
Acara makan siang penuh huru-hara itu berlangsung secara khidmat. Nada tak menunjukkan wajah ketakutan ataupun habis menangis.
"Sayang, kenapa tadi kamu bisa ada di sini? " Tanya Hana yang penasaran kenapa menantunya itu bisa ada di kantin perusahaan.
"Tadi Nada di ajak ke sini sama mas Arsyad mah. Karena sejak di mobil sampai masuk ke perusahaan mas Arsyad sibuk sendiri, Nada pengan cari udara segar aja daripada harus di dalam ruangan yang sama tapi ngga di anggap. Akhirnya Nada nyasar ke tempat ini." penjelasan Nada membuat Arsyad kalang kabut. Iya tak menyangka kalau istrinya akan mengadu ke sang mama.
"Pasti kena marah lagi." gumam Arsyad dalam hati.
"Oh iya mah, kasihan sama kakak yang tadi. Jangan di laporkan ke polisi apa yang bisa? " tanya Nada.
"Dia sudah keterlaluan sama kamu sayang. Bagaimana mungkin kamu masih bisa mengasihani orang seperti itu." kata Arsyad. Doni yang mendengar perkataan Nada benar-benar langsung menyukai sifat gadis yang sudah menjadi istri dari bos pemilik perusahaan tempat di mana iya bekerja itu.
"Kamu kasihan sama dia? ' tanya Hana yang saat ini duduk di samping Nada. Nada mengangguk menjawab pertanyaan dari Ibu mertuanya itu.
"Apa kita kasih hukuman saja ya dia. Jangan di pernjara." kata Hana memberi usul.
"Hukuman apa ya mah? " tanya Arsyad, di sana pula Daffa mendengarkan dengan seksama apa yang akan di kataka oleh sang istri. Biasanya, Hana akan memberikan ide terbaiknya untuk menghukum seseorang hingga orang itu merasa jera.
"Kita batalkan laporan ke pihak yang berwajib. Tapi dia harus menjadi OFFICE GIRL di sini. Hitung-hitung sebagai rasa terimaksih kita kepada Doni yang sudah lama mengabdikan diri untuk bekerja di sini. Menurut kamu bagaimana Don? " Tanya Hana.
"Sa... Saya hanya menurut saja kepada anda nyonya. Kalau memang itu adalah yang terbaik untuk Ella, saya akan dengan hati mengikhlaskan. Karena jujur saya sendiri juga merasa kewalahan untuk mendidik dia. Semoga saja dengan adanya hukuman ini, dia bisa berubah." kata Doni dengan suara sopan.
"Oke, karena kamu setuju, papa sama Arsyad juga setuju kan? " tanya Hana sambil menoleh ke arah suami dan anaknya itu.
__ADS_1
"Pah, kenapa ngga di biarin aja sih dia ke penjara. Dia udah menyakiti Nada lo. Inisama aja dengan kasus penganiayaan." Kata Arsyad.
"Arsyad, dia bukan pesaing bisnis. Dan Doni juga telah bekerja kerasa selama ini. Apa kamu ngga bisa memaafkan? " Tanya Hana. Akhirnya mau tak mau Arsyad pun menyetujui.
"Terimakasih tuan muda. Saya akan lebih keras lagi mendidik istri saya. Terimakasih karena tidak menjebloskan Ella ke penjara." Tiba-tiba saja Doni menyahut. Iya terlihat sangat bahagia.
"Oke, nanti sepulang kerja kamu bawakan dia baju kerjanya. Dan besok istri kamu harus menjalani hukumannya." Kata Arsyad dengan memandang ke arah Doni.
"Sekarang kamu hubungi istrimu untuk pulang. Dan nanti saat kamu pulang, kamu bisa memberitahu apa hukuman dia." kata Daffa.
"Baik tuan, terima kasih atas kemurahan hati tuan." Kata Doni lagi.
"Kalau bukan karena Nada, Aku tidak akan mau memaafkan istrimu yang sudah keterlaluan itu. " Arsyad berkata sama menoleh ke arah Nada.
"Alhamdulillah, selesai juga." Gumam Nada sambil meregangkan ototnya yang terasa kaku. Iya menatap ke arah Arsyad yang masih berkutat dengan laptop serta tumpukan berkas di depannya.
"Hoooaamm, ngantuk." kata Nada yang sedang menguap dan menutupi mulutnya menggunakan punggu tangan kiri. Nada menyandarkan tubuhnya kesadaran sofa yang ia duduki saat ini. Tapi entah mengapa, perlahan-lahan rasa kantuk itu semakin berat di matanya. Dqan rasanya ia sudah tak kuat lagi untuk membuka mata. Perlahan-lahan Nada memejamkan matanya.
Entah sudah berapa lama Nada tidur. Saat ia membuka matanya, Iya sudah berada di sebuah ruangan. Nada pun segera menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya. Saat ia duduk ia melihat Arsyad yang sedang salat.
"Di mana aku? " tanya Nada pada diri sendiri.
"Assalamu'alaikum warohmatullah." Nada mendengar Arsyad yang sudah mengucapkan salam. Tanpa berdoa Arsyad langsung berdiri dan menghampiri Nada yang saat ini masih berada di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Kok aku bisa ada di sini? " tanya Nada dengan sedikit bingung. Ia menatap ke arah Arsyad.
"Kamu kelihatan capek banget tadi. Makanya aku angkat ke sini." jawab Arsyad sambil meletakkan sajadah di pinggir tempat tidur.
"Duh, malu-maluin." Gumam Nada.
"Aku mau ke kamar mandi dulu ya mas." Nada menunduk tak ingin melakukan kontak mata dengan Arsyad. Nada langsung turun dari tempat tidur dan menuju ke pintu keluar.
"Kamu mau kemana sayang? " Tanya Arsyad yang sudah melangkah ke arah pintu. Arsyad melihat gadis itu sedang membenarkan jilbabnya.
"Mau ke kamar mandi." jawab Nada dengan ragu-ragu.
"Kamat mandi di sana ada. Kenapa harus keluar? " ucap Arsyad.
"Ehhmm.. Ada ya. Maaf tadi aku ngga lihat." kata Nada sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"Cepat masuk, terus sholat mahgrib." kata Arsyad. Nada langsung mengangguk. Iya berjalan dengan langkah cepat menuju ke kamar mandi.
"Sayang..." panggil Arsyad saat Nada sudah ada di depan pintu kamar mandi.
"Jangan lupa keramas ya." Bisik Arsyad. Mata Nada membulat sempurna.
"Kee... Keramas? " Ulang Nada dengan terbata-bata.
__ADS_1
"Iya." jawab Arsyad sambil tersenyum jahil.
"Emangnya kenapa aku harus keramas? " tanya Nada.