
Dan lyra berusaha melepaskan tangannya dari genggaman digo tapi digo memegang tangan lyra dengan sangat erat. Dia menoleh kearah lyra dia menatap lyra sangat lama lalu tersenyum, lyra melotot ke arah digo sambil matanya menunjuk ke arah tangannya agar di lepas, tapi digo tetap menggenggam tanga lyra. Lyra sudah keringat dingin sekarang, dia benar-benar takut jika nanti rani melihat mereka dan dia takut rani salah paham padanya.
lyra berusaha sekali lagi menarik tangannya sekuat tenaga dalam diam agar tak ketahuan oleh rani. Tapi tetap saja tangan nya tidak bisa lepas.
"tuan, tlg lepaskan tangan saya" lyra berbisik kepada digo, digo hanya tersenyum dan tidak menunjukkan tanda-tanda ia mau melepaskan genggamannya.
"ini orang kenapa sih? aneh banget, bisa-bisanya dia megangin tangan ku disaat dia lagi sama istrinya, sinting kayaknya"lyra mendecak kesal
Digo tau lyra sedang kesal saat ini, tapi ini kesempatan yang baik buat dia bisa menyentuh lyra
Lyra sudah tidak lagi mencoba melepaskan tanggan kirinya, sekarang ia sedang mencoba kembali fokus pada film di depan.
Disaat film mulai semakin menegangkan, hantu di dalam film muncul dengan sangat tiba-tiba dengan back sound yang membahana sehingga membuat terkejut semua penoton, rani yang terkejut dan takut langsung memeluk tangan kiri digo, digo pun mencium puncak kepala rani dan mengelus tangan rani untuk menenangkannya.
Lyra yang ikut terkejut tak sadar jika dia menutup wajahnya dan mengarahkan pada bahu sebelah kanan digo, digo yang sadarpun setelah mencium rani langsung menoleh pada lyra, lyra tersadar langsung mengangkat kepalanya, tak ayal digo langsung mengecup bibir lyra sekilas dan langsung kembali menghadap kearah istrinya, lyra yang mendapat serangan tiba-tiba tersebut menjadi diam dan membeku, seakan-akan waktu sedang berhenti sejenak.
Lyra masih tak bergeming, sedangkan rani sudah mulai fokus lagi menonton. Digo tersenyum senang, hatinya ikut berdebar-debar atas perlakuannya sendiri.
"tuan, jangan bersikap begini, aku tak mau jika nona rani salah paham padaku" lyra berusaha sekuat tenaga untuk mengumpulkan kembali kesadarannya dan mulai berinisiatif untuk memberi tahu digo, sebab dia tak ingin hal ini membuat rani salah paham padanya dan membuatnya kehilangan pekerjaan nantinya.
digo yang mendengar hal itu semakin mengeratkan genggaman nya pada rani, tangan nya ia sembunyikan di dalam saku jaketnya, sehingga tidak terlihat oleh rani
"tak usah khawatir, aku suka begini, nikmati saja, ku yakin kamupun pasti akan suka"
Deg ~~~
apa -apan ini! Kenapa tuan digo semakin bertindak gila, sebenarnya apa yang ia inginkan? Tidak mungkin kan dia menyukainku, sedangkan aku tidak lebih baik dari nona rani, ya tuhan.
Lyra hanya bisa mengeluh dan menggerutu sendiri.
__ADS_1
Ketika film selesai digo langsung melepaskan genggaman nya pada lyra, dia mulai kembali menggendong rani untuk keluar dari bioskop dan duduk lagi di kursi roda.
lyra tak banyak bicara setelah pulang dari menonton tadi, disaat mereka makan siangpun lyra nampak tak berselera, rani sudah menyuruh lyra untuk makan yang banyak tapi lyra benar-benar hilang nafsu makannya sekarang, sedangkan digo, dia hanya diam dan fokus pada makannya
disaat sore hari mereka bertiga sudah berkemas untuk pulang kerumah, karena besok digo sudah harus kembali bekerja seperti biasa. Di perjalanan lyra tak banyak bicara, dia hanya mendengarkan rani yang sedang asyik berbicara membahasa film yang mereka tonton tadi, digo pun menanggapi semua yang rani bicarakan dengan baik, hal itu membuat lyra terasa muak, ia muak melihat sikap digo yang bisa egois seperti itu, di depan istrinya dia sangat baik, tapi di belakang dia bisa seenaknya merayu wanita lain.
Ketika sudah sampai di rumah lyra langsung membantu rani masuk ke kemarnya sedangkan barang mereka sudah di urus oleh pembantu dan satpam yang lain.
"mbak rani, saya sore ini mau izin pulang ya, soalnya udah rindu sama ibuk" lyra ingit beristirahat malam ini, terutama otaknya
"baiklah, besok masuk lagi, ya" rani tersenyum ramah pada lyra
"baik mbak" lyra pun membalikkan badannya hendak keluar dari kamar tapi pintu sudah di buka duluan oleh digo yang hendak masuk kamar
"sayang, aku ke kantor dulu ya, ada beberapa pekerjaan mendadak yang harus aku tangani sekarang, mungkin aku pulang agak larut, kamu ga usah nungguin aku ya malam ini, kamu langsung tidur aja"
Hebat! kau hebat nona rani! Bisa -bisanya nona membiarkan suamimu yang genit ini untuk mengantar wanita lain berduaan saja
"baiklah, lagian rumah lyra tidak terlalu jauh" digo pun berjalan keluar kamar dan sekilas ia menatap lyra dan tersenyum
"tak usah nyonya, saya bisa pulang sendiri naik angkutan umum, saya tidak mau merepotkan tuan dan nona"
"tidak apa lyra, ayo sana cepat! Mas digo paling ga mau nunggu lama"
mau tidak mau lyra harus menuruti perkataan bosnya, lyra pun keluar menuju ke mobil digo. Lyra duduk di kursi belakang, mana berani dirinya untuk duduk di depan samping digo.
Digo menghela nafasnya, sebelum akhirnya mobilnya mulai meninggalkan perkarangan rumah mewah miliknya.
Saat mobil melewati taman digo menghentikan mobilnya
__ADS_1
"kenapa berhenti tuan? Rumah ku masih jauh" lyra terkejut karena digo yang tiba-tiba berhenti.
" sini, pindah tempat duduk, duduk di depan di sampingku"
"tidak tuan, itu tidak sopan"
"cepat! Ini perintah saya!" digo menaikkan sedikit nadanya yang membuat lyra sedikit takut dan langsung bergegas untuk pindah tempat duduk di samping digo
"ada yang ingin aku bicarakan"
Lyra hanya diam, menunggu apa yang akan digo katakan selanjutnya
"entah kenapa, sejak kamu mulai bekerja di rumah untuk rani aku mulai suka memperhatikan dirimu, entah apa yang membuat dirimu terasa berbeda sehingga aku bisa tersihir oleh mu"
Lyra masih tetap bungkam dengan keterkejutannya dan rasa tak percaya masih terpatri di benaknya
"mungkin kamu tak akan percaya padaku, tapu aku sungguh menyukai mu, apalagi setelah obrolan kita malam tadi di balkon membuat hatiku semakin menghangat"
Digo meraih tangan kanan lyra
"lyra, aku menyukaimu. Sungguh, perasaan ku bukan cuma omong kosong belaka, percayalah aku menyukaimu apa adanya"
Lyra yang masih terkejut langsung menutup mulutnya dengan tangan kiri, rasa tak percaya semakin menyeruak
"tuan, apa anda sudah gila? jangan lupakan status kita yang sebenarnya, saya hanyalah seorang pembantu. Jangn membuat diri saya semakin hina"
"lyra...."
Hmm... Kira -kira lyra bakalan luluh gak ya sama babang digo? Hihi, tunggu ya kelanjutannya, jangan lupa like dan komennya ya, biar aku semakin semangat, thank you ☺️
__ADS_1