KEKASIH HALAL CEO TAMPAN S3

KEKASIH HALAL CEO TAMPAN S3
Di bela Mertua


__ADS_3

Nada bangun pagi dengan keadaan tak memakai kerudung. Iya terkejut bukan main saat mendapati kerudungnya sudah terlepas.


"Ya Tuhaan... Kenapa? " gumam Nada dengan suara lirih.


"Oh iya, kan semalam aku yang setuju ya." Setelah teringat, ingat memukul kepalanya dengan pelan. Nada merasakan nafas Arsyad yang menerpa wajahnya. Iya memandangi wajah tampan lelaki di depannya tersebut. dan bahkan saat ini, tidak ada jarak antara dirinya dan Arsyad.


"Kamu memang tampan tuan muda. Tapi, kenapa nyebelin banget sih." Kata Nada dalam hati sambil memperhatikan wajah tampan tanpa cela yang berada tepat di depannya tersebut. Nada tersenyum.


Setelah cukup puas memandangi wajah sang suami, Nada langsung tersenyum.


"Aku harus bangun, sebentar lagi sudah subuh." gumam Nada. Iya langsung berusaha melepaskan pelukan Arsyad.


Setelah selesai melaksanakan kewajibannya, Nada mengambil ponsel dan tabletnya ia segera duduk di sofa dan melihat ada notifikasi apa saja.


"Ngga ada yang darurat. Alhamdulillah. Tapi masalah yang kemarin itu belum selesai.


"Nad, kemarin belum selesai. Kita nunggu kamu. Tapi tinggal sedikit lagi." pesan dari Hendra yang baru saja di baca oleh Nada.


"In Syaa Allah nanti kita selesaikan. Tapi Arsyad ngelarang kita untuk menyelesaikan di rumahku." balas Nada. Iya langsung meletakkan ponselnya dan berjalan keluar dari kamar. Sebelum itu, iya memandang suaminya yang masih pulas di atas tempat tidur.


Beberapa jam kemudian.


Arsyad baru saja keluar dari kamar. Iya segera mandi dan bersiap menuju ke kantor. Saat sudah berada di luar, iya melihat Nada yang sedang menonton televisi bersama sang mama.


"Mama... Nada." sapa Arsyad.


"Arsyad." panggil Hana. Iyanterkejut dengan penampilan wajah sang putra.

__ADS_1


"Mata kamu kenapa? " tanya Hana kepada anaknya.


"Ini, karena Nada mah." jawab Arsyad. Seketika Nada langsung menoleh.


"Kenapa saya? " kata Nada.


"Karena kamu membuat saya ngga bisa tidur semalam suntuk. Aku baru bisa tidur tadi sebelum subuh. Makanya ini kesiangan." jawab Arsyad sambil duduk di sebelah Nada.


"Tapi mah, Nada ngga berbuat apa-apa sama mas Arsyad. Kok bisa di salahin." kata Nada.


"Bukan salah kamu sayang. Tapi salah Arsyad sendiri." jawab Hana membela menantunya. Iya tahu yang di maksud oleh Arsyad. Tapi Hana tidak mungkin menjelaskan kepada Nada saat ini. Yang ada nanti menantunya itu merasa canggung.


"Tapi lucu ya mah mata Arsyad. Jadi mata panda. Besok malam ngga usah tidur lagi aja mas. Biar beneran kaya panda." kini Nada terdengar mencibir. Hana malah tertawa mendengar ocehan menantunya yang masih polos tersebut.


"Hiiih, Sayang... Kamu itu kenapa polos sekali? " Arsyad merasa gemas dengan tingkah snag istri.


"Oh iya mas. Nanti Nada mau izin. Pekerjaan Nada yang kemarin belum selesai. Nada mau izin menyelesaikannya terlebih dahulu." kata Nada meminta izin kepada Arsyad.


"Boleh... Tapi kamu kerjakan di sini saja. Jangan ke rumah kamu." kata Arsyad.


"Mas, semua peralatan ada di sana. Bagaimana mungkin aku ngga boleh kembali ke rumahku sendiri. Mas jangan terlalu khawatir. Aku sudah membangun semua system keamanan di rumahku. Dan akan sulit untuk di bobol." kata Nada.


"Tapi aku tetap mengkhawatirkan keselamatan kamu." jawab Arsyad lagi.


"Mas, selama ini aku bekerja dengan profesional. Mas Arsyad tolong. Ada banyak nyawa yang harus menjadi korban kalau sampai penyelundupan senjata itu berhasil. Mereka tidak akan diam sampai misinya berhasil." kata Nada mencoba menjelaskan.


"Tapi musuh yang kamu hadapi ini tidak mudah Nada. Buktinya saja mereka bisa mengelabuhi kamu dan rekan kerjamu." kata Arsyad.

__ADS_1


"Kalau aku ngga bertindak, sebagai abdi negara aku merasa gagal. Aku tahu mas Arsyad adalah suami aku. Tapi tolong biarkan aku menyelesaikan tugas terlebih dahulu." kata Nada memohon kepada suaminya.


"Dan tugas kamu itu tidak akan pernah selesai. Aku akan menambahkan lagi satu keamanan di rumahmu dengan menambahkan system baru. Jadi mereka tidak akan bisa melacak. Jadi tolong bersabarlah." Kata Arsyad masih kekeh melarang istrinya. Bukan hanya Karena hal itu. Tapi Arsyad juga tidak mau istrinya bersama lelaki yang bukan muhrimnya. Walaupun mereka adalah seorang abdi Negara.


"Mas aku mohon. Waktu kita tidak lama lagi. Kalau aku menunda pekerjaan ini, mereka akan semakin jauh dalam melangkah. Mereka akan berhasil dan kita semua gagal." kata Nada.


"Sayang, yang menjadi abdi negara di Indonesia ini bukan hanya kamu." Kata Arsyad. Dan di seberang meja, Hana yang sejak tadi mendengarkan akhirnya angkat bicara.


"Arsyad, biarkan mama yang ikut menemani Nada ke rumahnya. Tugas seperti ini tidak bisa di abaikan. Mama sangat tahu bagaimana tugas seseorang seperti Nada. Dan satu lagi, apa kamu lupa kalau Nada ini tidak di kenal di dunia nyata. Mereka hanya mengenal Nada di dunia peretas saja. Selama ini Nada selalu berhati-hati. Apa kamu lupa kalau istrimu adalah orang yang sangat di handalkan dalam hal ini." kata Hana panjang lebar.


"Tapi mah, Arsyad merasa khawatir." kata Arsyad kembali. Iya tak bisa menolak apa yang mamanya katakan.


"Arsyad, kamu pikir kamu lebih hebat dari Nada? " kata-kata Hana mampu membuat Arsyad terdiam seketika. Iya tahu kemampuan istrinya di dunia peretas tidak di ragukan lagi.


"Sekarang kamu percaya aja sama mama dan Nada. Mama akan menemani Nada ke rumahnya. Selain itu, Nada juga punya pasukan khusus yang di tugaskan untuk melindunginya kan. Jangan mribetkan keadaan. Kalau kamu mau kerja, kamu bisa berangkat." kata Hana lagi dengan panjang lebar.


"Ya sudah mah, Arsyad nurut aja sama mama. Tolong jagain Nada yah mah." Akhirnya Nada bisa tersenyum sumringah.


Setelah mendapat izin dari suaminya, setelah sarapan Nada langsung bersiap-siap. Iya segera berangkat dengan Hana.


"Nada..." panggil Arsyad.


"Iya." jawab Nada sambil menoleh ke belakang. Iya segera berhenti sedangkan Arsyad berjalan ke arahnya.


"Kalau mau berangkat, jangan asal berangkat. Sini cium dulu." kata Arsyad langsung memegang kedua bahu sang istri. Setelah itu, iya mencium kening Nada di depan mama dan para pelayan. Nada tak bisa berbuat apa-apa.


"Mama jangan iri, paati tadi sudah dapat kan dari papa." kata Arsyad sambil melepaskan wajahnya dari dahi Nada. Hana hanya menggeleng melihat tingkah sang putra.

__ADS_1


__ADS_2