
"Arkhhh Yari tolong aku!"
"Ada apa kak bi. apa yang terjadi? apa kau terluka?" Yari pergi melihat Bibi yang sudah berdiri diatas meja kerjanya.
"Yari."
"Hmmm."
"Apakah kau takut kecoa?"
"Iya, memangnya kenapa?"
"Tidak aku hanya bertanya, tadinya aku mau meminta bantuanmu untuk menangkap kecoa dibawah kakimu itu. tapi apa boleh buat, kau ternyata bisa takut kecoa juga ya." ucap Bibi yang masih berdiri diatas meja.
"Hah?" tanya yari sambil melihat kearah bawah. "HUUUUAAAAA KECOA!!" Jerit Yari.
"Huahahaha." Tawa Bibi dengan gelinya.
Tak kerasa 1 jam lamanya mereka tertawa sambil bercanda. waktu saat ini sudah menunjukan pukul 19.00 artinya jam pulang telah tiba. kedua manusia bodoh itu akhirnya pulang kerumahnya masing masing.
Yari yang sudah berada didepan rumahnya langsung masuk kedalam. diruang makan sudah terlihat ibu dan ayah yari sedang berbincang.
"Yari, kemarilah!" ucap ayah Yari.
"Eh iya, ada apa yah?" jawab Yari sambil duduk mendengarkan.
"Berapa tanggal lahirmu?"
"8 agustus, memangnya kenapa ayah?"
"Oke fixs, besok lusa kamu akan ayah nikahkan dengan seorang pria yang juga lahir ditanggal 8 agustus."
"Apa, menikah! ayah aku masih berusia 17 tahun." ucap Yari sambil memukul meja makan.
"Lalu kenapa kalo usia masih 17 tahun?"
"Aku tidak mau." Ucap yari membentak.
"Ayolah nak, memang apa susahnya menikah. usia ayah dan ibu sudah tidak muda lagi. Ayah ingin sekali menggendong cucu darimu."
"Tapi beritahu Yari dahulu siapa orang itu!"
"Baiklah dia adalah Direktur Chan han lee yang berasal dari korsel."
"Apa, kenapa harus dia? ayah kau tau kan kalau dia adalah seorang yang kejam, Juga bagaimana aku bisa berkomunikasi denganya nanti jika aku menikah, secara diakan tidak mengerti bahasa indonesia."
"Tenanglah, urusan bahasa mah gampang."
"Oke aku akan menikah tapi, kenapa harus seorang yang juga lahir ditanggal 8 agustus."
__ADS_1
"Ayah punya alasan sendiri, kamu tidak perlu tahu!"
"Tapi kan yah."
"Cukup Yari, ayah tidak mau mendengar alasan apapun darimu. pokoknya ayah tidak mau tahu, besok lusa kamu harus menikah dengannya. jika kamu tidak mau, ayah terpaksa akan mengeluarkanmu dari daftar keluarga." ucap Ayah yari lalu meninggalkan ibu dan dirinya.
"Nak turuti saja ya, membantah perintah orang tua tidak baik loh."
"haih baiklah bu." Ucap Yari sambil memeluk Ibunya. "baiklah bu hari semakin malam, aku istirahat dulu ya."
"Oh iya, selamat malam anakku. mimpi indahlah."
Yari langsung naik untuk pergi kekamarnya. hatinya benar benar hancur. Yari sebenarnya ingin menolak saat itu. tetapi apa boleh buat, ayahnya mengancamnya dengan sesuatu hal yang tidak bisa dia lepaskan. setelah lama berpikir akhirnya Yari tertidur pulas diatas kasurnya.
KEESOKANNYA.
" Ahhh aku terlambat masuk kerja, ibu kenapa tidak membangunkanku sih." guman yari sambil marah - marah sendiri.
Dengan kagetnya, Yari langsung pergi untuk membersihkan diri dan bersiap siap untuk pergi bekerja. Yari mulai turun dengan tergesa gesa tanpa mempedulikan ibunya yang sudah dari tadi memanggilnya duduk untuk sarapan terlebih dahulu.
"Yari kau mau kemana sayang?" tanya ibunya.
"Kerjalah bu, memangnya apa lagi. aku sudah terlambat bu, aku pergi dahulu ya."
"Tunggu sayang! kau tidak bisa bekerja lagi disana. ayahmu sudah menyuruh direktur perusahaanmu untuk tidak menerima kamu bekerja lagi."
DEGG!!
"Maafkan ibu dan ayahmu sayang." ucap ibu merasa bersalah.
"Tapi mengapa?"
"Ya karena kau akan menikah, apa lagi." ucap ayah yang mendengar percakapan mereka.
"Aku benci kalian semua." bentak yari lalu pergi kekamarnya dengan kecewa hati.
"Yari tunggu sayang!"
"bu biarkan dia saja."
"tapi yah, apa kita tidak terlalu kejam kepadanya."
"Sudah bu jangan dibahas lagi, untuk sekarang kita fokuskan untuk acara besok saja."
Sementara disisi lain.
" huhu ayah dan ibu jahat. selalu bertindak seenaknya saja tanpa memikirkan perasaanku. aku tidak mau berhenti bekerja. huhu kak bi tolong aku." Ucap yari sambil menangis.
KRINGG.... KRINGG...
__ADS_1
Hanphone Yari berdering keras. dia sesegera melihat siapa yang menelponya saat ini.
"Halo, siapa ini?" Ucap Yari dalam telepon.
"Yari ini aku bibi, aku dengar kau berhenti bekerja. kenapa kau berhenti bekerja Yari. apa kau tega meninggalkan aku sendiri disini."
"Hiks hiks Huuuuuaaaaa kak bi."
"Eh kau kenapa, berhenti menangis. apa yang sebenarnya terjadi."
Yari menceritakan masalahnya kepada Bibi.
"Ya ampun Yari bagaimana orang tuamu bisa seenaknya begitu saja."
"Aku juga tidak tahu kak, hikss... ini sudah takdir dari tuhan." Ucap Yari yang masih menangis.
"Kau yang sabar ya, jangan sungkan untuk meminta bantuanku nanti jika ada masalah oke."
"Terimaka kasih kak."
"Iya, tetap semangat ya. baiklah aku sudah dipanggil direktur tuh. pergi dulu ya yari. ingat meminta bantulah padaku bila kau ada masalah." Ucap Bibi.
"Baik kak terima kasih."
"Iya, baiklah aku pergi dulu."
"Oke." ucap Yari langsung mematika. sambunga telepon nya.
Setelah banyak curhat, hati Yari sekarang tidak sesakit tadi lagi. pelan pelan dia sudah bisa menerima kenyataan yang ada. jalani saja dahulu masalahnya barulah pikirkan solusinya.
Hari mulai menggelap lagi. entah waktu yang berjalan hari ini sangat cepat. orang orang dibawah terlihat sibuk untuk acara besok pagi. suara yang gemeriuh dibawah menyelimuti malam syahdu yang seru. iya seru, bagi orang - orang yang menantikan acara besok. tetapi berbeda dengan Yari yang tak menginginkan pernikahan ini.
"kenapa harus aku yang mengalami hal ini. kenapa tidak pak kebun yang disana, mengapa tidak tetangga disebelah saja. sungguh tidak adil. walaupun mulutku berkata iya, namun hatiku masih tidak ikhlas untuk menerimanya. huh sungguh cobaan yang berat sekali." guman Yari.
Yari mulai terlelap karena lelah memikirkan masalah yang terus muncul.
Hari mulai pagi, bau wewangian yang berasal dari ruang tengah mulai datang kekamar Yari. dia yang sadar bahwa hari ini akan menikah, sesegera bangun untuk melihat melalui jendela, halaman rumahnya saat ini terlihat sudah dipenuhi kursi pemirsa, banyak mobil Mewah berjejeran disepanjang pinggir jalan. Yari yang masih tidak ikhlas atas pernikahan ini kembali menangis. ibu yang sedari tadi berdiam dipintu kamar melihat dia menangis dan sesegera menghampirinya.
"Sayang sudahlah jangan menangis lagi. maafkan ibu nak." Ucapnya sambil memeluk yari.
"Pergilah dulu bu! aku ingin sendirian saat ini. sebentar lagi bila hatiku mulai tenang, aku akan turun kebawah untuk merias diri." Ucap yari sambil menolak pelukan dari ibunya.
"Baiklah nak, ibu tunggu diruang rias ya."
"Ah iya."
Ibu mulai meninggalkan Yari untuk sendiri terlebih dahulu.
"hmmm tak apa, jangan sedih lagi Yari. sekuat apa pun kau menangis, tidak akan bisa lari dari pernikahan ini. huuuft baiklah ayo mulai buka lembaran hidup baru lagi."
__ADS_1
Akhirnya dia turun kebawah untuk merias diri. ibu senang tak tertolong melihat yari yang akhirnya mau menikah.