Kembaran Beda Usia

Kembaran Beda Usia
Eps 18 - Ayah datang


__ADS_3

"Yari beraninya kau!! WAHHHHH......" Chan berteriak kencang, membuat para human lainnya menoleh takut dan kaget. Sekencang kilat dia pergi menghampiri Yari yang terduduk diatas kursi keramik, entah tau apa yang dilakukan wanita itu.


Yari menoleh refleks saat sadar bahwa namanya dipanggil. Degg!!!! Perempuan itu tidak bisa berkata kata, mulutnya seakan terkunci rapat dan tubuhnya kaku seperti mayat. Dia menelan ludah kasar, membasahi tenggorokan yang tidak kering.


Semakin dekat langkahnya, semakin kuat juga aura nya. Sampai langkah terakhir, pria itu sampai sudah didepan pandangan Yari. Badannya yang besar, mampu menghalangi terik matahari yang menerobos masuk kedalam kulit wanita itu. Menatapnya dengan ekspresi yang sulit diungkapkan.


"Apa yang kau lakukan disini?" Chan mengernyit.


"Eh aku-"


"Jangan keluar rumah tanpa pamit seperti ini."


"Maaf." Yari menundukan kepala, niat hati ingin keluar rumah lalu pulang secara diam diam. Namun rencananya hancur dikala dirinya kepergok suami sendiri.


"Sudahlah, ayo pulang! sebentar lagi akan ada tamu spesial untukmu."


"Kau tidak marah." Yari mengangkat pandangan ceria. Meyakinkan kembali apakah suaminya benar tidak marah.


"Hmmmm."


"Cepatlah orang kita sudah menunggu lama." Chan berjalan tanpa menoleh sedikit pun.


"Siapa?"


"Jangan banyak omong, cepat jalan dan ikut saja." Ucapnya ketus.


☃Flashback on☃


Chan sudah berada didalam mobil untuk mencari Yari. Namun tiba tiba handphone berdering nyaring. Dilihat sekilas sudah nampak panggilan dari papa. Chan menggeser layar dan menempelkan handphone nya ditelinga sebelah kiri.


"Halo pa."


"Iya nak."


"Ada apa?" Chan bertannya bingung.


"Tolong jemput mertuamu di bandara xx sekarang. Sebentar lagi papa menyusul."


"Gimana pa? Apa maksud papa?"


"Ceritanya panjang. Sekarang yang paling penting kamu jemput mertuamu dibandara sekarang!"


"Iya pa iya." Chan menutup telepon sepihak. Dia merogoh saku untuk mencari kunci mobil mewah lainnya, dan memerintahkan sopir untuk menjemput kedua mertuanya itu. Sedangkan dirinya akan pergi mencari Yari yang entah ada dimana.


☃Flashback off☃

__ADS_1


Mobil telah terparkir didepan pintu masuk rumah mereka. Yari terburu buru masuk dari lepasnya dingin malam. Membanting pintu hingga terdengar seperti bom yang meledak.


Chan hanya acuh tak acuh membiarkan Yari membanting pintu itu. Hanya pintu saja, bisa dibeli lagi.


Namun hal mengharukan terjadi.


"Yari anakku." dari kejauhan terdengar seseorang memanggil anaknya. Hati Yari langsung berdebar kuat. Tidak mungkin itu ayah, disini bukan indonesia begitu pikir Yari. Suara yang paling dia rindukan, tiba tiba muncul bagai arwah gentayangan.


"Ha- suara ayah." Yari bernapas dalam mengingat rindunya kepada sang ayah. Dia masih tidak sadar bahwa suara itu nyata diucapkan dari mulut ayahnya.


"Yari!"


"Ck lagi."


"Nak!"


"Ahh pergilah haluku Jangan menggangguku!"


"Nak ini bukan halu. Coba balik kan badanmu!"


Spontan yari membalikan badan.


Matanya melotot saat tau siapa yang datang. Dengan langkah yang tertatih, dia jalan menghampiri kedua orang tuanya. Air mata pun jatuh tanpa diminta.


"A...a....yah." Yari datang kepada Ayahnya.


"AYAHHHHH....." Yari menghambur pelukan hangat. Menangis terseguk seguk didepan banyak nya orang dan pembantu. Tak kenal malu, asalkan rindunya tersampaikan dengan sempurna.


"Kita baru terpisah beberapa minggu saja. Kenapa kau seperti orang yang terpisah ratusan tahun saja."


"Yari rindu!"


"Haha ayah tau."


"Ayah tak rindu Yari?"


"Tidak." Ayah mencoba mempermainkan Yari. Sesungguhnya hatinya sangat terangat rindu.


"Ih ayah jahat!" merajuk.


"Hahaha." seisi rumah tertawa gemas, begitu pun juga Chan. Canda tawa terbuai menjadi satu. Keluarga Chan dan Yari berdampingan begitu erat. Hubungan sesama besan itu terlihat bukan seperti besan, terapi seperti kakak beradik saja, saking dekatnya.


"Sudah Yari, kau tidak malu dengan suamimu itu. Oh iya apa kau diperlakukan baik dengan Chan." ucap papa Chan.


"Tidak baik. Aku selalu ditindas olehnya papa mertua."

__ADS_1


"Hei." Chan menyela.


"Benarkah begitu?"


"He'em."


"Tidak benar, asalkan papa tau betapa tersiksanya diriku semenjak ada dia." Chan membantah kasar. Akan merusak citra seorang suami jika dia tidak membantah. Papa hanya terdiam tak percaya akan perkataan Chan. Namun papa meyakinkan bahwa Chan tidak pernah berbohong. Siapakah yang salah sebenarnya?


"Hari sudah malam, jika kalian semua ingin menjadi kalelawar silahkan. Saya dan ibu Yari akan pergi tidur dahulu, selamat malam." ucap Mama Chan.


"Eh iya ayo tidur, besok kita akan pergi piknik sekeluarga. Dan kau Chan! Kosongkan jadwal untuk besok! Minta Jo untuk menggantikan semua!" Papa beranjak dari duduknya dan hendak menyusul istrinya dikamar ke 2.


"Baik yah."


Sudah tidak ada lagi orang diruang santai, hanya ada Chan dan Yari. Pembantu pun juga sudah tidur mempersiapkan energi untuk esok.


Akhirnya kedua pasangan itu memutuskan untuk tidur juga. Digandeng lah tangan Yari. Mereka menaiki tangga satu persatu yang pada ujungnya sudah sampai didepan pintu kamar. Mata remang remang dirasakan yari, mengingat bahwa dirinya harus tidur sekarang juga. Dia berjalan selangkah menuju kasur. Meletakan tubuh diatasnya.


Chan pun ikut menyusul.


"Hei kau sudah tidur?" Chan bertanya.


"Belum oppa, ada apa?" yari membalikkan badan menghadap posisi Chan.


Tanpa sadar rancauan suara lolos begitu saja baru mulut lelaki itu. "Kau cantik."


"Hah apa."


"Apa?"


"Sepertinya aku mendengar sesuatu tadi." ucap Yari sambil menyipitkan mata.


"Tidak! Ah sudahlah ayo tidur. Besok kita harus berangkat pagi pagi sekali."


"Baiklah." Yari menghadapkan tubuhnya kesebalik posisi Chan. Tanpa sadar tangan berotot memeluk erat pinggang Yari.


Yari tertegun.


Hembusan napas terasa panas merancau diarea pundak wanita ini. Nada suara dengkuran begitu nikmat terdengar telinga, halus dan nyaring.


Karena hangatnya pelukan ini, yari pun terambang kealam mimpi tanpa disuruh.


_


_

__ADS_1


_


_


__ADS_2