
"ada apa pa?" hana yang baru datang ke ruang tamu heran melihat suaminya itu terlihat sangat murung
"tadi papanya rani menelponku ma, dia sudah tau perihal perselingkuhan digo" burhan memijit keningnya
"hah, aku jadi pusing karena ulah digo ini, jadi apa kata tuan burhan pa?"
"dia minta kita untuk datang ke rumahnya sekarang, dan digo harus kesana juga"
"ya udah, biar mama yang coba telpon digo pa" hana mengambil ponselnya dan menelpon nomor digo.
Tuuut... Tuuttt....
"halo ma" ucap digo di seberang sana
"nak, kamu lagi dimana?"
"aku... Lagi di tempat rudi ma" ucap digo bohong, dia meletakkan jari telunjuknya di depan bibir agar lyra diam dan mendengarkan saja
"loh, kok kamu ga sama rani sih" ucap hana kesal
"tadi, kami abis bertengkar ma, panjang ceritanya, intinya rani mau cerai sama aku"
"yaampun, rani terlalu cepat mengambil keputusan, nak. Sekarang kamu kerumah orang tuanya rani ya, papa dan mama juga akan kesana, tadi papa rani menghubungi papamu"
"iya ma, aku udah filing kalau rani pasti kesana hari ini"
"ya udah, mama mau siap-siap dulu, awas kamu ga datang"
"iya ma, mama ga usah khawatir, aku pasti datang" digo meyakinkan mamanya
Mendengar hal itu hana menjadi senang, dia mematikan telponnya
"digo juga datang pa, papa ga usah khawatir lagi, ayo kita siap-siap" hana berdiri dan berjalan menuju ke kamar mereka
Burhan yang mendengar itu mengangguk-angguk dan ikut berjalan di belakang istrinya
"lyra, maafin aku ya, aku ga bisa jagain kamu hari ini, aku harus kerumah orang tua nya lyra" digo memeluk lyra
"iya mas, ga papa, aku ngerti kok" lyra membalas pelukan digo seakan dia ingin mentransfer energi positif pada digo, digo mengelus rambut rani, ia benar-benar tidak ingin kehilangan dua wanita ini dalam hidupnya, walaupun lyra baru sebentar berada di hatinya tapi dia sama berartinya baginya
__ADS_1
"ya udah, aku berangkat dulu ya, kamu hati-hati, jangan kecapean, jangan telat makan"
"iya mas" lyra terkekeh akan ulah digo
Digo mencubit hidung rani kemudian mencium puncak kepala rani lalu ia keluar dari apartemen itu.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh akhirnya orang tua digo sudah sampai terlebih dahulu dibandingkan dengan digo, burhan dan hana masuk kerumah besan nya dengan perasaan yang tak karuan.
"selamat siang tuan, silahkan masuk, tuan farhat dan yang lain sedang duduk di ruang tamu" sapa pelayan yang membuka pintu untuk mereka
"baik terimakasih" ucap hana dan mengikuti langkah burhan yang menuju keruang tamu di rumah besannya
"selamat siang semuanya" ucap hana terlebih dahulu
"ah selamat siang. Silahkan duduk" neli balas menyapa, burhan dan farhat saling memandang tanpa berkata apapun
"mau minum apa?"
"ga usah repot-repot" jawab hana
"jangan sungkan, bik bikinkan teh ya"
Pelayan langsung bergegas ke belakang menyiapkan minuman untuk tuan beserta tamunya
"dimana digo?" farhat bertanya tanpa basa-basi lagi, dia sudah sangat bagus tidak langsung memaki orang tua digo, dia mencoba mengontrol emosi nya sebaik mungkin agar tidak terlihat di depan putrinya
"dia masih di jalan, tadi kami juga sudah menghubunginya" ucap burhan, dia tau farhat sangat marah, tapi apa boleh buat, toh memang digo memang melakukan kesalahan yang besar
"rani, apa kabarmu sayang?" tanya hana berpindah tempat duduk di samping rani
"aku baik ma, hatiku yang lagi gak baik" ucap rani
hana mengenggam tangan rani, dia sebenarnya sangat iba pada menantunya
"maafkan mama ya nak" hana menggenggam tangan rani
Rani hanya bisa tersenyum getir, rasanya hana sudah serti orang saat ini, setelah dia melihat hana bersama dan lyra bersama diruangan itu. Ia merasa dirinya sudah tidak berarti lagi bagi mereka
"iya ma" hanya itu yang mampu rani ucapkan
__ADS_1
Tak berselang lama nampak digo yang datang dan berjalan ke arah ruang tamu tempat mereka sekarang
"maaf pa aku telat" ucap digo gugup
"silahkan duduk" ucap farhat dengan ekpresi yang sedang menahan emosi
"papa ga mau basa-basi disini, kami sudah dengar cerita dari rani. Dan sekarang mau dengar alasan dari kamu" farhat sedikit menggebu
digo menjadi kikuk dan gugup.
"hmm... Iya pa, apa yang rani ceritakan memang benar, digo udah selingkuh sama asisten rani yang bernama lyra, sekarang dia juga lagi hamil" ucap digo terus terang
"jadi apa solusi darimu" neli langsung bicara duluan dengan menggenggam erat tangat putrinya. Rani hanya bisa tertunduk menahan air matanya yang akan terjatuh lagi.
"aku memang salah ma, tapi aku ga bisa verai sama rani, aku sayang sama dia, daannn juga..." digo berhenti sejenak.. lidah nya terasa kelu
"aku harus tetap tanggung jawab sama anakku yang sedang dikandung oleh lyra"
pranggg....
farhat melempar gelasnya kedinding yang membuat serpihan kaca berserakan kemana-mana
"kurang ajar kamu".. Ucap farhat dengan emosi yang sudah tak terbendung lagi
"maaf pak farhat, maafkan anak saya, dia sedang tidak berpikir jernih saat ini" ucap hana yang mulai ketakutan melihat farhat
"sebaiknya kamu pulang dulu digo, ini belum bisa dibicarakan lebih lanjut" ucap neli takut suaminya bertindak lebih jauh
"baik ma" digo dengan rasa serba salah pun keluar dari rumah orang tua digo
"kurang ajar sekalo dia, bisa-bisa dia ingin menduakan anak ku" farhat memijit keningnya
"pa udah pa, nanti papa kena darah tinggi, udah ya, kita bahasnya besok lagi, papa harus istirahat dulu" ucap rani mencoba menenangkannya walaupun hati dan pikirannya juga ikut kacau saat ini
"ya sebaiknya begitu, tuab, maaf ya nak rani. Mama sama papa pamit pulang dulu, kalau ada apa-apa kamu bisa hubungi mama" ucap neli dengan sungkan karena merasa tidak enak hati dengan situasi ini
Akhirnya burhan dan hana berpamitan pulang walaupun belum menemukan titik terang dalam permasalahan digo ini.
"aku mau kekamar dulu, rani kamu ga usah pulang dulu, lebih baik kamu untuk sementara tinggal disini bareng sama papa dan mama, sampai masalah mu selesai"
"iya pa, aku nginep disini, ya udah papa sekarang istirahat ya" farhat hanya tersenyum melihat putrinya, dia mencium kening putrinya itu sebelum pergi ke kamarnya.
Rani hanya tersenyum sampai papanya benar-benar sudah masuk ke kamar bersama mamanya.
__ADS_1
Dan sekarang ia benar-benar menumpahkan air matanya yang sejak tadi sudah ia tahan.
Hati nya terasa sangat sakit. Ia benar-benar mengutuk dirinya yang tak berdaya saat ini