Kehidupan Menantu Hebat

Kehidupan Menantu Hebat
117. Fakta Yang Terungkapkan


__ADS_3


Kata - kata Fatir membuat siapapun yang mendengarkannya menjadi diam. Dia bisa merasakan kemarahan dari orang - orang yang ada di sekitarnya.


Kemarahan yang semua orang tunjukkan tentunya lebih besar di bandingkan dengan sebelumnya. Itu karena Identitas wanita itu tidak sederhana, dan siapapun yang berani menggodanya bisa berakhir dengan buruk.


Wanita itu mengerutkan keningnya tanpa perubahan ekspresi apapun di wajahnya. Biasanya dia akan marah ketika seseorang yang bukan suaminya menggoda dirinya. Namun entah mengapa wanita itu tidak marah sama sekali.


Selain itu ada kejutan di mata Wanita itu ketika dia melihat wajah Fatir. Entah mengapa penampilan Fatir mengingatkan dirinya terhadap sosok suaminya yang telah lama pergi. Dan dia lebih menyerupai putranya yang belum lama ini pergi ke kota jakarta.


Walaupun wanita itu tinggal di pedalaman gunung Kawi yang tidak memiliki peradaban modern. Namun dia sesekali pergi ke luar gunung Kawi untuk mengakses informasi dan lain sebagainya.


Wanita itu belum lama ini mendapatkan informasi yang tidak biasa. Yaitu ditemukannya putra suaminya yang lain dan dia tidak sakit seperti yang putranya alam. Wanita itu tanpa sadar menitihkan air mata hanya karena memikirkan nasib putranya yang tidak normal.


"Nona cantik, mengapa kamu menangis?..." Fatir menjadi bingung ketika wanita di depannya menangis, dia merasa memiliki penampilan yang baik dan tidak berfikir jika penampilan dirinya dapat menakuti wanita yang ada di depannya.


Fatir kembali menyalahkan dirinya, mungkinkah kata - katanya telah membuat wanita itu merasa sedih dan mengingat sesuatu?


Selain itu, Fatir mulai sadar jika tujuannya adalah untuk menyelamatkan Kakak iparnya, mengapa dia masih sempat - sempatnya menggoda wanita lain.


Gatra dan yang lainnya semakin marah ketika melihat wanita itu menetaskan air mata. Bahkan lebih marah ketika mengetahui Damar yang terluka. Meraka tentunya memahami kondisi wanita itu yang di tinggal suaminya cukup lama, dan mungkin kata - kata Fatir menjadi pemicu wanita itu menangis.


"Beraninya kamu membuatnya menangis!..."


"Benar, kamu harus menerima konsekuensinya..."


Satu persatu diantara mereka mengungkapkan pendapat dengan begitu kesal. Tidak ada dapat mereka perbuat ketika Wanita itu bersedih. Dan mereka akan ikut bersedih juga ketika wanita itu menangis.


Fatir mengerutkan keningnya dengan kesal, dia merasa jika diri tidak sedikitpun membuat wanita itu menangis. Namun sebelum perseteruan berlanjut suara wanita itu kembali terdengar.


"Hentikan kalian semua, dia adalah putra dari suamiku!..." Sambil mengusap air matanya yang mengalir di pipinya, wanita itu menjelaskan.

__ADS_1


"....." Semua orang sekali lagi terdiam, informasi tentang Fatir menjadi putra suami wanita itu tidak banyak di ketahui oleh orang - orang yang ada di perguruan macan putih.


Namun ketika kata - kata itu keluar dari mulut wanita itu, tidak ada lagi penolakan selain menyetujui. Selain itu, kekuatan Fatir benar - benar membuktikan jika dia layak menjadi putra orang itu.


"Namaku Wulan, apakah kamu masih ingin mengisi kekosongan di hati ini?..." Kata Wulan sambil tersenyum begitu indah.


Fatir terdiam membisu di tempat. Dia memang tahu jika ibu tirinya begitu banyak, namun siapa sangka ibu tirinya akan semuda ini. Selain itu, jika tidak salah mengingat. Wanita cantik di depannya adalah ibu yang melahirkan saudaranya sehingga benar - benar sulit di percaya.


Apakah wanita yang melahirkan anak dua puluh tahun silam akan terlihat semuda ini?


Mungkinkah ayahnya menikahi wanita itu ketika masih bayi?


Fatir hanya bisa mengakui jika Wulan benar - benar awet muda.


Selain cantik, sosok Wulan terlihat berusia awal dua puluhan sehingga di awal Fatir tanpa sadar tergoda terhadap kecantikan ibu tirinya tersebut.


"Maaf! aku benar - benar tidak tahu!..." Kata Fatir dengan nada bersalah. Dia juga meminta maaf kepada Gatra dan yang lainnya. Juga Damar yang hampir dibunuhnya.


Dengan terungkapnya fakta ini, Semua orang akhirnya bisa tersenyum. Damar juga mendapat perawatan langsung dan dengan teknik pengobatan dari Fatir, dia merasa lebih baik dari sebelumnya.


"Hahaha... Kamu benar - benar layak menjadi putranya!..." Kata Gatra dengan sangat bahagia. Begitu juga dengan yang lainnya, permusuhan di hati semua orang benar - benar sirna dan di gantikan dengan rasa hormat terhadap Fatir.


"Paman Gatra, aku benar - benar minta maaf karena melukaimu dan juga Damar!..." Kata Fatir dengan sungguh - sungguh.


Gatra menggeleng kemudian menatap Damar dan berkata, "Kamu tidak seharusnya meminta maaf seperti ini. Aku rasa putraku pasti melakukan tindakan bodoh lagi!..."


"Ayah! Ini bukan sepenuhnya salahku, Kesalahan ada pada Sugeng yang mengadu domba diriku dengan saudara Fatir..." Damar yang merasa baikan langsung berdiri dan menyangkal perkataan ayahnya.


Kemudian Damar menjelaskan kronologi kejadian yang sebenarnya. Dia bercerita bagaimana dirinya masih berhubungan dengan Sugeng dan kelompoknya hingga dia menargetkan Fatir.


"Saudara Fatir, aku benar - benar minta maaf..." Kata Damar dengan sungguh - sungguh.

__ADS_1


Berbicara tentang kebenarannya, Fatir langsung menanyakan keberadaan kakak iparnya. Damar tersenyum dan menjelaskan keberadaan Lestari beserta lokasi tepatnya.


Itu berlokasi tidak jauh dari tempat mereka berada. Tempat tersebut berada persimpangan jalan terakhir yang sebelumnya telah Fatir lalui ketika menuju kaki gunung Kawi.


"Saudara Fatir, Aku sangat yakin Nona Lestari baik - baik saja..." Kata Damar dengan menyakinkan, walaupun Sugeng telah mempermainkannya, namun dia begitu yakin Jika Sugeng tidak akan merugikan Lestari.


"Paman Gatra, akhirnya aku mengerti mengapa kamu memanggilnya sebagai putra Bodoh!..." Kata Fatir dengan menggeleng.


Mendengar ini, Damar menjadi panik.


"Walaupun sebentar, namun aku memahami karakter Sugeng ini. Dan dengan sifatnya itu, aku tidak sanggup membayangkan kerugian apa yang akan di alami Kakak iparku..." Fatir menambahkan dengan kesal.


"Bamm!..." Gatra yang kesal memukul putranya.


"Apa yang sudah kamu lakukan dasar Putra Bodoh, setelah ini semua selesai. Ayah akan memberikan hukuman berat..." Kata Gatra dengan mendengus dingin.


Damar yang merintih kesakitan hanya membungkuk dengan penyesalan di hatinya. Namun ketika suara Fatir terdengar lagi, dia hanya bisa terdiam.


"Paman Gatra, putramu bukan Bodoh. Hanya saja dia tidak pintar..." Kata Fatir dengan menenangkan pertengkaran mereka yang tidak penting.


Fatir tidak ingin membuang waktu lagi dan berpamitan untuk pergi menyelamatkan kakak iparnya.


"Nak Fatir, mengapa kamu tidak membiarkan Gatra dan yang lain untuk melakukan penyelamatan bersama!..." Wulan yang mendengarkan semuanya bertanya dan menawarkan bantuan dari pihaknya.


Lagi pula semuanya salah Damar yang mempercayai Sugeng sehingga masalahnya menjadi rumit. Sehingga Wulan ingin membuat orang - orangnya untuk bertanggung jawab.


Fatir menggeleng dan menjelaskan, "Mama Wulan, Aku tidak bisa tenang jika berdiam diri tanpa melakukan apapun. Cukup biarkan aku menanganinya dan aku akan menghubungi kalian semua setelah semuanya selesai!..."


"Baiklah jika itu keputusanmu!..." Wulan mengangguk dan begitu juga dengan semua orang yang ada di sana.


Tanpa penundaan, Fatir berbalik dan pergi dengan cepat dan menghilang di kejauhan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2