
Semua orang terdiam ketika mendengar perkataan Fatir.
"Apa kamu bilang?..." Sugeng bertanya untuk memastikannya lagi.
Fatir tersenyum lembut dan memberikan penjelasan, "Ya, Demi memberikan keamanan 24 jam, tentunya aku harus bersamanya tidak terkecuali tidur bersamanya juga..."
"....." Semua orang sekali lagi terdiam.
Awalnya Sugeng sangat yakin jika Fatir hanyalah orang suruhan yang hanya berupa - pura menjadi suami Lestari. Sehingga kesempatan untuk mengejek Fatir datang, dia mengungkapkan pendapatnya jika Fatir hanya pengawal untuk Lestari.
Hanya saja, Sugeng tidak berharap jika Fatir mengatakan sesuatu yang membuatnya begitu kesal. Bahkan Lestari tersedak setelah mendengar kata - kata Fatir yang tiba - tiba, dia melebarkan matanya, dan tampak seperti ingin mencekik Fatir sampai mati.
Sialan! Beraninya dia mengucapkan kata - kata seperti itu! Pikir Lestari dengan tidak berdaya. Meskipun kata - kata ini dimaksudkan untuk membalas terhadap provokasi Sugeng dan Pengikutnya, tapi ini terlalu berlebihan.
Setelah mendengar kata - kata aneh seperti itu, Lestari tidak bisa tidak mengingat momen pada pagi hari itu. Dia membuat kesalahan dengan membiarkan Fatir yang menginap di tempatnya, sehingga dia harus membuat bagian bawah Fatir turun menggunakan payudara montok miliknya. Ketika Lestari mengingat momen tersebut lagi, pipinya menjadi memerah, juga terlihat menyenangkan dan menggugah selera.
Adapun Sugeng, melihat Lestari tiba - tiba memiliki ekspresi malu seperti seorang gadis kecil, pertama, ia terpesona oleh perubahan tiba - tiba itu. Tetapi setelah berpikir lagi, alasan Lestari merasa malu dari kata - kata pria itu, hatinya menjadi dingin dan dia tidak bisa tidak bertanya - tanya.
Apakah hubungan mereka benar - benar tidak sesederhana itu!?
Tentunya Sugeng berharap jika Lestari menyangkalnya, namun Lestari tidak mengatakan apapun seperti yang dia harapkan, selain malu di tempat.
Sial!...
Sugeng, yang kulitnya menjadi jelek dan pucat, tertawa dengan susah payah dan berkata, "Haha, kamu pasti bercanda, karena kamu disini, maka kamu juga seorang tamu..." Sugeng menenangkan hatinya dan berpikir positif jika Fatir dan Lestari membuat sandiwara agar dirinya percaya.
Dia kemudian melihat pengawalnya dan berkata, "Kembali, kamu tidak diizinkan bersikap tidak sopan terhadapnya..."
Mendengar tanggapan Sugeng, Fatir tidak bisa membantu tetapi untuk menilai ulang sosok pria ini sedikit lebih tinggi. Tampaknya dia bukan pria yang tak berotak, dia bahkan tahu bagaimana harus bertahan walaupun hatinya terguncang.
_
__ADS_1
_
_
Dengan berlalunya waktu, setidaknya Fatir memakan hidangan yang ada di depannya, tanpa memperdulikan sikap Sugeng yang jelas - jelas membencinya.
Lestari juga memakan dengan nyaman, namun tidak sebanyak Fatir yang menghabiskan setiap makan yang ada di depannya. Karena wanita memiliki pola makan hemat untuk menjaga tubuh mereka.
Pada saat ini Sugeng yang tidak menyerah telah berbicara banyak hal, namun tidak membuat kemajuan apapun untuk mendapatkan Lestari.
Hal ini membuat kesabarannya mulai menyempit, dan yang membuat Sugeng tidak senang adalah karena Lestari memiliki permintaan agar Sugeng melupakan dirinya, sehingga membuat Sugeng tidak puas sama sekali. Kebencian terhadap Fatir semakin meluap.
Mungkinkah keduanya benar - benar memiliki hubungan khusus?
Walaupun hanya memikirkannya saja, hal itu membuat Sugeng hampir gila. Namun dia tetap bertahan dengan sikap tenang dan kesal di waktu yang sama.
"Saya harap tuan Sugeng melupakanku dan menemukan wanita lain yang nantinya akan menjadi jodohmu!..." Lestari akhirnya berkata saat dia menyelesaikan sedikit makanan.
Hanya ketika keduanya bertukar perkataan, makan malam bertele - tele yang berlangsung hingga pukul delapan ini dianggap selesai.
"Baiklah kita harus kembali..." Kata Lestari sambil tersenyum kearah Fatir yang merasa bosan sampai mati. Dia duduk di sana, ketika satu jam berlalu begitu saja, tanpa berbicara sedikitpun.
"Eh! Begitu cepat, makanan penutup belum disajikan dan kalian tidak bisa pergi sebelum menghabiskannya..." Sugeng melihat kearah pengikutnya sambil mengangguk seolah keduanya memiliki telepati dan bersiap untuk melakukan rencana terselubung.
Pengikutnya mengangguk sambil berjalan pergi, dan dan dia langsung menghubungi para pelayan untuk mempersiapkan masakan penutup yang sudah direncanakan.
Dua pelayan wanita datang dengan meja dorong yang tertutupi oleh penutup khusus. Mereka tersenyum dalam menyusun makanan di atas meja.
Makan malam itu dari masakan barat formal. Sementara alat makan sedang diatur di atas meja, Lestari melirik Fatir dengan khawatir di matanya. Jelas, beralih tiba - tiba dari masakan khas kota Malang ke masakan barat adalah untuk mempermalukan Fatir.
Tiba - tiba Sugeng senyum tulus ke arah Fatir sambil berkata, "Bisakah aku mengetahui namamu?..."
Fatir tidak langsung menjawab, dia menatap Sugeng dengan datar sambil berkata, "Namaku Fatir..."
__ADS_1
Sambil melihat makanan di depannya, Fatir tidak terlalu peduli dengan perkenalan. Apa lagi harus mengenal pria di sebrang meja itu. Dia dapat merasakan niat baik dan buruk seseorang hanya dengan melihat gerak geriknya.
Melalui hidangan makanan di depannya, Fatir dapat merasakan rencana busuk yang Sugeng rencanakan di balik undangan makan malam ini. Tentunya Fatir tidak langsung mengatakannya dan memilih untuk menunjukkan sikap tenang.
"Saudara Fatir, apakah kamu suka minum? Hotel ini secara khusus memiliki minuman Champagne dari tahun 1989, dan aku berharap Saudara Fatir dapat memberikan pendapatnya..." Ketika dia selesai mengatakan itu, Sugeng memberi isyarat kepada pelayan untuk membawa botol anggur merah yang dikemas dengan indah.
"Tentu saja..." Jawab Fatir sambil tersenyum.
Dalam hatinya, Fatir mencibir sambil tetap diam. Apartemen miliknya memiliki gudang anggur tersendiri. Dia seperti meminum air putih ketika meminum anggur - anggur mahal. Sedangkan anggur jenis Champagne tahun 1989 menjadi minuman anggur cukup umum baginya.
Lestari yang duduk di sampingnya menjadi khawatir. Dia tentunya sangat yakin jika Fatir tidak pernah meminum anggur mahal, sehingga dia menjadi gugup ketika Fatir mempermalukan dirinya sendiri.
Fatir tentunya memahami kekhawatiran Kakak iparnya, namun dia tetap tenang tanpa bersuara. Dengan menggunakan tiga jari, dia dengan ringan mengangkat gelas, memungkinkan pelayan menuangkan anggur ke dalamnya.
Pelayan wanita itu hanya menuangkan sedikit kemudian menariknya kembali.
Fatir tidak merasakan sesuatu yang aneh, karena minuman anggur itu murni tanpa adanya campuran bahan tertentu, dan dia dengan ringan mengaduk - aduk cairan di dalam gelas. Lalu mencium bau anggur, dangan meletakkan gelas miring ke bibirnya, dan perlahan - lahan meneguknya.
Setelah melihat tindakan Fatir, Lestari yang tegang perlahan - lahan santai. Dia bertanya - tanya dengan bingung, sejak kapan Saudara Iparnya begitu baik dalam meminum anggur mahal.
Mata Sugeng bersinar dengan sedikit khawatir, namun kembali tersenyum, ketika bertanya, "Saudara Fatir, bagaimana menurutmu Champagne ini?..."
"Lumayan, anggur ini disebut sebagai anggur Korintus hitam. Bahan - bahan Champagne berasal dari Amerika Serikat dan Eropa. Namun anggur jenis Champagne tidak dapat menandingi anggur merah Margaux Bordeaux dari Prancis..." Kata Fatir dengan tersenyum.
Kemudian dia menambahkan, "Sebenarnya tidak terlalu buruk. Namun, anggur jenis ini juga memiliki rasa manis dengan tekstur yang lembut pada saat di mulut, di itu salah satu keunggulannya...'' Fatir menjawab dengan acuh tak acuh, seolah - olah dia menjadi master anggur, yang terbiasa meminum anggur sepanjang hidupnya.
Sugeng yang mendengarnya merasa sedikit terkejut. Dia ingin mempermalukan Fatir dengan kepiawaiannya dalam meminum anggur mahal jenis Champagne. Namun siapa sangka akan berakhir sebaliknya.
Dalam kenyataannya, meskipun Sugeng minum anggur jenis Champagne secara teratur, dia tidak bisa memberikan deskripsi yang begitu rinci. Dia tidak akan percaya bahwa Fatir hanya menebak semua ini karena keberuntungan, karena semua gerakannya menunjukkan kepiawaian sesungguhnya dalam meminum anggur mahal.
Dibandingkan dengan dirinya, Sugeng hanya bisa menahan malu ketika terdiam membisu.
Bersambung...
__ADS_1