Keluarga Yang Aneh

Keluarga Yang Aneh
Kini aku tau penyebabnya


__ADS_3

Diindonesia


Disebuah ruang buku, Rizky dan Gibran kini sedang berada di ruang baca. Mereka berdua sedang membaca buku dan ada pun beberapa buku yang dipilih untuk membeli, Gibran berada di samping Abangnya yang sedang membaca buku, karena ia mulutnya tak tahan untuk berbicara jadi Gibran membuka suara lebih dulu karea hatinya masih penasaran tentang hubungan dirinya dan Rizki maka dari itu ia menanyakan pada Rizky.


"Ekhem bang Rizky".sapa Gibran sambil menatap Rizki yang sedang fokus membaca, Rizki paham dengan apa yang akan ditanyakannya.


"Ya , pasti kamu mau nanya sesuatu kan". sambil tersenyum dan menyimpan lalu menoleh pada Gibran


"Ya bang, hmmm apa abang ini benar abangku kalau gitu berarti ayah kita sama". sambil mengetuk dagu


Rizky tersenyum lembut dan mengusap lembut rambut adiknya.


"Ya aku adalah abangmu, dan ya tentu saja kau benar ayah kita sama". dengan tatapan sendu pada Gibran


"A apa ja jadi benar kau abangku, akhirnya aku bentar lagi ketemu ayahku". ucap dengan girang dan wajah menampilkan senang sementara Rizky tersenyum dan terkekeh melihat mimik lucu adiknya


"Jadi kamu juga mencari ayah?". tanya Rizky yang masih menatap Gibran, Gibran mendengar itu langsung menunduk seolah sedang merenungkan hatinya lalu ia pun berbicara dan menceritakan curahan isi hatinya pada sang Kakak, melihat Adiknya menunduk kepala langsung mengubah posisi berhadapan pada adiknya.


"Ya aku selalu berkata pada bunda, kapan kita ke Jakarta tapi bunda bilang gak tau selalu saja begitu, tapi bunda tiap malam hari selalu menangis dan memeluk jas dan itu milik ayah, sepertinya bunda kangen ayah". ucap panjang lebar Gibran dan kini sudah mulai merah wajahnya menahan rasa gejolak dihatinya karena ia ingin menangis


Mendengar hal itu Rizky benar benar terkejut ternyata mereka berdua menyimpan rasa rindu dengan lama.


"Ayah juga sama gib mencari kalian , bahkan Ayah mengerahkan semua anak buah nya sampe penjuru dunia tapi hasilnya nihil".


Mendengar itu tentunya Gibran menjadi senang namun sedetik kemudian wajah nya kembali murung ia pun bertanya


"Kalau memang ayah mencari kita kenapa saat itu ayah ninggalin bunda gitu aja bang". tanya Gibran yang kini melihat sang kakak dan kini mulai menetes air matanya tentu Rizki menghapus air mata adiknya , Rizki mulai mengerti ada titik kesalah pahaman diantara mereka.


Lalu Rizky membuang nafas kasar kemudian berkata


"Ayah pada saat itu tidak meninggalkan bunda sama sekali bahkan saat itu ayah pergi untuk meeting di hotelnya tidak niat kabur, namun saat ayah selesai meeting dan kembali ke kamar bunda malah pergi.


"Jadi menurut Abang ini hanya kesalahan paham gitu".


"Ya bran"


Tiba tiba Syahila memanggil mereka berdua


"Kalian sudah membacanya ayo pulang ini udah malam nak nanti masuk angin ayo kita pulang, nak Rizky mau pulang bareng kami aja bunda hari ini akan masak loh".


"Ayo bang aku tinggal diapartemen ayah lhoh".


"Oh ya kalau gitu bareng aja abang juga sekarang menginap disana karena Ayah pergi".


"Ya udah ayo kita pulang tolong bawakan belanjaan bunda ya".


"Baik bunda".


Kini mereka keluar dan langsung saja para pengawal bersedikap berdiri bersajajar dan ada yang menghampri mengambil barang yang mereka beli, lalu mereka berdua pun memberikannya. Karena letaknya tidak jauh dari Mall hanya tinggal jalan kaki saja namun Riky yang datang dari Mansion Dadynya awalnya ingin ke apartemen namun ia menyimpang dulu Mall.


Jadi Rizky tidak enak membiarkan kedua orang yang saat ini yang sangat berharga ia pun mengajak mereka untuk masuk kemobil. Bunda sempet menolak Gibran tentunya mengikuti Syahilla, namun karena Rizky memujuk dengan rayuan, kini terpaksa dan merasa tidak enak dengan anak tirinya jadi Syahilla pun menyetujui


Sampai lah di apartemen


"Loh Gibran kamu disini?". sambil menunjuk ke pintu Apartemen Gibran


"Ya bang , napa emang?".


"Wah kamar kita berhadapan Gibran". sorak Rizky dengan mata membulat serta wajah terangkat menampilkan senyum bagahagia karena tak menyangka bahwa adiknya tidak jauh dari apartemen miliknya


"Jadi ini Apartemen abang?".


"Iya, Kalau yang pinggir Apartemen bunda itu, sementara disamping itu ayah".


"Wah pintunya besar sekali, yeayyyy bisa main main dong, Bunda Abang Apartemennya yang ini kita bisa makan bareng deh nanti".


"Oh kamu disini nak". Syahilla bun ikut bertanya dan memastikan bahwa ia tak salah mendengarkan


"Ya bunda". ucap lembut Rizky sambil tersenyum hangat, tidak seperti membuat Syahilla menatap tak percaya tapi Gibran pun sama jika sedang di luar dingin tapi saat sudah di rumah muncul sikap hangatnya. Lalu ia pun berkata dengan nada cibir namun itu hanya bercanda


"Kamu tadi dingin sekarang manis hmmm aneh" cibir Syahilla


"Ya habis gimana ya, aku dingin karena sedang di luar dan juga karena memang belum saling kenal jadi aku gini bu, maaf tadi di mall". tulus Rizky sambil menunduk serta wajah yang memelas sambil kedua tangannya menangkup


Mendengar dan melihat kelakuan Rizky percis seperti Gibran itu Syahilla tersenyum tulus, baginya ia dan gibran tak ada bedanya


"Yaa udah gak apa apa , gak beda jauh sama Gibran diluar dingin , sama emaknya mode manja muncul kalian mandi ya gibran mau sama Abang Rizky dulu".


"bu, aku gak manja bun, ya bun aku ke abang dulu".

__ADS_1


"Ya udah Nak Rizky nitip adikmu ya kalau dia nakal hukum aja". canda Syahilla sambil mengedipkan mata pada Rizky


"Siiap bun". sambil mengangkat ibu jari dengan semangat serta dengan diiringi dengan kekehan karena melihat raut wajah dingin Gibran, namun bagi Rizki itu lucu


"Apaan sih bun". protes Gibran dengan nada dingin


"Udahlah bunda masak kalian juga pasti favoritnya sama". mengalihkan topik


"Ayam pedas asam". jawab Rizky dan Gibran berbarengan sedetik kemudian mereka saling memandang


"Tuh kan". celetuk Syahilla


"hahahaha"., dan akhirnya bertiga tertawa dan mereka tak menyadari bahwa ada pasang mata di balik kamera cctv yang terpasang di Apartemen, dengan jarak jauh karna berbeda Negara terlihat ia menatap dan tersenyum kebahagiaan dan juga sendu siapa lagi kalau bukan Reza. Reza melihat dan menyaksikan mereka benar benar seperti sebuah keluarga yang sesungguhnya dan bisa dilihat raut wajah kebahagaiaan Reza dan sedari tadi tertawa dengan lepas dan tersenyum tidak ada hampa kesedihan pada dirinya.


"Kedatangan kalian berdua membuat suasana hati Rizky menjadi lebih berwarna maafkan Ayah Rizky ayah tidak pernah memberi kamu kebahagiaan, sementara Syahilla yang akan menjadi ibu tirimu ia bisa mencairkan suasana menjadi lebih berwarna, tunggu Ayah disana agar kita bisa berkumpul bersama layaknya keluarga". bathin Reza karena dirinya sedang berada di perjalanan menuju bandara


kembali pada Gibran


"Ya udah bunda masak ya"


"Yang enak bun". teriak Gibran karena Bunda sudah mau menutup pintu, dan Syahilla kembali membuka kembali karena teriakan Gibran, mendengar teriakan Gibran membuat Rizky menggeleng kepala.


"Siap dong". ucap Syahilla kemudian menutup kembali


"Ya ampun gibran kamu ya bisa gak sih kamu gak teriak teriak emang ini hutan". nada kesal Rizky dengan memberi peringatan namun Gibran tak peduli malah ia langsung masuk ke apartemen milik Rizky karena sudah dibuka pintunya dan itu membuat Rizky mendengus kesal dasar adek laknat tapi untung sayang.


Sampailah di dalam apartemen milik Rizky dan Gibran langsung merebahkan kasur ia tak peduli melihat sekeliling apartemen milik Rizky karena tujuannya adalah kasur, dan Rizky menatap tajam karena Gibran tak membersihkan kaki. Gibran terus saja memanggil abangnya namun orangnya tak menyahut tapi masih ada di tempat karena Gibran penasaran kenapa Abangnya diam akhirnya ia pun langsung duduk dan


deg


"Apa salah aku ya tuhan". bathin Gibran yang saat ini melihat kakaknya yang tampak menyeramkan


"hehehe ee a a bang aku salah apa ya". dengan rasa canggung dan takut ia langsung bertanya dengan bicara terbata bata ini afalah hal yang langka baginya, sambil tangannya menggaruk tengkuk belakang kepala yang tak gatal


"bersihkan kakimu". dingin Rizky lalu langsung keluar


Lalu , Gibran saat ini menelan saliva, sementara Rizky ia tertawa keras karena bisa menjahili adiknya di dalam kamarnya karena ia memiliki kamar dua dan kebetulan Gibran tidur di kamar kedua.


"Hahaha hahahaha aduh sumpah sumpah lucu banget ekspresinya hahaha ternyata benar kata orang jahili adik itu menyenangkan dan ini terbukti sangat nyata menyenangkan hahaha maafin abang gib" tawa lepas Rizki yang menggelegar di seluruh ruang kamar enaknya tertawa tiba tiba ada dering hp, dan langsung melihat siapa langsung di angkat dengan sisa tawanya


"Halo Ayah".


"Hahaha Ayah dia dia lucu sekali ekspresi yah hahaha ini benar benar puas banget ya hahaha". Rizky dengan masih saja tawa meski ada Ayah nelpon ia tak peduli,Reza baru pertama kali melihat tawa lepas Rizky ia hanya tersenyum tipis di tengah tawa Rizky ada ketukan dari balik pintu langsung berubah wajahnya dengan dingin karena ia tau itu adiknya


"Minta maaf ke adikmu".


"Ya Ayah, aku buka pintu".


ceklek ternyata benar itu adalah gibran dengan raut wajahnya gelisah dan menatap Rizky dengan memelas sementara Rizky memasang dingin namun hatinya tertawa pulas


"Abang maaf ya maafin gibran jangan dingin tadi aja abang gak dingin kalau abang gini ya udah aku bilang ke bunda". ucap maaf Gibran namun diakhiri dengan ancaman


"Dih ngadu".


"Maafin gak"


"Hmm"


"Benarkah ah makasih kakak ku tersayang" ingin mencium namun Rizky langsung menghindar karena geli


"He kamu gila ya ih main cium ciuman".


"Ih abang koq gitu sih ini namanya bentuk sayang adik ke kakak".


"Gila lo yah sana sana mandi lo bau asem". dengan mendorong Gibran


"Ya mana tempat mandinya aku kesini karena mau nanya kamar mandi". ucap Gibran dengan santai dan tak menyadari jika ucapannya menjadi salah paham bagi Rizky


"Dasar adek laknat jadi dia kesini hanya ingin nanya kamar mandi dasarkalau orang lain aku penggal tapi untung sayang". bathin Rizky dan menatap tajam pada Gibran, Gibran menyadari langsung menutup mulutnya


"Oh jadi kamu kesini hanya mau nanyain mandi bukan minta maaf dih gak tulus banget ". sinis rizky


"Eh gak gitu yaudah deh aku minta maaf lagi atau di ulangi lagi adegan tadi".


"emang lu kira ini syuting". dengan menyodorkan kepala Gibran


"Gibran Rizky" suara bariton


Mereka berdua kaget namun Rizky tau itu suara siapa sementara Gibran langsung bertanya

__ADS_1


"Eh suara siapa itu bang, kan lakinya kita berdua wah bang apartemen abang jangan jangan berhantu".


pletak


"Aduuuh sakit nih, abang ih ini namanya kekerasan pada saudara".


"Cih lagian lu aneh aneh aja itu ayah sedang nlpon".


Mendengar tebtu saja Gibran langsung senang


"Ayahhhh wah mana mana hp abang".


Kini mereka pun langsung menghampiri hp terlihat wajah dewasa yang brewokan tipis dengan mata tajam membuat mereka diam


"Apa sudah selesai debatnya". dingin


"Eh baru aja ketemu udah merinding"bathin Gibran


" sudah" jawab sembarang seperti di intrograsi


Gibran tang notabennya agak cerewet ya langsung berkata


"Ayah tau aku kan aku anak ayah anak dari Bunda Syahilla ayah kapan pulang". ucap Gibran sambil menatap layar


Reza tersenyum lalu berkata


"Lagi di perjalanan Gibran, Gibran ayah senang kamu sudah disini, maaf ayah selama ini ayah tidak ada disamping kamu".


"Ayah kenapa harus minta maaf ayah jangan minta màaf samaku tapi sama bunda karena bunda yang mengetahui permasalahan kalian berdua aku tak mengerti masalah orang dewasa. Kalau gitu Ayah tolong jangan sakitin Bunda karena gara gara ayah bunda nangis setiap malam hari".


Mendengar itu Reza diam dan langsung menegang uratnya terlihat namun ia harus mengontrol diri, dan kenapa dirinya disalahkan sementara yang sebenarnya terjadi Syahilla yang kabur.


"Tapi ayah tenang sekarang aku tau masalahnya kalian salah paham ayah mengira bunda kabur tapi bunda pun mengira ayah meninggalkan bunda saat bangun tidur" lanjut Gibran ia tau Ayah saat ini marah namun ia harus melanjutkan


Dan hal ini Reza bener bener terkejut karena ini alasannya. Dia langsung menutup mata sejenak bayangan 9 tahun Syahilla kembali teringat, jelas sekali Syahilla saat itu memohon. Dia pun dengan bodohnya saat pagi hari pergi tanpa memberikan pesan.


"Maafkan aku syahilla seandainya aku meninggalkan kertas atau pesan agar kamu bìsa menungguku maaf membuat kamu salah paham". bathin Reza kemudian ia kali ini membuka mata terlihat mereka berdua sedang menunggu jawaban dari ayahnya


"Gibran terimakasih nak ayah sekarang tau masalahnya tolong satukan ayah dan bundamu nak ayah menyesal nak membuat kalian sengsara".


"Pasti ayah, tak apa Ayah itu hanya takdir hmmm ayah aku mandi dulu ya soalnya bunda pasti ngomel, bang kalau ada bunda tolong ambilin baju sama handuk


"hmmm".


Kini Gibran pun sudah keluar dari kamar


"Ayah" panggil Rizky karena sedari tadi Reza terdiam karena mengingat perkataan atau kejadian yang sebenarnya terjadi, dengan kata lain Syahilla benar benar sosok wanita yang baik


"Ayah tak menyangka bahwa ini adalah kesalahan paham saat ini ayah ingin menyiksa orang yang sudah membuat ayah begini" dengan raut wajah yang memerah


"Bukannya pelaku sudah mati di tangan ayah"


"Ya, tapi ayah menyesal kenapa tidak membiarkannya hidup dan aku bisa menyiksa terus menerus".


"Terus ayah mau apa atau ayah mau cari mangsa agar ayah bisa melampiaskan".


"Ya ayah sudah menyiapkan ******".


"Ha ****** ayah gila ya bunda sudah di jakarta malah ayah mencari wanita lain".


"Hai kau ini kamu tau kan ayah itu benci wanita kecuali bundamu, ayah hanya ingin bermain saja dengan mereka karena ayah sudah lama tidak main darah".


"Kalau gitu aku ikut yah sekalian ajak Gibran".


"Ajak saja adikmu sekalian Ayah akan memperkenalkan pada mereka, dan saat ini jam 12 malam kalian sudah ada dimarkas karena Ayah langsung kesana".


"Tapi bunda sendiri yah kasian dia".


"Kalau begitu besok saja karena besok kalian pindah ke mansion Ayah, saat itu pun sudah pulang lomba paling jam 8 malam lalu istirahat".


"Baiklah Ayah, mmm ayah aku tutup dulu karena Bunda tadi mengetuk".


"hmm ya sudah sana bye"


"Bye ayah".


ceklek


Gib, eh Rizky

__ADS_1


__ADS_2