Kelabu Diujung Rindu

Kelabu Diujung Rindu
eps 6


__ADS_3

"lyra....."


"iya mbak, kenapa??" lyra sedikit kaget ketika rani memanggilnya


"kamu udah punya pacar belum?" tanya rani tiba-tiba yang membuat lyra heran. digo hanya mendengarkan dengan baik apa yang akan lyra jawab dari pertanyaan rani


"aku jomblo mbak, mana sempat mau pacaran, aku sibuk nyari kerja, dan setelah dapet kerja, aku sibuk kerja, ga ada waktu buat mikirin kesana" yang dikatakan lyra memang lah jujur, dirinya memang sudah lama menjomblo karena terlalu fokus untuk mencari uang. dibalik punggung rani, lyra dapat melihat seulas senyum dari digo yg sedang memandang sunset. Entah apa yang sedang dipikirkan lelaki tersebut


"yah, rugi dong, padahal loh kamu cantik. Sayang banget masa muda mu cuma fokus cari duit, sesekali ga papalah ra cari cowok, kan masa muda ga bisa diulang" Rani bukannya ingin ikut campur, cuma benar yang dikatakan rani, sia-sia saja masa muda jika kamu melakukan hal-hal membosankan setiap hari.


Lyra sebenarnya belum terpikirkan ingin berpacaran, karena bukan tampa sebab, dia memang tak punya teman cowok atau gebetan. "hmm, iya mbak" jawab lyra sekenanya, agar cepat menyudahi obrolan tentang pacaran, dia enggan rasanya membahas masalah asmara.


Hari semakin larut senja sudah hilang digantikan oleh malam, Digo mengajak Rani dan lyra untuk makan malam di pantai itu, sebenarnya lyra ingin sekali makan sendiri karena tak mau mengganggu acara romantis pasangan suami istri ini, tapi Rani terus berusaha mengajak lyra untuk makan bersama, karena dia tidak ingin makan terpisah dengan asisten nya seperti bos yang angkuh.


Lyra pun turut makan bersama dua insan tersebut, setelah selesai makan mereka kembali menikmati angin malam dipantai tersebut, tapi tidak lama, karena Rani sudah tidak kuat karena dingin, akhirnya mereka kembali ke hotel.


Setelah memastikan bos nya sudah kembali ke kamar dan beristirahat, lyra pergi ke balkon untuk menikmati angin malam itu, mengunakan kaos oblong dan celana hot pants pendek miliknya, mengunakan alas kaki yang telah disediakan di kamar hotel dan sebotol minuman soda yang siap menemani lyra menikmati angin malam ini.


Di balkon ada terdapat meja dan kursi di dekat dinding, antara balkon kamarnya dan balkon kamar bosnya hanya terhalang dinding yang setinggi pinggang, jika ingin bercengkrama dengan tetangga kamar hotel tentu saja bisa.


"hmm... Sepertinya aku memang harus mencoba untuk pacaran, sepertinya saran dari nona Rani tidaklah buruk" lyra rupanya masih kepikiran dengan ucapan rani di pantai tadi

__ADS_1


Tanpa ia sadari rupanya digo sedari tadi tengah memandanginya dari arah balkon kamarnya, ia kagum melihat lyra yang hanya menggunakan kaos oblong dan celana hot pants, dengan rambut yang digerai membuat rambutnya bergerak seakan-akan menari nari ditiup oleh angin malam.


"sedang mikirin apa?"


Lyra sontak kaget mendengarnya, lantas ia menoleh dan mendapati digo yang sedang menatapnya dari arah balkon di sebelahnya. Lyra sedikit gugup di pandangi seperti itu oleh digo


"tii..dakk, bukan apa-apa tuan, aku hanya belum mengantuk saja" ucap lyra yang sedikit gugup


"hm.. menikmati angin malam diatas balkon memang menyenangkan, akupun juga suka, karena dengan begitu, kita bisa memikirkan banyak hal dan mungkin... Bisa juga dapat beberapa ide untuk diri kita sendiri, bukankah begitu?"


"betull..., aku sangat setuju, tapi sayang, aku tidak selalu bisa menikmati hal ini, karena rumahku tidak mempunyai balkon" lyra tertawa geli, karena jika berada di suatu tempat yang ada balkonnya, pasti dia sangat antusias menikmatinya"


"yah... Tidak semua orang seberuntung itu untuk memiliknya, tapi bukan berarti semua orang tidak pernah menikmatinya" digo tersenyum dengan pandangan yang sangat tulus pada lyra


"sudah, dia sekarang sedang menikmati waktu istirahatnya, biasanya dia akan begadang untuk membuat beberapa gambar rancangan busana. Hah aku tidak mengerti tentang hal itu, tapi sepertinya rani sangat menyukai hal itu, dia selalu bahagia jika menyangkut soal pekerjaannya"


"nona memang orang yang positif, melakukan pekerjaan nya berdasarkan keinginan hati hingga mendapatkan hasil yang memuaskan"


lyra memuji rani dengan tulus


"ya, dari awal aku mengenalnya dia memang orang yang ambisius dalam hal yang ia sukai. Tidak heran ia bisa sukses seperti sekarang karena keinginannya yang begitu kuat"

__ADS_1


"sepertinya nona memang orang yanf hebat" lyra tersenyum memandang ke arah panti


"lyra... Tidurlah, ini sudah larut dan angin semakin dingin, aku takut kamu akan masuk angin, besok kamu harus menyiapkan tenagamu untuk menemani rani dan aku"


"baik tuan" rani tersenyum dan kemudian beranjak pergi dari sana, ia membuang sisa minuman tadi di tong sampah, dan tak lupa ia menutup kembali pintu kamarnya. Ia menganggap hal itu sebagai hal yang baik, karena atasan tak ingin bawahan nya sampai sakit dan membuat mereka repot. Tak lama lyra mulai tertidur


Digo rupanya masih berada di balkon, dia memandang kearah langit dengan sejuta pertanyaan yang ada di hatinya.


"kenapa?.. Kenapa aku begitu mengagumi sosoknya yang sederhana itu?.. padahal dia tak secantik rani, tidak sekaya rani tapi apa yang membuat dirinya berbeda? Sehingga aku memikirkan dirinya? Ada apa denganku, apa yang salah dariku? Aku sungguh tak ingin menyakiti rani, tapi aku tak dapat menolak hati dan pikiranku yang selalu ada tentang lyra, pantaskah aku di sebut laki-laki brengsek?" aaarrrgghhh..... Ingin rasanya digo berteriak malam itu


"lyra sangat cantik malam ini, aku suka tampilan yang sederhana seperti itu, yang jarang kudapati dari rani, rani selalu tampil anggun dan cantik, jarang sekali berpakaian sederhana walau hanya dirumah


Rambutnya lyra lurus dan indah, kurasa tidak mungkin terawat seperti rani yang selalu kesalon, tapi rambut mereka seolah berbeda dimata digo


nada bicara mereka hampir sama, sama-sama lembut, tapi kurasa jiwa lyra sangat lah luas nan lembut, sebab ia di tempah dari keluarga yang kekurangan sehingga ia harus berjuang untuk membantu keuangan keluarganya, itu suatu hal patut dibanggakan walau ia hanya bekerja sebagai asisten pribadi


Rupanya digo memang telah tersihir oleh lyra. Entah bagaimana dia bisa seperti itu, sedangkan dia sudah mempunyai istri yang sempurna, cantik, wanita karier, lembut, penyayang bukankah laki-laki menyukai hal itu? Ataukah karena mereka belum mempunyai buah hati sehingga digo bisa terpincut oleh pesona lyra??


Entahlah, digo pun pusing akan hal itu, digo kembali ke kamarnya dan berbaring di samping istrinya, tak lupa ia mencium kening istrinya sebelum dia ikut terlelap malam itu.


__ADS_1



hai semua, wahhh, semangatku sedang naik turun nih, bagi kalian yang membaca ini, bisa kasih komentar yang mungkin bisa membantu ku dalam penulisan novel ini, semua masukan akan saya baca dan akan saya jadikan pertimbangan, terimakasih ☺️


__ADS_2