
"Ella, beraninya kamu membuat masalah dengan perusahaan. Apa kamu sudah bosan menjadi istriku? " tanya general manager bernama Doni. Di sisi lain, Arsyad merasa heran dengan apa yang di katakan oleh salah satu karyawannya tersebut, hingga akhirnya dia membuka mulut.
"Jadi dia adalah istri kamu? " tanya Arsyad.
"Benar tuan muda. Saya mohon maaf karena istri saya sudah menyakiti nona muda Utama.' jawab Doni.
"Fahri, cepat buka cctv. Aku ingin tahu apa yang sudah di lakukan dia ke istriku." kata Arsyad sambil menatap tajam ke arah Ella. Iya tidak bisa mentolerir siapapun yang menyakiti keluarganya.
"Baik tuan." Fahri pun mengeluarkan sebuah tab dan menyalakannya. Iya memutar ulang kejadian di kantin itu. Dengan seksama, Arsyad memperhatikan video yang sedang berlangsung itu.
hampi 20 menit memutar reka adegan untuk mencari bukti.
"Beraninya kamu menampar istriku. Kamu memilih penjara atau rumah sakit sebagai hadiah? " tanya Arsyad. Ella hanya terdiam tak mampu bicara apa-apa.
"Ella,kamu harus mempertanggungjawabkan semua yang sudah kamu lakukan, aku tidak mau tahu." kata Doni sebagai suami. Iya merasa gagal mendidik sang istri karena bisa-bisanya membuat keributan serta menghina orang lain.
__ADS_1
"Don, aku ngga mau di penjara, aku juga ngga mau masuk rumah sakit." jawab Ella dengan ragu-ragu.
"Tidak ada yang memintamu untuk menolak apa yang sudah aku pilihkan. Sekarang kamu pilih salah satu. Firman, kamu urus semuanya. Doni, demi keprofesionalan dalam bekerja, kita lanjutkan saja pekerjaan. Di sini, dia adalah orang lain karena tidak ada hubungannya dengan pekerjaan." Arsyad berkata dengan tegas. membuat wajah Ella berubah menjadi sangat pucat. Dalam hati, Sebenarnya iya merasa benar-benar mengkhawatirkan sang istri. Tapi berhubung iya juga tidak mau kehilangan pekerjaan, iya menyerahkan urusan istrinya kepada Arsyad saja.
"Kamu harus bertanggungjawab sama apa yang udah kamu lakukan." kata Doni.
"Tuan muda, saya mohon maaf. Nona, saya mohon maaf karena ketidak tahuan saya. saya belum mengenali kalau anda adalah nona muda utama. Saya mohon maaf karena sudah membuat anda tidak nyaman. Saya mohon maaf nona, tuan, tolong ampuni saya." Ella berkata panjang lebar memohon maaf kepada Nada dan Arsyad.
"Saya tidak tahu kalau anda adaah istri pemilik perusahaan, jadi saya mohon maaf nona. Tolong maafkanlah saya." Ella berkata lagi dengan memelas.
"Terus kalau misalnya saya bukan istri dari pemilik perusahaan, kamu bisa berbuat semaumu? " tanya Nada dengan suara pelan. Iya benar-benar jengkel dengan apa yang di katakan oleh wanita tadi.
"Karena jabatan yang di miliki oleh suami kamu, terus kamu bisa merendahkan orang lain? " tanya Hana lagi.
"Saya mengaku salah, saya benar-benar minta maaf karena sudah bertindak bodoh tuan, nyonya. Saya mohon maaf." Ella benar-benar berlutu untuk memohon belas kasihan dari keluarga utama.
__ADS_1
"Tidak ada kata maaf untuk siapapun yang sudah menyakiti istriku." Kali ini Arsyad berkata dengan suara tegas. Tatapannya benar-benar tajam seperti pedang yang siap menghunus musuh hingga mendekati sakaratul maut.
"Mas. tolong aku. Aku ngga mau di penjara." kata Ella kali ini memohon kepada suaminya.
"Jangan meminta belas kasihan kepadaku. Aku sudah sering mengingatkan kamu untuk selalu bersikap baik kepada siapapun. Tapi kamu tidak pernah mendengarkan aku. Mungkin Tuhan memberikan karma terindah dalam hidupmu karena kamu sering menyakiti hati sesama. Tanggung sendiri semua perbuatan burukmu itu." kata Doni sebagai sang suami dengan nada tegas. Membuat Arsyad tersenyum bangga pada karyawannya itu. Iya tidak menggunakan jabatannya untuk menyelesaikan masalah pribadi.
"Firman, urus semuanya." perintah Arsyad kepada assistandnya.
"Baik tuan, saya akan mengurus semua ini dengan baik." jawab Firman dengan penuh hormat. Di sisi lain, Ella benar-benar ambruk ke lantai kantin. Iya tak tahu harus berbuat apa. Sekarang iya baru menyadari akan pentingnya bersikap baik kepada siapapun.
"Mas, aku benar-benar minta maaf. Aku sangat menyesal. Nona, saya mohon, maafkanlah saya nona. Saya berjanji tidak akan berbuat seperti ini lagi. Saya mohon maaaf yang sebesar-besarnya." kata Ella yang saat ini berlutut di depan Nada sambil memohon.
"Sayang, ayo kita makan siang dulu." kata Arsyad menarik lengan Nada dan langsung memeluknya. Iya menempelkan kepada Nada di dada bidangnya. Arsyad tidak akan membiarkan Nada memberikan maaf kepada wanita yang sudah melakukan kekerasan terhadap dirinya itu.
"Mas, tolong lepas, aku ngga bisa nafas." kata Nada sambil berbisik. Sejujurnya Nada merasa sangat malu karena di sana ada banyak orang. Karyawan kantor sudah mulai berdatangan untuk melepas lelah sambil menikmati makan siang.
__ADS_1
"Maaf, sekarang ayo kita makan." Arsyad menarik lengan Nada dan mengajaknya menuju ke sebuah meja yang di khususkan untuk para petinggin kantor dan client. Sebuah ruangan tertutup dan berbeda tempat dengan kantin tempat Nada tadi duduk.
"Ella, kamu harus bertanggungjawab atas semua yang telah kamu lakukan." Setelah mengatakan itu, Doni mengikuti Arsyad menuju ke ruangan di mana akan di adakan makan siang. Di dalam hati yang paling dalam, sebenarnya Doni tidak tega melihat istrinya memohon dan di lihat oleh orang banyak. Tapi Doni juga tidak bisa berbuat apa-apa. Dia harus bersikap profesional dalam pekerjaannya. Dia juga merasa sayang kalau harus kehilangan pekerjaan yang telah lama iya wujudkan dengan kerja kerasnya.