
"Arsyad, sudah jam segini belum juga pulang." Gumam Hana merasa khawatir.
"Sayang, mereka itu pasangan halal, kenapa harus merisaukan keberadaan mereka." jawab Daffa yang terlihat tenang-tenang saja.
"Papa ini, tahu kan kalau Nada masih sekolah. Mama ngga mau masa depan Nada putus." Jawab Hana.
"Papa yakin kalau Arsyad akan bisa berfikir sampai di sana. Jadi lebih baik kota tidur karena papa merasa sangat lelah." Daffa menarik Hana untuk segera berbaring.
"Jangan berfikir yang aneh-aneh. Arsyad sudah tahu mana yang baik dan mana yang tidak. Ayo tidur! " Kata Daffa. Akhirnya Hana pun menurut, iya merasa tenang setelah suaminya berkata seperti itu.
Di kediaman Mandala.
Di sebuah ruang tenag rumah Mandala, Haidar dan Arsyi masih duduk di atas sofa. Beserta beberapa pelayan yang masih terjaga untuk menyambut kedatangan tuan dan nyonya mudanya.
"Kalian bileh istirahat, aku masih ingin di sini." Kata Haidar menyuruh mereka untuk beristirahat karena ini sudah jam 10 lebih.
"Baik tuan." Jawab seorang pelayan. Mereka meninggalkan Haidar dan Arsyida berdua di ruang tengah itu.
"Ayo kita juga istirahat! " Kata Haidar. Arsyida pun mengangguk.
Pagi menjelang setelah suara ayam berkokok bersahut-sahutan.
__ADS_1
"Ah, iya... Aku lupa kalau semalam dia tidur di sini." Kata Nada memandang wajah tampan suaminya yang sedang tidur tersebut. Iya tidak percaya dengan pagi ini, saat bangun ada seseorang yang berada di sampingnya. Perasaan takut yang semalam masih ada. Membuat Nada kembali berdebar. Tapi senyum di bibirnya terlalu lebar untuk di katakan kalau dirinya sedang tertekan.
"Bangunlah, sudah hampir subuh." Gumam Nada. Iya pelan-pelan menuruni tempat tidur. Takut Arsyad akan terbangun dan akan membuatnya kembali senam jantung.
Nada segera menuju ke kamar mandi di dapur. Setelah masuk, iya mengguyur tubuhnya dengan air. Terasa segar dan nyaman. Ini dalah kebiasaan Nada selama ini. Tinggal sendiri membuatnya menjadi sosok yang mandiri dan dewasa. setelah mandi, sambil menunggu subuh, Nada mencuci beras untuk sarapan nanti. Karena ini adalah hari libur, membuatnya sangat tenang, tidak seperti biasanya.
"Beres... Lihat dulu di kulkas ada bahan apa aja." Nada pun membuka kulkas, di lihatnya ada beberapa sayuran hijau, telur, sosis, ayam dan yang lain.
"Masih banyak." Gumam Nada. Iya mengeluarkan beberapa sayuran. Saat itu pula, terdengar suara adzan bergema. Nada segera meninggalkan dapur menuju ke ruang sholat. Iya tak ingin mmebangunkan Arsyad karena tak ingin si Shock terapi lagi.
"Numis sawi, ayam, sama jamur aja lah. Semoga aja nanti Arsyad mau." Gumam Nada sendirian. Ia pun memulai mengiris sawi hijau yang terlihat masih segar tersebut. dengan cekatan nada mempersiapkan semua bahan yang akan dimasaknya. hampir setengah jam melakukan pekerjaan rumah tangga itu, kini nada sudah siap untuk menumis. dia menyalakan kompor setelah menaruh sebuah wajan teflon di atasnya.
"Hemmm, selain cantik ternyata istriku pandai memasak. Ngga salah aku nikahi dia secepat ini." Gumam seorang lelaki yang baru saja keluar dari kamar. Iya berjalan mrnuju ke dapur dan melihat istrinya yang sedang sibuk berkutat dengan aktivitasnya. Arsyad mendekat dan berdiri tepat di belakang Nada. Dan saat ini, hampir tak ada jarak di antara keduanya.
""Mas... Ars... Arsyad. Kok sudah bangun." Kata Nada dengan gugup. Pasalnya, Arsyad kembali meletakkan kedua tangannya yang kekar itu di perut Nada. Membuat Nada merasakan gelenyar aneh di tubuhnya.
"Kenapa kamu ngga bangunin aku sayang? " Kata Arsyad sambil berbisik di belakang telinga Nada, membuat gadis itu merasa meremang.
"Mas, lepasin dulu, aku mau nerusin masak. Nanti gosong." Kata Nada mencoba melepaskan tangan Arsyad dari tubuhnya.
"Karena kamu bilang lepasin dulu, berarti nanti aku boleh meluk kamu lagi ya." Arsyad melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Nada. Tapi tiba-tiba saja iya mendaratkan ciuman di bibir Nada. Nada langsung mematung.
__ADS_1
"Tunggu ya, mas mau sholat subuh dulu." Kata Arsyad setelah melakukan hal yang tak terduga itu.
"Arsayd mah selalu kaya gitu. Aku ngga tahu harus berbuat apa lagi. Kalau aku ngebuat dia marah, berarti dia ngga ridho sama aku. dan kalau dia sampai ngga ridho, aku salah dan bahkan berdosa." Gumam Nada dalam hati saat Arsyad sudah pergi dari sana. Nada pun langsung menyelesaikan masaknya.
Hampir 10 menit berlalu, Nada telah menyelesaikan masaknya. Tiba-tiba Arsyad datang dengan sudah mandi. Iya menggunakan celana pendek di bawah lutunya serta koas oblong yang membuat dirinya semakin menawan.
"Nada, ini ponsel kamu dari tadi bunyi terus." Kata Arsyad sambil meletakkan ponsel sang istri di atas meja makan. Nada yang mendengar itu pun langsung mendekat. Iya melihat siapa yang menghubunginya pagi-pagi seperti ini.
"Bang Vian, ada apa ya? " gumam Nada. Iya bingung ketika melihat Vian yang menghubunginya. Saat akan menghubungi balik, ponselnya kembali bergetar. Iya dengan cepat mengangkat.
"Assalamu'alaikum, iya bang ada apa? " tanya Nada.
"Kamu kemana aja sih neng, bikin orang ngga bisa tidur aja." Kata Vian dari seberang telepon.
"Kamu baik-baik aja kan? " tanya Vian.
"Iya aku baik-baik aja. Ponselku mati dari semalam karena lupa ngecharge, dan baru aku nyalain pagi ini." jawab Nada menghapus kegelisahan di hati Vian.
"Oke, karena kamu baik-baik saja. Nanti aku bakal ceritain kenapa. Udah dulu ya. Aku mau nyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu." setelah pamit, Vian pun mematikan panggilannya.
"Siapa? " Tanya Arsyad.
__ADS_1
"Bang Vian." jawab Nada pelan. Arsyad langsung berdiri dan mendekat ke arah Nada begitu mendengar Nada menyebutkan nama Vian.