
"Kamu belum tahu ya? Tanda merah yang menyala redup ini kan pertanda apa yang kita cari ada di sana. Kita coba saja telusuri sekali lagi pakai fitur pelacak." Kata Arsyad. Nada masih terus memperhatikan. Vian dan Ardi pun menghentikan aktivitasnya.
"Mas, serius? " Tanya Nada dengan bingung.
"Kita lihat ya." Kata Arsyad. Iya menggerakkan tangannya menindih tangan Nada di atas mouse.
"Coba gerakin ke sini. Kita klik kanan, lalu option. Nanti akan muncul beberapa pilihan. Kita klik yang ini. Nah, kita tinggal nunggu aja hasil yang akan di tampilkan." Arsyad menjelaskan panjang lebar.
"Ini fitur baru? " Tanya Nada.
"Bukan, ini tuh emang informasi tersembunyi. Emangnya kamu ngartiin gimana indikator merah redup? " Tanyq Arsyad balik.
"Berarti ga ada informasi." Kata Nada.
"Ck, sayang... Dari indikator ini malah ada informasi penting. Lihat nih." Arsyad menunjuk. Iya langsung memperbesar gambar yang ada di layar monitor. Ini, kamu bisa lihat titik mana saja yang mereka lewati. Nada, Vian dan Ardi melongo. Mulut dan matanya terbuka membentuk huruf O mendengar penjelsan dari Arsyad.
"Mas, bisa jelasin kenapa kok kalau misalnya ada titik yang benar-benar penting lampunya harus redup? " tanya Nada.
Kamu tahu kan mereka juga punya sistem untuk melindungi keamanan organisasinya,dan indikator lampu yang menyala redup itu adalah untuk menecoh pelacak seperti kamu." jelas Arsyad.
"Jadi selama ini kita selalu membuang waktu ya." Kata Ardi.
"Bener banget, Seneng banget rasanya ada ilmu baru. Pernikahan tuan muda dan Nada benar-benar membawa berkah." Sambung Vian.Nada yang mendengar ini pun merasa tersipu. Iya hanya bisa menundukkan kepalanya. Iya tak menyangka kalau ternyata suaminya juga lihai memainkan system.
"Mas Arsyad belajar dari siapa? " Tanya Nada.
"Kamunggak tahu ya kalau mama benar-benar handal dalam hal ini. Mama dulu kuliahnya di London, kalau ngga salah mama di ajari sama temannya yang bernama om Smith." Jawab Arsyad.
"Keren banget... Mau dong kuliah di London." Gumam Nada tanpa sadar.
__ADS_1
"Ngga perlu kuliah jauh-jauh. Di sini saja." Jawab Arsyad sambil mengecup pipi Nada di depan Vian dan Ardi.
"Mas, kok gitu sih." Protes Nada.
"Kenapa sayang? " Tanya Arsyad.
"Ada orang lain di sini." Jawab Nada.
"Kalian pengen? Nikah sana biar tau rasanya enak." Jawab Arsyad asal.
"Mas Arsyad asal deh ngomongnya. malu dikit napa Mas." kata Nada memprotes sikap Arsyad yang begitu tidak sopan menurutnya.
"Kenapa sih? Apa salahn Kita sudah suami istri, dan ini juga rumah mu sendiri. Kalau mereka pengen itu urusan mereka." Kata Arsyad.
"Iya tuan muda, ngga apa-apa." Kata Ardi sambil tersenyum. Vian ikut tersenyum.
Mereka pun menyelesaikan tugas keamanan dengan berbekal ilmu baru dari Arsyad. Tiba-tiba, ponsel Arsyad berdering. Iya segera mengambil ponsel dan melihat Siapa yang menghubunginya. ternyata adalah Daffa.
"Cepat ke kantor, akan ada meeting satu jam lagi." Kata Daffa.
"Iya pah." Jawab Arsyad. Setelah ponsel di matikan, iya memandang ke arah Nada.
"Nad, aku mau ke kantor dulu. Ada meeting." kata Arsyad.
"Iya mas, hati-hati." jawab Nada sambil terus fokus kepada layar monitor di depannya. ia tidak menoleh sama sekali.
"Oke Mas mau siap-siap dulu." Kata Arsyad sambil bangkit dari duduknya.
Arsyad kembali ke ruangan di mana Nada dan rekan kerjanya berada.
__ADS_1
"Nada, ikut aku ke kantor ya! " Kata Arsyad tiba-tiba. Nada yang mendengar itu pun langsung menoleh.
"Mas, kerjaan aku belum selesai. aku nggak mungkin ikut ke kantor sama kamu. Lagian di sana juga aku mau ngapain." kata Nada mencoba menolak. karena tidak mungkin ia meninggalkan pekerjaannya dan ikut Arsyad ke kantor.
"Sayang, kamu fikir aku akan membiarkan kamu bersama dengan laki-laki lain sementara aku nggak ada." kata Arsyad menatap istrinya dengan tajam.
"Tapi kerjaan kita belum selesai Mas." Nada benar-benar merasa tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.
"Vian, Ardi, kalian berdua selesaikan ya. aku tidak menerima penolakan. aku juga tidak mau istriku ada sama kalian sementara aku tidak ada di rumah." Arsyad pun berkata dengan tegas kepada dua lelaki yang saat ini menjadi rekan kerja Nada.
"Nad, mendingan kamu ikut sama Tuan Arsyad. Kita bakal di sini. Kamu tenang aja, kita bakal selesaikan pekerjaan ini. kamu jangan khawatir." kata Vian saat mendengar suara Arsyad yang begitu tegas. karena tadi Arsyad sudah membantunya, Iya tidak mau membuat tuan muda itu merasa marah karena istrinya menolak diajak ke kantor.
"Beneran bang? " Tanya Nada.
"Iya, udah sana." Ardi pun segera menyuruh Nada untuk pergi dari rumahnya.
"Rumah kamu aman." Kata Vian.
Akhirnya dengan langkah gontai, Nada bergegas masuk ke dalam kamar dan berganti baju. Saat iya sedang ada di depan lemari, pintu kamarnya terbuka. Sang suami masuk dengan sudah menggunakan setelan jasnya.
"Waaahh, mas Arsyad. Kenapa masuk ngga bilang-bilang sih? " kata Nada.
"Apa salahnya? " Tanya Arsyad.
"Kan aku mau ganti baju." Jawab Nada lagi.
"Emangnya kalau kamu mau ganti baju kenapa? " Arsyad bertanya dengan mata yang menatap ke arah istrinya tanpa berkedip.
"Eeh... Ngga apa-apa. Iya ngga apa-apa." Nada bebar-benar merasa cangfung kali ini.
__ADS_1
"Bahkan, kalau aku minta sesuatu pun, kamu tidak boleh menolaknya sayang..." Arsyad berjalan perlahan ke arah Nada dengan senyum smirk di wajahnya. Nada sendiri sudah kalang kabut menyaksikan Arsyad yang semakin dekat.