Kelabu Diujung Rindu

Kelabu Diujung Rindu
eps 27


__ADS_3

lyra bangun dari tempat tidur, dia meraih ponselnya dan melihat sekarang sudah jam 11 siang. ia menoleh ke arah digo yang masih tertidur karena kelelahan akibat ulahnya sendiri.


Lyra akhirnya memilih untuk mandi lagi karena badannya terasa lengket karena berkeringat. setelah selesai mandi lyra menuju dapur untuk memasak makan siang untuk mereka berdua, karena bik maya belum kembali jadi dia akan masak sendiri


"tuan digo suka ayam goreng sama sambel terasi, masak itu aja kali ya" lyra akhirnya memasak makanan kesukaan digo. Dia juga memasak sayur sop untuk variasi masakannya, lyra memang sudah lama pandai memasak karena dirinya yang sudah terbiasa memasak bersama dengan ibunya


Disaat jam 12 siang lyra telah selesai dengan masakannya, dia menuju ke kamar dan membangungkan digo


"mas" lyra menguncang pelan bahu digo. Digo belum juga bangun


"mas, bangun" ulang lyra agar laki-laki itu segera bangun


"emmmhhh" digo menggeliat dan merentangkan kedua tangannya keatas.


"jam berapa sekarang?" tanya digo sambil mengucek matanya


"jam 12 siang, sana cuci muka dulu, abis itu kita makan siang bareng"lyra bangkit dan memungut pakaian digo yang berserakan di lantai


"kamu masak sendiri?" digo tau bik maya pasti belum kembali


"iya dong, aku masak ayam goreng sama sambel terasi" lyra tersenyum menunggu reaksi dari digo


"waw, aku suka banget itu, kalau di rumah rani suka ngelarang makan itu, takut sakit perut katanya makan sambel terasi"


"iya, ga papa lah kalau sesekali, iya kan mas"


"iya dong, lagian aku juga suka banget" digo akhirnya bangun dan memeluk lyra


"makasih ya atas perhatian kamu, tapi inget, kamu ga boleh cape-cape, sebab ada anak kita yang harus kamu jaga" digo mengelus lembut kepala lyra


"iya mas, ya udah sana cuci muka dulu, aku tunggu di ruang makan ya" lyra memberikan pakaian yang ia pegang dari tadi ke tangan digo dan bergegas keluar kamar




Rani saat ini sedang dalam perjalanan menuju ke rumah orang tuanya, ia berniat menyampaikan niatnya yang ingin bercerai dengan digo, sebab sebelum di pergi ke pengadilan dia akan membicarakan hal ini terlebih dahulu pada keluarga nya



"bik, aku takut papa akan marah, dia pasti tak suka jika aku bercerai dengan digo" rani bimbang akan keputusannya memberitahukan niatnya ini pada papanya



"ga papa non, dari pada nona ga ngasih tau sama sekali tentang keputusan nona, malah takutnya tuan bakal lebih marah dari ini lagi" bik tum juga tau seperti apa watak dari orang tua rani



Rani goyah dengan perasaannya tapi dia tak mau menyerah, apapun yang terjadi dia tetap ingin bercerai dengan digo, karena dia tak ingin bersama lelaki yang telah menyakiti perasaannya itu.



Mobil rani memasuk area garasi mobil di kediaman orang tua rani, pak udin dan bik tum dengan sigap membantu rani turun dari mobil, setelah memastikan rani sudah duduk dengan aman di kursi rodanya, bik tum mendorong kursi menuju pintu depan



ting tong...


Bik tum memencet bel beberapa kali, tak perlu waktu lama pintu di buka oleh pelayan keluarga orang tua rani

__ADS_1



"eh nona rani, silahkan masuk nona" pelayan tersebut langsung mengenali rani dan membantu rani untuk masuk ke dalam



"papa ada ki?" tanya rani



"ada mbak, tuan udah dua hari nggak kerja karena kurang sehat katanya, kalau ibuk kayak nya lagi di taman nanem bunga" rani mengangguk mengerti



"ya udah, antar aku ke mama aja" kiki permisi pada bik tum untuk mengambil alih tugas bik tum, bik tum hanya mengangguk saja dan pergi ke dapur, karena rani pasti ingin berbicara berdua saja dengan mamanya



"saya tunggu di dapur non" ucap bik tum sebelum pergi



"iya bik, nanti kalau udah beres aku panggil"



Kiki mendorong kursi rani menuju taman samping rumah, tampak beberapa orang bekerja di taman membantu mama mengurus taman itu, karena mama memang suka dengan macam-macam bunga, dan papa rani pun tak melarang hobi mamanya



setelah berada tepat di belakang mamanya rani, kiki pamitan untuk pergi juga dari sana




"sayang, kapan kamu datang" neli, mamanya rani langsung menghentikan aktivitasnya dan mendekati rani



"barusan ma.." rani tersenyum manis walaupun hatinya saat ini sedang hancur



"digo mana?" mama melihat kebelakang siapa tau digo ada disana juga



"dia ga ikut ma" jawab rani, suara nya hampir bergetar karena menahan tangisannya, jika sudah berada dekat dengan orang tuanya, dia menjadi rapuh seakan ingin menghambur kepelukan mamanya dan menceritakan semua kepedihan yang dia rasakan saat ini



"tumben ga ikut, kenapa sayang?" neli merasa ada yang aneh, tak biasanya rani datang seorang diri kesini.



"ada yang mau aku omongin sama mama dan papa, ini soal mas digo" rani mencoba memberanikan diri


__ADS_1


neli hanya tertegun, hatinya tak bisa berbohong bahwa dia merasa putrinya sedang dalam masalah yang sulit untuk dia selesaikan sendiri, insting seorang ibu memanglah kuat



"kalau gitu mama cuci tangan sebentar" neli bergegas pergi ke arah keran air yang ada di taman itu dan mencuci tangannya sampai bersih.



"ayo.." neli pun mendorong kursi rani menuju ke ruang kerja farhat, ayah nya rani



Tokk tokkkk


"pa,,, ada rani" neli mengetuk pintu kerja farhat perlahan dan memberitahukan pada suaminya itu bahwa rani ada di rumah mereka sekarang



"ohh iya ma, masuk aja" terdengar suara farhat yang menjawab sahutan neli



mendengar jawaban dari farhat neli pun membuka pintu ruang kerja suaminya dan kembali mendorong kursi roda milik rani



Di dalam ruang kerja yang bernuansa gelap itu, nampak farhat yang sedang duduk di kursi belakang meja kerjanya, melihat putrinya yang masuk ia kemudian bangkit dan mencium puncak kepala putrinya



rani sudah biasa di perlakukan bak seorang putri oleh papanya, karena dia satu-satunya anak perempuan farhat, kakak dan adik rani semuanya laki-laki



"digo mana nak?" farhat menanyakan hal yang sama seperti neli tadi



"dia ga ikut pa" ucap rani


Farhat yang mendengarnya langsung menoleh ke arah neli, dan neli mengedikkan bahunya pertanda ia juga tidak tahu



"ya sudah sini, sudah lama papa ngak ngobrol sama anak kesayangan papa" farhat mendorong kursi rani ke arah sofa. Neli juga ikut duduk bersama mereka



"kenapa sayang? Kenapa digo ga ikut kesini? Farhat mulai menanyakan lagi perihal digo



"pa... Ada yang mau aku kasih tau sama papa dan juga mama" rani menggenggam tangan neli erat.



Hay semua, dukung aku terus ya, dengan cara like dan komen.


Terimakasih ☺️

__ADS_1


__ADS_2