
"waw mas, jadi ini dirimu yang sebenarnya, aku kaget loh! Dulu kamu itu sangat dingin sama cewek lain, dulu aku adalah cinta matimu, dimana sosok digo yang dulu sangat mencintaiku, dimanaaaa!!!!!" air mata rani akhirnya tumpah, dia tak lagi bisa menahannya lebih lama lagi.
Digo yang tanpa sudar membentak rani menjadi sangat frustasi, dia melempar semua makanan yang ada di meja makan kelantai, membuat semua makanan berserakan dan piring serta gelas menjadi pecah berkeping-keping.
"aku sangat mencintaimu rani, dan benar, aku memang sudah melakukan kesalahan yang fatal, tapi aku akan tetap menikahi lyra dan memberikan status yang jelas pada anak yang sedang di kandungnya sekarang!" digo ter-engah engah mengucapkan nya, darah mengalir di tangannya, mungkin teluka saat dia dengan emosi melempar piring makanan dan gelas yang ada di meja
"selamat mas, keinginan mu untuk jadi seorang ayah sebentar lagi akan tercapai" rani mengelap air matanya dan dia menekan tombol kontrol di kursi roda nya dan menuju kembali ke kamar, dia tidak kuat lebih lama berada di dekat digo. Bik tum yang melihat rani kembali ke kamar segera menyusul nya
"arrrgghhhh sial" digo sangat frustasi. Lama dia terdiam di tempat nya, akhirnya dia memilih pergi untuk menemui lyra, ingin memastikan bahwa dia baik-baik saja
digo menyetir mobil sport warna hitam miliknya dengan kecepatan maksimum, dia secepatnya ingin sampai di apartemen lyra dan memeluk gadis itu.
Setelah sampai di parkiran mobil, digo bergegas menuju lift menuju ke lantai apartemen lyra, hati nya sedang tidak baik, dia benar-benar kacau,
Drrrttt... Drrrtttt...
ada panggilan masuk di ponsel digo, digo segera mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan langsung mengangkat telepon itu.
"hallo.. Kenapa?" tanya digo tanpa basa-basi
"hehe, selow dong, kenapa belum dateng ke kantor? bolos lagi lo?" rudi sebenarnya tau digo tidak akan masuk hari ini cuma dia ingin iseng saja menganggu digo yang sedang kacau itu
"ga, gua lagi ga bisa masuk hari" ting.. Pintu lift terbuka dan digo keluar dari lift
"udah, selsain semuanya ya, gue percaya sama lo" digo langsung mematikan telpon nya tanpa menunggu rudi menjawab terlebih dahulu, sekarang dia sudah sampai di depan pintu apartemen lyra
Ting.. Tong...
__ADS_1
Digo memencet bel nya...
lyra yang yang sedang sarapan hendak berdiri untuk membuka pintu tapi langsung di halang bik maya, karena itu sudah menjadi tugasnya, lagi pula lyra sedang makan
"biar saya aja non, nona lanjutin aja sarapannya" bik maya seraya berjalan menuju pintu dan membukanya.
"selamat pagi bik" sapa digo yang melihat bik maya yang membukakan pintu
"selamat pagi tuan" bik maya membungkukkan sedikit badannya
Digo yang masuk langsung menghampiri lyra yang sedang sarapan
"mas.. Kok pagi-pagi udah kesini?" lyra kaget rupanya digo yang datang.
'kenapa tuan digo datang? Apa dia belum punya kesempatan buat bicara sama nona rani?'
"aku kangen sama kamu" digo langsung memeluk lyra yang sedang duduk di meja makan itu. Lyra yang di peluk tiba-tiba jadi kaget
"hmmm,,, anu tuan,, kalau gitu aku pamit dulu, nanti saya datang kesini lagi" bik maya takut mengganggu.
"oh iya bik, nanti kalau ada perlu kami telpon bibik, maaf ya bik" ucap digo pada bik maya
"iya tuan ga papa, kalau gitu saya permisi dulu" bik maya kemudian bergegas meninggalkan apartemen dan menyisakan digo dan lyra disana
"kamu sarapan apa sayang? Enak gak?"
"kenapa mas? Ada masalah apa pagi-pagi kesini? Nanti di cariin nona rani loh" tanpa menjawab pertanyaan digo, lyra malah balik bertanya, lyra tidak mau menunjukkan kecemburuan nya sedikitpun, walau dia sedang mengandung anak digo, dia tetap tidak ingin bersifat egois
__ADS_1
"aku lagi stres di rumah, seharian kemaren aku ga bisa bicara sama rani, dia mengurung diri di kamar, pagi ini dia udah keluar dan sarapan, aku kira emosi nya udah reda, rupanya dia yang malah bikin aku emosi dengan perkataanyaa" digo ikut duduk di samping lyra
"perkataan apa mas?" lyra jadi was-was
"dia ngizinin kita nikah, tapi setelah kami cerai, aku ga mau cerai sama rani lyra, aku sayang sama kalian berdua" digo menangis saat ini, dia jadi bimbang dan penuh penyesalan dalam dirinya
"mas... Jika memang mas mau mempertahankan rumah tangga mas sama nona rani itu wajar, karena dari awal kalian saling sayang dan cinta, hanya aku yang salah di sini muncul sebagai duri dalam daging di hubungan kalian"
"lyra, jangan bicara begitu, aku yang salah, aku tidak bisa menahan nafsu ku kali ini" digo semakin terisak.
Lyra mengusap punggung digo, dia sangat mengerti sekali perasaan rani saat ini, jika berada di posisi rani pun mungkin dia akan melakukan hal yang sama.
"maaf kan aku mas, maaf kan aku" lyra jadi ikut menangis melihat digo yang menangis di hadapannya, lelaki gagah dan dingin dan juga seorang ceo perusahaan terkenal sedang menangis tersedu-sedu di hadapannya sekarang karena permasalahan yang melibatkan dirinya
Digo yang mendengar itu refleks memeluk lyra, dia tidak tau lagi harus berkata apa, yang pasti dia butuh pelukan.
"lyra, apa yang harus aku lakukan, aku sungguh menyayangimu dan juga rani, tapi aku tak mungkin mengorban kan salah satu dari kalian, aku harus apa" sungguh ironi sekali, dalam benak digo dia tetap tidak mampu memilih salah satu diantara mereka, dia menyayangi semua nya.
"mas... Pilih lah nona rani, biar bagaimanapun dia tetap butuh dirimu, karena dia dalam kondisi yang sulit.. Aku akan merelakannya" digo langsung melepaskan pelukannya
"apa maksudmu lyra? Jangan bicara seperti itu, bagaimana mungkin aku akan melepaskanmu, sedangkan kamu saat ini sedang mengandung anakku" digo tak habis fikir dengan lyra, dia pikir lyra akan berpendapat berbeda dengan rani, ternyata mereka sama-sama berkeinginan melepaskan hubungan ini.
"aku ga mau menyakiti nona rani lebih jauh lagi, mass.. Aku akan menjaga anak kita dengan baik. Tapi kumohon tetaplah bersama nona rani" lyra menangis, ini keputusan yang berat. Tapi dia tidak mau lagi menyakiti rani
Digo yang emosi mendengar itu langsung menarik leher rani dan mencium bibir lyra dengan brutal, hatinya saat ini panas, mau bagaimana pun dia tetap tidak akan melepaskan rani dan juga lyra
"mmmmhhh, m-mas" lyra hampir kehabisan napas saat ini
__ADS_1
"jangan bicara apa-apa lyra, biar aku yang mencari jalan keluarnya" digo tak mau melibatkan lyra lagi, dia tidak mau kehilangan gadis ini
Digo menarik tangan lyra ke dalam kamar, dia ingin menuntaskan hasratnya yang tiba-tiba membara saat ini, tapi tentu dalam ritme yang sedang. Karena dia tak mau menyakiti janin yang ada dalam perut lyra