
"Ngga usah nggombal, aku sudah tahu lo tipe lelaki perayu." kata Nada sambil menatap ke layar laptopnya kembali.
'Sebagai seorang suami, menggombali istri sendiri malah dapat pahala. Jadi aku akan selalu menggombali kamu biar panen pahala setiap hari." Kata Arsyad kemudian.
"Aku kerja dulu ya." jawab Nada.
"Oke, mas juga akan melanjutkan membalas email. Dan pada akhirnya mereka berdua di sibukkan dengan aktivitas masing-masing.
Hampir setengah jam menunggu, pintu rumah Nada terdengar di ketuk dari Luar. Nada pun dengan segera berdiri dan ingin membuka pintunya.
"Bang, masuk! " kata Nada memepersilahkan masuk tamunya yang baru datang itu.
"Kamu sedang libur kan? " Tanya Ardi.
"Iya bang." Nada tersenyum.
"Sayang siapa tamunya." tanya Arsyad yang baru saja keluar dari kamar dan saat ini sudah berada di depan ruang tamu. Ardi, dan Vian pun saling memandang. Dalam hati mereka berdua bertanya-tanya mengapa Arsyad bisa ada di sana dan memanggil Nada dengan sebutan sayang.
"In.. Ini, bang Vian sama bang Ardi." jawab Nada.
"Tuan muda ada di sini? " tanya Vian tiba-tiba.
"Iya aku ada di rumah istriku." sontak jawaban Arsyad membuat ketiga orang di depannya melotot. Ardi dan Vian menatap ke arah Nada seolah meminta penjelasan kenapa Arsyad berkata seperti itu.
"Saya sama Nada sudah menikah. Kalian jangan terlalu bingung ketika mendengar perkatannku tadi." Kata Arsyad dengan santai Lalu beranjak masuk dalam kamar lagi.
Setelah Arsyad tidak ada.
"Nada? " Panggil Vian pelan.
__ADS_1
"Iya bang." Jawab Nada.
"Beneran tadi yang di bilang tuan muda? " Vian benar-benar penasaran dengan kebenaran yang baru saja di katakan oleh Arsyad. Nada menganggukkan kepalanya.
"Haaaa." mulut dan mata Ardi dan Fian membulat sempurna ketika melihat Nada menganggukkan kepalanya.
"Serius Da? Kamu sama tuan muda udah nikah? Kapan? " Kali ini Ardi yang bertanya.
"Baru kemarin." jawab Nada singkat.
"Patah hati berjamaah ini mah." Gumam Vian.
"Udah ah, ayo kerja." Ucap Nada. Iya segera masuk keruangan di mana di sana banyak terdapat PC yang akan di gunakan untuk bekerja.
"Tadi aku udah mencoba untuk melacak, ada 1 titik yang mungkin bisa kita lacak kembali untuk menemukan sebuah titik terang." kata Nada mencoba memulai pekerjaan tersebut.
"Kita bener-bener nggak bisa nemuin. Kok kamu udah bisa dapetin satu sih. Dari satu titik itu saja kita bisa melanjutkan pencarian loh." kata Fian sambil menyalakan beberapa komputer di ruangan tersebut.
"Mas Arsyad," Panggil Nada saat melihat suaminya tersebut berdiam.
"Hmmm..." Jawab Arsyad.
"Mas kenapa? " Tanya Nada.
"Apa perlu aku menjelaskan? " Kata Arsyad dengan cuek. Akhirnya, Nada yang mendengar itu pun berinisiatif untuk mendekati suaminya.
"Kamu kenapa ngga ngehargai aku sih sebagai suami kamu? Kenapa ngga bilang kalau mereka mau menyelesaikan pekerjaan di sini? " Kata Arsyad.
"Maksud Mas Arsyad bagaimana ya? Aku nggak ngerti deh. Biasanya mereka juga menyelesaikan pekerjaan yang tidak bisa mereka lakukan di sini." jawab Nada dengan ekspresi bingung di wajahnya.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak mempedulikan keselamatan diri kamu sendiri." kata Arsyad sambil menarik nada dan akhirnya nada pun terjatuh ke pangkuannya.
"Maksud mas gimana? " Nada masih belum mengerti.
"Kalau kamu menjadikan rumahmu ini tempat untuk menyelesaikan masalah, berarti dirimu sedang berada di dalam bahaya sayang. Mereka sewaktu-waktu bisa saja melacak dan menemukan keberadaan kamu. Kamu ini cerdas, tapi kenapa tidak berfikir 2 kali dalam bertindak." Kata Arsyad.
"Selama ini alhamdulillah aku ngga apa-apa mas. Aku baik-baik aja." Jawab Nada.
"Aku ngga suka kamu kaya gini sayang. Pekerjaan kamu ini sangat beresiko. Aku ngga mau kehilangan kamu." Ucap Arsyad.
"Kamu masih mau kembali ke sana lagi? " Tanya Arsyad. Dan Nada mengangguk.
"Aku ikut ya." Mendwngar Arsyad yang berkata, membuat Nada tak bisa menolak, iya pun mengangguk. Nada pun langsung bangun dari duduknya dan berjalan ke meja. Dia mengambil laptop dan charger. Sedangkan di belakangnya, Arsyad mengikuti.
"Maaf lama." Kata Nada. Vian dan Ardi mengangguk. Mereka terlalu sibuk dengan layar monitor sehingga tidak menyadari kedatangan Arsyad.
Arsyad pun memilih diam daripada harus menganggu pekerjaan mereka.
"Ini kan bang? " Nada menunjukkan kepada Vian dan Ardi apa yang sejak tadi iya otak-atik.
"Wiih, mantap... Kita sudah mendapatkan sedikit petunjuk. Nada kamu lanjutin pakai laptopmu ya. Kita juga bakal nyariin di sini." Vian berkata. Kedua lelaki itu tidak menoleh sehingga tidak menyadari Arsyad yang duduk di belakangnya.
"Sayang, Ini." Arsyad yang sejak tadi mengamati pergerakan kursor di layar laptop Nada tiba-tiba berbicara. Dan suaranya kembali mengejutkan Vian dan Ardi.
"Tuan muda..." Kata Vian.
"Lanjutkan saja kerjaan kalian. Aku akan mmebantu sedikit kalau bisa." Kata Arsyad tanpa menoleh.
"Nad, ini ada petunjuk lo. Kenapa ngga coba kamu cari tahu dulu." Kata Arsyad menunjuk layar monitor. Nada yang mengikuti arah jari telunjuk Arsyad pun langsung paham. Dalam G-map tersebut terdapat daerah dengan lampu berwarna merah menyala redup. Nada masih belum terlalu paham dengan lampu indikator itu. Karena laptop itu sudah di rancang Nada dengan sebaik mungkin, jadi bisa dengan mudah menunjukkan titik yang sudah di incar.
__ADS_1
"Kalau lampu merah redup artinya apa ya mas? " Tanya Nada.