
"Nada..." panggil seseorang yang baru saja datang.
"Tuan Voltus? Kenapa anda bisa di sini? " tanya Nada dengan pelan setenag berbisik.
"Tadi kamu..." ucapan tuan Voltus terhenti seketika ketika iya melihat Nada yang mengedipkan matanya.
"Ini, ada beberapa sumbangan yang harus kamu sampaikan ke beberapa anak yatim di sekitar sini." kata tuan Voltus. Iya mengartikan kode dari Nada tadi agar tidak melanjutkan kata-katanya.
"Oh, bapak bisa langsung saja ke pak RT ya pak. Atau ke kantor kelurahan." jawab Nada. Iya tak mau mengambil resiko karena kedatangan tuan Voltus ke rumahnya. Sehingga iya langsung menyahut.
"Baik kalau begitu nak. Saya akan ke tempat pak RT saja." jawab tuan Voltus.
"Mari..." setelah kepergian Tuan Voltus, Nada bisa bernafas lega.
"Mah, ayuk kita ke mobil! " ajak Nada. Mereka pun akhirnya berangkat ke kantor setelah mendapat rintangan.
"Nad, mama jadi khawatir sama kamu nak." kata Hana.
"Mah, ngga ada yang perlu di khawatirkan. Mama tahu kan siapa Nada. Nada bukan anak polos yang tidak mengerti tentang dunia seperti ini. Mama tenang ya." jawab Nada menenangkan mama mertua. Akhirnya mau tidak mau Hana pun harus percaya.
Dalam perjalanan yang tak ada setengah jam itu, Hana dan Nada sudah sampai di perusahaan tempat Arsyad berada saat ini.
"Ayo... Arsyad sama papa pasti sudah menunggu kita." ajak Hana. Nada mengangguk. Mereka berdua berjalan menuju ke dalam lift untuk mencapai tampat di mana Arsyad berada.
'tok tok tok.' Hana mengetuk pintu.
"Masuk." setelah itu, Dua wanita itu masuk.
"Nada... Hana." ucap Arsyad dan Daffa bersamaan. Daffa yang duduk di sofa langsung saja memeluk dua wanita beda generasi itu. Hana terlihat biasa saja. Tapi tidak dengan Nada. Iya merasa canggung di peluk oleh papa mertuanya.
__ADS_1
"Kalian tidak apa-apa? " tanya Daffa sambil meletakkan kedua tangannya di bahu sebelah kanan dan kiri Nada dan Hana.
"Alhamdulillah... Kita baik-baik saja." jawab Hana. Sedangkan Nada hanya bisa terdiam mematung.
"Papa...! " tiba-tiba Arsyad menatap ke arah papanya. Iya melihat Nada yang terdiam.
"Kenapa? " tanya Daffa.
"Papa kenapa harus memeluk Dua orang kesayanganku bersamaan sih? Bukannya melepaskan Nada untuk menuju ke aku." kata Arsyad. Daffa yang menyadari putra sulungnya sedang terbakar cemburu pun malah berniat akan lebih memprovokasinya.
"Hahaha... Kamu cemburu sama papa? " Daffa tertawa keras melihat tingkah posesif sang anak.
"Lihat ini. Nada, kamu tahu kan, di saat Arsyad sudah mengucapkan ijab qobulnya, kamu adalah mahram untuk papa. Jadi papa bisa bersentuhan denganmu layaknya kamu adalah anak kandung papa. Dan sekarang Arsyad cemburu. Karena sudah jelas kalau papa ini lebih tampan dari dia. Benar begitu kan?" kata Daffa dengan penuh percaya diri. Dia sengaja mengatakan itu untuk membuat anaknya semakin cemburu.
"Hmm hmmm... Bisa aja ya buat anaknya selalu merasa di bully. Kasihan lo anaknya, nanti nangis." kata Hana.
"Tapi benar kan mah kalau papa ini lebih ganteng." kata Daffa.
"Kamu ngga apa-apa kan sayang? " tanya Arsyad yang sedari tadi mengkhawatirkan istrinya itu.
"Ngga mas, aku baik-baik saja." jawab Nada.
"Untung ada Nada. Kalau tadi mama sendirian, pasti mama sudah menjadi korban penculikan. Dan ternyata yang mereka incar adalah mama." kata Hana sambil menatap anak dan suaminya.
"Mereka siapa ma memangnya? " tanya Arsyad.
"Endiro. Mereka mau melakukan penculikan dan mama seagai targetnya." kata Hana memberitahu suami dan anaknya.
"Kurang ajar sekali mereka. Aku yakin semua ini ada hubungannya dengan kerja sama yang kita batalkan kemarin pah." kata Arsyad. Masih teringat dengan jelas kemarin dirinya menentang dengan tegas kerjasama dengan Endiro grup di lanjutkan. Menurut pengamatan dan penyelidikan yang telah Arsyad dan timnya lakukan, mitra kerjanya tersebut melakukan banyak kecurangan untuk mendapatkan untung yang lebih banyak. Karena itu semua berdampak pada kualitas produk, akhirnya Arsyad memilih menghentikan saja kerjasamanya. Daripada perusahaan harus mengalami kerugian akibat banyak komplain. Tapi Endiro grup benar-benar tidak bisa menerima keputusan Utama grup. Dan malah melakukan perbuatan yang benar-benar tidak terpuji.
__ADS_1
"Aku harus melakukan sesuatu untuk memberikan pelajaran kepada mereka. Mereka mungkin lupa sedang berhadapan dengan siapa." kata Arsyad.
"Sayang, karena kamu sekarang adalah bagian dari keluarga utama, aku tidak akan membiarkan kamu untuk berkeliaran sendirian seperti dahulu lagi. Aku sebagai suamimu, berkewajiban untuk melindungi keselamatanmu. Jangan membantah ya." Arsyad mencium kening Nada sambil berbicara.
"Jangan terlalu mengkhawatirkan aku. Aku bukan anak kecil yang harus di jaga selama 24 jam. Mas tahu sendiri kan aku ini bagaimana. Aku sejak dulu juga punya pengawal yang selalu menjagaku. Aku ini seorang abdi negara, aku bukan anak polos yang akan bisa di jangkau begitu saja." kata Nada.
"Kamu benar Nad. Arsyad, lebih baik jangan terlalu mengekang Nada. Papa yakin kalau kita tidak terlalu mengekang Nada, mereka tidak akan dengan mudah tahu keberadaan Nada." kata Daffa.
"Tapi pah, bagaimana pun juga, Arsyad tidak akan membiarkan Nada sendirian. Sebagai suaminya, Arsyad akan mengusahakan yang terbaik untuk keluarga Arsyad." Arsayd masih kekeh dengan keputusannya.
"Terserah mas Arsyad saja. Tapi aku minta satu hal, biarkan aku tetap bisa bekerja seperti biasa." Kata Nada.
"Kamu ngga kerja saja aku bisa memberi kamu uang yang lebih dari cukup sayang." bantah Arsyad. Nada hanya bisa memutar bola matanya. Iya merasa tidak akan pernah menang kalau berdebat dengan sang suami. Dan pada akhirnya, iya memang harus berbakti kepada sang suami.
Satu minggu kemudian.
Semenjak kejadian penculikan sang mama mertua, Nada kini di kawal ketat oleh seorang sopir baru yang baru saja Arsyad berikan. Seorang sopir ahli bela diri yang akan melindungi Nada kemana pun iya pergi. Tapi, Arsyad masih membiakan istrinya yang masih sekolah itu tetap melakukan aktivitasnya seperti biasa.
"Aku mau berangkat dulu ya mas." kata Nada kepada Arsyad. Iya yang sudah bangun sejak pagi untuk menyiapkan sarapan untuk suaminya, kini sudah siap dengan seragam sekolah yang sudah melekat di tubuhnya.
"Kita berangkat bareng sayang." kata Arsyad sambil menyuapkan satu sendok makanan ke dalam mulutnya.
"Kan kita beda arah mas. Aku ke sana sedangkan mas Arsyad ke sana." Nada menunjuk arah utara dan selatan.
"AKu ngga mau kamu berangkat sekolah dengan mengendarai sepeda motor. Lebih baik mas yang terlambat ke kantor dari pada harus kamu naik motor." kata Arsyad seolah tak menerima penolakan.
"Mas, jangan terlalu protective. Aku mohon, sampai aku lulus sekolah saja. Setelah itu aku akan menuruti kemauanmu. Aku akan berusaha menjadi istri yang baik untuk kamu mas. Tapi untuk sekarang, aku mohon jangan bersikap seperti ini." kata Nada dengan suara memohon.
"Oke, mas izinin kamu naik motor, tapi masĀ bngikutin kamu dari belakang." kata Arsyad yang belum bisa melepaskan istrinya bepergian sendirian seperti biasa.
__ADS_1
"Ya sama saja lah..." gumam Nada dalam hati. Akhirnya dengan perasaan dongkol dengan keputusan sang suami, Nada memilih menuruti keinginan suaminya itu.