Kehidupan Menantu Hebat

Kehidupan Menantu Hebat
Bab 115.


__ADS_3

Pertukaran pertama berakhir begitu saja, Fatir masih berdiri di tempatnya. Sedangkan Damar terkapar begitu jauh karena serangan dari Fatir membuatnya terhempas begitu jauh.


Damar kembali berdiri dan mencoba menenangkan hatinya yang merasakan kejutan besar. Serangan Fatir membuatnya tidak berdaya, tetapi dia tidak ingin mengakui kekalahannya dengan begitu cepat.


"Ingin berlanjut?..." Kata Fatir dengan datar.


"Sialan, aku tidak mungkin mengakuinya!..." Kata Damar dengan kesal.


Keduanya secara diam saling menatap lalu dengan perlahan mendekati satu sama lain, Damar memiliki kedua tangannya dalam sikap pasang tertutup, teknik ini menggunakan tangan kiri untuk bertahan, sedangkan tangan kanan untuk melakukan pukulan.


"Whooossss!..."


Berbeda dengan Damar yang menyerang dengan putus asa, Fatir mengambil sikap lain yaitu pola langkah untuk menghindari setiap pemukulan dari lawannya.


"Duaaarrr!..."


Pemukulan tersebut mengandung kekuatan energi Qi yang di salurkan pada setiap jalur meridian. Di hadapkan dangan lawannya yang sangat gesit dalam menghindari setiap serangannya.


Damar sedikit kewalahan, belum lagi dirinya harus mengatur pernapasan. Jika tidak energi Qi yang ada di dalam tubuhnya akan tidak beraturan dan melukai diri sendiri.


"Duarrrr!..."


Kali ini, langkah yang Fatir lakukan sangat mengejutkan Damar. Dia mengeluarkan pemukulan dalam konsumsi energi Qi yang sangat besar, hanya saja Damar berhasil menghindarinya dan membuat pepohonan yang ada di belakangnya tumbang.


"Gyarrrr..."


Damar melakukan lompatan kebelakang kemudian melihat pohon yang memiliki bagian bawahnya hancur berkeping - keping. Dia mendengus dingin dan berkata, "Sepertinya aku meremehkanmu..."


Damar meningkatkan ritme pertarungan, dan Fatir dengan santainya mengendalikan ritme pertarungan tersebut.


"Whhooossss!..."


Pernafasan Damar mulai menjadi berat, karena dia terlalu memaksakan dirinya yang sudah mencapai batasan penggunaan energi Qi. Sehingga sekuat apapun dia melawan, akan Fatir bekukan secara langsung.


"Ahhhh!..."


Tendangan Fatir berikutnya membuat Lawannya terhempas tak beraturan dan menghancurkan pepohonan yang ada di kejauhan.


"Duaaarrrr!..."


Ketika Damar berusaha untuk bangkit lagi, Fatir sudah berdiri di dekatnya dan memberikan pemukulan kejam.


"Aaaaahhhh!..."


Dalam hitungan detik, Damar terlempar menghantam dan menghancurkan rumah tua.

__ADS_1


"Booommmm!..."


Rumah tua tersebut adalah milik salah satu warga desa yang tinggal di kaki gunung Kawi, namun sudah di tinggalkan dengan alasan yang tidak di ketahui sehingga tidak lagi di gunakan.


Damar memiliki sudut mulutnya keluar darah segar, Dia harus mengakui jika lawannya lebih unggul darinya. Dengan semua gerakan Fatir terlalu menakutkan.


"Menyerahlah dan katakan di mana dia?..." Tanya Fatir dengan dingin.


"Sialan... Aku belum kalah..." Damar yang keras kepala melihat Fatir dengan kesal.


Dengan cepat keduanya bertukar selusin keterampilan bela diri, dan tanpa peduli dengan tempat yang ada di sekitarnya, kekuatan seorang kultivator dapat menghancurkan beberapa tanah dan pepohonan.


Pepohonan yang awalnya tenang, kini menjadi tak dikenal lagi seolah dua tempat yang berbeda.


"Guakkk..."


Damar terlentang di atas permukaan tanah tidak dapat menggerakkan tubuhnya lagi. Berbanding terbalik dengan Fatir, dia berdiri di dekatnya dengan kaki kanannya di letakan di atas dada Damar.


"Uhukk..."


Damar seperti ditekan oleh gunung di atas tubuhnya, ini bukan karena Fatir sangat berat melainkan dia menggunakan energi Qi untuk menekan tubuh Damar.


"Apakah Sugeng yang menyuruhmu?..." Fatir bertanya dengan dingin.


"Guak..."


Perguruan Macan Putih!


Tentu saja Fatir tidak pernah mendengarnya. Sehingga membuatnya membuatnya bingung, mengapa Perguruan Macan putih menangkap Lestari dan memancing dirinya untuk datang.


Mungkinkah Sugeng tidak ada hubungan dari semua ini?


"Lalu mengapa kamu mengincarku? bahkan menangkap Kakak iparku?..." Fatir bertanya.


"Itu karena Sugeng mengatakan kamu kuat dan melakukan kejahatan dengan menindas yang lemah sehingga aku ingin menantangmu?..." Jawab Damar.


"Mengapa kamu rela mengambil resiko sejauh ini? Apakah kamu tidak tahu, jika Sugeng menyimpan kebencian terhadapku dan menciptakan kebohongan agar kamu mencelakaiku..." Fatir mengeleng dia hanya perlu satu tarikan nafas untuk membunuh Damar namun dia tidak melakukannya.


"Aku!..." Gigi - gigi Damar berwarna merah karena darah memenuhi mulutnya. Dia merasa jika kata - kata dari Fatir ada benarnya.


Saat ini Damar sedikit malu terhadap leluhurnya, jika sampai dirinya mati hanya karena dia mempercayai kebohongan orang lain. Dia mengalihkan kebencian yang dia miliki kepada Sugeng.


Namun dia tidak ingin mengakui kekalahannya, apa lagi memohon pengampunan atas hidupnya. Dan mengingat Fatir sangat kuat, bahkan lebih kuat dari semua kultivator yang selama ini dirinya lawan. Sepertinya mati di tangannya, tidak terlalu buruk.


Dalam dunia kultivasi, yang kuat dihormati dan yang lemah di anggap sebagai semut. Dalam hati kecil Damar dirinya sangat menghormati orang kuat seperti Fatir.

__ADS_1


"Bunuh aku sekarang!..." Kata Damar.


"Mengapa aku harus membunuhmu? kita tidak melakukan pertempuran hidup dan mati. Jika aku ingin membunuhmu, mungkin aku akan membunuhmu tanpa kesulitan apapun..." Kata Fatir dengan tenang. Kata - kata itu tidak dapat di bantahkan, karena dia memang memiliki kemampuan untuk melakukannya.


Damar terdiam, dia semakin malu. Untuk itu dia rela mati sekarang juga. Jika semua orang di perguruan Macan putih mengetahui tindakannya yang bodoh, Damar akan mempermalukan ayahnya.


"Tentu saja untuk sebuah kehormatan dan aku tidak menyesal mati ditanganmu!..." Kata Damar dengan frustasi.


"Hade... Apanya demi kehormatan, apakah kamu tidak memiliki keluarga yang menunggumu di rumah?..." Entah mengapa Fatir sedikit kesal dengan seseorang yang mementingkan kehormatan dari pada kehidupannya sendiri.


Kehormatan Apanya?


Apakah kamu mati kehormatan akan menghargaimu?


Apakah kehormatan akan membuat keluargamu senang ketika melihatmu mati konyol?


Jika Hidup dan mati di tentukan oleh kedua tangan kita sendiri, mengapa kamu memilih mati demi melindungi kehormatan, Padahal Fatir akan melepaskan Damar jika dia meminta maaf dan mengatakan keberadaan Lestari.


"Guak... Bunuh aku, mati di tanganmu aku tidak lagi memiliki penyesalan..." Damar tersenyum kecut sambil melihat langit membentang luas.


"Berhenti!..." Kata - kata Pria kekar itu mengejukan Fatir sekaligus Damar.


Dari kejauhan seorang pria kekar berlari dengan tergesa - gesa kemudian berdiri di depan Fatir. Di belakangnya ada begitu banyak orang - orang gunung dari perguruan Macan putih.


Keberadaan mereka cukup tersembunyi dan tidak banyak orang dari luar gunung yang memahami dan mengetahui tentang keberadaan mereka.


Damar benar - benar tidak mengerti, dia menahan sakit di tubuhnya sambil berkata, "Ayah!..."


Setidaknya ada puluhan kultivator yang langsung mengelilingi Fatir. Mereka seperti menatap permusuhan kearah Fatir. Terutama ketika melihat kaki kanan Fatir berada di atas dada Damar.


"Tuan Gatra, pria ini melukai Tuan Damar dengan begitu parah!..."


"Benar, sepertinya dia tidak mengenal Perguruan Macan putih!..."


"Membuat masalah di kaki gunung Kawi, dia benar - benar memiliki nyali!..."


"Tuan Damar adalah pria muda yang kuat, pasti lawannya menggunakan trik tercelah!..."


"Hmph, kita harus membuatnya menyesal karena melukai tuan Damar!..."


Satu persatu diantara mereka melontarkan kebencian. Tentunya tindakan Fatir yang hampir membunuh Damar telah mereka anggap terlalu berlebihan. Ini benar - benar merusak dan memandang rendah. Perguruan Macan putih yang ada di kedalaman pegunungan Kawi.


Gatra menatap tajam kearah Fatir sambil berkata, "Nak, lebih baik hentikan apa yang kamu lakukan dan menyerahlah karena tidak ada tempat bagimu untuk pergi dari sini!..."


Suara pertarungan dan ledakan energi Qi tentunya telah menarik perhatian setiap orang yang ada di kedalam gunung Kawi. Dan ketika mereka melihat Damar yang bersimbah darah, mereka langsung terselimuti oleh kemarahan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2