KEKASIH HALAL CEO TAMPAN S3

KEKASIH HALAL CEO TAMPAN S3
Bisikan Papa Mertua


__ADS_3

Nada dan Arsyad duduk di meja yang berada di pinggir. Dinding kaca itu membuatnya mampu melihat pemandangan di luar Bandara yang sangat indah.


"Kamu mau yang mana? " Tanya Arsayd.


"Ehmmm, sama in saja sama mas." Jawab Nada.


Setelah memesan, Arsyad pun menatap Nada tanpa menoleh.


"Nad? " Panggil Arsyad.


"Iya," Jawab Nada gugup. Iya menundukkan kepalanya.


"Boleh aku tanya sesuatu? " Tanya Atlrsyad yang saat ini memandang instens ke arah istrinya.


"Boleh mas. Akan Nada jawab kalau Nada bisa." Ucap Nada.


"Kenapa kamu nunduk terus? Gimana caranya aku mau tanya kalau kamu ngga mau natap aku? " tanya Arsyad. Nada pun mengangkat kepalanya karena dagunya di sentuh oleh Arsyad.


"Gitu dong. Aku ngga bakal melotoin kamu kalau kamu natap aku sayang." Kata Arsyad tersenyum. Nada merasakan darahnya mengalir lebih cepat dari keadaan normal. Iya memaksakan senyumnya.


"Permisi, ini pesanan anda." Seorang pelayan datang dengan mmebawakan 2 cup cofee yang di pesan oleh Arsyad tadi.


"Terima kasih." Ucap Arsyad. Iya melepaskan tangannya di dagu gadis pujaan hatinya itu.


"Ayo di minum dulu! Biar gak grogi! " Ucap Arsyad dengan menggeser 1 cup kopi dan mendekatkan ke arah Nada. Iya tersenyum penuh arti. Arsyad sangat tahu bagaimana gadis cantik di depannya itu begitu gemetaran. Arsyad sebenarnya juga seperti itu. Tapi sebagai lelaki, iya mampu menutupi semua kegundahan dengan sikap wibawanya.


Setelah acara ngopi untuk menghilangkan rasa ngantuknya, Arsyad dan Nada saat ini sudah berada di dalam taksi perjalanan pulang.

__ADS_1


"Nad, tadi aku mau tanya gak jadi. Sekarnag masih boleh tanya ngga? " tanya Arsyad saat ia baru masuk ke dalam mobil taksi yang dipesannya secara online.


"Boleh," jawab nada dengan suara pelan. kok bisa dipungkiri, iya benar-benar canggung berada di dekat suaminya sendiri.


"Kenapa kamu mau nerima aku jadi suami? " Tanya Arsyad.


"Hmmm.. Anu, huummm... Aku juga belum tahu kenapa." Jawab Nada gugup.


"Apa kamu... Juga sudah mencintai aku? " Tanya Arsyad terang-terangan.


"Maaf mas, mungkin aku ngga bisa jawab ini sekarang." Jawab Nada memalingkan wajahnya. Tiba-tiba saja tangab kekar Arsyad menyentuh pipi Nada. Setelah kulit dengan kulit itu bersentuhan, Arsyad sedikit menarik wajah Nada dan menghadapkan ke wajahnyan. Di tatapnya mata yang saat ini mencoba untuk menghindari pandangannya.


"Mas, ada orang lain selain kita." nada langsung melepaskan tangan Arsyad yang menyentuh pipinya. Arsyad hanya tersenyun menatap sikap Nada yang saat ini benar-benar pendiam. Tidak seperti biasanya.


"Tidurlah! Perjalanan masih memakan waktu sekitar 1,5 jam lagi. Nanti kamu lelah." Arsyad meletakkan tangannya di pundak kanan sang istri lalu menariknya untuk bersandar ke pundaknya. Seakan memaksa Nada untuk menjadikannya sandaran.


Pov Arsyida.


"Arsyad modus deh mah kayanya." kata Arsyi kepada mamanya.


"Yang penting mereka sudah halal. Mama udah ngga khawatir lagi." Jawab Hana.


"Tapi Nada masih sekolah mah, kalau sampai Arsyad menuntut Nada untuk memenuhi kewajibannya sebagai istri bagaimana? " Tanya Arsyi lagi.


"Arsyad pasti sudah memikirkan hal-hal seperti itu, kenapa kamu jadi yang pusing sih yang? " Ucap Haidar sambil menatap putrinya.


"Hehe... Kasihan kalau sampai Nada ngga sampai lulus terus dia udah di titipin calon cucunya mama sama Arsyad." Jawab Arsyida sambil berbisik.

__ADS_1


"Jangan membicarakan hal seperti itu. Ngga sopan." Tiba-tiba saja Daffa berkata dengan tegas.


"Maaf pa." Ucap Arsyi. Mereka pun hening setelah Daffa menyuruh istri, anak serta menantunya untuk istirahat.


Setibanya di rumah Daffa, Arsyad dan Arsyida langsung masuk.


"Mah, Haidar izin bawa Arsyi pulang ya? " Ucap Haidar saat masih berada di halaman rumah.


""Ngga mampir dulu." Kata Hana.


"Sepertinya Arsyi capek banget mah, ini aja mobil berhenti dia ngga bangun." Jawab Haidar.


"Iya sudah... Jaga dia baik-baik." Pesan Hana kepada menantunya.


"Iya mah. Haidar pulang dulu ya." Kata Haidar sembari masuk ke dalam Mobil lagi.


"Haidar," Panggil Daffa saat mobil akan melaju, Hana kembaki menoleh ke arah suaminya yang memanggil Haidar. Terlihat Daffa berjalan mendekati mobil.


"Iya pah," Jawab Haidar.


"Sini! " Daffa melambaikan tangannya memberi isyarat kepada sang menantu untuk mendekat. Karena Haidar ada di dalam mobil, iya hanya mencondongkan kepalanya saja.


"Siapkan tenagamu untuk menghabiskan malam ini. Jangan bikin malu kaum adam." Bisik Daffa sangat pelan yang hanya bisa di dengar oleh Haidar saja. Iya langsung tersenyum dan menunduk. Merasa sedikit canggung dengan ucapan mertua sekaligus ayah angkatnya itu.


"Sudah sana pulang! " Kata Daffa. Akhirnya Daffa meninggalkan Haidar yang masih melongo di dalam mobil.


"Kamu tadi bisiki Haidar apa? " Tanya Hana. Dan ini masih bisa di dengar oleh Haidar.

__ADS_1


"Duh, papa kenapa sih pakai ngomong kaya gitu segala. Kalau mama tahu pasti malu-maluin." Gumam Haidar dalam hati. Iya menelan ludahnya dengan kesusahan. Membayangkan betapa malunya dia jika sang mama mertua di kasih tahu apa yang din katakan oleh papa mertuanya tadi. Rasanya ingin sekali Haidar menutup kepalanya dengan kantong kresek merah berukuran jumbo. Iya tak tahu harus berbuat apa kalau nanti bertemu dengan mertuanya itu.


__ADS_2