
"Boleh aku minta sesuatu? " tanya Arsyad. Nada langsung melepaskan pelukan Arsyad. Iya sedikit menjauhkan tubuhnya dari Arsyad. Nada masih ragu untuk menjawab pertanyaan Arsyad yang kali ini. Iya memalingkan wajahnya takut menatap mata Arsyad. Tapi dengan cepat, Arsyad menarik wajah gadis cantik itu untuk kembali menatap dirinya.
"Jawab aku sayang! " kata Arsyad.
"Hmmm... Huummm, anu... Mas Arsyad mau minta apa? " tanya Nada dengan gugup.
"Mau ngga ngasih apa yang mas minta? " tanya Arsyad sekali lagi. Nada terdiam tak tahu harus menjawab apa. Dia bingung dengan pertanyaan Arsyad. Yang biasanya orang meminta sesuatu terlebih dahulu baru menanyakan bisa atau ngga. Tapi Arsyad memang lain. Dan hal itu membuat Nada sangat gugup.
"Aku ngga tahu mas minta apa." kata Nada lagi.
"Aku tahu menutup aurat adalah kewajiban. Tapi, di depan suamimu sendiri, kamu wajib membukanya." kata Arsyad sambil tersenyum dengan posisi kedua tangannya memegang wajah sang istri.
"Mas mau apa? " Nada sudah berfikir yang bukan-bukan. Lama di pesantren membuatnya mengerti bagaimana adab seorang istri. Jadi iya berfikir kalau Arsyad akan meminta sesuatu darinya.
"Mas cuma mau kamu membuka jilbabmu saat berada di kamar. Hanya di kamar saja. Karena aku tahu pasti tidak nyaman karena kamu masih merasa canggung. Mas bisa mengerti. Tapi karena aku adalah suamimu, aku berhak melihat perhiasanmu." kata Arsyad kepada Nada. Nada menghembuskan nafas lega mendengar permintaan dari Arsyad.
"Mas bisa langsung bilang mau apa." kata Nada yang pura-pura tidak tahu.
"Mas mau, mulai sekarang kamu kalau lagi di kamar buka jilbab ya." kata Arsyad. Nada kembali menoleh.
"Iya." jawab Nada sambil memalingkan wajahnya.
"Berarti mas boleh buka jilbab kamu? " tanya Arsyad kembali. Dan Nada menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Tangan Arsa terulur. Iya langsung mengangkat kerudung Nada yang menggantung dari atas kepala hingga menutupi dadanya. Arsyad sendiri merasa sangat gugup. Sedangkan Nada, iya bahkan tak mampu berkata-kata.
"Ma Syaa Allah..." gumam Arsyad sambil menatap sang istri.
"Nad, aku melihat seorang bidadari di depanku. Ini benar kamu kan? " tanya Arsyad dengan gugup.
"I.. Iya..." jawab Nada terbata-bata.
"Sungguh sempurna ciptaanmu Ya Allah." kata Arsyad. Dia sampai melongo saat melihat wajah Nada tanpa kerudung. Pandangannya tak berhenti walau hanya sedetik.
"Kalau misalnya orang itu bisa membuka mata tanpa berkedip sepersekian waktu sekali, aku akan memintanya. Kamu benar-benar ciptaan Tuhan yang paling cantik yang pernah aku lihat. Aku..." ucapan Arsyad terhenti. Iya tak bisa menjabarkan bagaimana cantiknya Nada. Membuat hati Arsyad menghangat.
"Terima kasih ya Allah... Engkau telah mempertemukan aku dengan seseorang yang sempurna seperti dia." kata Arsyad. Iya bingung hatus bagaimana memuji kecantikan sang istri.
"Tapi tidak salah kan aku mengagumi wanita yang sudah halal untukku? " Kata Arsyad.
"Bahkan, aku tak bisa menjabarkan bagaimana cantikmu ini sayang." kata Arsyad.
"Jangan berlebihan memuji. Nanti aku terbang." kata Nada.
"Sungguh luar biasa Nad. Kamu ini tercipta dari apa sebenarnya." kata Arsyad kembali. Karena tak bisa lagi menahan diri, Arsyad langsung menahan tengkuk Nada. Iya mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri.
"Aku ingin menciummu. Boleh ya? " pertanyaan itu bukan sebuah permintaan izin. Melainkan perintah. Nada tak menjawab sama sekali. Dan itu semua di artikan sebagai iya. Arsyad langsung saja menempelkan bibirnya ke bibir manis Nada.
__ADS_1
"Hmmmpp.. Arsyad." Kata Nada setelah beberapa saat. Iya mendorong tubuh suaminya.
"Maaf... Aku terbawa suasana." kata Arsyad. Nada langsung memalingkan wajahnya menghindari kontak mata dengan Arsyad.
"Aku... Aku... Hmmm, kita harus beristirahat." kata Nada.
"Ayok." jawab Arsyad. Iya langsung menarik Nada dalam pelukannya. Dekapannya itu membuat Nada tidak karu-karuan.
"Arsyad..." panggil Nada.
"Hmmm" jawab Arsyad.
"Ini kenapa? " tanya Nada sambil menempelkan telinganya ke dada sang suami.
"Ini yang mana? " tanya Arsyad. Nada langsung sedikit menjauhkan kepalany. Iya langsung menunjuk dada Arsyad yang sejak tadi bergedup dengan kencang. Bahkan Nada bisa mendengar dengan jelas saat menempelkan telinganya.
"Itu, karena ada kamu." kata Arsyad dengan nafas memburu.
"Kenapa karena aku? Aku sejak tadi hanya menurut apa yang kamu katakan." kata Nada dengan polosnya. Iya tak tahu bagaimana Arsyad menahan hasratnya beberapa hari ini. Gadis SMA itu benar-benar polos, tak seperti yang Arsyad fikirkan.
"Nasib punya istri masih sekolah, harus nahan gejolak kaya gini. Sabar Arsyad, sabar." Gumam Arsyad dalam hati.
"Sudah, ayo tidur. Aku akan memberitahumu nanti kalau waktunya sudah tepat. Aku ngantuk banget." Kata Arsyad sambil menarik kembali Nada supaya kembali ke pelukannya. Itu pun sambil memejamkan matanya supaya Nada percaya kalau dirinya benar-benar sudah mengantuk. Akhirnya, mau tak mau Nada menurut lagi kepada sang suami.
__ADS_1
"Dia sudah tidur belum ya? " Gumam Arsyad dalam hati saat mendengar nafas Nada yang teratur. Iya masih belum bisa tertidur karena masih terbayang-bayang wajah Nada. Ingin rasanya iya terus memandang wajah ayu itu. Akhirnya, karena rasa penasaran yang tinggi, Arsyad membuka matanya sedikit. Setelah di pastikan Nada sudah pulas, Arsyad membuka matanya lebar-lebar. Benar-benar tak pernah ada dalam bayangan Arsyad sebelumnya kalau iya akan memiliki seorang istri yang umurnya terpaut jauh. Seorang gadis SMA. Arsyad kembali mendekatkan bibirnya ke bibir Nada yang terlihat begitu menggoda.