
Pagi harinya, Mobil bergoyang itu akhirnya berhenti. Fatir dan Miranda mengenakan pakaian mereka kembali. Segera Fatir mengantarkannya pulang dan berpisah dengannya begitu saja.
Melalui malam tanpa tidur, tentunya sangat melelahkan. Selain itu pinggul dan lutut terasa seperti meleleh. Melakukannya di dalam mobil menjadi tantangan tersendiri, selain sensasi yang menegangkan karena takut ketahun oleh pejalan kaki. Juga karena ruangan di dalam mobil yang begitu sempit sehingga tidak banyak mengambil posisi - posisi lainnya.
Tepat ketika Fatir hendak pulang, ponselnya berbunyi. Segera dia meraih ponselnya dan menjawab panggilan tersebut.
"Halo!..."
Sisi lain pemanggil sedikit terdiam, kemudian berkata, "Fatir, apakah kamu sibuk?..."
Mendengar ini, Fatir sedikit tersentak. Pemilik suara itu tentunya seorang wanita, namun bukan dari istrinya. Tetapi dari saudara iparnya yang cukup lama tidak lagi berhubungan dengan Fatir.
Terakhir kali, Fatir menginap di rumahnya, juga mendapatkan jepitan payudara lembut milik kakak iparnya. Selain itu, ketika berada di rumah sakit kota. Fatir hendak menghubunginya, tetapi harus membatalkan niatnya tersebut karena tidak memiliki waktu.
Yang jelas, kakak iparnya tidak terbiasa untuk memulai pemanggilan seperti sekarang ini. Sehingga membuat Fatir sedikit bertanya - tanya tentang apa yang terjadi dengan kakak iparnya tersebut.
"Kakak ipar, jika kamu memiliki kesulitan. Kamu bisa langsung menyatakannya..." Jawab Fatir sambil terus mengemudikan mobilnya.
Lestari sedikit diam, Sepertinya Fatir sudah menebaknya dengan benar tentang dirinya yang memiliki kesulitan. Dia sendiri, sebenarnya tidak ingin merepotkan Fatir ataupun meminta bantuannya. Namun masalah yang dirinya miliki tidak menemukan titik terang, sehingga dia tidak tahu harus meminta bantuan siapa.
"Kalau begitu, dimana kamu. Aku akan menjemputmu!..." Kata Lestari dengan lembut.
"Tidak, kakak ipar tidak perlu menjemputku. Saat ini aku sedang mengemudi sendiri, katakan saja dimana kakak ipar saat ini berada. Dan biarkan aku saja yang menghampirimu..." Fatir langsung menegaskan sebuah penolakannya.
Di sisi lain, Lestari sedikit bingung jika fatir sudah memiliki kendaraan sendiri. Apakah keluar dari kediaman mertua membuatnya menjadi pria sukses? Dia berpikir, mungkin saja Fatir mengemudikan mobil perusahaan di tempatnya bekerja.
Di masa lalu, Lestari masih di kejutkan dengan kemampuan medis yang Fatir miliki. Bahkan jika bukan karena Fatir, dirinya tidak akan bekerja di rumah sakit kota.
"Kalau begitu, aku menunggumu di rumah sakit kota..." Jawab Lestari.
Setelah itu keduanya mengakhiri panggilan dan Fatir langsung menuju ke rumah sakit kota.
_
_
__ADS_1
_
Rumah sakit kota jakarta.
Fatir turun dari mobil miliknya dan pergi untuk bertemu dengan Lestari. Seperti dalam panggilan sebelumnya, saat ini Lestari sedang berada di ruangan miliknya.
Setelah meminta staf administrasi rumah sakit untuk menunjukkan ruangan Lestari, Fatir langsung pergi dengan memasuki ruangan tersebut tanpa penundaan.
"Permisi!..." Dengan sopan, Fatir berkata dan membuka pintu pada saat yang sama.
Di dalam ruangan itu ada dua wanita cantik!
Satu wanita dewasa dengan payudara montok yang menggoda, dia tidak lain adalah Lestari yang juga mengenakan setelan jas putih yang biasanya para dokter gunakan.
Yang satunya lagi adalah wanita muda yang memiliki payudara baru berkembang. Dengan setelan putih abu - abu yang biasanya banyak di gunakan oleh para pelajar SMA di jakarta.
Lestari tersenyum kecut ketika melihat Fatir, sedangkan wanita muda itu tercengang di tempat. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan Fatir lagi.
Selain itu, Fatir terlihat begitu muda. Mungkin beberapa tahun lebih tua darinya. Jadi, bagaimana mungkin pemuda ini dapat memberikan bantuan?
Kemudian wanita muda itu tercerahkan sehingga dia mulai sadar dan berkata, "Dokter Tari, Bukan dia kan yang kamu katakan memiliki kemampuan untuk menyembuhkan kondisi kakekku?..."
Suara Lestari terdengar untuk membenarkan perkataan wanita muda itu, "Itu benar. Dia adalah orang yang aku maksud!..."
Wanita muda itu kembali menenangkan hatinya, dia yakin jika Fatir tidak dapat mengenali dirinya yang saat itu mengenakan wig hijau. Dia tersenyum dan berkata, "Namaku Silfi, senang bertemu denganmu..."
"Fatir... Senang melihatmu tidak mengenakan wig!..." Fatir memperkenalkan dirinya dengan sopan.
Silfi yang tersenyum seketika terdiam membisu, dia shock di tempat ketika mendengar tanggapan Fatir.
"Apakah kalian saling mengenal?..." Tanya Lestari dengan rasa ingin tahu.
"Tidak, aku tidak mengenalnya..." Silfi langsung membantahnya.
Sebagai putri keluarga kaya, dia memiliki hobi yang tidak biasa. Dan ketika melakukan salah satu hobinya, dia harus bertemu dengan Fatir dan membuat pengikutnya masuk rumah sakit.
Jelas Silfi menyimpan sedikit dendam terhadap Fatir, tapi siapa sangka dia harus meminta bantuan pria yang dirinya benci.
__ADS_1
"Kita baru saja bertemu..." Fatir memberikan penjelasan.
"Kalau begitu aku akan menjelaskannya!..." Lestari mengangguk kemudian menyuruh Fatir untuk duduk. Lalu dia menjelaskan semuanya kepada Fatir tentang kondisi kakek Silfi.
"Jadi begitu?!..." Kata Fatir setelah mengerti sebagian besar cerita yang lestari sampaikan. Sedangkan Silfi menyetujuinya dengan mengangguk.
Garis besar penjelasan tersebut adalah kakek Silfi memiliki penyakit sulit di jelaskan. Yang mana pada saat - saat tertentu akan menyebabkan sakit kepala yang sangat luar biasa.
Hanya saja, dengan menggunakan pengobatan moderen penyakitnya tidak dapat terdeteksi. Juga tidak ada yang dapat menyembuhkan penyakit tersebut sampai sekarang.
Tentunya Fatir tidak dapat menentukan jenis penyakit apa yang di derita oleh kakek Silfi tanpa melakukan kontak langsung dengannya. Selain itu dia sedikit kesal dengan kelakuan Silfi, sehingga Fatir terlalu malas untuk memberikan bantuan.
Memang benar, pertapa agung memberikan amanah kepada Fatir agar melakukan hal baik kepada siapapun. Fatir juga tidak menjual kemampuan yang dia dapatkan untuk uang. Dan semakin banyak melakukan kebaikan, maka semakin baik. Hanya saja keputusan ada di tangan Fatir antara melakukannya atau tidak sama sekali.
"Fatir, bagaimana menurutmu?..." Pertanyaan datang dari Lestari. Sedangkan Silfi melihat dengan penuh harapan.
Fatir melihat diantara Lestari dengan Silfi. Dia kemudian menjawab, "Aku harus bertemu dengan pasien lebih dulu, untuk memastikan kondisi dan bagaimana menanganinya..."
Berhenti sejenak, kemudian Fatir melihat kearah Silfi. "Hanya saja, aku saat ini tidak memiliki waktu luang. Jadi mohon maaf..."
"Bammm!..."
Silfi langsung berdiri dan tanpa sengaja menjatuhkan tempat duduk itu kebelakang. Dia menatap Fatir dengan kesal, "Apakah kamu membenciku? Kamu bahkan tidak ingin melihat kakekku..."
Inilah sifat Silfi yang sesungguhnya. Dia adalah wanita yang begitu berapi - api. Dan dia begitu yakin, jika keputusan yang Fatir ambil dikarenakan tindakan dirinya yang tidak baik.
"Bagaimana jika iya?!..." Tanya Fatir dengan tatapan dingin.
"Kamu!..." Silfi menjadi begitu kesal, dia bahkan lupa jika dirinya tidak mengenakan wig hijau ketika berada di sifatnya yang berapi - api.
Lestari yang melihat perseteruan diantara Fatir dan Silfi mulai memahami jika keduanya memiliki perselisihan yang tidak diketahui. Tetapi Silfi berasal dari keluarga tidak sederhana sehingga tidak baik jika menyinggungnya.
"Fatir, dia dari keluarga Sasongko, kamu harus baik kepadanya..." Kata Lestari menyarankan.
Silfi kembali tenang, dia mengangguk dengan perkataan Lestari. Kemudian dia berkata dengan tersenyum, "Selama kamu datang dan membantu kakekku, maka keluarga Sasongko tidak akan memberikan hadiah kecil..."
Kali ini Silfi sangat yakin jika Fatir akan tergiur dengan tawarannya.
__ADS_1
Bersambung...