
"Nada, mama rasa Arsyad itu terlalu berlebihan. Apa kamu ngga nyaman Arsyad bersikap seperti itu? " tanya Hana kepada menantunya.
"Ngga apa-apa mah. Nada tahu bagaimana harus bersikap karena Mas Arsyad adalah suami Nada. Malah, Nada senang akhirnya sekarang bisa punya keluarga yang utuh. Sudah lama srjak ummi meninggal, baru kali ini bisa merasakan kasih sayang seorang ibu. Terima kasih sudah mau menerima Nada yang banyak kekurangan ini." kata Nada sambil tersenyum.
"Mama yang seharusnya berterima kasih kepada kamu nak. Terima kasih sudah menerima Arsyad." Hana tersenyum sambil memeluk Nada.
"Oh iya, kalau di pikir-pikir, apa yang Arsyad bilang tidak ada salahnya. Mulai sekarang kamu harus mempertimbangkan keselamatan diri sendiri dan keluarga ya." kata Hana.
"Maksud mama bagaimana? " tanya Nada yang belum mengerti.
"Kita berada di tengah keluarga pebisnis sayang. Kalau kamu tahu, dunia bisnis itu bagaimana, kamu pasti paham." kata Hana.
"Maksud mama perusahaan punya banyak musuh? " tanya Nada.
"Bukan musuh, tapi... Banyak pihak-pihak yang berusaha ingin menjatuhkan kita. Banyak sekali pesaing bisnis yang menggunakan cara kotor untuk bisa menjatuhkan papamu dan Arsyad. Semua mereka lakukan untuk mendapatkan kemenangan dalam berbisnis."
"Dan juga, kamu adalah seorang abdi negara, meskipun status kamu tidak di kenali banyak orang di dunia nyata, mereka bisa saja menghancurkan kita lewat dunia maya. Dulu mama sudah pernah melumpuhkan musuh yang bertindak semaunya ke keluarga. Alhamdulillah, sejak saat itu, kita selalu waspada. Kita meningkatkan keamanan system." Kata Hana.
"Iya, kata mas Arsyad, dulu mama Kuliah di London ya? " tanya Nada.
"Iya, itupun beasiswa dari perusahaan papamu. Mana bisa mama kuliah di sana tanpa beasiswa." kata Hana.
"Mama dulu juga sekolah di IT international? " tanya Nada lagi.
"Iya. Sekolah mama gratis, kuliah juga gratis." kata Hana menjawab rasa penasaran menantu yang sudah di anggap anaknya sendiri itu.
__ADS_1
"Maa Syaa Allah... Ternyata." kata Nada.
"Tapi, mama ngga seberuntung kamu sayang. Mama kehilangan ibu karena hal yang di sengaja. Hingga akhirnya ayah Mama atau kakekmu tidak bisa berjalan sampai sekarang." Hana memulai.
"Astaghfirullah... Mah, semua sudah ada yang mengatur. Mama jangan mengingat semua yang membuat mama sedih lagi." kata Nada.
"Maka dari itu. Mama ngga mau hal yang sama terjadi lagi sama kita. Kita bisa menjaga keluarga kita dati hal sekecil apapun yang bisa mencelakai. Semoga kita semua selalu dalam lindungan-Nya." kata Hana.
"Iya mah, kalau gitu Nada bakal lebih berhati-hati lagi. Maafkan Nada yang sebelumnya ngeyel terus." kata Nada menyesali. Akhirnya iya bisa mengerti kenapa Arsyad sangat kekeuh menyuruh Nada berhenti menyelesaikan masalah di rumahnya.
"Sekarang kamu paham kan? " Tanya Hana. Nada pun mengangguk.
Hana tahu, menantunya itu masih bersikap labil. Jadi butuh kesabaran ekstra untuk bisa memberi pemahaman kepadanya. Dengan kondisi yang berubah drastis itu, untuk gadis se belia Nada tidaklah mudah. Gadis itu masih perlu adaptasi untuk menguatkan mental dan hatinya. Makanya Hana sebisa mungkin bersikap sebaik mungkin kepada sang menantu. Karena gadis itu juga bukan gadis bodoh.
'Bruak brak brak...' tiba-tiba saja, seseorang menabrakkan mobilnye beberapa kali ke mobil yang di tumpangi oleh Hana dan Nada.
"Sepertinya pengemudi mobil itu sengaja nyonya." kata sopir yang mengantarkan Hana dan Nada.
"Kita ke tepi dulu ya pak. Kita lihat bagaimana selanjutnya." kata Hana. Sopir Hana pun langsung menepikan mobil yang di tumpanginya.
Selanjutnya, hal tak terduga pun terjadi. Beberapa orang turun dari mobil tersebut lalu menggedor-nggedor kata mobil Hana.
"Nyonya, sepertinya mereka menginginkan sesuatu." kata sopir.
"Jangan buka pintu pak." Kata Hana. Dua wanita beda generasi tersebut masih bersikap tenang. Terlihat dari ketiga orang yang menghadangnya itu membawa pisau di tangannya. Dan seorang lagi membawa Pistol yang di arahkan ke mobil yang di tumpangi oleh Hana dan Nada.
__ADS_1
"Dalam keadaan seperti ini kita harus tenang mah. Aku yakin mereka sudah merencanakan semuanya dengan baik. Biar Nada yang buka pintunya. Bapak hubungi siapapun, Arayad maupun papa untuk cari bantuan. Sedangkan Nada sudah memencet alarm bahaya sejak orang-orang tadi keluar dari mobil. Saat ini camera sudah siap merekam.
"Cepat turun! " Kata seseorang saat Nada membuka jendela mobil.
"Kamu juga, kalau tidak, aku akan memecahkan kepalamu." kata seseorang mengarahkan pistol tersebut ke arah Hana. Nada memperhatikan baik-baik posisi pistol tersebut. Saat itu, Nada bisa tahu kalau pistol tersebut tidak dalam posisi siap.
"Kita turun mah. Mama tenang aja, semua akan baik-baik saja." kata Nada sambil berbisik. Akhirnya Nada dan Hana langsung membuka pintu mobil dan keluar dari sisi kanan dan kiri. Saat mereka keluar, Nada memperhatikan dengan pasti setiap gerakan orang yang membawa pistol dan menodongkan ke kepalanya. Sedangkan di leher Hana, ada sebuah belati tajam yang akan siap merobek leher yang tertutup jilbab tersebut.
"Siapa kalian? " tanya Nada dengan kewaspadaannya.
"Kamu anak kecil tahu apa? Lebih baik diam dan jangan banyak cincong." kata orang yang memegang pistol itu.
"Kamu, jangan berani menghubungi siapapun, jangan berani keluar dari mobil!" kata seseorang yang menyandra Hana. Nada memandang ke arah mama mertuanya. Iya langsung mengedipkan matanya.
Di saat situasi sedikit tenang, Nada melihat ke orang yang saat ini memegangnya. Orang tersebut terlihat lengah karena memperhatikan sopir. Dengan cepat Nada langsung mengeluarkan jurus dengan memegang pistol tersebut. Sebuah perlawan yang di lakukan dengan sikap tenang akan memberikan hasil yang memuaskan. Dalam sekejab, pistol tersebut sudah pindah ke tangan Nada.
"Wah... Kurang ajar. Beraninya kamu melawan." Kata orang tersebut ingin mengambil pistol dari tangan Hana. Nada langsung mengarahkan pistol tersebut ke orang tadi.
"Hahaha, ayo tembak. Hahaha..." kata orang tersebut dengan sombongnya. Iya mengira kalau Nada adalah gadis bodoh yang tidak tahu tentang pistol. Secepat kilat, Nada menarik tombol di belakang pistol hingga berbunyi 'klik' Membuat semua penghadang tadi menghentikan aktivitasnya.
"Jangan macam-macam. Itu senjata api." Kata seseorang di antara mereka.
"Seharusnya aku yang bilang seperti itu." Sekarang Nada sudah mengaktifkan pistol tersebut siap untuk menghancurkan apapun yang akan di tembaknya.
"Kalian pikir aku bodoh? Sekarang lepaskan dia." kata Nada mencoba mengancam.
__ADS_1
"Sedikitpun kalian bergerak, aku pastikan akan meledakkan isi kepalamu itu." ucap Nada dengan kejam. Saat ini jiwa Mafianya benar-benar keluar. Nada tampak tidak seperti biasannya yang kalem dan feminim.
"Baik... Kita akan meletakkan. Tapi tolong jangan menarik pelatuk itu." Kata seseorang yang bertubuh besar. Dan di saat yang bersamaan, beberapa orang datang dan langsung meringkus mereka semua.