Kehidupan Menantu Hebat

Kehidupan Menantu Hebat
68. Bertamu


__ADS_3


Waktu berlalu, Fatir masih melakukan perbincangan dengan Maya.


Walaupun Maya mulai menerima Fatir sebagai suaminya. Namun peningkatan hubungan tersebut memiliki tahapan yang harus melalui proses yang cukup memakan waktu.


Sampai Maya memutuskan untuk tinggal bersama, Fatir tidak akan memaksanya.


Ketika pulang, Keduanya berpisah di depan cafe yang menjadi tempat keduanya berbincang sebelumnya. Sayang sekali Fatir lupa menjelaskan tentang identitasnya sehingga pertemuan keduanya berlalu begitu saja.


Ketika Fatir berjalan untuk pulang ketempat apartemen miliknya. Dirinya bertemu dengan seorang kenalan, itu seorang pria tua yang biasanya bertemu dengan Fatir ketika dirinya membeli sayuran di pasar pagi.


"Nak Fatir, akhir - akhir ini aku tidak melihatmu lagi di pasar..." Kata Pak Jamono dengan tersenyum ramah. Jelas penilaian dirinya terhadap Fatir sangat tinggi.


"Haha... Pak Jamono, Aku lupa berpamitan. Sekarang aku tinggal di jakarta pusat di tempat baru, jadi untuk kedepannya kita tidak akan bertemu lagi di pasar..." Jawab Fatir dengan sopan.


Fatir beberapa kali mendapatkan diskon ketika membeli sayuran dari Pak Jamono. Walaupun hanya kenal sebatas penjual dan pembeli, namun keduanya cukup akrab mengingat sudah tiga tahun Fatir mengunjungi pasar yang sama.


"Pantas saja aku tidak melihatmu lagi, Ayo mampir ke rumah Nak Fatir..." Pak Jamono menawarkan kunjungan ke tempat tinggalnya yang sederhana kepada Fatir.


"Pak Jamono, ini sudah malam, takutnya akan merepotkan..." Jawab Fatir.


"Ayo datang jangan sungkan, dulu kamu sering berkunjung..." Kata Pak Jamono dengan membujuk.


"Baiklah, mungkin tidak akan lama mengingat ini sudah malam..." Jawab Fatir.


Karena Fatir sudah setuju untuk menjadi tamu di rumah Pak Jamono, Dia tentu saja tidak akan mengingkarinya. Tetap setia pada kata - katanya adalah bagian dari menjadi pria sejati.


Fatir berjalan di belakang Pak Jamono dan memasuki sebuah persimpangan yang mengarah ke tempat tinggal Pak Jamono. Keduanya berjalan kaki, Karena jaraknya tidak lama, mereka bisa dengan cepat sampai tanpa banyak usaha.

__ADS_1


Rumah tersebut berada di area perumahan tua di pinggiran kota jakarta, dikelilingi oleh warga sipil yang terlalu miskin untuk menyewa apartemen. Masyarakat yang tinggal di sini memiliki tempat tinggal yang cukup sederhana dan mencakup keseluruhan wilayah tersebut.


Setelah melewati beberapa rumah kecil, keduanya sudah bisa melihat tempat tinggal sederhana milik Pak Jamono. Fatir kemudian mengikutinya dan masuk ke rumah pintu kayu hijau yang sangat tua.


Segera ketika Fatir masuk, Di dalam ada wajah muda yang ceria, dia begitu bersemangat ketika melihat Fatir yang baru saja datang, "Bukannya ini Kak Fatir, lama sekali tidak pernah main ke rumah..."


"Yeni, lama tidak bertemu..." Sapa Fatir sambil tersenyum. Gadis di depannya telah banyak berubah sejak terakhir kali Fatir berkunjung, tentunya perubahan Yeni telah mengejutkannya.


Wajah Yeni masih elegan dan halus seperti biasa, dengan bulu mata indah, hidung kecil halus dan mulut mungil, khas gadis muda Indonesia.


Dia mengenakan kaos lengan pendek putih, dan celana pendek hitam yang ketat, yang memperlihatkan sepasang kaki putih yang indah.


Melihat mata Fatir menyapu ke atas dan ke bawah dengan senyum nakal, Yeni merasa malu, dia berpenampilan seperti itu hanya di dalam rumah saja. namun pada saat yang sama dia diam - diam merasa senang, mengingat orang yang melihatnya adalah Fatir.


Dia dengan tenang berkata, "Kak Fatir, berhenti menatapku lebih baik masuk ke dalam..."


"Kak Fatir, tolong jangan membicarakan tentang pacar, Aku tidak memilikinya..." Yeni segera membantahnya sambil mengerutkan alisnya dan terlihat sedikit tidak senang.


"Maaf, aku tidak tahu jika Yeni menjadi wanita yang tidak laku!...'' Fatir sedikit menggodanya.


"Hmph... Siapa bilang tidak laku, ada banyak pria yang menyatakan cinta mereka kepadaku tapi aku menolak mereka..." Bantah Yeni secara langsung dengan bangga. Namun dia tidak membual ataupun berbohong karena memang adanya seperti itu.


Wanita cantik, akan mengundang pria untuk datang dengan sendirinya. Itu seperti semut yang menemukan gula. Jika wanita cantik menginginkan seorang pacar, tentunya para pria akan mengantri untuk mendapatkan hatinya.


Namun cukup baik jika Yeni belum menemukan seorang pacar karena banyak pria yang hanya ingin enaknya saja. Contohnya seperti Fatir yang suka meniduri wanita cantik seenaknya.


Tunggu dulu mengapa memikirkan tentang diriku? pikir Fatir dengan tertekan.


Di dalam ruang tamu Pak Jamono melihat Fatir dan putrinya tersenyum senang. Andaikan keduanya bisa bersama pasti Pak Jamono akan lebih bahagia. Namun Fatir sudah menikah, dan yang kedua adalah alasan ekonomi.

__ADS_1


Tentunya Pak Jamono masih ingat dengan jelas jika Fatir seorang pria yang pengangguran dan hanya tinggal di rumah mertuanya. Dan pergi ke pasar untuk membeli sayur adalah salah satu tugas yang harus Fatir lakukan setiap pagi.


Pak Jamono dengan senang hati berkata, "Nak Fatir, ayo masuk tidak baik berbicara di depan pintu..."


"Yeni, jangan berdiri di sana, biarkan Nak Fatir masuk!..." Pak Jamono menambahkan.


"Ayah! aku mengerti, jadi jangan mengingatkan..." Yeni bertindak dengan malu - malu sebelum akhirnya berbalik dan membiarkan Fatir untuk duduk.


"Aku kira tamu agung dari mana, ternyata Nak Fatir..." Suara wanita tidak ramah terdengar, dan membuat suasana yang awalannya penuh dengan kehangatan telah menjadi begitu suram.


"Bibi senang bertemu denganmu..." Kata Fatir dengan sopan.


Sejak lama Fatir sudah memahaminya, jika istri Pak Jamono tidak menyukai dirinya, namun Fatir tidak mempermasalahkannya dan tetap bersikap dengan sopan, untuk menghargai niat baik Pak Jamono.


"Biarkan aku menebaknya, kamu pasti datang tanpa membawakan oleh - oleh apapun! Sungguh klasik..." Wanita gemuk itu menambahkan. Dia tidak menyembunyikan sifatnya yang tidak menyukai Fatir. Melainkan langsung memperlihatkannya dengan begitu jelas.


"Bibi, aku tidak sengaja bertemu dengan paman, jadi aku tidak membawakan apapun. Mungkin lain kali aku akan membawa sesuatu untuk semuanya..." Sekali lagi Fatir menjawab dengan sopan. Dia lupa dengan karakter istri Pak Jamono yang tidak menyukai dirinya.


"Hmph! Bisanya hanya janji saja..." Jawab Wanita gemuk itu dengan tidak puas.


"Fatir datang karena aku yang mengundangnya. Jadi jangan seperti itu..." Jawab Pak Jamono dengan malu kepada Fatir. Dia merasa tidak nyaman karena istrinya begitu berterus - terang dengan perkataannya.


"Yah, kalo mengundang tamu lihat - lihat dong. Anak kecil tahu mana pria yang punya uang dan mana yang tidak..." Kata Wanita gemuk itu dengan mencibir.


"Sudahlah jangan di bahas lagi. Lebih baik buatkan tamu kita kopi, teh atau minuman lainnya juga tidak masalah..." Kata Pak Jamono dengan menyuruh istrinya segera mengambil tindakan.


"Yah, harga gula naik lagi. Jadi tidak ada kopi atau minuman apapun di dapur..." Jelas wanita gemuk itu hanya membuat alasan agar tidak membuatku apapun untuk Fatir.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2