Keluarga Yang Aneh

Keluarga Yang Aneh
AYAH GIBRAN INGIN BERTEMU


__ADS_3

"Hah?Eh ini kita mau kemana pak?".kaget Gibran lalu ia pun dibuat terkejut karena memasuki pekarangan, melihat sebuah apartemen mewah dan itu dekat dengan perusaahan milik Reza


"Ini apartemen graham milik tuan besar Graham jadi bapak antarkan kalian ke sini. Karena ada apartemen yang cocok untuk kalian nak" ucap Pak supir dan ia mencoba untuk tahan ketawa karena ekspresi lucu dengan wajah mirip dengan manusia kejam Reza dan Rizky


"Wah terimaksih pak, bunda ayo sayang bangun udah nyampe" pekik Gibran tak lupa meberikan ucapan terimakasih, segera bangunkan Bundanya dengan menepuk pipinya dengan lembut


"Ha udah nyampe eh gibran bunda ileran gak atuh Gibran bunda ngantuk maaf".


"Ya udah ayo turun sini biar aku yang bawa" ucal Gibran ingin mengambil barang namun supir langsung mencegah


"Biar saya aja dek yang bawa".


"Yasudah pak maaf merepotkan" ucap Gibran


"Wah bran, ini gak salah" dengan terperangah melihat apartemen yang mewah


"Hmmm coba bunda ke resepsionis untuk mendaftarkan kamar dan nyewa tempat". Gibran mengdehem lalu ia menyuruh Bundanya untuk segera daftar ingin menyewa sambil menunjuk ke arah 2 wanita muda cantik yang sepertinya sebagai menyapa tamu, namun Gibran tak sadar bahwa bundanya tak mengerti Resepsionis


"A aapa nak resep manis?".


Gibran memutar bola mata dengan malas,lalu ia pun buang nafas kasar " hufff yasudah Ayo bun".


Baru saja sampai mereka semua terpaku melihat seorang kecil mirip sekali dengan tuannya


"Tuan muda apakah anda tuan muda kecil? tapi tuan muda kan sudah besar". bathin wanita itu


Gibran melihat mereka menatapnya, jadi merasa risih kemudian ia beralih pada Bundanya


"Bunda ayo kita cari tempat lain aja mereka begitu menjijikan". ajak Gibtlran sambil menarik lengan Syahilla


"Eh gak boleh gitu nak ayo kita kesana tanggung loh udah disini".


"Tapi bunda harus ada disampingku". tegas Gibran


"Ya ya ayo kita ke mbak mbak itu". sambil menarik Gibran dengan pasang wajah datarnya.


"hmm".


Kini mereka berdua sudah didepan Resespsionis


"Permisi"


"Ya ada bu ada yang bisa saya bantu".dengan ucap sopan namun matanya terus menatap Gibran, Gibran pun merasa risih


"Saya mau nyewa tempat selama ....".


"1 tahun" langsung menyahut dan Syahilla melotot kenapa selama itu, namun Gibran tak peduli dengan ekspresi Syahilla.


"Iya mbak boleh saya minta ktpnya". lalu beralih pada Syahilla


"Ini mbak".


"Maaf mbak apa anda benar benar belum menikah". ucapan Wanita itu ragu sambil dengan nada sinis dan tapapan tak suka


"Iya mbak ada apa ya".


"Terus itu anak mbak bukan?". sambil memasang wajah tak suka


"Yaa ini anak saya". dengan jujur namun hatinya bergetar dan matanya mulai memerah


"Yang bener itu anak mbak tapi koq mukanya mirip tuan saya atau jangan jangan kau mencul" dengan mengejek sambil mengompori Syahilla, namun dihentikan oleh gebrakan meja


brak


Mereka semua pun tergolonjak kaget karena mendengar meja digebrak, dan pelakunya adalah Gibran, saat ini Gibran benar benar muak mendengar bahwa mereka mengira bundanya menculik dirinya, ia tak terima karena dirinya merasa terhina dan juga bundanya, dengan memasang wajah mode bunuh percis dengan Ayah dan abangnya


"Hay tante jelek jangan berkata begitu pada bundaku aku adalah anak kandungnya kalau soal mirip tidak mirip apa urusan denganmu lihat lah gara gara kau bundaku nangis, bunda udah ayo kita cari yang lain kalau memang ayahku pemilik ini akan kupadtikan kau dipecat". bentak Gibran, melihat Gibran yang marah membuat semua bergidik ngeri kecuali Syahilla, tentunya Gibran marah sangat marah mendengar aura bunuh. Dan ia pun berkata lembut pada Syahilla karena Syahilla menangis saat itu.

__ADS_1


"Ti tidak ma maf nona si silahkan ini kuncinnya". terbata bata dan gemetaran seperti melihat tuan besar yang sedang memarahinya


"Gini dong dari tadi nih Bundaku tidak pegang uang".


"si si lahkan".


"Merepotkan ayo bunda udah bun gak usah hiraukan tante ini". dingin pada Wanita itu , namun lembut pada Syahilla


"ya sudah saya permisi mbak". ucap Syahilla meski hatinya sakit dengan wajah yang sembab tapi ia tetap harus melakukan dengan menyapa kembali


"Kamu sih sin, kalau memang dia anak dari bos bagaimana? kamu bisa bisa hilang di muka bumi, liat tuh bahkan bundanya keliatan baik dan kau denger kan tadi sempetnya pamit padamu padahal kamu ngelakuin hal buruk".


"Jangan gitu dong aku aku hanya penasaran karena di KTP nya ibu itu belum nikah tapi udah punya anak".


"cih bisa aja itu anak angkat atau apalah jangan membuat keributan ingat kau itu baru 1 minggu kerja disini".


"i iya".


...****************...


Kini mereka berdua sudah berada di depan apartemen. Gibran memasang pin ulang tahun bundanya, agar bunda mudah untuk mengingat jika bunda sendiri, karena ia sangat mengerti bahwa bundanya itu sangat kurang dalam ingatannya, jadi untuk itulah menggunakan pin tanggal lahir bunda agar mudah


"Wah megah sekali eh gibran nanti sore kita jalan jalan yuk, Bunda tadi melihat ada Mall besar di sekitar ini". Mata yang melebar seakan ia sudah melupakan hal tadi, beda dengan Gibran tang masih memasang wajah kesalnya.


"Hmm, ya udah kita istrihat dulu ya aku mau ke kamar dulu". datar Gibran


"Ya udah sana biar bunda bereskan karena tadi bunda sudah tidur di taksi hehehe, udah jangan di inget tadi ya nak". ia tau bahwa Gibran masih mengingat kejadian tadi


"Hmm maaf ya gibran gak ikut bantuin Bunda".


"Yaa nak gak apa apa ya sudah sana ah tuh mata udah mau minta di cas". canda Syahilla


"Ya udah deh semangat bunda". pamit Gibran diakhir dengan semangat


Kini Syahila benar benar membereskan semua pakaian dirinya dan anaknya serta parabot parabot, Syahilla yang sangat rajin jadi sudah terbiasa melakukan ini dari beres beres merapihkan barang barang hingga menyapu tak lupa mengepel.


Ulang tahun bunda selalu ia berikan kejutan dan bundanya sangat senang, meski menurut Gibran itu biasa namun bagi bunda itu sangat luar biasa. Gibran bersyukur mempunyai bunda dengan pribadi yang baik sabar penyayang dan ramah, dan bukan perempuan matre. Gibran akan sangat kehilangan jika bundanya tak ada disampingnya dia akan menjadi sosok menyeramkan sama hal nya Ayah dan kakaknya. Bahkan ia tak segan membunuh orang yang berani menyakiti bunda atau yang mengejek Bunda karena otak bundanya yang bodoh tapi anaknya pinter, Gibran tidak peduli dirinya dikatain anak haram tapi jika bundanya yang mereka hina maka jiwa psikopat nya muncul.


...----------------...


Sore pun tiba kini Gibran dan Syahilla sudah berada di Mall , saat melihat Mall yang besar Syahilla yang emang dia hidup di desa jadi jiwa kampungnya muncul.


"Wah Gibran , bunda baru pertama kali kesini ternyata Mall dalamnya gini yah, wah bener bener luas sekali wah banyak sekali baju baju dan lainnya". dengan melihat semua sudut dari atas kesamping kedepan ke belakang mutar mutar, tanpa sadar banyak pasang mata menatapnya dengan aneh


"Bunda ayolah bun jangan bikin Gibran malu karena kelakuan bunda yang kampungan ini, lihatlah mereka yang dari tadi memandang kita aneh".


Mendengar itu Syahilla melihat sekelilingnya dan benar saja mereka semua memasang wajah dan bahkan ada yang mencibir, membuat ia senyum canggung dan menggaruk tekuk nya yang tak gatal


"hehehe maaf ayo, sayang hmm kemana kita gibran?".


"Yakan kata bunda mau nyari bahan bahan masak ya kita jalan aja dulu siapa tau kita ketemu". sambil terus berjalan dengan masang wajah dingin, dan dia bisa melihat tatapan mereka terhadapnya membuat ia jadi risih sekali, kini ia meminta Bunda beli masker


"Dih tatapan mereka napa aneh sekali dih menjijikan


Bunda aku mau beli masker dong". bathin Gibran sambil terus berjalan lalu ia pun terhenti dan langsung meminta beli masker


"Ayo!". Syahilla pun langsung mengajak dan dia tak menyadari bahwa anaknya menjadi pusat perhatian, dan berbisik Gibran juga mendengar dan ia pun menyadari ada nama yang terdengar familiar".


"Loh bukannya itu tuan muda Rizky tapi kan dia sudah besar, tapi ini terlihat kecil".


"Ya lhoh , apa tuan Reza punya istri lain".


"Entahlah".


Begitulah mereka berbisik bisik mengenai Gibran, dan kini mereka berdua telah sampai di tempat peralatan kesehatan


"Permisi" sapa sopan Syahilla, sementara Gibran tentu memasang wajah dinginnya sambil memegang tangan Syahilla

__ADS_1


"Ya ada eh" sapa kembali pegawai toko itu melihat Syahila namun saat melihat Gibran ia terhenti kaget, sama seperti mereka melihat Gibran seorang anak kecil ini mirip dengan wajah tuannya atau tuan graham, sementara Syahilla kembali bertanya


"ada pa ya mbak?".


Akhirnya mbak pegawai pun tersadar lalu memasang senyum canggung pada Syahilla lalu kembali pada Gibran dengan masih memasang wajah datarnya namun matanya menatap tajam pada wanita itu" Apa ini anak anda nona?". lagi lagi pertanyaan itu kembali di dengar oleh mereka berdua, Syahilla merasa heran kenapa banyak sekali orang bertanya tentang anaknya apa wajah anakku benar benar pasaran, dengan sabar Syahilla menjawab dengan jujur


"Ya, ini anak saya mbak ada apa ya mbak?, soalnya maaf ini sekian kalinya banyak mempertanyakan anak saya". tegas Syahilla dan langsung mengeluarkan keinginan tau, pasti mereka jawab sama mukanya dengan tuan mereka.


"Oh tidak mbak, maaf jika anda kurang nyaman silahkan mau cari apa ya". meminta maaf karena dirinya lancang dan mengalihkan pada mereka seperti biasa menanyakan barang yang diperlukan pada coustumer


"Masker untuk anak saya,mbak?". dengan menekan kata anak saya


"Boleh silakan di pilih?". menunjuk ke arah jejeran masker yang tersimpan rapih dalam etalase


Lalu gibran pun menunjuk ke arah Masker warna hitam karena ia penyuka warna hitam


"Baik ini saja". tanya sopan pada Syahilla


"Ya itu saja". jawab Syahilla, namun tangannya di tarik oleh Gibran lalu berbisik


"Bunda sekalian beli p3k". bisik gibran


"Eh apa itu gibran P3k itu?". dijawab bisik kembali Syahilla, mendengar jawaban bundanya kesal dan mendecak kesel


"cih masa gak tau sih , mbak sekalian aja paket p3k jangan sampe kurang". mendecak kesal lalu ia pun segera meberitahukan bahwa ia membeli P3k secara lengkap dengan dingin


"Baik Tuan kecil ditunggu". wanita pun segera mengambil barang tersebut kini Syahilla mengomeli Gibran


"Eh gibran kamu ini kenapa sih maen perintah perintah aja".


"Karena pembeli adalah raja bunda". santai Gibran


"Ya tapi gak gini juga kamu tuh ya, perasaan bunda gak pernah ngajarin kamu begini, kamu sebenarnya nurun dari siapa sih sikapnya dingin arogan perintah hmm".


"Ya jelas aku anak ayah lah". dengan nada sombongnya


"Hmm memang ayah mu sangatlah luar biasa sekali nak". mencibik serta mengumpat pada Ayah Gibran dan ity membuat Gibran terkekeh, dan itu dilihat oleh mereka yang tak pernah melihat senyuman lebar Reza dan anaknya, kini melihat anak ini mirip mereka berdua yang terkenal dingin bisa tersenyum lebar dan itu pada bundanya membuat mereka bengong tak percaya ternyata manis sangat tertawa.


"hahaha bunda jangan gitu dong aku juga anak bunda kan hahaha".


"Ya lah , tuh bayar gib".


"Iya, mbak". kembali kepada mode dingin


"Ya ampun gibran dingin banget ni anak, mbak maaf anak saya memang kurang sopan".


"Iya nona" dengan senyum manis.


Setelah melihat keduanya pergi langsung mereka bergosip


"Ya ampun, anak itu sepert tuan besar apa benar dia anak tuan besar?".


"Yaa kayanya iya deh aku denger anaknya bilang mirip ayahnya, tapi istrinya yang sekarang memang beda ya".


"Ya kelihatan banget keibuaannya gak kaya si nyonya Gres itu". mengatakan hal itu dengan tak menyadari bahwa mereka memuji Syahilla


"Ya bener, ayo kita lanjutkan kerjanya!".


...****************...


Kini Gibran sudah sampai di sebuah supermarket, Gibran sudah aman karena sudah mengenakan masker jadi tak ada yang menarik perhatian lagi padanya tidak seperti tadi.


"Sepertinya memang benar deh, apa yang dikatakan bunda waktu itu, kalau ayahku orang yang terpandang. Bahkan mereka sedarai tadi melihatku dengan tatapan yang memuja , pasti jika ku menghampiri toko toko selalu bertanya dengan pertanyaan yang sama yaitu tentangku. Berarti Ayahku memang orang hebat Ayah aku tak sabar bertemu denganmu dan jelaskan kenapa ayah ninggalin Bunda". bathin Gibran yang sangat decak kagum pada sosok Ayahnya


Setelah selesai belanja tiba tiba Gibran minta ijin untuk ke toilet, karena sudah tak tahan. Syahilla yang tadi ingin menemaninya namun di cegah oleh Gibran, terpaksa Syahilla pun membiarkan anaknya sendiri.


Saat tengah asyik duduk di depan toko sepatu melihat kesana kemari , tiba tiba Syahila pandangannya tak sengaja melihat pria remaja seumuran 15 tahunan ia syok dia seperti Gibran namun versi besarnya, padahal remaja pria itu memakai masker dan topi tapi entah kenapa Syahilla dapet mengenali dari matanya lalu ia pun beranjak berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan meng hampiri sampai pada pemuda itu kemudian, yang saat ini melihat Jaket jadi posisinya membelakangi Syahilla, kini ia pun menyapa

__ADS_1


"Gibran....


__ADS_2