
"Maafkan kami karena datang terlambat nona." tiba-tiba seseorang yang datang tadi langsung membungkuk dan meminta maaf kepada Nada. Hana awalnya terkejut, iya sedikit heran. Tapi sesaat kemudian iya teringat bagaimana menantunya.
"Tidak apa-apa. Alhamdulillah kita baik-baik saja." jawab Nada.
"Sekarang bawa mereka ke markas! Pastikan melakukan semuanya dengan baik. Kalau sampai Mereka tahu siapa aku, aku ngga akan bisa tenang." Ucap Nada berbisik. Iya tidak ingin pembicaraannya di dengar orang lain.
"Jangan khawatir." Setelah itu, orang tersebut langsung berbalik. Iya langsung menatap tajam tiga orang yang sudah berani menghadang orang yang di kawalnya.
"Cepat bawa dia." kata orang tadi. Dengan cepat mereka membawa orang-orang tersebut.
"Nada, kamu ngga apa-apa kan sayang? " tanya Hana.
"Ngga mah. Kita masuk mobil dulu." kata Nada sambil meraih lengan sang mama mertua dan langsung menariknya ke dalam mobil. Iya harus memastikan kalau orang-orang tadi bukanlah suruhan salah satu mafia yang sudah mengetahui identitas Nada.
"Mama ngga apa-apa kan? " tanya Nada dengan khawatir.
"Mama baik-baik saja. Tapi... Siapa mereka yang membantu mama tadi? " tanya Hana dengan penasaran.
"Mereka pengawalmu? " tanya Hana lagi, Nada pun mengangguk.
"Untung mereka datang tepat waktu. Kalau tidak, kita... Kita pasti kenapa-kenapa." kata Nada.
"Insya Allah mereka akan selalu ada mah. Mereka sudah berjanji sama Nada akan selalu menjadi pengawal kemana pun Nada pergi.
"Alhamdulillah..." jawab Hana.
"Bapak gimana? " tanya Nada.
"Baik non. Hanya sedikit kaget saja tadi." jawab sopir Hana.
"Iya pak. Bapak jangan takut lagi ya." kata Nada lagi.
"Oh iya Nada. Kira-kira mereka yang menghadang kita tadi suruhan siapa ya? Suruhan orang-orang dari pesaing bisnis papamu atau dari..." Hana tak melanjutkan pertanyannya. Iya yakin menantunya itu paham apa yang di maksudnya.
__ADS_1
"Nada belum tahu ma. Sebentar lagi pasti mereka akan ngasih informasi sama Nada. Mama tenang dulu ya." kata Nada. Pasalnya iya sendiri juga khawatir dengan keadaan diri ke depannya.
"Kita ini lanjut kemana nyonya? " Tanya Sopir.
"Kita ke taman terlebih dahulu pak. Istirahat dulu di sana." kata Mada smabil menunjuk taman yang tidak jauh dari sana.
"Baik non."
"Sebelum ada informasi masuk, kita ngga bisa langsung ke rumah Nada ma. Nada takut kalau sampai ada yang masih mengikuti." kata Nada sambil menatap Hana.
"Iya, mama paham. Bagaimana baiknya saja." jawab Hana.
Tak lama setelah itu, Nada dan Hana sudah berada di taman. Iya segera duduk di sebuah gazebo lalu mengeluarkan ponselnya. Nada langsung menghubungi seseorang.
"Bagaimana? " tanya Nada setelah panggilannya terangkat.
"Mereka belum mau buka suara nona." jawab seseorang di seberang telepon.
"Oke, lakukan dengan baik. Dan pastikan mereka tidak tahu siapa aku." kata Nada sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Memastikan tidak ada orang yang mengawasinya. Sebagai abdi negara yang di incar banyak musuh di dunia maya, Nada takut kalau misalnya ada salah satu dari musuh yang sudah mengetahui identitasnya di dunia nyata. Maka dia harus lebih berhati-hati lagi.
"Kamu ngga apa-apa? " tanya Arsyad saat Nada sudah menggeser layar ponselnya.
"Ngga... Aku sama mama baik-baik saja." jawab Nada.
"Ke kantor saja. Aku harus memastikan kalian baik-baik saja." kata Arsyad.
"Aku masih nunggu info mas. Aku ngga bisa kemana-mana kalau sedang tidak jelas seperti ini. Aku ngga bisa membahayakan siapapun. Nanti Nada kabari kalau sudah dapat info." Jelas Nada kepada suaminya. Iya berharap Arsyad akan bisa memahaminya.
"Iya aku paham. Yang penting kalian hati-hati." jawab Arsyad. Iya mengerti karena tadi Hana sudah memberitahunya lewat pesan Hijau. Meskipun ke khawatiran menghinggapinya hingga iya tak fokus pada kerjaan.
"Jangan khawatir nona. Saya sudah di sini." Setelah beberapa saat menunggu, Nada di kejutkan dengan pengawal yang tadi membantunya. Tiba-tiba saja iya sudah berada di sana dengan berdandan sebagai pengemis.
"Kamu..." kata Nada sambil berbisik.
__ADS_1
"Mereka sudah mengakui. Informasi sudah berada di ponsel anda." Kata pengawal rahasia Nada yang di tugaskan oleh tuan Voltus untuk menjaga dirinya. Nada bersikap tenang karena takut ada yang mengawasi. Iya pun berpura-pura mencari sesuatu di dalam tasnya. Setelah mendapatkan, iya segera meletakkan uang di dalam kantong plastik bekas yang di pegang orang tadi.
"Terima Kasih." kata Nada pelan sambil tersenyum. Setelah orang tadi mengangguk, iya segera pergi menjauh dari hadapan Nada.
"Mama, ayo kita ke mobil!" ajak Nada. Hana yang mendengar pembicaraan Nada dan orang tadi segera mengangguk.
"Bagaimana sayang? " tanya Hana saat mereka sudah duduk di dalam.mobil.
"Ini mah." Nada membuka pesan yang di kirimkan pengawalnya tadi.
"Mereka adalah suruhan seseorang untuk menculik nyonya Hana. Suruhan dari perusahaan Endiro." Hana dan Nada membaca pesan tersebut dalam hati.
"Endiro? Lagi-lagi mereka. Selalu saja mencari celah kalau aku sedang bepergian sendiri." gumam Hana pelan. Sehingga hanya Nada yang mendengarnya.
"Kita kemana lagi nyonya? " tanya pak sopir.
"Kita ke rumah Nada dulu mah. Nada harus mengambil beberapa peralatan." kata Nada.
"Terlalu berbahaya kalau sampai mereka tahu kamu adalah menantu keluarga utama sayang. Apa kita tidak bisa menyuruh orang lain untuk mengambilkan? " tanya Hana. Iya merasa was-was kalau sampai ada yang tahu keberadaan Nada yang kini menjadi menantunya.
"Mama tenang saja. Jangan terlalu khawatir. Nada sudah biasa menghadapi hal semacam ini. Mama ke perusahaan terlebih dahulu ya. Biar Nada cari taxi online. Nada janji nanti bakal langsung nyusul mama." kata Nada.
"Ngga akan sayang. Mama ngga akan ngebiarin kamu sendirian. Kita ke rumahmu bersama-sama." kata Hana.
"Iya mah. Kalau gitu kita ke rumah dulu ya pak." kata Nada.
Saat ini, Nada dan Hana sudah berada di dekat rumah Nada. Mereka berhenti di pinggir jalan.
"Mah, Nada mau ngecek terlebih dahulu ya." Kata Nada sambil mengeluarkan ponselnya. Dilihat secara rinci setiap aktivitas cctv yang berada di rumahnya. Juga yang berada tidak jauh dari tempatnya berhenti saat ini.
"Insya Allah aman mah. Kita bisa ke sana sekarang." kata Nada setelah selesai memeriksa keadaan. Begitu sampai di dalam rumah. Nada langsung menuju ke dalam kamar dan mengambil beberapa peralatan kerjanya. Sebagai seorang abdi negara, iya tidak boleh lengah sedikitpun.
"Sudah mah. Kita mau di sini saja atau ke kantor mas Arsyad? " tanya Nada sambil menggendong tas sekolah yang berisi laptop dan yang lain.
__ADS_1
"Kita ke kantor. Papa sama Arsyad mengkhawatirkan kita." kata Hana. Nada pun mengangguk. Mereka segera keluar dari rumah. Dan di saat yang bersamaan, mereka mendengar seseorang yang memanggil. Dan di saat menoleh, Nada terkejut melihat orang tersebut.