
Waktu berlalu begitu saja, tentunya banyak hal yang keluarga sasongko lakukan untuk menyenangkan Fatir dan juga Lestari.
Kesembuhan pak tua sasongko bukan hal kecil. Tentunya membuat keluarga sasongko sangat bahagia dan mulai memperlakukan keduanya dengan begitu baik.
Keluarga sasongko siap memberikan imbalan apapun terhadap Fatir. Namun segala tawaran akan Fatir tolak tanpa berpikir dua kali. Hal ini membuat Keluarga sasongko hanya bisa menyerah dan kagum terhadap sikap yang Fatir miliki.
Menolak imbalan, bukan berarti menolak perlakuan baik dari keluarga sasongko. Dalam dua hari ini Fatir dan Lestari dengan terpaksa menghabiskan waktu mereka dan tinggal di kediaman keluarga sasongko dengan perlakuan layaknya raja dan ratu.
Bahkan Fatir harus kewalahan dalam menghadapi semua orang di kediaman sasongko. Terutama dengan sikap Silfi yang begitu baik kepadanya.
Ada apa dengan gadis ini mengapa sikapnya begitu berbeda dibandingkan dengan sebelumnya?
Berbeda dengan Fatir yang kesulitan dalam menghadapi Seno dan Pak tua sasongko yang ingin menjadi muridnya. Lestari justru pergi berbelanja besama Silfi di lain kesempatan, banyak hal yang mereka beli seperti pakaian, dan lain sebagainya.
Wanita pada dasarnya adalah mahluk yang suka dengan yang namanya belanja, sehingga mereka begitu kuat jika menghabiskan seluruh waktu mereka untuk berbelanja.
Ketika berada dipusat pembelanjaan tertentu, Lestari tanpa sengaja bertemu dengan seorang kenalan dan bisa dibilang menjadi salah satu pengejarnya. Bertemu lagi dengan dia tentunya membuat Lestari benar - benar tidak nyaman.
Dia adalah Sugeng, salah satu putra orang kaya yang satu universitas dengannya. Sayangnya Lestari berhasil menolaknya begitu lama dan berharap Sugeng akan melupakan dirinya.
Namun siapa sangka jika kota Malang adalah kota kelahiran Sugeng dan ingin mengundang Lestari untuk melakukan makan malam.
Tentu saja, Lestari harus menolaknya karena dia tidak menyukai Sugeng sama sekali. Namun dia memahami sifatnya yang tidak mudah menyerah, sehingga Lestari mengatakan jika dirinya sudah menikah.
Tentunya Sugeng kesal dengan hal tersebut, namun dia tetap tidak menyerah dan ingin mengundang Lestari untuk menerima tawaran makan malam dengannya.
Karena tidak memiliki pilih lain, Lestari menerimanya namun akan datang dengan suaminya. Walaupun tidak senang, Sugeng tidak mempermasalahkan hal tersebut.
"Begitulah ceritanya! Fatir berpura - puralah menjadi suamiku dan temani aku untuk menghadiri undangannya..." Kata Lestari dengan tidak Berdaya.
__ADS_1
Fatir duduk dengan tenang sambil mendengar semua cerita kakak iparnya yang bertemu Sugeng ketika berada di pusat perbelanjaan dan berakhir dengan menerima undangan makan malam bersama.
Fatir menggeleng, bukannya dia tidak ingin. Hanya saja berpura - pura menjadi suami adalah hal klasik baginya. Namun mengapa dia harus memperdulikan undangan Sugeng ini.
Siapa dia?
Selain itu, apa imbalan ketika dia menjadi suami palsu?
"Kakak ipar, mengapa kamu begitu takut. Abaikan saja dia dan besok kita kembali ke kota jakarta..." Kata Fatir dengan memberikan saran. Karena kakak iparnya tidak menyukai Sugeng yang tidak jelas ini, maka Fatir terlalu malas untuk bertemu dengannya.
"Tentu saja aku ingin menolaknya!..." Lestari tersenyum pahit dan menambahkan, "Hanya saja Sugeng ini tidak hanya anak orang kaya, dia tidak segan melakukan kejahatan tertentu untuk memuaskan keinginannya..."
"Maksudnya?!..." Tatapan Fatir menjadi dingin.
"Di masa lalu dia tidak segan melukai seorang wanita yang menolaknya. Juga terlibat dalam penggunaan narkoba, dan beberapa kejahatan yang cukup serius, namun dia selalu lolos dari kepolisian..." Lestari memberikan penjelasan dengan kesal.
Tatapan Fatir mulai tertarik, sepertinya Sugeng ini memiliki koneksi yang tidak biasa. Fatir tersenyum dan menjelaskan, "Jadi kakak ipar khawatir jika Sugeng ini akan mengirimkan orang suruhan untuk mencelakai kita?..."
"Ahli bela diri?!..." Fatir ingin tertawa mendengar kekhawatiran kakak iparnya, Dia mengangguk dan bertanya, "Oke aku akan menjadi suami palsu, tapi aku ingin sebuah imbalan namun bukan uang!..."
"Apa Imbalan?!..." Lestari langsung tertekan, di kota Malang dia tidak memiliki kenalan lain. Sehingga Fatir menjadi satu - satunya pilihan yang dia miliki. Dia dengan kesal berkata, "Fatir, apakah ini caramu memperlakukan kakak iparmu? Aku akan mengatakan ini kepada Maya..."
"Tidak masalah, katakan saja sesukamu. Aku juga akan mengatakan jika aku pernah menginap di apartemen kakak ipar dan mendapatkan servis di pagi hari..." Fatir menyeringai, Karena Lestari mengancamnya. Maka dia akan mengancam balik.
Lestari yang kesal memperlihatkan gigi putihnya. "Baik, imbalan apa yang kamu inginkan?..."
Fatir tersenyum dan menjelaskan, "Karena itu bukan uang, maka aku menginginkan sesuatu yang terakhir kali, bagaimana?..."
"Yang terakhir kali?!..." Lestari awalnya tidak berpikir ke sana, namun setelah memahami apa yang Fatir maksud adalah momen pagi hari dirinya menggunakan payudara montok miliknya, seketika wajah Lestari memerah.
Lestari terdiam, kemudian karena tidak memiliki pilihan lainnya. Maka dia mengangguk setuju!
__ADS_1
"Tapi tidak disini..." Kata Lestari, karena hanya menggunakan payudara, mungkin tidak masalah. Dia bisa melakukannya di hotel karena di kediaman keluarga sasongko mereka tidur di ruangan terpisah.
"Ada apa dengan kalian berdua?..." Tanya Silfi yang muncul entah dari mana. Dia bertanya dengan bingung namun entah mengapa mencium sesuatu yang sensitif.
"Silfi kamu di sini?!..." Jawab Lestari dengan panik, jantungnya hampir copot ketika gadis ini datang mengejutkannya.
"Bukan itu yang aku tanyakan. Dokter Tari, mengapa wajahmu memerah?..." Kata Silfi dengan kesal.
Silfi setidaknya memahami jika hubungan Fatir dan Lestari hanya keluarga menantu. Karena Fatir menikahi adik dari Lestari, sehingga dia kembali tenang.
"Nona Silfi, kami membicarakan hal dewasa dan tidak baik kamu mendengarkannya?!..." Kata Fatir dengan menggoda.
Lestari yang mendengarnya menjadi lebih panik, dia memutar matanya dan melihat Fatir dengan tajam seolah mengisyaratkan agar diam.
"Kak Fatir. Aku sudah dewasa yah!..." Wajah Silfi memerah karena malu, sebelumnya dia menggunakan kaca untuk memastikan bagian bawah miliknya, dan menemukan rambut tipis yang mungkin saja baru tumbuh.
Tetapi, dia tidak tahu apakah perkembangan tersebut harus di jelaskan atau tidak, namun dia cukup malu jika harus menjelaskannya.
"Mengapa kamu begitu yakin!..."
"Itu... Itu karena... Aku..." Sebelum Silfi menjelaskan tumbuhnya rambut tipis di bagian bawah. Suara tertentu mengejutkannya.
"Kalian semua di sini, ayo makan bersama..." Kata Seno dengan bersemangat, sepertinya dia baru saja mendatangkan makan besar lainnya untuk menyenangkan Fatir yang sebentar lagi akan kembali ke kota Jakarta.
Silfi langsung terdiam, dia begitu kesal karena kedatangan ayahnya tersebut. "Ayah bodoh..."
Bentak Silfi kemudian berjalan pergi tanpa melihat kebelakang.
Seno masih bingung di tempat, dia cukup terbiasa dengan sikap putrinya yang berapi - api namun tetap saja memalukan jika seorang tamu melihatnya. "Nak Fatir dan Dokter Tari, ayo makan. Pesanan Gurita Jumbo sudah datang!..."
"Baik Paman Seno!..." Jawab Keduanya dengan canggung.
__ADS_1
Bersambung...