
Sebelum melakukan perjalanan ke kota Malang, Fatir dan Lestari mempersiapkan segalanya yang tentunya sangat di butuhkan dalam perjalanan, dan ketika persiapan semuanya telah selesai, mereka langsung melakukan perjalanan tanpa penundaan lagi.
Perjalanan dari Jakarta ke kota Malang tentunya bukan hal mudah, terutama menggunakan mobil pribadi. Namun bukan masalah besar untuk Fatir yang memiliki kemampuan mengemudi yang begitu menakjubkan.
Tanpa adanya kemacetan jalan dan juga menggunakan jalan tol yang tentunya akan mempersingkat waktu perjalanan. Belum lagi dengan mobil yang memiliki kecepatan tinggi, setidaknya menempuh perjalanan kurang lebih selama 10 jam.
Tepat ketika sampai ke kota malang, Lestari langsung menghubungi nomor Silfi. Hanya saja jawaban Silfi cukup mengejutkan karena berniat membatalkan undangan Fatir ke tempatnya.
"Silfi, kamu tidak bercanda kan? Kita sudah ke kota malang, bagaimana mungkin kamu ingin membatalkannya?..." Lestari bertanya dengan tidak tenang.
Dia sudah melakukan perjalanan jauh dan menghabiskan waktu kurang dari 10 jam di dalam mobil. Setidaknya dia ingin mengistirahatkan tubuhnya. Belum lagi, kendaraan mobil sport tidak senyaman dengan yang terlihat.
Fatir yang masih mengemudi hanya menggelengkan kepala. Mungkin Silfi ingin membuat dirinya kesal karena kejadian terakhir kali. Sebenarnya Fatir tidak mempermasalahkannya, namun. dia merasa kasihan terhadap kakaknya.
"Dokter Tari, aku benar - benar minta maaf. Tetapi sudah ada seseorang yang akan menyembuhkan kakekku, dan mereka datang lebih awal dari aku sendiri. Dan mereka akan segera melakukan pembersihan rumah untuk kesembuhan kakekku..." Jawab Silfi dengan tidak percaya diri, dia juga malu karena sudah membuat kesepakatan namun harus membatalkannya.
Lestari terdiam di tempat, apa hubungan pembersihan rumah dengan penyakit yang bahkan tidak bisa di lihat melalui teknologi medis?
Fatir yang terdiam di tempat juga tidak memahaminya, dia hanya bisa memberikan dugaan, "Kakak ipar, mungkin saja pembantu rumah tangga mereka memiliki kemampuan medis yang luar biasa..."
"Tapi tetap saja, kita sudah datang. Mengapa tidak di suruh berkunjung dan membicarakannya dengan baik..." Kata Lestari dengan tertekan.
Silfi yang yang berada di sisi lain panggilan langsung menjawab, "Ok, Dokter Tari kalian bisa datang, namun tidak ada apapun yang bisa aku lakukan..."
"Tidak masalah, setidaknya kami harus tahu tentang siapa yang mengambil pekerjaan kami..." Jawab Lestari.
"Baik! Kalau begitu, kalian bisa datang ke alamat ini..." Silfi memberikan penjelasan tentang alamat kediaman kakeknya tinggal dan langsung mematikan ponselnya.
"Kakak ipar, kamu baik - baik saja?..." Tanya Fatir dengan santai, menurutnya. Jika harus pulang bukan masalah baginya, karena masih banyak orang yang membutuhkan bantuannya.
"Hmph! Aku benar - benar kesal dengan Silfi ini, sebelumnya dia meminta bantuan. Dan sekarang ingin membatalkannya begitu saja..." Kata Lestari dengan tidak bisa tenang.
__ADS_1
Jika itu orang lain, Lestari tidak akan menanggapinya sama sekali. Dia melakukan ini hanya ingin membuat koneksi dengan keluarga sasongko yang ada di belakangnya, namun sepertinya dia salah besar tentang mempercayai gadis muda ini.
"Kakak ipar, menurutku semuanya bukan sepenuhnya salah Silfi. Walaupun aku di awal sedikit memiliki perselisihan dengannya, namun aku tidak membencinya. Aku hanya berfikir, jika seseorang dari keluarga sasongko menemukan orang lain dan mempercayainya jika akan dapat menyembunyikan kondisi pasien..." Fatir hanya berpikir positif dalam perkataannya.
"Kamu ada benarnya!..." Lestari mengangguk kemudian menambahkan, "Kalau begitu ayo pergi ke tempatnya..."
Fatir langsung mengemudikan mobilnya lagi dan menuju ke kediaman keluarga sasongko.
_
_
_
Tidak butuh waktu lama untuk keduanya menuju ke kediaman keluarga sasongko. Walaupun sedikit bertanya - tanya kepada warga sekitar, setidaknya kediaman keluarga sasongko sangat mudah ditemukan.
Dari luar, hanya terlihat pagar besar dengan dinding tinggi yang mengelilingi rumah mewah tersebut. Di bagian depan terdapat taman, dan setidaknya luas halamannya cukup besar.
Fatir dan Lestari yang baru saja datang di sambut oleh Silfi dan seorang pelayan yang akan mengurus tempat tinggal mereka selama tinggal di kota Malang.
"Silfi, Siapa mereka?..." Tanya Seorang pria paruh baya dengan tatapan datar. Dia adalah Seno Sasongko sekaligus ayah dari Silfi.
"Ayah, mereka adalah Dokter Tari dan Kak Fatir. mereka baru saja datang dari jakarta..." Kata Silfi memperkenalkan mereka. Walaupun dia masih kesal dengan Fatir, namun dia harus memperlakukannya sebagai seorang tamu.
"Jadi mereka orang yang kamu katakan dapat mambantu kesembuhan kakekmu?..." Seno menggelengkan kepalanya, dia melihat Lestari dan Fatir yang terlihat muda. Menurutnya, mungkin Putrinya tidak tahu benar dan salah sehingga mudah tertipu.
"Ayah, Yang utama adalah kesembuhan kakek, setidaknya aku berusaha berbakti kepada orang tua..." Kata Silfi dengan tulus.
Fatir yang berdiri di sana, cukup terkejut dengan sikap Silfi. Itu karena wanita muda ini memiliki kepribadian yang berbeda dari saat mereka bertemu.
"Baiklah perlakukan mereka dengan baik, karena pembersihan rumah akan segera dilakukan! Ayah tidak ingin ada yang membuat masalah..." Seno menatap sejenak kemudian kembali untuk melakukan sesuatu.
Lestari tidak dapat lagi menahan pertanyaan yang sejak lama ingin dirinya tanyakan, yaitu tentang pembersihan rumah. "Silfi, bisakah kamu menjelaskan tentang pembersihan rumah? Kami tidak mengerti sama sekali..."
__ADS_1
"Huu! Aku juga tidak tahu pasti. Tetapi salah satu kenalan ayahku datang membawahkan solusi untuk kondisi kakekku. Dan ayahku lebih percaya mereka daripada perkataanku!..." Jawab Silfi dengan tidak berdaya. "Sedangkan pembersihan rumah itu menjadi salah satu proses, untuk kesembuhan kondisi kakekku..."
Lestari masih belum memahaminya karena dia cukup awam dengan hal yang satu ini, sedangkan Fatir dia mulai tercerahkan. Dia menghentikan Lestari dan bertanya, "Silfi, bisakah kami melihat proses pembersihan rumah yang ayahmu katakan?..."
Silfi menatap Fatir, dia masih menyimpan kekesalan sehingga dia berkata, "Hmph! Mengapa Kak Fatir ingin melihatnya?..."
Fatir menghela nafas dengan pelan, kemudian bertanya, "Kami hanya penasaran saja, benarkan kakak ipar?..." Kata Fatir sambil menarik Lestari dalam rencananya.
Lestari yang bingung hanya bisa menjawab, "Tentu saja, aku masih bertanya - tanya tenang pembersihan rumah yang tidak aku pahami ini..."
Silfi berpikir sejenak, kemudian berkata, "Baiklah, kalian bisa ikuti aku..."
Kemudian mereka pergi di mana pembersihan rumah dilakukan. Tempat itu di jaga ketat oleh beberapa orang mengenakan pakaian serba hitam.
"Berhenti, kalian tidak boleh melihat apapun yang ada di dalam!..." Kata pria berpakaian hitam itu dengan datar.
Bahkan jika Silfi menjadi bagian dari keluarga sasongko, namun tempat tersebut sedang dilangsungkan proses pembersihan rumah yang cukup sakral dan tidak boleh ada pengganggu.
"Kamu tidak tahu siapa aku? Menyingkir dan biarkan aku masuk kedalam..." Silfi berkata dengan dingin, dia merasakan sesuatu yang aneh ketika ayahnya melarang dirinya untuk melihat proses pembersihan rumah.
"Nona Silfi, kami minta maaf dan tolong pengertiannya agar pembersihan rumah terselesaikan lebih cepat!..." Pria berpakaian hitam itu menjelaskan.
Setidaknya ada lima pria berpakaian hitam menghalangi pintu rumah utama kediaman keluarga sasongko.
Fatir semakin yakin jika ada sesuatu yang di sembunyikan, dia berjalan dan berdiri di depan Silfi kemudian berkata, "Kami hanya ingin melihat saja. Mengapa kalian tidak membiarkan kami masuk?..."
Pria berpakaian hitam itu melihat Fatir kemudian menjelaskan, "Tuan sasongko telah sepakat untuk tidak ada orang luar yang melihat proses pembersihan rumah, sehingga kalian tidak boleh masuk..."
"Kalau begitu, aku akan memaksa untuk masuk..." Dengan senyuman dingin, Fatir berjalan dan hendak membuka pintu.
"Sialan... Kamu ingin menentang kami?..." Kelompok pria berpakaian hitam itu tidak tahan lagi berbicara kasar.
"Bagaimana jika iya?..." Fatir menjawab sambil memiringkan kepalanya.
__ADS_1
Bersambung...