsung saja sembuhkan ayah saya..." Kata Seno dengan tulus.
"Nona Silfi, kami minta maaf dan tolong pengertiannya agar pembersihan rumah terselesaikan lebih cepat!..."
"Kami hanya ingin melihat saja. Mengapa kalian tidak membiarkan kami masuk?..."
"Tuan sasongko telah sepakat untuk tidak ada orang luar yang melihat proses pembersihan rumah, sehingga kalian tidak boleh masuk..."
"Kalau begitu, aku akan memaksa untuk masuk..."
"Sialan... Kamu ingin menentang kami?..."
"Bagaimana jika iya?..."
Ki Belung menghentikan tindakannya dan menatap kearah yang lainnya. "Tuan Seno, kegaduhan di luar sangat menganggu sekali, itu merusak ritual sakral yang akan kita lakukan. Jika kegaduhan tidak di hentikan, aku tidak akan melanjutkan ritual pembersihan rumah..."
__ADS_1
Seno segera menjadi panik, Ki Belung adalah satu - satunya harapan yang mungkin bisa menyembuhkan kondisi ayahnya. Kemudian dia berkata, "Ki Belung, mereka adalah putriku dan dua orang kenalannya, mungkin mereka ingin melihat pembersihan rumah!..."
"Begitu ya! Jika hanya melihat saja, tidak masalah. Tapi jangan sampai menganggu jalanya pembersihan rumah..." Kata Ki Belung.
Seno mengangguk kemudian pergi keluar, di ikuti oleh Anjas dari belakang.
_
_
_
Fatir, Silfi dan Lestari masih di hadang oleh sekelompok orang berpakaian serba hitam. Sepertinya mereka benar - benar tidak ingin ada orang lain yang melihat jalanya pembersihan rumah.
Tetapi, pintu itu secara tiba - tiba terbuka dan sebuah suara kembali terdengar, "Hentikan kegaduhan ini..."
"Ayah, aku ingin melihat proses pembersihan rumah bersama mereka..." Kata Silfi sambil memohon. Dia hanya memahami jika seseorang akan melakukan pembersihan rumah, namun dia tidak tahu sama sekali dengan yang di maksudkan ayahnya tersebut.
Seno tidak bisa marah terhadap putrinya tersebut. Dia melihat ketiganya kemudian berkata. "Kalian bisa masuk, tetapi tidak boleh membuat masalah..."
"Silfi, senang melihatmu kembali ke Kota Malang..." Anjas berkata dengan sopan, kemudian tatapannya menjadi takjub ketika melihat kecantikan Lestari. Lalu menjadi dingin ketika melihat Fatir.
Tentu saja Anjas sedikit iri terhadap penampilan Fatir yang enak di pandang juga dekat dengan dua keindahan pada waktu yang sama.
Silfi yang melihat kearah Anjas langsung menatapnya dengan dingin. "Ayah, mengapa dia ada di sini?..."
"Silfi, hentikan menganggap dia sebagai orang luar. Nak Anjas adalah dermawan keluarga sasongko. Di masa depan dia akan menjadi suamimu..." Kata Seno dengan lantang.
Semua orang yang ada di sana terdiam. Hanya Anjas yang tersenyum lebar dengan begitu bahagia. Siapa sangka jika Seno akan mengatakan langsung kepada putrinya.
Bersambung...
__ADS_1