
"Nada." Kata Arsyad. Iya merasa panik mendengar Nada yang berteriak. Ia pun segera berlari menuju ke arah sumber suara.
"Nadaa... Nad." panggil Arsyad saat sudah berada did epan pintu. Arsyad mencoba memutar knop pintu, karena tidak terkunci, Arsyad langsung masuk.
"Nada." Panggil Arsyad. Saat itu Arsyad melihat sang istri yang tengah terduduk di atas lantai. Sedangkan di depannya ada seekor ular kobra yang siap untuk mematuk dirinya.
"Arsyad, tolong..." kata Nada dengan rasa cemas. Iya memeprhatikan gerak gerik ular berbisa tersebut.
"Kok bisa ada ular? " Arsyad pun juga bingung.
"Jangan gerak sedikit pun." Kata Arsyad.
"Arsyad, ini keadaan darurat, aku ngga bisa gerak sama sekali atau ular itu akan mematukku. Tolong buka tas aku dan ambil pistol di dalamnya." Nada berkata dengan pelan. Arsyad sedikit terkejut. Tapi iya segera menuruti apa yang di katakan oleh istrinya. Perlahan iya berjalan menuju ke tas Nada yang ada di atas tempat tidur.
"Jangan gerak Nad. Tunggu sebentar." Arsyad benar-benar panik. Tapi Nada terlihat sedikit lebih santai.
"Arsyad, jangan lama-lama! " kata Hana yang saat ini ada di belakang putranya.
'Dor'sebuah tembakan melayang ke arah ular kobra di depan Nada. Tapi tidak mengenai kepala.
"Arsyad, kepalanya..." ucap Nada pelan.
"Mana..." Daffa langsung berdiri di samping Arsyad dan mengambil pistol dari tangan putranya.
"Nada, kamu diam ya, jangan bergerak! " kata Daffa. Iya segera membidikkan pistolnya ke arah ular kobra itu. tapi diam-diam ular tersebut terus merangkak ke arah Nada. Nada sudah berkeringat dingin. Kalau sampai ular itu mematuk dirinya, kemungkinan besar iya akan terkena bisa yang mematikan itu.
Ular itu terus mendekat ke arah Nada. Membuat Nada semakin mematung. Hewan melata itu sudah mengangkat kepalanya tinggi-tinggi.
__ADS_1
"Ya Allah, apa ini yang akan enkau takdirkan kepada Hamba. Hamba mohon pertolonganmu." gumam Nada dalam hati.
'Dor'Suara tembakan kembali terdengar. Dan kobra itu secepat kilat bisa melesat. Padahal Daffa sudah tepat membidikkan pelurunya. Ular itu semakin mendekat ke arah Nada. Dan...
Tiba-tiba saja ular tersebut menggeliat entah kenapa.
"Rasain kamu." gumam Hana dari belakang.
"Mama..." Ucap Arsyad dan Daffa bersamaan.
"Cepat pak. Pukul saja sampai mati." kata Hana. Dengan cepat seorang security yang membawa tongkat itu langaung saja mendekat ke arah ular dan memukulnya seperti orang kesetanan.
"Nada..." panggil Hana dan Arsyad. Keduanya langsung berlari ke arah gadis itu saat ular kobra yang mengancam nyawa itu sudah berhasil di taklukkan.
"Kamu ngga apa-apa sayang? " Tanya Arsyad yang langsung memeluk istrinya.
"Ayo bangun! " kata Arsyad.
"Syukurlah Sayang, kamu ngga apa-apa." Hana bernafas lega saat menantunya itu selamat dari mara bahaya.
"Kalau bukan karena mama, mungkin ular itu sudah menggigit Nada mah." jawab Nada.
"Mama? " Tanya Arsyad sambil menoleh ke arah mamanya.
"Mas Arsyad tadi ngga lihat kalau mama yang sudha buat ular itu ngga berdaya? " tanya Nada.
"Ngga... Tadi yang mas lihat papa nembaknya meleset. Terus ular itu semakin dekat ke kamu." Jawab Arsyad.
__ADS_1
"Kamu paati ngga nyangka kan kalau mama punya keahlian khusus? " Tiba-tiba saja Daffa ikut berbicara.
"Lihat saja apa yang saat ini di pegang mama mu. Mama mu selalu punya cara untuk menyelamatkan nyawa orang lain. Bukan senjata tajam, hanya sebuah benda cair yang bisa membuat lawannya luluh lantah dalam seketika." jelas Daffa. membuat Nada dan Arsyad langsung menatap ke arah sang mama.
"Mama masih pakai itu? " tanya Arsyad.
"Iya lah. Ngandelin tembakan kalian berdua ular itu keburu memangsa menantu mama yang paling cantik ini." kata Hana sambil tersenyum.
"Terima kasih mama. Akhirnya Nada punya keluarga lagi. Setelah sekian lama Nada hidup sendirian." Kata Nada yang melepaskan Arsyad dan langsung memeluk Hana. Sebagai seorang ibu dan seorang yang pernah kehilangan ibu secara mendadak, membuat Hana mengerti bagaimana perasaan Nada.
"Tapi aneh banget lo. Ini sudah kedua kalinya ada ular bisa masuk ke dalam rumah ini. Padahal kita selalu menjaga kebersihan. Papa jadi curiga hal yang dulu pernah terjadi kini terulang lagi." Kata Daffa tiba-tiba.
"Berarti kita harus lebih waspada lagi pah. Aku juga berfikir sama dengan papa." jawab Arsyad.
"Tapi sayang, dari mana ular itu tadi berasa? " tanya Arsyad.
"Tadi dari jendela itu." Nada menunjuk sebuah jendela yang terbuka. Dan di saat yang bersamaan, mereka semua yang ada di sana menoleh ke arah Nada menunjuk.
"Besok kita periksa CCTV. Karena ini sudah malam, lebih baik kita istirahat saja terlebih dahulu. Arsyad sana Nada, kalian makan dulu ya." kata Hana. Setelah itu, mereka berdua keluar dari kamar tersebut.
Setelah kepergian orang tuanya, Arsyad langsung mengajak Nada ke kamarnya. "Maaf..." kata Arsyad saat sudah ada di dalam kamar dan duduk di atas sofa di depan tv.
"Kenapa minta maaf? " tanya Nada.
"Karena baru pertama kamu kesini, tapi sudah terkesan buruk. Kalau sampai ada apa-apa sama kamu, aku ngga bakalan biaa maafin diriku sendiri." kata Arsyad. Membuat hati Nada menghangat.
"Aku yang salah... Seharusnya..."
__ADS_1
'tok tok tok' tiba-tiba saja Nada menghentikan ucapannya karena terdengar pintu di ketuk dari Luar. Mereka berdua saling pandang, seakan bertanya 'siapa yang mengetuk pintu?'