
Jalan raya kota jakarta.
Di dalam mobil, Fatir sudah menjelaskan jika dirinya adalah anak orang kaya. Namun Lestari tidak mempercayainya sama sekali, sehingga membuat Fatir diam dan tidak lagi menambahkan penjelasan apapun.
"Kita pergi ke tempatku dulu. Aku harus mempersiapkan pakaian ganti dan banyak hal lainnya..." Kata Lestari dengan datar.
"Tidak masalah..." Fatir mengangguk, wanita adalah mahluk yang merepotkan. Terutama dalam berpakaian, Hal ini membuat Fatir harus mengambil sikap sabar, dalam menghadapinya.
Segera Fatir memutar arah untuk pergi ke apartemen milik Lestari berada.
Lestari yang duduk di kursi penunggang merasakan sesuatu cukup gatal pada bagian punggungnya, dia tanpa sadar menggaruknya. Hanya saja ketika dia merasakan sesuatu pada tangannya, dia mencoba untuk menariknya.
"....." Ketika Lestari melihat apa yang baru saja dirinya telah ambil, dia menemukan sesuatu yang cukup familiar bagi seorang wanita bahkan untuk seorang pria sekalipun.
Itu adalah bra berwarna putih milik Miranda yang mungkin dengan sengaja di tinggalkan.
Lestari tidak bisa berkata - kata ketika melihatnya. Tidak mungkin Fatir mengenakan bra layaknya seorang wanita. Dan ketika Lestari mencium aromanya bra itu, dia menemukan aroma parfum melati yang jelas - jelas milik seorang wanita.
Mungkin bra itu milik adiknya?
Tetapi mengingat kepribadian Maya yang menganggap Fatir sebagai suami sampah, jelas itu tidak mungkin. Lalu milik siapa dan mengapa bra itu ada di mobil milik Fatir?
Tentunya, untuk memperjelas bra itu milik siapa! Cara satu - satunya harus menanyakannya langsung kepada Fatir.
Tapi, ketika Lestari hendak bicara. Dia melihat kebawah dan menemukan pakaian dalam wanita. Bagaimana bisa, dua pakaian yang seharusnya di kenakan seorang wanita berada di dalam mobil milik Fatir.
Apakah Fatir penjual pakaian dalam?
Tentunya tidak mungkin. Entah mengapa Lestari begitu kesal hanya karena menemukan dua hal yang cukup sensitif bagi dirinya dan kebanyakan kaum wanita.
Menekan kecurigaan dihatinya, Lestari berkata dengan datar. "Fatir, kita berhenti sebentar..."
"Ok!..." Tanpa mengerti kesalahan yang dirinya lakukan, Fatir menepikan mobilnya dan berhenti di pinggir jalan.
__ADS_1
"Kakak ipar, Apakah ada sesuatu yang salah?..." Tanya Fatir sambil melihat kakak iparnya itu.
Tatapan Lestari begitu dingin, dia menunjukkan bra dan pakaian dalam wanita sambil bertanya, "Katakan, milik siapa ini!..."
Fatir seketika berkeringat dingin, dia mengenali bra dan pakaian dalam milik Miranda yang ada di tangan Lestari. Hal ini membuat Fatir tidak tahu harus menjelaskan apa!
Apakah menjelaskan dengan jujur?
Ataukah membuat kebohongan?
Jika jujur, tentunya Lestari akan marah dan mungkin memutuskan untuk berpisah langsung dan menghubungi Maya untuk pengaduan. Sedangkan berbohong, adalah sesuatu yang cukup sulit di jelaskan.
Hanya saja, wanita lebih percaya kebohongan dari pada kejujuran. Sehingga Fatir harus membuat kebohongan yang membuat Lestari percaya.
"Itu milik Maya, sepertinya dia meninggalkannya ketika kita melakukannya kemarin..." Jawab Fatir dengan keringat dingin menetes di dahinya.
Fatir hanya bisa menyalahkan Miranda karena meninggalkan bra dan pakaian dalam ketika berpisah. Sepertinya Fatir harus memberikan hukuman kepada Miranda agar tidak melakukan kesalahan yang sama.
Kini giliran Lestari yang tidak bisa tenang. Memang benar jika Fatir tidak lagi impoten, namun dia tidak menyangka jika Fatir akan melakukan itu dengan adiknya.
Kembali menenangkan hatinya, Lestari bertanya dengan rasa ingin tahu, "Tunggu dulu, kalian sudah melakukan apa?..."
"Kami... Melakukan hubungan seksual!..." Untuk yang satu ini, Fatir memang jujur, namun Maya saat itu tidak sadarkan diri. Namun tidak menutup kenyataan, jika keduanya melakukan hubungan seksual dan Fatir mendapatkan keperawanan istrinya.
Bukannya hal umum, jika seorang suami mendapatkan keperawanan istrinya, itu berarti Fatir hanyalah melakukan tugasnya sebagai seorang orang suami.
"Jangan berbohong kepadaku?..." Kekesalan Lestari semakin jelas, dan dia tidak percaya jika Maya melakukan hubungan seksual dengan Fatir.
Fatir mulai panik, walaupun dia dan istrinya tidak melakukannya di dalam mobil, namun dia melakukannya di hotel, sehingga dia tidak sepenuhnya berbohong.
"Kakak ipar, aku mengatakan yang sebenarnya. Kita sudah melakukannya dan kedua hal ini adalah milik Maya yang tertinggal..." Kata Fatir sambil meraih bra dan pakaian dalam milik Miranda kemudian menyimpannya.
Huuu! Akhirnya berhasil diamankan. Pikir Fatir dengan kembali tenang, tetapi tindakan Lestari berikutnya membuat Fatir menjadi panik.
"Biarkan aku menanyakan langsung kepada Maya!..." Lestari mengeluarkan ponselnya dan langsung melakukan panggilan kepada adiknya.
__ADS_1
Fatir yang ada di dekatnya, tidak hanya berkeringat dingin, tetapi juga merasakan jalanya waktu yang begitu lambat. Selain itu dia dapat mendengar detak jantungnya yang begitu cepat.
"Halo!... Kak, Apakah terjadi sesuatu? Tidak biasanya kamu menghubungiku..." Suara Maya yang renyah dapat di dengar, dia berbicara dengan baik, tanpa kendala sedikitpun.
"Maya, kakak ingin memastikan sesuatu sehingga harus menelpon kamu!..." Kata Lestari sambil melirik Fatir yang penuh kepanikan.
"Oh! Katakan saja jika ingin memastikan sesuatu!... Maya akan menjawabnya..." Kata Maya dengan rasa ingin tahu. Tentunya dia bertanya - tanya, tentang sesuatu yang membuat kakaknya hingga harus menghubungi dirinya.
"Maya, jawab dengan jujur pertanyaan kakak..." Kata Lestari dengan dingin.
"Ya kak, tolong katakan..." Maya tanpa sebab menjadi panik, dia seperti melakukan interogasi dari pihak kepolisian.
"Maya, apakah kamu sudah melakukan hubungan seksual yang suamimu?..." Tanya Lestari.
Sisi lain panggilan langsung tidak bersuara. Tentunya Maya bertanya - tanya tentang bagaimana kakaknya mengetahuinya.
"Itu benar kak!..." Jawab Maya dengan jujur. "Aku sudah tidak lagi perawan karena aku sudah melakukannya dengan Fatir..."
Fatir yang mendengar pengakuan dan penegasan Maya, tentunya sangat senang sekali. Dia tidak berharap jika Maya akan mengakuinya secara terbuka kepada kakaknya.
Berbeda dengan Fatir yang bahagia, Lestari seperti tidak mempercayai pendengarannya. Hal yang membuat kesal adalah, Maya sudah kehilangan keperawanan dan mendahului dirinya.
Itu berarti, Lestari menjadi perawan tua di usianya yang hampir berkepala tiga. Percaya tidak percaya, namun perasaan jika adiknya sudah melakukan hubungan seksual lebih awal darinya, itu benar - benar tidak nyaman.
"Kakak, kamu masih di sana?..." Tanya Maya karena tidak lagi mendapatkan respon dari Lestari.
"Aku disini... Baiklah, itu saja yang ingin aku katakan..." Panggilan segera berakhir, dan Lestari memiliki ekspresi rumit di wajahnya.
Fatir benar - benar bahagia, akhirnya semuanya berlalu begitu saja. Tanpa mengungkapkan jika pakaian dalam tersebut milik Miranda yang tertinggal. Dia dengan tenang berkata, "Benarkan, seperti apa yang aku katakan. Kami benar - benar melakukan hubungan seksual, dan itu sangat wajar untuk pasangan suami istri..."
Lestari menatap Fatir, entah mengapa dia sedikit ragu jika pakaian dalam tersebut milik adiknya, Namun dia tidak ingin bertanya lagi selain mempercayainya. Dia dengan dingin menjawab, "Lain kali, jangan meletakan hal memalukan seperti itu secara sembarangan. Jika itu orang lain, kamu akan dicap sebagai pria mesum..."
"Aku mengerti kakak ipar..." Fatir mengakhiri perbincangan diantara mereka dan melanjutkan perjalanan.
Bersambung...
__ADS_1