
Lyra tak menyangka jika apartemen nya semewah ini, teletak di kawasan elit dan dekat dengan pusat perbelanjaan dan taman, yang tidak akan pernah membuat lyra akan bosan tinggal disini
Lyra berkeliling di dalam apartemen itu, disana terdapat dua kamar tidur dan satu ruang baca yang juga bisa di jadikan ruang kerja.
Dapur yang sudah lengkap dengan set kitchen nya yang berwarna abu gelap nampak sangat elegan. Lyra masuk ke kamar utama, dimana itu akan menjadi kamar pribadinya nanti, lyra sangat bahagia, tak terasa air mata mengalir di pipinya
Ia bersyukur sekali memiliki digo, lyra tak henti-hentinya mengucap rasa syukur di hatinya, dia mengelap air mata dengan tissue yang sudah ada di atas nakas samping tempat tidur. Ia duduk di ranjang king size itu, empuk! Itulah yang di rasakan lyra, dia tersenyum sangat lebar.
tok.. Tok...
Pintu kamar lyra di ketuk, rupanya rudi masih ada disana
"ya, kenapa?" tanya lyra yang masih enggan meninggalkan tempat tidurnya yang empuk itu
"maaf menganggu nona, ada telpon dari tuan digo"
Lyra langsung berdiri dan menghampiri rudi yang berdiri di luar kamarnya.
Lalu dia mengambil ponsel yang ada di tangan rudi, dan lyra kembali lagi ke kamarnya
'ais, dasar gila si digo, udah kena semprot istrinya masih aja sempet nelpon nanyain selingkuhan nya' hardik rudi dalam hatinya sambil berlalu meninggalkan lyra yang akan mengobrol dengan digo melalui ponselnya
"halo.."
"sayang, apa kau suka apartemen nya?" digo berharap sekali pilihan nya kali ini tidak salah
"suka, sangat sangat suka, disini nampak sangat nyaman, terutama kasur nya sangat empuk, bikin betah" lyra tersenyum, dia seakan melupakan masalah yang telah terjadi beberapa saat yang lalu
"syukurlah, aku takut kamu tidak suka, kamu istirahat disana dulu ya, aku akan secepatnya kesana, aku akan menemani rani dulu dan mau menjelaskan semuanya padanya" digo sudah mantap, dia tak mau lagi berbohong apapun pada rani
"tapi, apa nona rani akan setuju hubungan kita? Sedangkan tadi saja dia terlihat sangat terpukul" ucap lyra sendu
"mau bagaimana lagi, aku sudah terlanjur menyukaimu, dan juga kamu sedang hamil, aku ga mau anakku nanti ga punya ayah, mau tak mau rani harus terima" digo jadi emosi ketika ingat rani yang tak mau bicara dengan nya tadi
__ADS_1
"iya mas, semoga saja nanti nona rani akan luluh, anak ini juga akan mejadi anak nona rani, kita akan membesarkan nya sama-sama" lyra mengelus perutnya
"iya sayang, aku setuju jika rani ikut membantu membesarkan anak kita, siapa tau dia juga nanti akan dapat rezeki yang sama, bisa hamil juga" digo sudah membayangkan hal yang indah tentang masa depan mereka bertiga
"iya mas, kenapa mas bisa menelponku? Apakah tidak dimarahi nona rani nanti?"
"dia sedang istirahat di kamar, lagi gak mau di ganggu katanya, sekarang aku lagi di taman belakang, aku kangen sama kamu, pengen peluk kamu"
"dasar mesum" lyra tersenyum malu, walau tak bertatap muka, lyra tetap saja malu mendengar hal itu
"ya sudah, istirahatlah, jaga kehamilan mu dengan baik, gunakan kartu yang ku berikan waktu itu untuk keperluan disana, jangan terlalu irit, aku mau gizi mu dan anak ku tercukupi" digo mendadak sangat perhatian, seolah-olah dia sudah sangat siap menjadi seorang ayah
"iya" lyra mematikan sambungan teleponnya. Ia kembali keluar kamar hendak mengembalikan ponsel milik rudi
"ini ponselmu, makasih banyak ya" lyra mengulurkan ponsel ke arah rudi yang sedang duduk di sofa menunngu ponselnya kembali
"sama-sama nona, saya pamit dulu, sebentar lagi pembantu baru akan sampai, jadi kalau nona mau keluar berbelanja keperluan nona, silahkan ajak dia, jangan pergi sendiri" rudi memasukkan ponselnya ke dalam jas nya
"baik, terimakasih"
Ting.. Tong...
Disaat lyra akan tidur tiba-tiba bel apartemen lyra ber bunyi
"hah, pasti bibik baru yang bantu aku disini, baik sekali tuan digo" lyra bergegas pergi membuka pintu
"selamat siang non, namaku maya, aku ditugasin buat kerja disini sekalian jagain nona juga" perempuan yang berumur sekitar 50-an itu memperkenalkan dirinya dengan ramah, dia tampak seperti orang yang baik, dari raut wajah nya dia seperti orang yang sangat penyayang.
"oh iya bik, kenalin nama aku lyra, makasih ya bik, maaf sebelumnya kalau kedepannya aku bakalan bikin bibik repot, hihi" lyra merasa dia akan nyaman dengan bik maya, karena memang dia mudah berbaur sama orang lain
"iya non, itu sudah jadi tugas saya. udah makan siang belum non? Kalau belum biar bibik masakin" tawar bik maya
"jangan panggil nona bik, gak terbiasa dengernya... Hmm panggil nama aja, lyra" lyra merasa terbebani di panggil nona, seakan akan dia seperti bos besar saja
__ADS_1
"loh ndak apa-apa toh, nanti takutnya bibik malah di marahin sama tuan digo"
"nggak kok bik, dia gak gitu orang nya, ya udah, panggil neng aja, gimana?"
"yo wes, kalau manggil neng bibik gak masalah" bibik tertawa karena lyra, dia tak menyangka akan bekerja dengan orang yang sangat baik
"ya udah bik, aku juga kebetulan udah laper, karena banyak nangis tadi, bibik masak aja, aku mau istirahat bentar ya bik, nanti bibik panggilin aku kalau udah siap"
"loh, abis nangis kenapa toh?" bik maya penasaran
"enggak, tadi kelilipan di jalan" kilah lyra
"oalah, ya sudah bibik masak dulu, neng lyra istirahat aja, nanti bibik bangunin" bibik beranjak ke dapur mulai menyiapkan makan siang untuk lyra.
Lyra pun pergi beristirahat kembali ke kamarnya
Digo mondar mandir di dalam rumah, pasalnya rani belum juga keluar kamar padahal sekarang sudah jam makan siang, dia tak mau istrinya nanti sakit jika telat makan. Akhirnya digo berinisiatif mencoba membujuk istrinya
"sayang, ayo keluar, makan siang dulu, ingat kamu harus minum obat" digo berbicara di depan pintu kamar. Lama tak ada respon akhirnya bik tum yang membuka pintu dan keluar dari kamar
"nona rani dari tadi nangis tuan, trus ketiduran, sekarang bibik mau nyiapin makan buat nona rani, biar bisa makan di kamar aja, kasian dia pasti capek karena nangis terus" bik tum tak tega sekali dengan rani, teriris rasanya hatinya melihat orang yang dia segani dan di sayang harus terluka karena perselingkuhan suaminya
"ya udah bik, yang penting rani harus makan, trus nanti obatnya jangan lupa suruh dia minum ya bik, cuma sama bibik aku percayakan rani bik" bik tum tersenyum mengangguk seolah mengerti kegelisahan digo. Kemudian bik tum berlalu menuju dapur untuk menyiapkan makan siang rani
__ADS_1
Hay semua, makasih ya yang udah setia baca karyaku, kalau ada yang mau ngasih kritikan silahkan, akan aku jadikan pembelajaran buat aku kedepannya, makasih