
Rizky menyimpan hp nya di meja kemudian ia segera keluar kamar menuju pintu depan , dan dibukalah pintunya terlihat ada Syahilla, Syahilla mengira itu adalah gibran yang membuka
"Gibran, eh gibran mana Nak Rizki".
"Mandi, oh ya kata gibran tolong ambil baju sama handuk".
"Iya udah kalau gitu bunda ambil mau makan dimana di sini atau di apartemen bunda".
"Hmm terserah".
"Ya udah di bunda aja ya kalau lapar datang aja ya nak".
"Ya bunda".
"Hmm dia perhatian sekali". lirih Reza saat melihat pintu telah ditutup kembali namun tiba tiba ia di kagetkan oleh teriakan adiknya
Ceklek
"Bundaaaa bundaaaa handuk bun". teriak Gibran sambil keluar tentu dengan keadaan telanjang, Rizky melihatnya pun jijik dan juga kesal karena teriakannya membuat dirinya terkejut
"Astaga Gibran bikin kaget aja gak usah teriak bisa gak sih lo kira ini hutan apa berisik ". teriak Reza karena kaget dan kesal pada adiknya langsung ngomeli adek
"Iih bunda lama bang aku udah kedinginan". rengek Gibran membuat Rizky kasihan melihat adiknya kedinginan lalu ia pun langsung menawarkan handuk miliki dirinya
"Ya udah pake handuk abang aja". tawar Rizky
"Gak gak mau bang". tolak Gibran sambil mengangkat kedua Bahu dan menggelengkan kepala, tiba tiba suara ketukan pintu pun berbunyi terlihat bunda yang sedang membawa handuk serta pakaian, melihat siapa yang datang Gibran langsung menghampiri
"Gibran". panggil Syahilla
"Iih bunda koq lama sih". protes Gibran
"Kan bunda nyariin baju mu nak". ucap Syahilla sambil memberikan handuk dan pakaiannya
"Nih handuk nya udah selesai makan ya". Syahilla
"Ya bundaku yang cantik makasih". goda Gibran
Dih tadi aja lu protes ke bunda sekarang malah goda Bunda". cibir Rizky dan langsung diberi tatapan tajam oleh adiknya, sementara Syahilla langsung ketawa
"hahaha hahhaa"
"Cepet di baju gibran". Syahilla
"Siap bun".
"Nak Rizky yang sabar ya sama adikmu". Ucap lembut Syahilla sambil mengusap kepala Rizky, dan itu mampu membuat hati Rizky menjadi lebih baik
"Hmm ya bunda". ucap lembut Rizky dengan senyum hangatnya
"Bunda lapar". Gibran
"Ya uda ayo, Nak Rizky mau makan dulu atau mandi".
"Makan dulu deh"
"Udah ayo".
Sesampai di apartemen Bunda
Saat Rezki masuk kedalam yang dilihat pertama kali tertuju pada beberapa foto di dinding ia pun menghampiri foto tersebut terlihat foto masa kecil adiknya yaitu Gibran, melihat foto itu ia semakin merasa iri. Pasalnya foto itu terdapat Syahilla sedang mengandung Gibran sekitar 7 bulan dan adapun foto Syahilla yang menggendong Gibran bayi dengan raut wajah yang menunjukan bahagia menatap kamera dan pada anak Gibram bayi. Tentu saja membuat dirinya bener bener iri. Masa kecil yang harusnya mendapat kasih sayang dari seorang ibu malah ia tak dapatkan hanya seorang Ayah saja selama ini bersamanya, meski ada Ayahnya Reza tidak sepenuhnya merawat Rizky karena dirinya harus bekerja keras namun Reza selalu ada waktu sebaik mungkin disela sela kesibukannya.
Hal yang sama di alami oleh Gibran juga merasakan hal yang sama karena sejak kecil ia tak pernah di dampingi oleh Ayahnya karena dirinya juga di asuh oleh orang tua tunggal selama hidupnya bersama Bunda tercinta.
Mereka berdua memang sama sama saling kehilangan 1 orang tua namun hanya saja perbedaan di antara mereka bagaikan hitam dan putih dalam kehidupan mereka berdua yang jelas saja berbeda.
Rizky yang selama ini hidup bersama ayah meski pun dengan kehidupan yang mewah bergelimang harta yang dia mau pasti akan selalu ada namun dengan hatinya tidak ada rasa kebahagiaan seperti pada kegelapan berwarna hitam yang suasananya sunyi sepi dan hampa, berbeda dengan Gibran meski hidup didesa sebagai orang yang kurang mampu tinggal dikubug namun hatinya berwarna karena selalu ada sosok menghibur yaitu Bundanya hidup seperti di terangi oleh cahaya putih menerangi hati Gibran yang akan merasa lebih hidup .
"Nah nak Rizky lihat foto ini adalah foto gibran kecil, dan kau dan dia pasti mirip sekali denganmu saat dirimu kecil ya kan".
"Ya bun ia sangat mirip sekali denganku saat kecil, ta tapi ada bedanya bun". lirih Rizki dengan mata memerah seperti menahan sesuatu dan tangan mengepal hatinya berkecamuk antara kecewa sedih dan juga marah.
"Maksudnya". ucap Syahilla karena dirinya yang sangat telmi dan susah untuk mencerna kata kata ya maklum otaknya koslet tidak seperti anak anaknya yang genius, Rizky mengerti hal itu ia pun tak lagi melanjutkan pembicaraanya karena dirinya belum siap untuk menceritakan dan juga suasana yang kurang pas.
"Hmm nanti saja ceritanya, aku lapar bun hehehe". mengalihkan topik dengan diakhiri dengan kekehan, memaksakan senyumnya sementara hati meringis dan sakit
"Oh ya udah ayo ke meja banyak sekali Bunda masak, khusus buat kalian berdua". àjak Syahilla tentu Rizky menurut dengan jawaban senyum hangatnya
"Kasian sekali bang Rizky pasti dia merasa iri denganku tapi aku juga iri dengan abang bisa bersama Ayah". bathin Gibran yang memang paham dan mengerti perasaan kakaknya karena dirinya pun sama dengan Kak Rizky dan Gibran sangat paham perasaan dan penderitaan oleh abang Rizki
Kini mereka berada di meja makan, satu persatu Bunda Syahilla menuangkan nasi ketiga piring dan ini kali pertama Rizky dimanjakan biasanya ia disiapkan sendiri. Tentu Rizky sangat sangat senang inilah yang dia inginkan saat dulu. Rizky mengucap terimakasih sementara Syahilla hanya tersenyum pada Rizky tentu Gibran pun sama mengucapkan terimakasih. Rixky kini beralih pada menu makanan dan begitu banyak dan menggugah selera.
"Bunda ini semua masakan bunda?". tanya Rizky
"Ya nak cobain dong". tawar Syahilla
"Ya bang cobain, akhirnya kita bisa ngumpul ya bun bang, coba aja ada ayah pasti lengkap deh". Gibran
"Emang ayahmu kemana rizky?".tanya Syahilla
"Lagi di luar negri tapi udah pulang koq sekarang lagi dijalan".
"Oh, gimana enak nak".
"Enak Bun, hehe".
Syahilla hanya tersenyum dan melanjutkan makanannya, mereka bertiga pun makan dengan tenang dan ini adalah suasana yang begitu hangat. Cuma hanya satu yang kurang yaitu Reza, mungkin jika ada Reza pasti suasana makin hangat dan lengkap.
Sementara di tempat lain
__ADS_1
"Tuan sudah sampai".
Reza akhirnya sudah sampai di bandara kini ia turun tentunya dengan pengawal yang ketat , sampailah di landasan menuju pesawat pribadinya yang bertuliskan Graham air yaitu pesawat khusus untuk keluarga Graham.
Kini ia sudah duduk di jet pribadinya peserta para pengawal, lalu jalan menuju ke jakarta tentunya tujuan ke Apartemen miliknya sendiri. Tak terasa akhirnya tiba di Bandara Jakarta dan sudah berada di indonesia.
Sementara di apartemen
2 jam yang lalu mereka bertiga sudah selesai makan, Syahilla pun merapihkan piring piring kemudian langsung saja mencuci. Kini ia sedang berada di ruang televisi karena pada saat itu waktu masih pukul jam 7 sementara Gibran dan Rizki minta ijin ingin ke apartemennya dengan Gibran dan tentunya akan menginap.
"Bun, aku tidur di abang ya".
"Udah bilang belum ke abangnya kalau udah ngizinin ya udah sana jangan bergadang ya ".
"Ya udah bun Rizky ama Gibran ke apartemen dulu ya bye bunda selamat malam".
"Malam nak Rizky, Gibran gak ngucapin".
"Malam mamah eh bunda hahaha".
Mereka pun tertawa bersama keduanya pergi dengan keadaan masih tertawa kini tinggal Syahilla sendirian.
"Sepertinya 2 jam lagi Ayah mereka sudah sampe". gumam sendiri Syahilla
Syahilla segera menyalakan tvnya dan menonton drama yang Syahilla sukai, Syahilla terus nonton dan tak menyadari jika waktu sudah 2 jam menonton. Setelah selesai nonton ia menuju ke kamar mandi karena ingin mencuci muka dan menggosok sudah selesai dia pun keluar menuju keluar karena ia ingin minum dan alangkah terkejut melihat lelaki asing namun wajahnya mirip dengan kedua anaknya namun bedanya ini terlihat seperti pria dewasa dengan wajah tampannya meski brewokannya tipis namun itulah terlihat macho, ia sedang melihat foto foto Gibran kecil. Sedang asyik memandang foto anaknya ia kaget mendengar suara yang ia rindukan suara yang lembut halus, dan ketika ia menoleh langsung dia terdiam melihat gadis yang hilang 9 tahun kini ada didepannya.
"Ehem kamu siapa?".
...----------------...
Disisilain
Sesudah kedua lelaki itu ke apartemen milik kini mereka sedang bermain ps di apartemen Rizky, tak terasa 2 jam sudah berlalu karena keasyikan maen game dan juga canda.
Saat tengah asyik main dan tertawa kadang becanda tiba tiba ada yang datang.
"bang abang tembak tembak".
"Wiih gila kepalanya langsung buntung gib tapi masih bisa jalan hahaha".
"Wah enak nih ada mainan baru nih bang, seru keknya nih kalau pala itu kita jadiin main sepak bola hahaha".
"Kayanya lebih seru ada api biar ada panas panasnya gitu".
hahahhaha
ceklek
Mereka yang tertawa terhenti seketika dia melihat ke arah pintu mereka takut mengira Bunda karena sudah panik tapi ternyata bukan Rizky dan Gibran terdiam melihat siapa yang datang mereka pun memanggil
"Ayah". ucap barengan
"A a ayah". Teriak Gibran yang berlari ke arah pintu menuju ke Reza, Reza pun dengan sigap menangkap lalu memeluk erat. Gibran tak kalah erat ia langsung menangis di pelukan ayahnya, seketika Rizky menghampiri adik dan Ayahnya. Reza langsung mengusap dan mengecup beberapakali kepalanya Gibran.
"Hai gibran ini Ayah nak".
"Hiks Ayahhhh hiks Ayahhh Gibran nungguin ayah kenapa ayah gak datang kenapa ayah pergi ninggalin bunda kenapa ayah".
"Huss husss udah dong masa laki laki nangis hmm, maaf ayah gak datang karena ayah tidak tau kamu dimana, dan ayah gak ninggalin bunda son".
"Tapi tapi bunda bilang ayah ninggalin bunda yaudah bunda pergi deg".
"Bunda itu salah paham nak".ucap Reza sambil terus mengelus rambut Gibran
"Bunda kasian ayah dia tiap malam nangis meluk jas ayah". terisak Gibran, dan memberitahukan pada Ayahnya apa yang selama ini ia lihat saat bundanya tengah menangis setiap malam, tentu saja Reza sangat terkejut mendengar kebenaran apa yang terjadi pada Syahilla selama hidupnya dan langsung saja ia menanyakan keberadaan Syahilla ia tak menyangka sekali jika Syahilla merindukannya
"Apaa?" kaget setengah mati Reza
"Mana bunda?". lanjut tanya Reza dengan hati yang bergetar senang dan juga sedih
"Dia dikamarnya". seraya melerai pelukan dengan ayahnya
"Kasih tau nomor pinnya, gib".
"Tanggal lahir bunda". jawab Gibran
"Kamu disini koq gak temani bunda?".
"Hehehe karena aku pengen ps sama abang Rizki".
"kamu minta ijin ke bunda".
"Aku cuma ijin belajar karena besok aku lomba tapi itu cuma bohong".
"Aduuh kamu ini kenapa kamu bohongin bunda".
"Habisssnya kalau bunda tau kalau aku maen ps tengah malam bisa puyeng kepalaku ngedengerin omelan bunda yang berjam jam".
"Apa bunda begitu ya selama kamu bersamanya, gak maen fisik kan".
"Bunda gak pernah paling hanya bawa sapu lidi sebagai ancaman aja tapi dipukul gak, bunda gak pernah maen tangan".
"Kalian tadi kenapa sih hmm kaya nya seru deh, pas Ayah denger kalian ketawa ketawa".
"hahahaha ya biasalah candaan aja ya kan kak Rizky". ucap gibran sambil melihat rizky, sementara Rizky hanya tersenyum.
"hmm kalian ini, Gibran kapan ulang tahun".
"18 desember".
__ADS_1
"wah kita sama". Serentak Reza dan rizku
"oh ya hahaha kayanya makin seru nih". antusias Gibran
"maksdunya" tanya Reza karena tak mengerti apa yang dikatakan Gibran
"Biasa ayah dia suka jailin Bunda". Rizky
"Kenapa?".
"ya ayah bunda pasti makin bingung yah, karena kita itu sama semua hobi terus favorit kita juga sama dan itu akan membuat Bunda bingung dengan kita bertiga kenapa bisa sama semua hahaha, pasti bunda akan bilang gini". Gibran
"kalian ini anak siapa" ucap bersama sambil saling memandang dengan diakhiri gelak tawa oleh mereka berdua, dan semakin tertariklah Reza ia penasaran Syahilla itu seperti apa.
hahhaha
"Bunda itu ya waktu di desa pun begitu yah"
Terus Gibran pun bercerita tentang dirinya debad dengn bundanya mengenai kemiripan mereka berdua hanya menyimak dan keduanya langsung tertawa lepas.
"hahhahaha bunda bilang ayah curang hahahahaha". tawa lepas Reza dan ini pertama kalinya ia tertawa lepas dan bahagia berbeda dari biasanya dengan tawa yang menakutkan dan sinis kini ia bisa merasakan tawa yang sangat bahagia.
"Ya Ayah aku juga bingung kenapa bunda bisa ngomong gitu hahahahaa"
"dih Bunda kocak bran hahahaha" Rizky sambil tawa terbahak bahak
"Ya begitulah kalau hidup bersama bunda tiap hari tanpa ada debat jail dan tertawa". ucap Gibran
"Apa gibran selama ini bahagia" Reza
"ya tapi aku juga merasa sedih melihat temanku suka dijemput dengan ayahnya", sambil menunduk kepala membuat mereka berdua menatap iba
"sudah kamu tidak usah sedih maaf ya". Reza
"ya Ayah kenapa minta maaf itu bukan salah ayah dan bunda, kalian berdua juga korban."
"Kau memang anak luar biasa apa bunda yang mendidik mu". bangga Reza pada Gibran
"Ya ayah Bunda memang sih dia itu agak ceroboh tapi ada sisi seorang ibu pad diri Bunda. Bunda selalu menasihati sebelum aku tau kalau ayah ninggalin bunda dulu aku hanya tau Ayah kerja di Jakarta aku percaya karena waktu itu aku masih kecil hingga aku umur sekarang aku menunggu Ayah tapi tak pernah datang aku pun marah sama Bunda dan aku juga menyesal setelah aku marah Bunda tidak pernah memarahi balik.Justru bunda ngasih saran kalau bunda jujur pada ku jangan pernah benci pada Ayah karena mungkin saja ayah dan ibu adalah korban". Ucap Gibran panjang lebar
"Bunda bilang begitu". Reza dengan wajah terkejutnya dan juga ada rasa senang dalam hatinya.
"Ya Ayah, bunda tidak pernah menceritakan kejelekan Ayah agar aku gak membenci ayah". Gibran
".Ya ampun apa bunda memang baik". Reza
"dia memang baik bahkan terlalu baik aku beruntung dilahirkan dari rahim bunda,Bunda yang selama ini yang merawatku dengan susah payah dari bayi hingga sampai sekarang. Aku gk bisa kehilangan bunda , aku gak bisa hidup tanpa bunda yah l, karena kasih sayang bunda itu yang gak pernah didapatkan oleh siapa pun dan bunda perempuan satu satunya yang baik dimataku".
cup "ya sudah makasih gibran kamu sudah datang ke Jakarta". ucap Reza
"maaf ayah aku gak tau kalau ayah mati matian mencari kami". Bersalah Gibran dengam wajah sendunya
"sudah ayah ke bunda dulu". ucap Reza
"Tapi bunda sudah tidur". khawatir Gibran takut ayah ganggu bundanya
"Gak akan ayah ganggu koq". Reza
...----------------...
Kini Reza menghampiri apartemen Syahilla tentunya mengetahui tanggàl lahirnya, setelah dibuka dan sama halnya Reza saat dibuka pintu hal pertama di suguhkan dia terpaku oleh foto foto di dinding sama terjadi pada rizki saat pertama ke Apartemen Syahilla
"Kalian berdua tumbuh dengan baik maafkan, aku yang tidak ada di sampingmu. Syahilla kau memang ibu yang hebat bisa melahirkan membesarkan anak kita penuh dengan rasa kasih sayang aku berterimakasih sudah merawat anak kita dan bahkan aku kalah dengannya dia bijak dan juga dia terlihat anak yang baik karena didikan mu".bathin Reza sambil memegang satu persatu foto, lalu tiba tiba
"Kamu siapa". Syahilla
"Sya hi la". ucap terbata bata sambil membelakan matanya terkejut sekaligus senang
"Akhirnya kita bertemu kembali". lanjut Reza kini ia mulai mendekati serta kedua tangannya sudah mulai merentangkan, melangkah demi melangkah maju dengan pelan pelan di iringi dengan senyuman yang tak pernah hilang sementara Syahilla kini melangkah mundur.
"Ya itu na ma ku kau si apa". sambil terbata bata dan tubuh mulai bergetar karena takut.
"Apa kamu tidak mengingat atau minimal tau wajahku". dengan tatapan sendu dan kini Syahilla sudah mendekati dinding dan dia tak bisa lari karena kedua tangan Reza sudah berada di dinding tentunya Syahilla di apit oleh kedua tangannya lalu Reza mencondongkan kepalanya untuk melihat gadis yang telah menghilang 9 tahun itu, Syahilla hanya menahan nafas dan juga menunduk karena ia malu dan kali pertama dengan pria dewasa yang jaraknya sedekat ini apalagi aroma yang keluar dari hidungnya yang menyapu hangat pada wajahnya dengan harum mint di mulutnya serta bau yang ia rindukan pada tubuh laki laki yang sangat percis pada jas yang ia sering meluk tiap malam hari dan itu milik Reza, dan sangat jelas terdengar sekali suara deru nafas Reza.
"Aku tidak tau kamu, tapi dengan wajahmu kamu seperti anakku, a a pa kau ayahnya mereka te rus ke kenapa kamu ke sini kenapa". gugup Syahilla
"Ya untuk menemuimu" santai Reza terus saja memandang ke Syahilla yang masih menunduk.
"Menemuiku tidak sopan anda , kalau memang tujuannya menemuiku terus kenapa kamu ninggalin gitu aja katanya kamu mau tanggung jawab tapi apa yang aku dapatkan kau pergi meninggalkanku sendirian hiks hiks kau lelaki biadab". desis Syahilla dan kemudian dia pun mendongakan kepalanya dengan keberanian, terlihat ia sudah memerah Reza melihat wajah Syahilla yang mulai nangis langsung mengelus wajahnya namun langsung di tepis , akhirnya Reza menghela nafas berat kini berpindah pada tangan Syahilla dan menggenggam
"Aku tidak meninggalkanmu aku ada meeting saat itu di hotel" Reza
"Ta atapi setidaknya kasih ku sebuah surat agar aku bisa menunggumu agar aku jadi jadi gak salah paham". sambil memukul dada dengan satu tangan milik Reza sementara Reza membiarkannya melakukan itu karena dirinya pun salah
"Maaf aku memang laki jahat aku sudah melakukan itu denganmu tapi jujur saat itu aku juga korban dari orang karena di minuman sudah dicampur oleh obat untuk hubungan badan".
"Apa benar itu terjadi terus kalau gitu kenapa kamu menyeret ku kenapa tidak orang lain saja". Syahilla
"Kamu salah kamar Syahilla kau itu ada dikamarku saat itu". Ucap benar Reza karena Syahilla sudah salah dari awal karena akibatnya ia jadi korban
"A apa kau tidak bercanda kan, aku yakin aku tidak salah". tolak sambil teriak Syahilla karena tak terima dirinya salah kamar namun ia pun mengingat dan saat itu wajah memerah karena ia sudah ingat dan dia sadar jik dirinyalah yang salah kamar, dan itu dilihat oleh Reza
Reza tersenyum tipis kemudian ia pun mulai menggoda Syahilla.
"Hmm apa kau ingat". goda Reza
"Sudahlah aku akan siapkan kopi untukmu". mengalih pembicaraan karena dirinya sudah malu bahkan wajahnya pun merona dan itu Reza melihatnya pun menjadi gemas
" kenapa pipimu merah sekali sayang, dan kenapa kau belum tidur atau kamu menungguku". bisik Reza tepat di telinga dan langsung menjilat serta menggigit kecil daun telinga Syahilla dan itu membuat si empu merinding seketika, makin merah lah mukanya, kemudian Syahilla mendorong tubuh Reza dengan kuat sehingga Reza pun menjauh membuat Syahilla bisa bernafas lega. Karena sudah malu ia pun langsung ke dapur dan lupa ia tak menanyakan takaran gula., Reza pun langsung teriak
__ADS_1
"Gulanya jangan terlalu manis dan kopinya harus pait". teriak Reza karena Syahilla sudah jauh dan bahkan menghilang
"Kau lucu sekali sayang sekarang kau tau siapa yang salah hahaha, akhirnya kita bertemu kembali Syahilla besok setelah usai acara perlombaan kita berdua menikah". bathin Reza sambil melihat tembok yang saat itu melihat Syahilla yang sudah menghilang, dibalik tembok