Kelabu Diujung Rindu

Kelabu Diujung Rindu
eps 22


__ADS_3

Rani merasa bosan saat ini, dari tadi fikiran nya buntu, belum dapat ide baru untuk gambar rancangannya


"risa, nanti suruh klien yang mau buat gaun pernikahan ketemuan di restoran aja ya, aku bosan, pengen makan-makan aja" rani sibuk mereservasi restoran yang akan di kunjungi nya nanti bersama kliennya nanti melalui ponselnya


"baik mbak" risa dengan cepat menelpon klien rani untuk memberi tahu bahwa rani akan menunggunya nanti di restoran dan akan mengirim lokasinya nanti di chat


Jam setengah 11 rani sudah tiba di restoran bersama dengan bik tum. bik tum dengan hati-hati mendorong kursi rani masuk ke dalam restoran, saat masuk mereka langsung di sambut oleh pelayan disana.


"selamat siang mbak, apakah sudah reservasi sebelumnya?" tanya pegawai itu pada rani


"sudah" rani mengulurkan ponsel nya dan memperlihatlan layar yang menampilkan namanya dan meja yang sudah di booking sebelum datang kesini


Restoran di sini tak terlalu ramai karena belum waktu makan siang, tapi di haruskan melakukan reservasi terlebih dahulu sebelum kesini, sudah aturannya begitu.


bik tum mengikuti pelayan tadi dari belakang menuju ke meja mereka. Ketika sampai di meja yang sudah di pesan rani. Pelayan tersebut mengeluarkan buku menu


rani melihat-lihat menu dan menjadi sangat berselera, karena semua menunya tampak enak


"aku mau paket menu steak lengkap, sama ayam panggang utuh satu, lalu.. Bik tum mau apa?" rani tak lupa bertanya pada bik tum


"aku ikut aja non, ndak ngerti aku" rani hanya tersenyum mendengarnya


"ya udah, aku pesen yang tadi aja, nanti juga bungkusin nasgor pake ati ampela buat mang udin ya, minumnya air putih aja, lagi ga enak tenggorokan" rani tak melupakan mang udin yang setia menunggunya di parkiran, dia tau tanpa mereka dia tak akan bisa apa-apa.


"baik nona, mohon di tunggu" pelayan tersebut mengambil daftar menu tadi dan pamit pergi


Rani berbincang ringan dengan bik tum sampai akhirnya matanya menangkap sosok digo disana yang terhalang beberapa meja sedang berdiri seperti sedang menelpon seseorang.


"bik, itu mas digo kan?" tunjuk rani ke arah sosok yang di lihatnya barusan


"iya non, itu kayaknya emang tuan digo" bik tum juga melihat orang yang sama


"ngapain dia disini, katanya lagi ada meeting" rani menjadi penasaran


"ayo bik, kita kesana" bik tum dengan sigap berdiri dan mendorong kursi rani menuju ke arah digo yang nampak sangat serius berbicara di telepon


Perasaan rani semakin tak enak, dia masih bertanya-tanya ada apa? kenapa suaminya ada disini, mereka hampir sampai ke tempat digo berdiri, digo tak tau kehadiran rani karena posisinya yang membelakangi rani


"Oke rud, makasih banyak ya, lyra akan secepatnya pindah ke sana"


"lyra mau pindah ke mana mas?"


Duuuaarrrrrrr


bagaikan terkena sambaran petir, digo sangat kaget, dia tak menyangka bahwa rani sudah berada di belakangnya bersama bik tum



Digo langsung menyusul rani masuk ke dalam, dia tau bahwa wanita itu pasti akan emosi sekarang

__ADS_1



Ada apa ini?" rani bertanya setengah teriak


"kamu lyra, kamu ngapain disini?" rani menatap lyra dengan tatapn menusuk seakan-seakan ia tau sebuah bencana apa yang akan menimpa dirinya sebentar lagi.



Lyra hanya diam mematung, dia seakan mati rasa, aura gelap seakan-akan mulai memenuhi ruangan yang mulai mencekam itu.



"lyra, hamil anak digo!" plak, rani berasa di tampar denga sangat keras dan jantungnya rasa tertohok, rani tak percaya dengan apa yang dia dengar barusan



"mama juga baru di beritahu tadi sama suamimu" hana melanjutkan, dia ingin menyampaikan pesan yang tak tersampaikan oleh lyra maupun digo.



Lidah rani menjadi kelu, dunia seakan terasa bergoyang bagaikan gempa dahsyat, air mata mengalir tanpa izin di pelupuk matanya. Tangan kanan rani menutup mulutnya yang ternganga karena tidak percaya, tangan kirinya menggenggam erat kursi rodanya yang menjadi bukti kelemahan nya saat ini.



Bik tum juga tak kalah kaget, dia juga shock mendengar itu, dia tak menyangka bahwa lyra orang yang dia anggap sebagai anak baginya itu bisa melakukan hal hina seperti ini




"rani.. Tolong tenanglah" digo takut, dia takut istrinya kenapa-kenapa karena mendengar hal yang sangat tiba-tiba seperti ini.



"dasar brengsek! Singkirkan tangan kotormu dariku mas!" sial, rani benar-benar tak bisa menahan emosi nya lagi, dia seakan-akan ingin meluapkan emosi dan rasa kecewa nya sekarang juga.



digo tak melonggarkan pelukan nya sedikitpun, dia tau rani sedang dirasuki emosi yang begitu dahsyat.



"sabarlah nak, kita akan selesaikan semuanya dengan baik-baik" burhan menimpali, dia sangat iba melihat rani yang menangis meraung-raung itu. Tapi dia juga tidak bisa berbuat banyak, karena yang salah memang anaknya



rani masih menangis, tapi tidak sekencang tadi, dia sekarang mulai sesenggukan karena emosi nya yang tak kunjung redam


__ADS_1


lyra ikut menangis, dia tak tega melihat rani yang menangis dan tampak menyedihkan begitu, dia sangat menyayangi rani seperti sebelumnya, tak pernah terbersit rasa iri hati atau benci setelah dia bermain di belakang nya



"bik tum, a-ku mau pulang bik,, huhuhu, aaa-ku capek" rani dengan tergugu mengucapkan kalimat yang terdengar memilukan itu.



"rani, aku mau jelasin semuanya sekarang, ku mohon, tolong dengerin dulu" digo mengahalau bik tum yang hendak membelokan kursi roda rani untuk keluar dari ruangan yang bagaikan neraka bagi rani



"aku ga mau dengar apa-apa sekarang mas, aku mau pulang istirahat" ucap rani di tengah isakan nya, dia tak mau lebih lama lagi berada di ruangan itu, sebab dadanya terasa semakin sesak



"ya udah, kita pulang bareng ya" digo berdiri dan mengambil alih posisi bik tum, bik tum hanya mengikuti saja kemauan digo



"mama sama papa pulang duluan ya, nanti digo hubungin lagi, makasih udah luangin waktunya" digo tak enak hati sebenarnya



"iya nak, ajaklah rani pulang, kasihan dia" ucap burhan, dia mengerti sekali perasaan kacau yang di alami digo dan juga rani



"lyra, tetaplah disini, nanti ada yang akan menjemputmu, kamu tunggu disini ya, jangan kemana-mana" lyra hanya menangguk dengan mata merah karena menangis



rani tak lagi bicara, ia seperti enggan untuk mengeluarkan energinya lagi, digo langsung mendorong kursi rani keluar bersama bik tum yang ikut mengekor dari belakang.



Mereka sampai di parkiran, digo dengan sigap menggendong rani ala bridal style untuk msuk ke mobil. Bik tum di suruh digo duduk di depan samping mang udin, karena digo yang akan menjaga rani.



"kami pulang dulu ya nak, jaga dirimu baik-baik" ucap burhan pada lyra, burhan merangkul istrinya keluar dan pulang



Lyra terduduk di kursinya menangis, dia tak menyangka hari ini akan berakhir seperti ini



Hay semua, dukung aku ya, dengan cara like, vote dan komen, makasih ☺️

__ADS_1


__ADS_2