
Santika dan Samon tertawa sambil memberikan tatapan penghinaan di wajah mereka.
Maya yang melihat sikap keduanya hanya bisa menghela nafas. Dia tahu jika kondisinya akan menjadi seperti ini, namun dia tetap diam tanpa berbicara.
Fatir tidak jauh berbeda, dia terlalu malas untuk menjelaskan seberapa kaya dan seberapa banyak perusahaan yang dimilikinya. Selain itu semuanya milik keluarganya dan bukan milik dirinya secara mandiri.
Selain divisi baru pelayanan konseling, Fatir tidak menganggap perusahaan lainnya sebagai miliknya. Karena semuanya milik ayahnya sehingga dia tidak ingin membanggakan harta dan kekayaan orang tuanya.
"Tong... Ting... Tong..." Ponsel Fatir secara tiba - tiba berbunyi. Dia mengeluarkan ponsel murah miliknya dan menjawab panggilan tersebut.
"Halo..." Dalam panggilan tersebut, Mary ingin Fatir menghadiri sebuah acara pertemuan akbar.
"Maaf aku tidak dapat menghadiri pertemuan apapun karena aku sedang sibuk!..." Kata Fatir dengan cepat menolaknya, kemudian panggilan berakhir.
"Dari siapa?..." Tanya Maya dengan rasa ingin tahu.
Intuisinya mengatakan jika panggilan tersebut dari seorang wanita. Entah mengapa ada kewaspadaan di hatinya. Dia bertanya hanya untuk memastikannya. Berpikir jika suaminya menjadi simpanan tante - tante membuat Maya tidak senang.
"Dia, hanya kenalan dalam perusahaan..." Jawab Fatir.
"Benarkah hanya kenalan?..." Maya tidak puas dengan jawaban singkat Fatir.
"Tentu saja, lain kali aku akan mengenalmu kepadanya..." Fatir memiliki keringat dingin di dahinya. Dia membutuhkan keberanian yang luar biasa untuk memperkenalkan Pelakor terhadap istri sah.
Santika yang melihat ponsel murah di tangan Fatir merasa ingin tertawa dengan keras. Dia harus mengakui jika Maya lebih cantik darinya, sayangnya dia memiliki suami yang begitu miskin. Bahkan masih menggunakan ponsel yang tidak lebih dari satu juta.
Berfikir jika Fatir menjalankan perusahaan sukses, tentunya tidak mungkin. Pasti salah satu karyawan swasta yang menipu Maya hingga berakhir di dalam pernikahan.
__ADS_1
"Maya, kamu harus bersabar ya! Terkadang kenyataan tidak semanis impian..." Setelah mengatakan itu, Santika dan Samon pergi memasuki aula utama.
Melihat kepergian keduanya, Maya tanpa sadar melihat ponsel murah di tangan Fatir juga. Segera dia memahami maksud dari perkataan Santika sebelumnya, "Mengapa kamu tidak mengganti ponsel murah itu?..."
"Ponsel ini?!..." Segera Fatir memahami maksud dari pertanyaan istrinya. "Aku menggunakannya karena operasionalnya lebih mudah. Mungkin jika ada waktu luang aku akan menggantinya..."
"Katakan jika kamu tidak memiliki uang, aku bisa memberikan kamu uang untuk menggantinya..." Maya menambahkan.
Fatir tidak menyangka, Maya akan peduli berhadap dirinya. Dia berkata, "Tidak perlu, aku memiliki uang. Hanya saja tidak tahu bagaimana menghabiskannya..."
Perkataan Fatir akan membuat siapapun bingung, namun Maya memilih untuk mengabaikannya.
Saat ini keduanya memasuki aula pertemuan yang begitu mega dan indah. Banyak tokoh - tokoh pebisnis penting di dalamnya, semua orang saling menyapa dan tertawa. Anggur dan hidangan mewah disajikan dengan sangat melimpah. Jelas tidak sedikit uang untuk menyusun tempat aula pertemuan.
Fatir mengikuti Maya dari belakang, dia masih tanpa kepedulian di wajahnya. Tanpa di duga tempat kosong berada di dekat Santika dan Samon. Hal ini membuat Maya tidak memiliki pilihan lain selain duduk dekat dengan mereka.
"Ini adalah tempat tersisa yang bisa kami tempati, Apakah ada masalah?..." Maya berkata dengan nada sedikit tinggi.
"Kamu!..." Santika tidak bisa berkata - kata. Dia tidak menyangka Maya akan berbicara dengan lantang.
"Sudahlah sayang, biarkan mereka duduk. Seseorang yang memiliki mata tidak akan salah mengenali seseorang yang pantas mendapatkan waktu luang mereka..." Perkataan Samon begitu halus. Namun ada duri di balik perkataannya. Itu mengartikan walaupun Fatir dan Maya duduk di dekat mereka, orang yang lain dapat melihat siapa yang pantas mereka jadikan kawan dan tidak.
Hanya saja orang lain tidak mengetahui identitas Fatir yang sebenarnya, jika tidak. Aula pertemuan itu akan menjadi kekacauan dan akan banyak orang yang ingin mengenalnya.
Sayangnya Fatir terlalu malas berdebat, sehingga dia memilih untuk berdiam diri saja. Tapi tidak dengan Maya yang dari awal sudah menahan diri.
Namun inilah kebenarannya, dia hanya pendatang baru di dunia bisnis. Selain itu ini pertama kalinya dia menghadiri acara akbar yang di penuhi oleh tokoh - tokoh pebisnis penting.
Awalnya Maya hanya berharap mendapatkan beberapa koneksi untuk membuat mitra bisnis baru. Namun dia harus bertemu dengan Santika yang jelas - jelas keduanya memiliki persaingan.
__ADS_1
Waktu berlalu, puncak acara berakhir begitu saja. Banyak tokoh penting yang mulai bermunculan dan memperkenalkan diri mereka dalam percakapan yang bahagia.
Santika dan Samon bahkan sudah mendapatkan koneksi dengan beberapa pebisnis ternama. Keduanya tidak kehilangan senyum di wajah mereka, sangat berbanding terbalik dengan kondisi Maya yang hingga kini tidak mendapatkan satu koneksipun dari orang - orang di sekitarnya.
"Sepertinya kalian berdua memiliki kesulitan..." Santika Menyeringai dengan menuangkan minuman anggur di mulutnya.
Samon tidak jauh berbeda, dia menatap keduanya dengan tertawa. "Nona Maya, sebenarnya kamu bisa saja mendapatkan koneksi dari beberapa pebisnis besar lainnya..."
Santika awalnya tidak puas ketika kekasihnya menyapa wanita lain. Terutama jika wanita tersebut adalah Maya, Tapi segera dia memahami niatan kekasihnya tersebut. Dia segera berkata, "Itu benar. Yang membuatmu kurang beruntung karena keberadaan suamimu, jika kamu datang sendiri mungkin beberapa pebisnis besar akan melirikmu dan mereka akan tertarik untuk tidur denganmu..."
Tepat setelah kata - kata tersebut, Aura mengerikan memancar dari tubuh Fatir. Santika dan Samon kesulitan untuk berbicara, keduanya seperti berada di bawah keberadaan mahluk tertinggi.
Fatir melihat keduanya dengan dingin dan berkata, "Aku diam bukan berarti aku bisu. Aku membiarkan kalian berdua terus berbicara, bukan berarti aku tuli. Apakah kamu percaya jika aku dapat membuat perusahanmu bangkrut hanya dalam waktu singkat?..."
Keduanya kesulitan bernafas dan keringat dingin mengalir di punggung mereka. Segera banyak pasang mata mengarak ke tempat duduk Fatir, Maya dan keduanya.
Semua tamu undangan terdiam karena aura mengerikan tersebut. Mereka semua bertanya - tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Fatir, kamu harus tenang Ok?!..." Maya berkata dengan tergagap. Dia tidak pernah tahu dengan kepribadian Fatir yang satu ini.
Segera Fatir menghentikan aura penindasan yang menyelimuti aula pertemuan. Banyak tamu undangan mulai menebak - nebak tentang identitas Fatir.
Di tempat duduk VVIP, seorang wanita tersenyum kearah Fatir. Dia tidak menyangka akan bertemu Fatir di acara pertemuan. Dia melihat wanita lain yang duduk di dekatnya dan berkata, "Mary, kamu bilang Fatir tidak akan datang. Mengapa dia duduk di kelas rendah?..."
"Nyonya Ningsih, aku bersalah..." Mary berkata dengan penyesalan. Tapi dalam hatinya dia kesal terhadap Fatir. Sebelumnya dia menelpon Fatir untuk memintanya datang di acara pertemuan akbar. Tapi Fatir menolaknya begitu saja.
Sekarang dia melihat Fatir duduk di kejauhan. Bagaimana Mary akan menjelaskannya kepada Ningsih yang duduk di dekatnya?
Bersambung...
__ADS_1