KEKASIH HALAL CEO TAMPAN S3

KEKASIH HALAL CEO TAMPAN S3
Tak ingin Jauh


__ADS_3

Setelah lelah menempuh perjalanan dari jawa timur, Arsyad dan Nada akhirnya sampai juga di rumah Nada.


"Biar aku yang bawa." kata Arsyad sambil menarik koper yang dibawa oleh istrinya. Iya pun berjalan terlebih dahulu untuk masuk ke rumah Nada. Sedangkan gadis itu berdiri mematung melihat Arsyad yang sudah berjalan terlebih dahulu. Menyadari sang istri yang masih terdiam di tempat, membuat Arsyad menoleh kembali ke belakang.


"Sayang, mau di gendongkah? " Tanya Arsayad, namun terdengar seperti ancaman untuk Nada.


"Ehh, nggak. Aku bisa jalan sendiri." Jawab Nada sembari melangkahkan kakinya. Iya mencari kunci, setelah dapat, langsung saja Nada membukanpintu rumahnya. Beberapa hari di tinggal membuat rumah menjadi sedikit berdebu.


"Ayo masuk mas! " Kata Nada. Arsyad pun langsung masuk.


"Kamarnya yang mana? " Tanya Arsyad. Nada lagsung menunjuk ke arah kamarnya sendiri. setelah menutup pintu utama, Nada ikut masuk.


"Kamar kamu nyaman sekali sayang." Ucap Arsyad yang sudah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Kamu mau mandi duluan atau kita mandi bersama? " Tanya Arsyad.


"Ehmmm, aku duluan aja mas." nada langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi. saat di kamar mandi yang nutup pintu rapat-rapat lalu menguncinya.


"Huh, kenapa sih jantung aku. Dari tadi ngga mau berhenti berdebar-debarnya. Malah ngga karu-karuan gini." Gumam Nada saat sudah berada di dalam kamar mandi. Iya segera melepas baju lalu mandi drngan cepat.


Hampir 10 menit, Nada menyelesaikan mandinya. Iya keluar kamar dengan baju tidur panjang serta jilbab yang masih bertengger di kepalanya. Di lihatnya Arsyad yang duduk di sofa hanya dengan menggunakan kaos dan celana santainya.


"Mas Arsyad bisa mandi." Kata Nada.

__ADS_1


"Apa kamu ngga bisa nyium bau wangi dari tubuhku? " Jawab Arsyad. Nada menoleh melihat ke arah lelaki itu.


"Tampan, tapi nakutin." Gumam Nada dalam hati.


"Mas Arsyad udah mandi? " Arsyad Memang terlihat berbeda. Wajahnyabterlihat lebih segar.


"Ehmm, Nad. Sini coba. Tadi kamu bila kalau kamu mau bicara sesuatu yang penting." Arsyad menepuk kursi kosong yang berada di samping nya.


"Ehmm.. Iya." Nada pun duduk di ujung sofa sedikit menjauhi Nada. Melihat dirinya di jauhi, Arsyad pun berdiri dan langsung menarik lengan Nada ke arah tempat tidur.


"Sini, duduk dulu! " Sikap Arsyad kali ini benar-benar membuat Nada ketakutan.


"Kamu mau ngomong sekarang atau nanti? " Tanya Arsyad dengan suara pelan seperti berbisik.


"Sekarang." Nada menjawab dengan vuru-buru.


"Mas, meskipun kita sudah menikah, Nada harap kita bisa sedikit menjaga jarak ya." Kata Nada tiba-tiba. Namun Arsyad tak langsung menjawab.


"Terus? " Tanya Arsyad.


"Sebelumnya aku minta maaf. Karena aku masih sekolah, aku belum bisa menjadi istri yang baik untuk kamu." Kata Nada.


"Yang kedua, Nada minta maaf kalau belum bisa menjadi istri yang baik, aku masih tetap ingin tinggal di sini." Nada menunduk.

__ADS_1


"Kenapa harus begitu. Meskipun kamu masih sekolah, tanggung jawab penuh atas dirimu adalah aku. Aku ngga mau kita bersikap seperti yang kamu katakan tadi. Aku ngga mau jaga jarak." Tiba-tiba saja Arsyad duduk dan mendekap Nada. Nada terkejut setengah mati.


"Mas, tolong lepasin." Nada mencoba meronta. Namun Arsyad semakin erat mendekap gadis itu dalam pelukannya. Iya terdiam Beberapa saat.


Di saat Arsyad merasa kalau Nada sudah tidak meronta, Arsyad melepaskan pelukannya.


"Nada, dengarkan aku! Bagaimana pun juga kamu adalah istriku. Aku ngga mau menjaga jarak denganmu apapun alasannya. Kalau kamu minta untuk tetap tinggal di sini aku ngga masalah. Tapi kalau kamu minta jaga jarak, aku ngga mau." Kata Arsyad.


"Kamu ngerti kan? " Arsyad melepaskan pelukannya. Iya memegang wajah cantik Nada dengan kedua telapak tangannya. Mencoba memberi pengertian kepada gadis yang sudah berstatus sebagai istrinya itu.


"Kamu dengerin aku kan? " Sekali lagi Arsyad bertanya. Dan Nada mengangguk. Arsyad tersenyum melihat Nada yang sepertinya sangat ketakutan. Iya terus menatap dua manik jernih di depannya. Pandangannya semakin instens.


"Aku minta satu kecupan di sini." Arsyad menyentuh bibir Nada dengan satu i u jarinya. Mengusapnya dengan lembut. Bibir itu yang selalu membuat Arsyad merasakan sesuatu. Perlahan, iya mendekatkan wajahnya ke wajah Nada. Tak ada perlawanan dari istrinya. Hingga akhirnya iya berhasil menempelkan bibirnya ke bibir Nada yang begitu lembut. Sepersekian detik.


"Ehhh... Mas Arsyad." Beberapa saat kemudian, Nada buru-buru mendorong Arsyad. Dan dengan mudah Arsyad pun mundur.


"Maaf mas. Aku... Ak..." Ucapan Nada terhenti ketika Arsyad meletakkan jari manisnya.


"Terima kasih," 'Cup' Satu kecupan melayang ke dahi Nada.


"Ayo istirahat! " Arsyad menarik Nada untuk segera naik naik ke atas tempat tidur. Nada sudah tak bisa lagi menolak apa yang di lakukan Arsyad.


"Mas, mas Arsyad bisa tidur di sini. Aku akan tidur di kamar sebelah saja." Nada mencoba melepaskan pegangan tangan Arsyad yang kini mencengkeram erat ke tangannya.

__ADS_1


"Ngga perlu, kita tidur di sini saja berdua." Arsyad malah menarik tubuh Nada untuk segera berbaring. Iya memeluk Nada yang saat ini sudah berbaring di sampingnya.


"Jangan bergerak, kalau kamu tidak ingin membangunkan sesuatu sayang." Arsyad berbisik ke telinga Nada. Membuat Nada merasakan gelenyar aneh dalam dirinya.


__ADS_2